Maria Veronica Gandha
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 30 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

REKREASI SEBAGAI PUSAT REHABILITASI GEN Z Grace Jovita; Dewi Ratnaningrum; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10742

Abstract

Generation Z has a significant influence on technological developments, productivity, and social interactions. In the Covid-19 phenomenon that occurred in 2020, it caused humans to become aware of the importance of face-to-face social interactions. Therefore, the provision of social facilities that can restore social interaction between humans is needed. The purpose of this research is to restore socialization between people, especially in the z generation after the pandemic, to provide spatial rehabilitation through social space in the form of entertainment in stages, to provide facilities that are able to meet the social needs of the community, and to create activity programs that are able to meet the socialization needs of the community while improving the quality of life local community. Reported by Maslow's Hierarchy of Needs, there are five stages of human needs, namely self-actualization, respect, compassion, security, and psychological needs. Which is where generation Z is needed to make ends meet. Therefore, it is necessary to have housing that requires a technology concept that can be used more effectively in interacting better than face-to-face. The method used is a communication approach which is used through observation and data collection from the internet and correlation to find a relationship between two quantitative variables. The results obtained are to create a public space where generation z can take advantage of technology and architecture that support the interaction process.Keywords: Recovery; Rehabilitation; Entertainment; Fundamental.AbstrakGenerasi Z memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan teknologi, produktivitas, dan interaksi sosial. Dalam fenomena Covid – 19 yang terjadi di tahun 2020 ini menyebabkan manusia sadar akan seberapa pentingnya interaksi sosial tatap muka. Oleh karena itu, penyediaan fasilitas sosial yang dapat mengembalikan interaksi sosial antar manusia sangat dibutuhkan. Tujuan penelitian ini diantaranya adalah untuk mengembalikan interaksi sosial antar manusia terutama pada Generasi Z pasca pandemi, memberikan rehabilitasi ruang melalui ruang sosial berupa hiburan secara bertahap, menghadirkan fasilitas yang mampu memenuhi kebutuhan sosial masyarakat, dan menciptakan program kegiatan yang mampu memenuhi kebutuhan sosialisasi masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat. Dilansir Maslow Hierarchy of Needs ada lima tahap kebutuhan manusia yaitu aktualisasi diri, menghargai, kasih sayang, keamanan, dan kebutuhan psikologis. Yang dimana Generasi Z sangat dibutuhkan dalam memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu diperlukan hunian yang memerlukan konsep teknologi yang dapat digunakan lebih efektif dalam berinteraksi secara lebih baik dibanding dengan tatap muka secara langsung.  Metode yang digunakan adalah dengan pendekatan komunikasi yang digunakan melalui pengamatan dan pengumpulan data dari internet serta korelasi untuk mencari hubungan antara dua variabel yang bersifat kuantitatif. Hasil yang didapatkan adalah dengan membuat public space dimana para Generasi Z dapat memanfaatkan teknologi serta arsitektur yang mendukung dalam proses interaksi.
SENEN HALL: REVITALISASI GEDUNG GRAND THEATRE SENEN Robin Surya Pratama; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21714

Abstract

Grand Theater Senen (GTS) is one of the first cinemas in Jakarta. Now the cinema is no longer tied to a single building, which reduces the relevance of a theater building and causes degradation in the use of this building. The misuse of the building as a blue film screening venue, prostitution and drug sales were the reasons for its closure in 2017. It is located at Simpang Lima Senen, one of the busiest crossroads in Jakarta. Inheriting the unique Art Deco style in its design, GTS which has been around for a long time since the 1970s is a silent witness to developments and tangible evidence of changes in Senen. However, after the fifth year, there has been no follow-up or plan from the government or related parties to revitalize the Grand Theater Senen building. Through an adaptive reuse approach, the Grand Theater Senen building is promoted to complement the spatial, social, programmatic and demographic structures of Senen. Carrying this old building into a modern office with a touch of Art Deco architectural characteristics, it becomes the basic design basis which is further developed as the main feature of the building, which is combined and matched with modern architectural styles, so as to create a harmonious design that combines old and new elements. Continuing the collective memory of Senen as a form of identification of the true identity of the Senen area. Keywords: Grand Theatre Senen; Revitalization; Adaptive Reuse; Art Deco; Senen Abstrak Grand Theater Senen (GTS) merupakan salah satu gedung bioskop pertama di Jakarta. Kini bioskop tidak lagi terikat dengan sebuah gedung tunggal, yang menyebabkan relevansi sebuah gedung theater berkurang dan meyebabkan degradasi dalam penggunaan bangunan ini. Penyalahgunaan gedung sebagai tempat pemutaran film biru, prostitusi dan penjualan narkoba menjadi alasan penutupannya di tahun 2017. Terletak di Simpang Lima Senen, salah satu persimpangan jalan tersibuk di Jakarta. Mewarisi gaya Art Deco yang unik dalam desainnya, GTS yang telah berdiri lama sejak tahun 1970-an menjadi saksi bisu perkembangan serta bukti nyata perubahan di Senen.Namun, setelah tahun kelima, belum ada tindak lanjut atau rencana dari pemerintah atau pihak terkait untuk merevitalisasi gedung Grand Theater Senen. Melalui pendekatan adaptif reuse, gedung Grand Theater Senen dipromosikan untuk melengkapi struktur spasial, sosial, program dan demografi Senen. Mengusung bangunan tua ini menjadi sebuah perkantoran modern dengan sentuhan ciri khas arsitektur Art Deco, menjadi landasan dasar desain yang dikembangkan lebih lanjut sebagai ciri utama bangunan, yang dipadukan dan dicocokkan dengan gaya arsitektur modern, sehingga tercipta desain yang harmonis yang memadukan unsur lama dan baru. Melanjutkan memori kolektif Senen sebagai bentuk identifikasi jati diri kawasan Senen yang sebenarnya.
ARSITEKTUR HITORISISME DAN KONSERVASI BANGUNAN TATA SASTRA DI KOTA TUA JAKARTA Daniel Satria Mahendra; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21732

Abstract

Kota Tua Jakarta is an area full of history and clear evidence of the founding of the capital city of Jakarta itself. As a city full of stories and developments, it is unsurprising that this area can maintain its originality as many historical buildings still exist. Indeed, more effort is needed as an effort to keep the characteristics and history of the region. Revitalization efforts are a top priority to maintain these assets. In recent years, the government has intensively researched and planned the development of Kota Tua Jakarta in the hope of revitalizing it optimally and thoroughly to prevent knowing a historic city. Revitalization that has not been comprehensive at this time creates new problems, one of which is the availability of land. This also impacts the Kota Tua Jakarta tourist area, where activities at one point create a need for space that is also fun. As a result, several facilities have been provided to support these activities that are not utilized optimally by visitors, one of which is the Taman Kota Intan Parking Area. The research method used is descriptive qualitative research, the Urban Acupuncture approach, and the concept of Transit Oriented Development. The result of the study is an adaptation of the existing land area of Taman Kota Intan Parking and the conservation of class B cultural heritage buildings, Tata Sastra Carbon Paper Factory. Keywords:  Activity; Historicism Architecture; Kota Tua Jakarta; Revitalization; Urban Acupuncture Abstrak Kota Tua Jakarta merupakan daerah penuh sejarah dan bukti nyara berdirinya Ibukota Jakarta itu sendiri. Sebagai kota yang penuh dengan cerita dan perkembangan, tidak heran jika kawasan ini mampu mempertahankan orisinalitasnya seperti banyaknya bangunan kolonial bersejarah yang masih berdiri disana. Tentunya diperlukan usaha lebih sebagai upaya dalam mempertahankan ciri khas dan sejarah pada kawasan tersebut. Upaya revitalisasi menjadi prioritas utama sebagai upaya menjaga asset tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah gencar meneliti dan juga merencanakan pengembangan Kota Tua dengan harapan mampu melakukan revitalisasi maksimal dan menyeluruh sehingga mampu mencegah hilangnya identitas sebuah kota bersejarah. Revitalisasi yang belum menyeluruh saat ini menimbulkan masalah baru, salah satunya adalah masalah ketersediaan lahan. Hal tersebut turut berdampak pada kawasan wisata Kota Tua Jakarta dimana tingginya aktivitas pada satu titik menciptakan kebutuhan ruang yang juga terpusat. Alhasil terdapat beberapa titik fasilitas yang telah disediakan untuk mendukung aktivtas tersebut kurang dimanfaatkan secara maksimal oleh para pengunjung, salah satunya adalah Lahan Parkir Taman Kota Intan. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode penelitian deskriptif kualitatif dan juga melalui pendekatan Urban Acupuncture dan konsep Transit Oriented Development. Hasil penelitian merupakan adaptasi lahan eksisting Lahan Parkir Taman Kota Intan dan juga konservasi bangunan cagar budaya golongan B, Pabrik Kertas Karbon Tata Sastra.
PENERAPAN METODE ARSITEKTUR NARATIF DALAM PERANCANGAN RUANG EKSPRESI SENI DI KAWASAN SENEN Maria Angelia; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21733

Abstract

Senen was once the heart of the city, so many people from various groups stopped at Senen including artists, activists, and more. Senen has given birth to famous Indonesian artists. However, because of being displaced by time, the glory of Senen slowly faded. The government has tried various things, from puppet shows at Bharata Purwa, to free dancing lessons at the Kebangkitan Nasional Museum. However, the efforts made have not been successful. Until now, art in Senen is still fading even though the Senen area has potential. Hopefully, this project can become a generator in the Senen area as well as a place where artists can express themselves again, Urban Acupuncture is also applied to revive community activities, especially those related to art in the surrounding area. Urban Acupuncture aims to improve neglected areas of the city structure, by reintroducing and adapting them to the environmental context. The design method used is Narrative Architecture. Starting from identifying issues related to the Senen area, then making observations directly or from data from various sources. The proposed program are an interactive art gallery, mural workshop, exhibition space, and rental studio. Each program has background issues, both internal and external to the site, namely the oblivion of Senen as an art area at that time, a lot of vandalism around the site, many people who work as mural artists, and the function of the Senen area as a business area has not been maximized. Keywords:  Art; Interactive Gallery; Narrative Architecture; Senen; Urban Acupuncture Abstrak Kawasan Senen pernah menjadi jantung kota, sehingga banyak masyarakat dari berbagai golongan yang singgah di Senen termasuk para seniman, aktivis, dan sebagainya. Senen telah melahirkan seniman-seniman ternama Indonesia. Namun karena tergusur oleh waktu, perlahan kejayaan Senen meredup. Pemerintah telah mengupayakan berbagai hal, mulai dari pertunjukan wayang orang Bharata Purwa, hingga kursus menari gratis di Museum Kebangkitan Nasional. Namun upaya-upaya yang dilakukan belum berhasil. Hingga saat ini seni di Senen masih meredup padahal daerah Senen memiliki potensi. Yang diharapkan dari proyek ini adalah, proyek ini dapat menjadi generator di Kawasan Senen sekaligus wadah dimana seniman dapat kembali mengekspresikan dirinya, Urban Accupuncture juga diterapkan untuk membangkitkan kembali aktivitas masyarakat terutama terkait seni pada daerah sekitar. Urban Accupuncuture bertujuan memperbaiki area-area terbengkalai pada struktur kota, dengan memperkenalkan kembali dan menyesuaikannya dengan konteks lingkungan. Metode perancangan yang digunakan adalah metode naratif, dimulai dari mengidentifikasi isu terkait Kawasan Senen, kemudian melakukan observasi secara langsung maupun dari data-data dari berbagai sumber. Program yang diusulkan adalah galeri seni interaktif, lokakarya mural, ruang pameran, serta studio sewa. Masing-masing program memiliki latar belakang isu baik internal maupun eksternal dari tapak, yaitu terlupakannya Senen sebagai Kawasan seni pada masanya, banyaknya vandalisme di sekitar tapak, banyaknya masyarakat yang bermata pencaharian sebagai seniman mural, serta belum maksimalnya fungsi Kawasan Senen sebagai daerah bisnis.
RUANG PUBLIK YANG MEREPRESENTASIKAN KARAKTER KANAL SEBAGAI UPAYA MENGHIDUPKAN KAWASAN GUNUNG SAHARI Cynthia Eliza Sony; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21734

Abstract

Gunung Sahari area in Central Jakarta is known for its large road which acts as a link between many areas in Jakarta. Although many vehicles pass by every day, Gunung Sahari itself is not the destination of choice for many people, even though this area was a memorable place of entertainment for Jakarta residents in the past. Nowadays Gunung Sahari area lack of visitors and the image of the area is starting to dim, making this location only a road that is passed by, not to be visited. As a response, a public space is designed to present a new memory for the area in order to revive Gunung Sahari area. The design of this public space borrows the definition and the characteristic from the word 'canal', which originated from the history of Gunung Sahari area’s development. A canal functions as transportation route, irrigation, flood control, and tourist destination, which obviously became the character of Gunung Sahari area in the past. In this context, the designed public space will act as a transit point as well as a place of recreation for residents who circulate around the area to unwind and fulfill their daily needs through a variety of accommodated programs. The building is designed with an open concept to merge indoors and outdoors so that visitors can enjoy the greenery surrounding the site which also contributes a green space for the area. In addition, there are many communal spaces with flexible arrangements that allow space to grow over time. Keywords: Canal; Public Space; Recreation Abstrak Kawasan Gunung Sahari di Jakarta Pusat dikenal dengan jalan besarnya yang berperan sebagai penghubung banyak wilayah di Jakarta. Meski banyak dilalui kendaraan setiap harinya Gunung Sahari sendiri bukan menjadi pilihan destinasi banyak orang, padahal kawasan ini pernah menjadi tempat hiburan warga Jakarta yang cukup berkesan di masa lampau. Kini kawasan Gunung Sahari sudah sepi pengunjung dan citra kawasan yang mulai redup membuat lokasi ini sebatas menjadi jalan yang dilewati bukan untuk disinggahi. Sebagai respon, dirancang sebuah ruang publik untuk menghadirkan memori baru terhadap kawasan agar dapat menghidupkan kembali kawasan Gunung Sahari. Perancangan ruang publik ini meminjam definisi dan karakteristik dari kata ‘kanal’, yang merupakan awal mula dari sejarah perkembangan kawasan Gunung Sahari. Kanal memiliki fungsi sebagai jalur transportasi, irigasi, pengendali banjir, dan tujuan wisata, yang tentunya menjadi karakter kawasan Gunung Sahari di masa lampau. Dalam konteks tersebut, ruang publik yang dirancang akan berperan sebagai titik transit sekaligus tempat rekreasi bagi warga yang bersirkulasi di sekitar kawasan untuk melepas penat dan memenuhi kebutuhan sehari-hari melalui variasi program yang diwadahi. Rancangan bangunan dibuat dengan konsep terbuka untuk meleburkan ruang dalam dengan luar agar pengunjung dapat menikmati penghijauan disekeliling tapak yang juga menjadi sumbangan ruang hijau bagi kawasan. Selain itu disediakan banyak ruang komunal dengan penataan yang fleksibel memungkinkan ruang untuk tumbuh seiring berjalannya waktu.
PENATAAN ULANG SITU CIPONDOH MENGGUNAKAN MITOS ULAR BERMAHKOTA DAN BUAYA PUTIH Bryan Juan Susanto; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21735

Abstract

Cipondoh sub-district is often hit by floods, which are caused by various things such as the amount of waste, lack of public green open space, and high density. One of the buildings that has been affected by some of these problems is Situ Cipondoh. Water tourism areas, which have been frequented by people from time immemorial, are starting to be affected by land degradation and water cleanliness. Therefore, by designing an architectural response in the form of providing a culinary trade area and shops and rearranging the design of Situ Cipondoh, the design of Situ Cipondoh will strengthen public awareness of environmental cleanliness from waste and also the availability of public green open spaces. The design of Situ Cipondoh uses a narrative design method using myths in order to remind the surrounding community to continue to protect the environment of Situ Cipondoh, namely the snake with the crown and the white crocodile. How to apply it by designing compositions with the shapes of snakes or crocodiles. This method of using myths can help the purpose of reorganizing Situ Cipondoh, which reminds people to continue to protect the environment of Situ Cipondoh. The proposed program also addresses and deals with the myths of the crowned serpent and the white crocodile. Solving these problems is done through rearrangement, design strategies through design methods. The mass compositions created finally have the essence of a snake and have a crocodile facade so that people can remind themselves of the importance of maintaining cleanliness in the Situ Cipondoh area. Keywords:  Situ Cipondoh; Snake; Crocodile; Design; Environment Abstrak Kecamatan Cipondoh sering dilanda oleh banjir, yang disebabkan oleh berbagai hal seperti banyaknya limbah, kurangnya ruang terbuka hijau publik, dan kepadatan yang tinggi. Salah satu bangunan yang sudah terdampak oleh beberapa masalah tersebut adalah Situ Cipondoh. Area wisata air yang dari dahulu kala sering dikunjungi orang, mulai terkena degradasi secara lahan, dan kebersihan air. Maka itu dengan mendesain sebuah respon arsitektur berupa pemberian area perdagangan kuliner maupun pertokoan serta penataan ulang desain dari Situ Cipondoh, maka desain Situ Cipondoh akan memperkuat kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan dari limbah dan juga tersedianya ruang terbuka hijau publik. Desain Situ Cipondoh ini mengambil metode desain narasi dengan menggunakan mitos agar dapat mengingatkan kembali kepada masyarakat sekitar untuk terus menjaga lingkungan Situ Cipondoh yaitu ular bermahkota dan buaya putih. Cara penerapannya dengan mendesain gubahan dengan bentuk-bentuk dari ular atau buaya. Metode menggunakan mitos ini dapat membantu tujuan penataan ulang Situ Cipondoh, dimana mengingatkan kembali kepada masyarakat untuk terus menjaga lingkungan Situ Cipondoh. Program yang diusulkan juga menjawab dan berhubungan dengan mitos ular bermahkota dan buaya putih. Penyelesaian masalah tersebut dilakukan melalui penataan letak ulang, strategi desain melalui metode desain. Gubahan yang tercipta akhirnya memiliki esensi ular dan memiliki fasad buaya agar orang dapat mengingatkan dirinya tentang pentingnya menjaga kebersihan di kawasan Situ Cipondoh.
PASAR TEMATIK JALAN SURABAYA, JAKARTA: MENGHIDUPKAN KAWASAN JALAN SURABAYA SEBAGAI LOKAWISATA Farah Aulia Rahma Safitri; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22625

Abstract

Surabaya Street is one of tourist attraction areas in Menteng, Central Jakarta which was famous for its Antique Market. But now, its name starts to fade. Surabaya Street as a tourist attraction area has lost its appeal. The Thematic Market is expected to restore the attractiveness of Surabaya Street as one of the tourist attraction areas in Menteng, where The Food Market acts as a supporting attractor for The Antique Market which is the main attractor of Surabaya Street. The Food Market design concept in collaboration with The Antique Market,so The Food Market as a support is designed more simply. The two markets are visually and physically connected by a bridge. As an urban acupuncture, this connectivity plays a role in maintaining the continuity of activity. The activities at Food Market will not shut off The Antique Market, but rather with The Food Market’s alive there will be interaction with The Antique Market, and vice versa. It is hoped that the two markets can liven up each other and grow together economically too. Keywords: antique market; connectivity; food market; tourist attraction; urban acupuncture Abstrak Jalan Surabaya merupakan salah satu kawasan wisata di Menteng, Jakarta Pusat yang terkenal karena pasar antiknya. Namun saat ini nama tersebut kian meredup.  Jalan Surabaya sebagai kawasan wisata menjadi kehilangan daya tariknya. Dengan adanya Pasar Tematik ini diharapkan mampu mengembalikan daya tarik Jalan Surabaya sebagai salah satu kawasan wisata di Menteng, di mana pasar makanan berperan sebagai penunjang Pasar Antik yang merupakan atraktor utama kawasan. Konsep desain Pasar Makanan adalah berkolaborasi dengan Pasar Antik, sehingga Pasar Makanan sebagai penunjang didesain lebih sederhana. Kedua pasar terkoneksi secara visual dan fisik dengan adanya jembatan yang saling menghubungkan. Sebagai urban akupunktur, konektivitas ini berperan untuk menjaga keberlanjutan aktivitas. Aktivitas pada Pasar Makanan tidak akan mematikan Pasar Antik, melainkan dengan Pasar Makanan hidup maka akan terjadi interaksi dengan Pasar Antik, begitu pula sebaliknya. Sehingga diharapkan kedua pasar dapat saling menghidupkan dan tumbuh bersama secara ekonomi.
SKENARIO REGENERASI SEBAGAI INTERVENSI AKUPUNKTUR PERKOTAAN DI KAWASAN JALAN JAKSA, JAKARTA Kevin Adrian; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22626

Abstract

The development of the city tends to have a  negative impact on Jaksa Street tourist area which results in its degradation. Degradation on the once famous street among backpackers is marked by the closures of cafes and restaurants, as well as the increased number of properties that are up for rent or sale. The degrading trend that the street faces leads to changes in the sense of place, which may lead to a change in the character of Jaksa Street, which in the long run could include the death of the once famous tourist corridor. In an effort to maintain the sustainability of the area and the area’s character which holds collective memories for both the local community and tourists, an intervention needs to be carried out to ensure Jaksa Street continuity and survival.   This study aims to develop a street development scenario and development plans for abandoned spaces along the street which are designed to partake in solving Jaksa Street problems. Analysis is carried out by using qualitative methods with primary data obtained by interviews and field visits as well as secondary data obtained from other sources. Urban acupuncture approach is used as a base for the development scenario of the area. The ultimate goal of this study is to develop a street development scenario and intervention plans that can answer existing problems and maintain the sustainability of Jaksa Street. Keywords:  area character; attraction; degradation; tourist area Abstrak Perkembangan kota cenderung berdampak negatif terhadap kawasan wisata Jalan Jaksa yang mengakibatkan terjadinya degradasi. Degradasi pada kawasan yang terkenal di kalangan turis ransel ini ditandai dengan tutupnya kafe dan restoran serta jual beli bangunan. Tren degradasi Jalan Jaksa mendorong terjadinya perubahan pengalaman ruang, yang dapat menyebabkan perubahan karakter dan termasuk matinya kawasan wisata Jalan Jaksa di masa depan. Dalam upaya menjaga keberlangsungan kawasan dan karakter kawasan yang menyimpan kenangan kolektif baik bagi masyarakat lokal maupun turis mancanegara, sebuah intervensi perlu dilakukan untuk menjamin keberlangsungan kawasan wisata  Jalan Jaksa. Tulisan ini bertujuan untuk membentuk sebuah skenario pengembangan kawasan serta rencana pengembangan untuk ruang-ruang yang ditinggalkan sehingga dapat berperan dalam penyelesaian masalah koridor Jalan Jaksa. Analisis menggunakan metode kualitatif dengan data primer yang diperoleh dengan wawancara dan kunjungan lapangan serta data sekunder yang diperoleh dari sumber lain. Dasar perancangan kawasan dilakukan dengan pendekatan akupunktur perkotaan. Tujuan akhir dari tulisan ini adalah untuk menunjukkan skenario pengembangan kawasan dan rencana pengembangan titik-titik intervensi yang dapat menjawab permasalahan yang ada dan menjaga keberlanjutan kawasan wisata Jalan Jaksa.
STRATEGI PENGGUNAAN KEMBALI ADAPTIF PADA PUSAT KOMPUTER DAN PRINTER ORION DUSIT MANGGA DUA Amabel Christy Wibowo; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24188

Abstract

The economic crisis, digitalization, and the pandemic have had a profound impact on the computer and printer retail trade sector with physical stores in Orion Dusit, Mangga Dua. Empathizing with Gen-X traders in this sector who have failed to adapt in the world of commerce due to the crisis or digitalization of the e-commerce market, this project proposes potential architectural solutions centered on sustainable and community-based concepts to revitalize and revive the sector. This research aims to serve as a foundation for a commercial architecture project that can create a tangible community in the computer and printer trading sector that can encourage a sense of ownership, and offer economic stability. This study uses qualitative research methods to renew and improve existing building conditions that have the potential for architectural intervention using adaptive reuse strategies. With a holistic programming strategy that combines user needs from the past, present, and future, the new Orion Dusit will be envisioned to accommodate continuously changing retailer needs, provide alternative business solutions, and grow linearly with the future market. Keywords:  adaptive reuse; commercial; empathy; Gen-X; tangible community   Abstrak Krisis ekonomi, digitalisasi, dan pandemi sangat berdampak pada sektor perdagangan eceran komputer dan printer yang memiliki toko fisik di Orion Dusit, Mangga Dua. Berempati terhadap pedagang Gen-X di sektor ini yang gagal beradaptasi di dunia perdagangan akibat krisis maupun digitalisasi pasar e-commerce, proyek ini mengusulkan potensi solusi arsitektur yang berpusat kepada konsep berkelanjutan dan berbasis masyarakat untuk merevitalisasi dan menghidupkan kembali sektor tersebut.  Penelitian ini bertujuan sebagai landasan untuk proyek arsitektur komersial yang dapat menciptakan komunitas nyata (tangible) dalam sektor perdagangan komputer dan printer yang dapat mendorong rasa kepemilikan (ownership), dan menawarkan stabilitas (stability) ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk memperbarui dan memperbaiki kondisi bangunan eksisting yang berpotensi diintervensi secara arsitektur menggunakan strategi penggunaan kembali adaptif. Pemrograman baru yang diterapkan pada rancangan bersifat holistik yang menggabungkan kebutuhan pengguna pada masa lalu(past), sekarang(present), dan masa depan (future), dengan visi akhir Orion Dusit yang dapat mewadahi perubahan kebutuhan pedagang, memberikan solusi alternatif usaha dan bertumbuh secara linear dengan potensi pasar di masa depan.
PENGEMBANGAN MELALUI PEMAHAMAN EMPATIK HALTE TRANSJAKARTA GROGOL 2 UNTUK MENINGKATKAN KENYAMANAN PENGALAMAN PENGGUNA Gerald Revell Nur Asan; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24191

Abstract

Congestion in urban environments like Jakarta is inevitable due to rapid population growth and increased vehicle usage. The conventional approach of seeking new land for development is unsustainable. This work and research focus on the Grogol 2 bus stop, aiming to understand its current state and learn from past mistakes. The design objective is to reduce passenger fluctuations during peak hours by providing a comfortable waiting area. This study involves research and design, incorporating interviews, relevant precedent studies, and the practical application of architectural principles. An empathic architecture approach is used, serving as a vessel for human activity. Keywords: congestion; empathic architecture; Grogol 2 bus stop; growing population; urban environment Abstrak Kemacetan di lingkungan perkotaan seperti Jakarta tidak dapat dihindari karena pertumbuhan penduduk yang pesat dan peningkatan penggunaan kendaraan. Pendekatan konvensional dalam mencari lahan baru untuk pembangunan tidak berkelanjutan. Karya dan penelitian ini berfokus pada halte bus Grogol 2, dengan tujuan memahami kondisinya saat ini dan belajar dari kesalahan masa lalu. Tujuan desainnya adalah untuk mengurangi fluktuasi penumpang pada jam sibuk dengan menyediakan area tunggu yang nyaman. Studi ini melibatkan penelitian dan desain, dengan melibatkan wawancara, studi preseden relevan dalam kolaborasi dengan prinsip-prinsip arsitektur dengan terapan praktis. Pendekatan arsitektur empatik digunakan, yang berperan sebagai wadah bagi aktivitas manusia.