Maria Veronica Gandha
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 30 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

RUANG PUBLIK ADAPTIF PLUIT SEBAGAI RESPONS TERHADAP KESENJANGAN SOSIAL-EKONOMI DI KAWASAN PLUIT, JAKARTA UTARA Atsuhiro Kubo; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10784

Abstract

Gated communities in Jakarta had increased in numbers ever since the incident of 1998 riots. The Idea that was meant to create a better community carried out side-effects that highlighted the differences in terms of races and class. It led to a formation of a divided society where people would be less likely to interact with the other groups. The upper middle class chinese is one that has grown colder toward the larger society. This can be seen clearly in how the height of fences in local houses has kept increasing up until now. They rarely use public spaces where people from different backgrounds are present. And as long as public buildings come as an intervention from the outside world, this group will remain untouched. The Adaptive Public Space in Pluit is based on an idea called "Living Architecture" that thinks of architecture not as a final product. Rather, it embraces the possible architectural changes that could happen as a means of adapting in respose to future changes. Though both the idea and the building comes as an intervention, its sustainability fully depends on the contribution of the locals. Participatory design method is applied not in the pre-construction phase, but instead, in the process of maintaining the continuity of this project. It is a place where those who live in abundance materially can donate anything they want to those in need around them, solving issues caused by the social gap through a small scale project. This is a project in which people are asked to be a participant and not just a guest. Keywords:  change; contribution; donate; gated community; social gap Abstrak Sejak kerusuhan 1998, komunitas berpagar telah tumbuh signifikan dalam hal jumlah di Jakarta. Ide yang awalnya ditujukan untuk menyediakan lingkungan yang lebih aman justru semakin menegaskan perbedaan yang ada dalam hal etnis maupun kemampuan ekonomi. Hal ini menyebabkan masyarakat semakin terbagi dan tidak terbiasa berinteraksi dengan kelompok yang berbeda. Etnis Tionghoa menengah atas adalah salah satu yang semakin menutup diri dari lingkungan sekitarnya. Hal ini terlihat jelas pada semakin tingginya pagar rumah dan intensitas penggunaan ruang publik bersama oleh kelompok ini sangat rendah. Dalam menghadapi hal ini, pembangunan ruang publik belum dapat menjawab persoalan yang ada karena masih berupa intervensi langsung dari pihak luar. Berangkat dari tema arsitektur yang hidup, Ruang Publik Adaptif Pluit hadir bukan sebagai produk akhir arsitektur tetapi awal dari upaya adaptasi sebuah produk arsitektur terhadap lingkungan saat ini dan perubahan yang akan datang. Program dan bangunan yang ada merupakan bentuk intervensi dari dunia arsitektur namun keberlangsungannya bergantung penuh pada peran warga lokal dalam keseharian mereka. Dalam hal ini metode perancangan partisipatori diterapkan bukan dalam perancangan tetapi dalam kelanjutannya. Sebagai tempat di mana kelompok menengah atas bisa mendonasikan dari kelebihan mereka kepada yang membutuhkan, ketegangan akibat kesenjangan sosial diharapkan dapat diselesaikan dari skala terkecil. Ruang publik yang memberikan ruang bagi penggunanya untuk menjadi partisipan dan bukan sekedar tamu.
MUSEUM ARSITEKTUR JAKARTA DI KAWASAN MEDAN MERDEKA TIMUR Nicholas Nicholas; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4405

Abstract

As time went on, the Museum in the city of Jakarta was still limited. The works exhibited remain the same and tend not to be interactive. Most museums in Jakarta try to show the historical side of Dutch colonialism and their heritage. but there is no museum that discusses how architecture in the city of Jakarta has developed rapidly until now and left its story or history. In the historical exposures of its growth, where the city government alternates and the conditions of its society are very diverse. But in its journey to a more modern era, there needs to be a change to the concept of the museum. The decline in the number of visits to the museum should be a concern that the millennial generation has begun to abandon the trend of traveling to museums because the museum is considered too old and undeveloped. The presence of the Jakarta architecture museum tells the story of the architectural journey of the city of Jakarta which has developed since the Dutch colonial era to the present. The design of the Museum which is located in the East Merdeka area is directly adjacent to the old building which has historical value, the Immannuel Church and the National Gallery; In addition, this region is connected in one tourism path that is being developed, from the Istiqlal Mosque and the Cathedral Church (which has historical architectural value) to the Proclamation Monument on the Proclamation Road. With a relationship between two destination points. The project also interacts with its surroundings as a comfortable place with open space for the surrounding community. The general program is supported by space 3.0 in the form of amphitheater, which can be accessed by various groups both horizontally and vertically. This project is expected to increase the insight and interest of visitors to study architecture and its role in building cities. AbstrakSeiring berjalanya waktu, Museum di kota Jakarta masih tetap terbatas. Karya karya yang dipamerkan tetap sama dan cenderung tidak interaktif. Kebanyakan museum di Jakarta mencoba menampilkan sisi historis dari penjajahan Belanda dan peninggalannya. namun belum ada museum yang membahas bagaimana arsitektur di kota Jakarta berkembang pesat sampai sekarang dan meninggalkan cerita atau sejarahnya. Dalam paparan sejarah pertumbuhannya, dimana pemerintah kotanya silih berganti dan kondisi masyarakatnya sangat majemuk. Namun dalam perjalanannya menuju era yang lebih modern, perlu adanya sebuah perubahan terhadap konsep museum. Menurunya angka kunjungan ke museum harus menjadi perhatian bahwasanya generasi milenial mulai meninggalkan tren berwisata ke museum karena museum dinilai terlalu tua dan tidak berkembang. Hadirnya museum arsitektur Jakarta bercerita gambaran perjalanan arsitektur kota Jakarta yang berkembang sejak zaman penjajahan Belanda hingga saat ini. Perancangan Museum yang terletak di kawasan Merdeka Timur berbatasan langsung dengan bangunan tua yang memiliki nilai sejarah, Gereja Immannuel dan Galeri Nasional; Selain itu kawasan ini terhubung dalam satu jalur pariwisata yang sedang di kembangkan, dari Masjid Istiqlal dan Gereja katedral (yang mana memiliki nilai historis arsitektur) hingga Tugu Proklamasi di jalan Proklamasi. Dengan adanya satu hubungan lingkage antar dua titik tujuan. Proyek ini juga berinteraksi dengan sekitarnya sebagai tempat yang nyaman dengan ruang terbuka untuk masyarakat sekitar. Program kemduian didukung dengan ruang 3.0 yang berupa amphiteather, dimana dapat di akses oleh berbagai kalangan baik secara kelas horizontal maupun vertikal. Proyek ini diharapkan dapat menambah wawasan maupun minat pengunjung untuk mempelajari arsitektur dan peranannya dalam membangun kota.
MOOD ECOLOGY AKTIVATOR UNTUK SETIAP TEMPAT Giovani Baptista; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12346

Abstract

Along with the times, the human population and the demands of the times continue to grow, so humans must adapt to survive. In life, humans face many obstacles that affect their mental condition and performance. When humans are in a happy mood, the degree of quality of human life increases, and vice versa. However, life in this fast-paced and dense urban area makes it difficult for them to release their stressful feelings due to the problems they face every day, the space as a stress-relief place in urban areas is not enough to handle stress in this crowded city. The design of a space as an activator for human mood is designed to reach points in urban areas, in order to help release their stress. A place that helps people's activities and helps release the stress they face. Dense cities, make people have to be able to make good use of space. Therefore, this activator chamber is designed to have a small-scale area. This project starts from determining the main program and objectives, the main program will be proposed at each point of project development, but this program will still be reviewed for suitability with the site to be taken. Then a sample location was taken, namely Pasar Baru Village as a research location before this project was spread to various points in urban areas. Three locations were found in Pasar Baru Village, due to differences in the function and compatibility of the main program with the function of the program to be referred to at that site. The results of this sample will then be used as a reference for project development at different location points in the future. Keywords:  Activator; Mood; Room; Stress.AbstrakSeiring perkembangan zaman, populasi manusia dan tuntutan zaman pun terus berkembang sehingga manusia harus menyesuaikan diri untuk dapat bertahan hidup. Dalam kehidupannya manusia menghadapi banyak rintangan yang mempengaruhi kondisi dari mental dan kinerja mereka. Ketika manusia berada dalam suasana hati yang senang, maka derajat kualitas hidup manusia pun meningkat, begitu pun sebaliknya. Namun, kehidupan di perkotaan yang serba cepat dan padat ini, membuat mereka sulit untuk melepaskan perasaan stres mereka akibat masalah yang dihadapi setiap harinya, ruangan sebagai tempat pelepas stres yang ada di perkotaan tidak cukup untuk menangani stres di perkotaan yang padat ini. Perancangan sebuah ruang sebagai aktivator bagi suasana hati manusia ini dirancang untuk menjangkau titik - titik yang ada di perkotaan, supaya dapat membantu melepaskan stres mereka. Tempat yang membantu aktivitas masyarakat dan membantu melepaskan stres yang mereka hadapi. Perkotaan yang padat, membuat manusia harus dapat memanfaatkan ruangan dengan baik. Oleh karena itu ruang aktivator ini dirancang agar memiliki luasan berskala kecil. Proyek ini dimulai dari menentukan program dan tujuan utama, program utama akan diajukan pada setiap titik pengembangan proyek, namun program ini akan tetap dikaji kembali kecocokannya dengan tapak yang akan diambil. Lalu diambil sampel lokasi, yaitu Kelurahan Pasar Baru sebagai lokasi penelitian sebelum proyek ini disebar ke berbagai titik di perkotaan. Ditemukan 3 titik lokasi pada Kelurahan Pasar Baru, karena perbedaan fungsi dan kecocokan program utama dengan fungsi program yang akan dirujuk pada tapak tersebut. Hasil sampel ini kemudian akan menjadi acuan bagi pengembangan proyek di titik lokasi yang berbeda kedepannya. 
RUMAH COLLOCALIA : SARANA EDUKASI PENGEMBANGAN BUDIDAYA BURUNG WALET Louis Frederick; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16940

Abstract

Swallow are bird that produce nest which are used as consumption materials that have good benefits for human body. Because of these benefits, many swallow's nests are in demand by the public, especially abroad, thus making swallow's nests have a high selling value. Then, many people are now practicing swallow cultivation, by making buildings as places for swallows to nest and live. However, this creates problems, especially environmental problems due to the lack of education for public to conducting swallow cultivation. So this design focuses on solving environmental problems due to swallow cultivation by providing swallow education facilities in public. This case also occured in the city of Gunungsitoli, North Sumatra, which is required an educational forum about the life of swallows. The educational facilities are in the form of galleries that provide lessons and also experiences for people who wants to learn properly about swallow cultivation or how to do new swallow cultivation. In design process are using the phenomenological design methods for the animal life with the aim of providing new education and training that is rarely found in the general public. In another sides, the education is also in the form of recreation in which there are also solutions in solving environmental problems such as a place for processing swallow waste and also as a place to manage swallow nests that are ready for consumption so as to increase regional income. Keywords: Swallow; Education; Recreation AbstrakBurung walet merupakan burung yang menghasilkan sarang dimana digunakan sebagai bahan konsumsi yang memiliki khasiat yang baik bagi tubuh. Karena khasiat tersebut, banyak sarang burung walet diminati oleh masyarakat khususnya di luar negeri, sehingga menjadikan sarang burung walet memiliki nilai jual yang tinggi. Dengan demikian, banyak masyarakat yang kini melakukan budidaya burung walet, dengan cara membuat bangunan-bangunan gedung sebagai tempat untuk burung walet bersarang. Akan tetapi hal tersebut membuat permasalahan- permasalahan, terutama permasalahn lingkungan karena kurangnya edukasi terhadap masyarakat dalam melakukan budidaya burung walet. Sehingga dalam perancangan ini berfokus pada penyelesaian permasalahan lingkungan akibat adanya budidaya burung walet dengan cara memberikan sarana edukasi burung walet ditengah masyarakat. Hal ini juga terjadi di Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara dimana memerlukan wadah edukasi tentang kehidupan burung walet. Sarana edukasi tersebut berupa galeri-galeri yang memberikan pelajaran dan juga pengalaman kepada masyarakat yang ingin belajar dengan benar tentang budidaya burung walet ataupun ingin melakukan budidaya burung walet yang baru. Dalam proses perancangan menggunakan metode perancangan fenomenologi terhadap kehidupan hewan dengan tujuan dapat memberikan edukasi dan pemahan baru yang jarang didapati masyarakat umum. Disamping itu, edukasi tersebut juga dalam bentuk rekreasi yang didalamnya juga terdapat solusi dalam penyelesaian permasalahan lingkungan seperti tempat pengolahan limbah walet dan juga sebagai tempat mengelolah sarang burung walet yang siap dikonsumsi sehingga dapat meningkatkan pendapatan daerah.
WADAH REKREASI BERBASIS OLAHRAGA SEBAGAI RUANG KETIGA DI TEBET TIMUR : RE- SPOT, TEBET Almira Livia Putri Laisa; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8583

Abstract

Since the 2000s, Tebet has been a gathering place for youngsters in Jakarta. Presently, Tebet continues to grow with shops, cafés, and restaurants. This area has the potential to become the Third Place for Tebet residents. However, with the lack of entertainment/recreation facilities in Tebet, it is able to diminish the concept of the Tebet area itself, because it creates moves of the visitors to become faster. Re-Spot, Tebet is one of the people's choices to be used as a neutral hang out space with a new injection program in it, namely Sport as Entertainment, where entertainment activities here are part of sports that consider aspects of user comfort by optimizing the potential of the local environment. By using a new injection program that fits the interests of youngsters in Tebet which is then elaborated with the concept of the Design by sports Movement in building circulation to create circulation which is part of the sports movement. Thus, Re-Spot will be an innovation for the Tebet Timur environment, and public space that can append a value to the activities that already exist in the Tebet Timur environment itself. By comparing indicators based on theories about the third space usedKeywords:  Hang out; Sports; Sports as Entertainment; Third PlaceAbstrakSejak tahun 2000-an, Tebet menjadi salah satu tempat nongkrong anak muda di Jakarta. Hingga saat ini Tebet semakin berkembang dengan dipenuhi dengan gerai distro dan café-café maupun restoran. Kawasan ini berpotensi sebagai Third Places bagi warga Tebet. Akan tetapi, dengan kurangnya sarana hiburan/rekreasi di Tebet, mampu mengurangi citra dari kawasan Tebet itu sendiri, karena menyebabkan pergerakan pengunjung menjadi semakin cepat. Re-Spot, Tebet merupakan salah satu pilihan masyarakat untuk dijadikan tempat nongkrong yang bersifat netral dengan adanya injection program baru di dalamnya yaitu Sport as Entertainment, dimana kegiatan entertainment disini merupakan bagian dari olahraga yang mempertimbangkan aspek kenyamanan pengguna dengan memanfaatkan potensi lingkungan setempat secara optimal. Dengan menggunakan injection program baru yang menyesuaikan minat dari anak muda di Tebet yang kemudian dielaborasikan dengan konsep Design By Sport Movement pada sirkulasi bangunan untuk menghasilkan sirkulasi yang merupakan bagian dari gerakan olahraga. Sehingga Re-Spot mampu menjadi inovasi baru bagi lingkungan Tebet Timur, dan juga menjadi ruang publik yang dapat menambah nilai bagi kegiatan yang sudah ada lingkungan Tebet Timur itu sendiri. Dengan membandingkan indicator berdasarkan teori mengenai ruang ketiga yang dipakai.
MEREDEFINISI KAMPUNG: PARADIGMA BARU PERENCANAAN KOTA DALAM MEWUJUDKAN KOTA YANG LEBIH BAIK Maria Iqnasia Karen; Dewi Ratnaningrum; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10826

Abstract

The rapid growth of the urban population on limited land pushes the city to grow vertically. Vertical development is clearly very helpful in overcoming the problem of high density, yet the existing module for vertical existence has produced an urban landscape of formal and monotonous that pushes the population to become socially disconnected. This paper aims to propose a new typology of a vertical dwelling in densely populated settlements in Urban Kampoong through a strategy of redevelopment, based on the form of community interaction and characteristics of urban village known as Kampung, in Tambora, West Jakarta. At some point, urban village has presented a new concept of urban development which is compact city, in terms of density, land efficiency with mixed land use pattern, and complex-dynamic social systems, that ensure the sustainability of the kampung and creates a livable community. Furthermore, within the framework of the "urban village", interaction between inhabitants relatively intense, and people feel a strong “sense of belonging” to their home. Urban Kampung can be the start of a new paradigm of urban planning towards a better city. The understanding of the Kampung itself refers to two methods of design, perception of space and locality.Keywords: vertical dwelling; social interaction; urban kampung AbstrakPertumbuhan pesat populasi perkotaan pada lahan yang terbatas mendorong kota tumbuh secara vertikal. Pembangunan secara vertikal jelas sangat membantu mengurangi masalah keterbatasan lahan dan kepadatan, namun model hunian vertikal yang ada malah menciptakan lanskap perkotaan dengan bentuk massa yang formal dan kaku. Hal ini berdampak pada hilangnya interaksi sosial dan kebersamaan penghuninya. Tujuan dari penulisan ini adalah mengusulkan tipologi baru hunian vertikal sebagai solusi bermukim pada permukiman padat di kampung kota melalui sebuah strategi redevelopment atau penataan ulang kawasan berdasarkan karakteristik dan bentuk interaksi warga pada kampung kota di Tambora, Jakarta Barat. Dalam beberapa hal, kampung kota telah mempresentasikan konsep baru pembangunan kota yaitu compact city baik dari sisi kepadatan penduduk, efisiensi lahan dengan pola guna lahan campuran, sistem sosial yang kompleks dan dinamis, dan lain-lain yang menjamin keberlanjutan kampung kota itu sendiri dan menciptakan kondisi kota yang livable. Selain itu, pada kampung kota terjalin ikatan kekeluargaan yang erat dan warga memiliki “sense of belonging” yang kuat terhadap tempat hidupnya tersebut. Kampung kota dapat menjadi awal dimulainya paradigma baru perencanaan kota dalam mewujudkan kota yang lebih baik. Pemahaman mengenai kampung kota itu sendiri mengacu pada dua metode desain yaitu persepsi ruang dan lokalitas.
PUSAT PEMANFAATAN DAN KONSERVASI TAILING KUTO PANJI Steffi Setiawan; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12387

Abstract

The tin mining in Bangka Belitung Province has been exploited for the past three centuries, this exploitation activity disrupts the landscape and causes environmental impacts. The resulting environmental impact is an increase in temperature and humidity. The landscape in the ex-tin mining area shows two surface forms, namely: tailings and underneath. Tailings are the residue left over from leaching of tin minerals, and underneath are shaped like ponds or small lakes. The structure of the soil layer in the former tin mining area is not like the soil structure in general, the topsoil in the former tin mining area has generally been lost, and the soil fertility is low with high levels of the sand fraction.Areas that have been exploited must be reclaimed and revegetated, so that it is safe to visit. One of the wastes from tin mining activities, namely tailings, has made Bangka Belitung Province a producer of tailings, the tailings can be reused as material for brick making, but before processed into brick material, it is necessary to separate the tailings from hazardous materials using a magnetic separator so that it is safe to become one of the brick-making materials. For further research on other uses of the ex-tin mining area, a conservation area is needed. Other than that, it is a place of recreation and education, in the form of elevated trails that surround the tin mine reclamation area with surrounding areas of former tin mines, shrimp pond that was previously a former tin mining area, and tropical rainforest.The design approach used in this planning is to make the traditional house of the Lom Tribe as a reference for the application of tropical architecture. Through this approach, it produces natural ventilation of the new composition. In addition, this design concept also adds sun shading and courtyard as part of tropical architecture.  Keywords:  ex-mining site; conservation; revegetation; reclamation; the traditional house of Lom TribeAbstrakTambang timah di Provinsi Bangka Belitung sudah sejak tiga abad lalu di eksploitasi, kegiatan eksploitasi ini mengakibatkan terganggunya lanskap dan menimbulkan dampak lingkungan. Dampak lingkungan yang ditimbulkan adalah peningkatan suhu, dan kelembaban. Lanskap pada area bekas tambang timah memperlihatkan dua bentuk permukaan, yaitu: tailing dan kolong. Tailing merupakan sisa dari pencucian mineral timah dan kolong berbentuk seperti kolam atau danau kecil. Struktur lapisan tanah pada area bekas tambang timah tidak seperti struktur tanah pada umumnya, lapisan tanah bagian atas atau top soil pada area bekas tambang timah umumnya sudah hilang, dan kesuburan tanah menjadi rendah dengan tingginya kadar fraksi pasir.Area yang sudah di eksploitasi harus direklamasi dan direvegetasi agar aman untuk dikunjungi. Salah satu limbah dari kegiatan tambang timah yaitu tailing, maka menjadikan Provinsi Bangka Belitung sebagai produsen hamparan tailing, tailing tersebut dapat dimanfaatkan kembali menjadi bahan pembuatan batako, namun sebelum diolah menjadi bahan batako, perlu dilakukan pemisahan tailing dengan bahan yang berbahaya menggunakan magnetic separator sehingga aman untuk menjadi salah satu bahan pembuatan batako. Untuk penelitian lebih lanjut pemanfaatan lain dari area bekas tambang timah, maka diperlukannya tempat konservasi. Selain itu, menjadi tempat rekreasi dan edukasi berupa elevated trails yang mengitari area reklamasi tambang timah dengan sekelilingnya terdapat area bekas tambang timah, tambak udang yang sebelumnya adalah area bekas tambang timah, dan tropical rainforest.Pendekatan desain dalam perencanaan ini adalah dengan menjadikan rumah adat Suku Lom sebagai acuan dari penerapan arsitektur tropis. Melalui pendekatan tersebut menghasilkan pengudaraan alami dari bentuk gubahan baru. Selain itu konsep perancangan ini juga menambahkan sun shading dan courtyard sebagai bagian dari arsitektur tropis.  
SEKOLAH DASAR KONTEMPORER DENGAN FLEKSIBILITAS DAN KONEKTIVITAS RUANG SEBAGAI STRATEGI DESAIN Martha Paramitha Maeliva; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4433

Abstract

Information and Communication Technology has always been part of the lives of millennials, generation Z and Alpha, a significant difference in the learning process compared to previous generations. In the current educational environment, the meaning of "knowing" has shifted from being able to remember and repeat information to being able to find and use it. In an era with rapid technological development, student-centered learning environments are more constructivist and flexible and more suitable for building student’s knowledge. To prepare students for success in the development of the knowledge economy, new developments in the education system and learning environment are needed. The learning model in terms of curriculum, room quality, space configuration, and the program is adapted to the millennial teachers teaching behavior and generation Z and alpha students learning behavior so as to produce a collaborative learning environment between the millennial generation as teachers and generation Z and alpha as students. Contemporary schools with design strategies that provide flexibility, connectivity, freedom, space for social interaction and the education of their students. Curiculum and space programs that provide innovative elementary learning programs for indoor and outdoor play and learning taking into account children's physical, cognitive, emotional and social developmental aspects. Contemporary Elementary School is a mandatory formal education institution for children aged 7-12 years with a 6 years term that integrates contemporary education methods in the perspective of millennial, Z and Alpha.
KAMPOENG KITE: INKUBATOR BERBASIS KEBUDAYAAN BETAWI Ronald Leonardo; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16879

Abstract

In the city of Jakarta, there are tribes that can be said to be quite popular, namely the Betawi tribe, but in practice Betawi is only applied as general knowledge, which is taught in the media and educational institutions. Without us knowing and interpreting what it means and what is behind what is said to be Betawi. In reality, the Betawi tribe as a local ethnic group is often narrated as a marginal, less intellectual, lower middle class economy and other negative stereotypes circulating in a multicultural society. Using the typology method in the design, to change and create new perceptions and narratives about Betawi. Adapting from the perspective of architecture, customs, and also the daily life of Betawi customs, then translated into a form and space that is different but contains the same elements. Transforming a new form of Betawi traditional house, by reconstructing every related element, from the aspect of structure, ornament, philosophy, etc.This project aims to change the stereotypes/views of people towards Betawi and create a new paradigm and stigma against the Betawi community. By raising the real problems faced, namely the economy and also the identity crisis, it is promoted to design facilities that can accommodate productivity and on the other hand promote Betawi culture itself. Keywords:  Betawi; Typology; Stereotypes; Community. AbstrakKota Jakarta terdapat suku yang dapat dikatakan cukup populer yaitu suku Betawi, tetapi secara praktik Betawi hanya diterapkan sebagai pengetahuan umum saja, yang diajarkan di media dan institusi pendidikan. Tanpa kita tahu dan memaknai apa arti dan apa yang ada dibalik yang dikatakan sebagai Betawi. Pada kenyataan yang terjadi suku Betawi sebagai etnis lokal kerap kali dinarasikan sebagai kaum yang marjinal, kurang intelektual, kelas perekonomian menengah kebawah dan stereotip negatif lainya yang beredar di masyarakat yang multikultur. Menggunakan metode tipologi dalam perancangan, untuk merubah dan menciptakan persepsi dan narasi baru tentang Betawi. Mengadaptasi dari perspektif arsitektur, kebiasaan, dan juga keseharian dari adat Betawi, lalu diterjemahkan menjadi sebuah bentuk dan ruang yang berbeda tetapi mengandung unsur yang sama. Mentransformasikan bentuk baru dari rumah adat Betawi, dengan cara merekronstruksi ulang setiap elemen-elemen terkait, dari aspek struktur, ornamen, filosofi, dsb. Proyek ini bertujuan untuk merubah stereotip/pandangan dari orang-orang terhadap Betawi dan menciptakan paradigma dan stigma baru terhadap komunitas Betawi. Dengan mengangkat permasalahan yang dihadapi secara riil yaitu ekonomi dan juga krisis identitas, maka diusung untuk merancang fasilitas yang dapat mewadahi produktivitas dan disisi lain mempromosikan budaya Betawi itu sendiri.
RUANG KETIGA DAN KONSEP KONTEKSTUAL PERANCANGAN RUANG SENI DI SENEN Fille Tamalazare Yuma; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8614

Abstract

In the modern era, the loss of third place in the city center, such as the city of Jakarta, has resulted in increasingly mushrooming shopping centers and increasing market gimmicks. This causes the level of social interaction between fellow humans decreases so that exclusivity is formed in each individual. In meeting social needs in that era, a social forum is needed as a place for communities to eliminate exclusivity and restore human nature which is basically a social creature that needs to interact. From this, architecture talks about ways to meet the needs of the community in the third place as a means of community existence. The presence of Art Space is intended to present communities where individuals can fuse and increase social interaction. Art Space raised the topic of art which is one of the characteristics of the Senen Kelurahan, Senen District, Central Jakarta. Art will be used as a medium and a tool to interact and communicate with each other. Making an entertainment center for art that is inclusive so that it can be enjoyed by all groups of people both artists, connoisseurs of art or the general public. The choice of performing arts is based on the high public interest in the Senen Village. The design of Art Space is designed with site analysis method so that the building pays attention to the surrounding context so as to strengthen the contextual concept. Combining typologies adapted from the habits or approaches of the needs of the surrounding community. Bluring boundaries between private closeness and public opensess. It is expected that Art Space can attract people to visit so that it presents social interaction. Keywords: Art Space; Social Interaction; Third Place Abstrak Pada era yang serba modern hilangnya third place pada pusat kota seperti kota Jakarta mengakibatkan pusat perbelanjaan semakin menjamur dan market gimmick yang terus meningkat. Hal tersebut menyebabkan tingkat interaksi sosial antara sesama manusia menurun sehingga terbentuklah eksklusifitas pada setiap individu. Dalam pemenuhan kebutuhan sosial di era tersebut, maka dibutuhkan wadah sosial sebagai wadah komunitas-komunitas untuk menghilangkan ekslusifitas dan mengembalikan hakekat manusia yang pada dasarnya adalah mahluk sosial yang perlu berinteraksi. Dari hal tersebut, arsitektur berbicara tentang cara untuk memenuhi kebutuhan komunitas pada third place sebagai sarana eksistensi masyarakat. Kehadiran Art Space dimaksudkan untuk menghadirkan komunitas-komunitas  di mana individu dapat melebur dan meningkatkan interaksi sosial. Art Space  mengangkat topik seni yang merupakan salah satu karakteristik kawasan Kelurahan Senen, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Seni akan digunakan sebagai media dan alat untuk berinteraksi serta berkomunikasi antara sesama manusia. Menjadikan pusat hiburan seni yang inklusif sehingga dapat dinikmati oleh seluruh golongan masyarakat baik seniman, penikmat seni atau khalayak umum. Pemilihan jenis seni pertunjukan didasarkan oleh tingginya animo masyarakat pada Kelurahan Senen. Perancangan Art Space didesain dengan metode site analysis agar bangunan memperhatikan konteks sekitar sehingga memperkuat konsep kontekstual. Mengkombinasikan tipologi yang diadaptasi dari kebiasaan atau pendekatan kebutuhan masyarakat sekitar. Meleburkan batasan diantara private closeness dan public opensess. Diharapkan Art Space dapat menarik masyarakat untuk berkunjung sehingga menghadirkan interaksi sosial.