Petrus Rudi Kasimun
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

TAMAN HEWAN PELIHARAAN DAN TEATER KEBON JERUK Judy Christiana Yeo; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6784

Abstract

People are always looking for something outside of what they find at home or at work. With the rapid population and economic growth in Indonesia, Jakarta has become one of the cities with the highest First and Second Place developments. The need for Third places is increasing to balance city growth as an alternative space. Companion animals can be a catalyst for several dimensions of personal and social relationships and interactions, to the formation of new friendships / communities. Given the increasing evidence of social isolation as a health risk factor, companion animals are an important factor in developing a healthy environment. Kebon Jeruk, West Jakarta has one of the most dominant First and Second Place developments. Based on survey results and analysis, as an area with one of the highest animal owners, this has hindered animal lovers from bringing their pets to public spaces safely and freely because of local regulations. Kebon Jeruk Pet Park and Theater is intended as a forum for residents of the surrounding population, for both animal lovers and other users that can intergrate basic  Third place theories with programs suitable for the needs of housing residents, workers, students, and users of nearby health facilities that focuses on the relationship between humans and their pets to improve the quality of life both physically and mentally as well as increase public tolerance and knowledge of the benefits of pets on daily life. AbstrakManusia selalu mencari sesuatu di luar apa yang mereka temukan di rumah atau di tempat kerja. Dengan pesatnya pertumbuhan kependudukan dan ekonomi di Indonesia, Jakarta menjadi salah satu kota dengan pembangunan First Place dan Second Place yang tinggi. Kebutuhan akan Third place meningkat sebagai wadah alternatif dan penyeimbang pertumbuhan kota. Hewan pendamping dapat menjadi katalisator untuk beberapa dimensi hubungan dan interaksi personal dan sosial, hingga pembentukan persahabatan/komunitas baru. Mengingatnya semakin banyak bukti isolasi sosial sebagai faktor resiko kesehatan, hewan pendamping menjadi faktor penting dalam mengembangkan lingkungan yang sehat. Kebon Jeruk, Jakarta Barat sangat mendominasi dalam pembangunan First dan Second Place. Sebagai wilayah pemilikan hewan yang cukup tinggi, dari hasil survey dan analisis, hal ini menghambat para pecinta hewan karena peraturan setempat yang cenderung mengakibatkan para pemilik hewan untuk tidak dapat membawa hewan peliharaannya ke tempat umum secara aman dan leluasa. Taman Hewan Peliharaan dan Teater Kebon Jeruk ditujukan sebagai sebuah wadah untuk warga penduduk baik pecinta hewan maupun bukan di sekitarnya yang dapat menggabungkan teori dasar Third place dengan program yang sesuai untuk kebutuhan para penduduk perumahan, pekerja, mahasiswa/murid, dan pengguna fasilitas kesehatan sekitar yang berfokus pada hubungan antara manusia dengan hewan peliharaannya guna meningkatkan kualitas hidup dalam bentuk fisik maupun mental dan meningkatkan toleransi dan pengetahuan masyarakat akan manfaat hewan peliharaan terhadap kehidupan sehari-hari.
TRIBUN SEPAKBOLA BERBASIS ALAM SEBAGAI TEMPAT BERAKTIVITAS PUBLIK DI KELURAHAN KALIANYAR Christopher Tjandrawira; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8612

Abstract

As one of the most populous sub-districts in Jakarta ,Kalianyar is experiencing social and health problems due to lack of green space which causes lack of space for activities and the emergence of various diseases. Kalianyar actually has a soccer field that can be used as a substitute for a green space, but until now, it has never been used because of its hidden location and exclusivity. This project aims to utilize the field to become a third place with natural nuances that can accommodate the activities of the community. A field, which is merely space, will not immediately become a "third place". A design is required, which in this case, a stands that support and connect the field, to give activities to the empty field so it can be a place of activity. The Tribune, in general, is an exclusive building to football fans, so an analysis that focuses on activities and materials is needed so that the design can be a green open space for the whole society of Kalianyar. The method used is  architectural design method with an ecological architecture approach. The results obtained is bamboo tribune. given the lack of space and cost, the use of bamboo material can be a solution because it can grow quickly, economically good and can provide a natural green space to the environment. Keywords: Green open space; Public Activity; TribuneAbstrak Sebagai salah satu kelurahan terpadat di Jakarta, Kalianyar mengalami permasalahan sosial dan kesehatan karena kurangnya ruang hijau yang  menyebabkan kurangnya ruang untuk beraktivitas dan munculnya berbagai macam penyakit. Kalianyar sebenarnya memiliki sebuah lapangan sepakbola yang  dapat digunakan sebagai pengganti dari sebuah ruang hijau, namun hingga sekarang, tidak pernah dimanfaatkan akibat lokasinya yang tersembunyi dan eksklusifitas lapangan. Proyek ini bertujuan untuk memanfaatkan lapangan tersebut menjadi sebuah tempat ketiga dengan nuansa alam yang dapat mewadahi aktivitas masyarakatnya. Sebuah lapangan, yang merupakan sekadar ruang, tidak akan seketika menjadi sebuah “tempat ketiga”. Sebuah desain diperlukan, yang dalam kasus ini, sebuah tribun yang menjadi, pendukung, dan penghubung pada lapangan, untuk menghidupkan dan memberi aktivitas pada lapangan kosong tersebut agar dapat menjadi sebuah tempat beraktivitas. Tribun, secara umum merupakan bangunan yang eksklusif oleh penggemar sepakbola, sehingga diperlukan analisis yang berfokus pada aktivitas dan material agar desain dapat menjadi ruang terbuka hijau bagi seluruh masyarakat Kalianyar. Metode yang digunakan merupakan metode perancangan arsitektur dengan pendekatan Arsitektur ekologi. Hasil yang didapat berupa tribun bambu. mengingat minimnya ruang dan biaya, penggunaan material bambu dapat menjadi solusi karena dapat tumbuh dengan cepat, ekonomis serta dapat memberikan  ruang hijau secara alami kepada lingkungan.
FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH PLASTIK DAN GALERI EDUKASI DI KAMPUNG MELAYU Pramukti Siswo Sunarno; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12464

Abstract

The increase of solid waste production is a general problem in municipality, particularly of plastic waste. Architecture is always closely related to settlements and the environment. With this plastic waste, the problems that arise in residential areas must be various, including an uncomfortable atmosphere around residential areas. However, so far the existing problems have not been resolved strategically so that negative impacts always arise with the environment and society. For the solution offered in dealing with this case is a design to accommodate those related to waste management in activities. Processing and management of plastic waste must be carried out through the application of environmental sustainability that is able to integrate ecology-based management. By proposing a plastic waste processing facility as well as a gallery for exhibitions of art objects made of plastic waste and a workshop for handicrafts made of plastic waste, this building is expected to reduce the impact of plastic waste accumulation in Malay villages. The exhibition area in this building is also a way to touch the community about waste education and become a new tourist spot that is related to other tourist attractions in the vicinity as well as solving waste problems in the environment and workshops that create creative and unique items that can attract visitors. Keywords: Art; Educational Gallery; Plastic waste ; Plastic Waste Problems; Plastic Waste ProcessingAbstrak Peningkatan timbunan sampah, khususnya sampah plastik, merupakan masalah yang paling sering dihadapi oleh masyarakat di lingkungan perkotaan. Arsitektur selalu berkaitan erat dengan permukiman dan juga lingkungan. Dengan adanya sampah plastik ini maka permasalahan yang timbul di kawasan permukiman pasti bermacam-macam, diantaranya timbul suasanya tidak nyaman di sekitar kawasan permukiman. Namun selama ini permasalah yang ada belum tertuntaskan secara strategis sehingga dampak-dampak negatif selalu timbul bersama lingkungan dan masyarakat. Untuk solusi yang ditawarkan dalam menghadapi kasus ini adalah sebuah rancangan untuk mewadahi terkait dengan pengelolaan sampah dalam beraktifitas. Pengolahan dan pengelolaan sampah plastik harus dilakukan melalui penerapan keberlanjutan lingkungan yang mampu mengintegrasikan pengelolaan berbasis ekologi dan wadah untuk masyarakat dalam mempelajari nilai penting dari sampah baik secara negatif maupun positif. Dengan mengusulkan sebuah wadah fasilitas pengolahan sampah plastik dan juga galeri untuk pameran benda-benda seni yang terbuat dari sampah plastik dan bengkel kerja kerajinan tangan dari sampah plastik, bangunan ini diharapkan dapat mengurangi dampak timbunan sampah plastik di kampung melayu. Area pameran pada bangunan ini juga merupakan sebagai salah satu cara untuk menyentuh masyarakat tentang edukasi persampahan dan menjadi tempat wisata baru yang berhubungan dengan tempat wisata lain disekitarnya sekaligus memecahkan permasalahan sampah di lingkungan dan workshop yang menciptakan barang-barang kreatif dan keunikan yang dapat menarik para pengunjung. 
BANGUNAN KANTOR MULTIFUNGSI DI TANAH ABANG Annissa Nur Sofura; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4481

Abstract

Millennials is still a very hot topic to discuss. The many problems in this generation make most people research and find ways to overcome these things. On this occasion, the millennial generation problem that will be chosen to be solved with architectural products is the productive age. This productive age is the background of the main activity of the millennial generation, which is working. Many studies also say that this work is the cause of the highest level of stress occurring in this generation. After being examined more deeply, not because it has to work which is the main reason for the stress level to occur in millennials, but the conditions and work systems that are not in accordance with the criteria of that generation. Therefore, the "office" program will be the solution. The office to be created will be divided into two types, namely the rental office built in the form of a high-rise building with a per-floor rental system, and a co-working space built in the form of a low-rise building with a per-room rental system. To support the main program in the form of an office, supporting programs will also be proposed. This project will be made using a typology method, where the process will go through an analysis phase on several aspects used by the previous office buildings and see how it will develop to office buildings until 2019. The main concept of this building will be "icon" or monumental , and is expected to show the shape of millennial buildings. AbstrakGenerasi milenial masih menjadi topik yang sangat hangat diperbincangkan. Banyaknya permasalahan pada generasi ini menjadikan sebagian besar manusia meneliti dan mencari cara untuk mengatasi hal-hal tersebut. Pada kesempatan kali ini, permasalahan dari generasi milenial yang akan akan dipilih untuk diselesaikan dengan produk arsitektur yaitu berupa usia produktif. Usia produktif tersebut melatarbelakangi aktivitas utama generasi milenial berupa bekerja. Banyak juga penelitian yang mengatakan bahwa pekerjaan tersebut menjadi penyebab terjadinya tingkat stress tertinggi terjadi pada generasi ini. Setelah di teliti lebih dalam, bukan karena harus bekerja yang menjadi alasan utama tingkat stress terjadi pada milenial, melainkan kondisi dan sistem kerja yang tidak sesuai dengan kriteria generasi tersebut. Oleh karena itu, program “kantor” akan menjadi jalan keluarnya. Kantor yang akan dibuat akan dibagi menjadi dua tipe, yaitu kantor sewa yang dibangun dengan bentuk bangunan tinggi dengan sistem penyewaan per-lantai, dan co-working space yang dibangun dengan bentuk bangunan rendah dengan sistem penyewaan per-ruang. Untuk mendukung program utama berupa kantor maka akan diusulkan pula program penunjang. Proyek ini akan dibuat dengan metode tipologi, dimana prosesnya akan melalui tahap analisa pada beberapa aspek yang digunakan oleh bangunan – bangunan kantor terdahulu dan dilihat bagaimana perkembangannya terhadap bangunan kantor hingga tahun 2019. Konsep utama bangunan ini akan mengarah pada “icon” atau bisa disebut monumental, dan diharapkan dapat memperlihatkan bentuk bangunan milenial.
PONDOK PEDULI ANAK JALANAN Lavia Lavia; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10902

Abstract

The condition of a child who does not have parents or a guide in life will be difficult to develop and grow well. It takes the right place for children to study together regardless of race, economy, and other problems. A place that becomes a home for children to learn and play together with the right people and understand very well about children's problems. Even parents always hope that their children can grow up to be children who have good and healthy personalities. But of course parents themselves are not perfect creatures who can teach it all. Because humans have their own skills and talents. Respectively Even having parents, there is no guarantee that parents really understand the child's condition. Very often parents do not understand or even pay less attention which of course affects the child's growth and development. Because humans naturally need other people to be role models or examples in their life. One solution that can address this problem is by designing a halfway house for street children that has appropriate facilities for child development, is environmentally friendly, and is located close to where street children are. Street children generally earn money on streets close to public transportation locations. some street children have been handled by an orphanage. However, the facilities and the number of orphanages are not proportional to the number of street children. So that not all street children can be handled properly. Designs are made not only for theoretical learning but also for developing other types of children's intelligence. The process of form and space is made according to the needs that will be needed by children in terms of health, hobby distribution, social interaction, and education. So that children can feel learning is not just a theory but can also be channeled into other forms of activity. Keywords: develop and grow well; house for street children; personalitites AbstrakKondisi anak yang tidak memiliki orangtua maupun penuntun dalam hidupnya akan sulit untuk berkembang dan tumbuh dengan baik. Diperlukan tempat yang tepat untuk anak dapat belajar bersama tanpa memandang ras, ekonomi, dan masalah lainnya. Tempat yang menjadi rumah untuk anak belajar dan bermain bersama dengan orang yang tepat dan paham betul tentang persoalan anak.  Orangtua sekalipun selalu berharap anaknya dapat tumbuh menjadi anak yang memiliki kepribadian baik dan sehat. Tetapi tentunya orangtua sendiri bukan mahkluk sempuran yang dapat mengajarkan itu semua. Karena manusia memiliki keahlian dan bakat masing – masing. Bahkan memiliki orangtua sekalipun tidak ada jaminan orangtua mengerti betul tentang kondisi anak. Sering sekali orangtua kurang memahami atau bahkan kurang memberikan perhatian yang tentu saja berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Karena sewajarnya manusia memerlukan orang lain untuk menjadi panutan atau contoh dalam hidupnya. Salah satu solusi yang dapat menangani masalah tersebut dengan merancang rumah singgah untuk anak jalanan yang memiliki fasilitas yang sesuai untuk perkembangan anak ,ramah lingkungaan, serta letaknya dekat dengan dimana anak jalanan berada. Anak jalanan pada umumnya mencari uang dijalan berdekatan dengan lokasi transpotasi umum. beberapa anak jalanan sudah di tangani oleh panti asuhan. Akan tetapi, fasilitas serta jumlah panti asuhan tidak sebanding dengan jumlah anak jalanan. Sehingga tidak semua anak jalanan dapat tertangani dengan baik. Rancangan dibuat tidak hanya untuk belajar secara teori melainkan mengembangkan jenis kecerdasaaan anak lainnya. Proses bentuk dan ruang dibuat menyesuaikan dengan kebutuhan yang  akan dibutuhkan anak dari segi kesehatan, penyaluran hobi, interaksi sosial, dan edukasi.  Sehingga anak dapat merasakan belajar tidak hanya sekedar teori akan tetapi juga dapat disalurkan dalam bentuk aktivitas lainnya. 
HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARGENERASI MELALUI RUANG PUBLIK UNTUK BERINTERAKSI SOSIAL DAN BERMAIN Renadi Mohammad Rediansyah; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8560

Abstract

AbstractPlay is an activity that can improve the quality of life. Increasing motoric and sensoric neuron activity are one of the positivity by playing. Play is an activity needed by children to elderly. All of the segmented age grop have their interest and different social skill level. Therefore, each age group have their own play space. As they got older, play space will changes by their interest. South Cipete is a district dominated by housing and commercial. There are oppurtunity to create play space for all ages. This facility will have play space for every group age and for all ages. Every group have their own play space to interact with their group ages according to their social skill ability. Play space is combined from all of the group ages to create mutual relation, younger group of ages can learn from older group of age and older group of ages can learn from younger group of ages. This facility will provide positive programme like sports, play space, and a place to interact so that childrens and teens can learn, adults can hone, and elderly can pour their interests and social skill. So as to create a reciprocal intergenerational realtionship. With this, it is hoped that South Cipete has social facilities that can improve the quality of life of its people. Keywords: Age; Facility; Learn; Play; Relationship AbstrakBermain merupakan aktivitas yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia. Meningkatkan keaktifan sel saraf motorik dan sensorik pada otak merupakan dampak positif dari bermain. Semua segmen umur membutuhkan aktivitas bermain mulai dari anak-anak sampai lanjut usia. Setiap segmen umur memiliki minat dan kemampuan sosial yang berbeda. Oleh karena itu setiap segmen umur memiliki tempat bermain masing-masing. Seiring dengan bertambahnya umur tempat bermain akan berubah wujudnya sesuai dengan minat. Cipete Selatan merupakan kelurahan yang didominasi oleh hunian dan komersil. Ada peluang untuk menciptakan tempat bermain untuk semua segmen umur. Fasilitas ini akan memiliki tempat bermain untuk setiap segmen umur secara terpisah dan bersama. Dipisahkan agar setiap segmen umur dapat berinteraksi dengan segmen umur masing-masing sesuai dengan kemampuan sosialnya. Digabungkan agar tiap segmen umur akan memberikan hubungan untuk saling belajar, yang muda belajar dari yang tua, yang tua belajar dari yang muda. Fasilitas ini akan diisi dengan program yang positif seperti olahraga, tempat bermain, dan tempat berbincang agar anak-anak dan remaja dapat mengasah, dewasa mengembangkan, dan lanjut usia menuangkan minat dan kemampuan sosialnya. Sehingga tercipta suatu hubungan timbal balik antargenerasi. Dengan ini diharapkan Kelurahan Cipete Selatan memiliki fasilitas sosial yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.
APLIKASI SENSORIAL ARCHITECTURE PADA FASILITAS PENGOLAHAN DAN PENGELOLAAN SAMPAH PLASTIK DI KELURAHAN PAPANGGO Jasmine Calista; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12446

Abstract

Plastic is one of the most popular materials because of its flexiblity, low cost, and durability. However, despite being durable, a lot of plastics are only used once before ending up in landfills or the environment; piles of plastic waste can be seen floating on the sea because of their non-degradable nature. The plastic waste treatment and management facility responds to this problem in two ways, namely through processing plastic waste into raw materials used in making the filament for 3D printing, and through management, by the manufacture of alternative materials (algae bioplastic) using the wastewater obtained from washing plastics and by inviting the community to participate through upcycling. Through this, plastic waste can be converted into a usable product (such as furniture, ornaments, and others), and if said product is defected or broken, it can be recycled back and turned into raw material for another printing process, thus creating a circular economy. Furthermore, as citizens’ awareness towards the proper management of plastic waste and the reduction of  plastic consumption plays an important role in addressing this issue, this project uses the sensorial architecture of the seven senses (sight, hearing, smell, touch, taste, skeleton and muscle) as a design approach to make the users ‘feel’ the building. As a result, the purpose of this project, which is to help in managing plastic waste and to raise awareness regarding this issue, can be achieved through the programs and spatial experience. By using technology and sensorial architecture design, not only does this project generate product from plastic waste, but also creates a new ecology to an industrial building.Keywords: 3D printing; plastic waste; sensorial architecture; seven senses; spatial experience AbstrakPlastik merupakan salah satu bahan yang paling sering digunakan karena sifatnya yang fleksibel, murah, dan tahan lama. Namun, meski mempunyai sifat yang tahan lama, banyak plastik yang hanya dipakai sekali sebelum akhirnya berakhir di TPA atau di lingkungan. Sifatnya yang tidak bisa / sulit terdegradasi menyebabkan dampak buruk pada lingkungan, terutama ekosistem laut. Perancangan fasilitas pengolahan dan pengelolaan sampah plastik merespon terhadap masalah ini dengan dua cara, yaitu melalui pengolahan sampah plastik menjadi bahan dasar filamen dalam fasilitas pencetakan 3D dan pengelolaan melalui pembuatan bahan alternatif (alga bioplastik) dari air bekas hasil pencucian plastik, dan dengan mengajak masyarakat untuk turut ikut serta melalui program upcycling. Melalui cara ini, sampah plastik dapat diolah menjadi barang yang dapat digunakan kembali, dan hasil produk (berupa furnitur, ornamen, dan lainnya) yang sudah rusak dapat didaur ulang dan diolah kembali menjadi produk yang baru sehingga menciptakan sebuah ekonomi yang sirkuler. Selain itu, karena kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan dan pengurangan konsumsi plastik juga menjadi bagian penting dalam mengatasi masalah ini, perancangan menerapkan pendekatan desain arsitektur sensori melalui ketujuh indera manusia (penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, pengecap, tulang dan otot) agar dapat menjadi bangunan yang dapat ‘dirasakan’ oleh penggunanya. Dengan ini, tujuan perancangan untuk membantu mengelola sampah plastik dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kondisi lingkungan sekarang ini dapat disampaikan melalui program dan pengalaman ruang yang dirasakan. Melalui penggunaan teknologi dan penerapan desain arsitektur sensori, perancangan tidak hanya menghasilkan produk olahan sampah plastik, tetapi juga menciptakan ekologi baru pada bangunan industri.
PUSAT INTEGRASI AGRIKULTUR DI BUMI SERPONG DAMAI Yunior Dharma Aryindra; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4463

Abstract

The government has the idea to develop a Modern Agricultural Zone in BSD (Bumi Serpong Damai) covering an area of 36ha which can support for 700ha of agricultural land around the area. We need a place where producers, consumers and the public can gather together to explore, develop and share experiences in the food production system in urban area. This will be great first movement for the next greater movement so that agriculture can merge into city-life and become a daily life for the urban community. Agricultural Hub in BSD has potentiallity to reduce barriers between consumers and producers which usually take long times cyclus because production activies are carried in the villages and sales in urban areas, but with this Agricultral Hub we can break the long chain so it can create a sustainable and efficient cyclus. Because this building located in the middle of the city, it provides direct education for the urban community about agriculture and the renewal and development of agricultural technologies. Agricultural Hub in Bumi Serpong Damai operates with a number of main programs whose serving and providing all cyclus of the food production process to reach consumers. Starting from production, process, cooking to sales available in here, plus there are research facilities and offices for young start-ups who want to enter the world of agriculture. Located in the CBD (Central Business District) of BSD and directly adjacent to agricultural land makes Agricultural Hub in Bumi Serpong Damai a connector between urban areas and agricultural land, which make benefit to the areas. AbstrakPemerintah memiliki gagasan untuk mengembangkan Kawasan Pertanian Modern di BSD (Bumi Serpong Damai) seluas 36 Ha yang dapat memberikan dukungan terhadap lahan pertanian seluas 700 Ha di sekitar kawasan tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan wadah produsen kota. Pusat Integrasi Agrikultur memiliki potensi dirancang untuk mengurangi hambatan antara konsumen dan produsen yang biasanya berlangsung secara berjenjang dan panjang namun dengan adanya pusat ini dapat memutuskan rantai tersebut sehingga dapat menciptakan iklim yang berkelanjutan dan efisien. Serta dengan letaknya yang berada di tengah kota memberikan edukasi secara langsung bagi masyarakat kota mengenai apa itu pertanian serta pembaharuan dan pengembangan teknologi-teknologi pertanian. Pusat Integrasi Agrikultur di Bumi Serpong Damai beroperasi dengan beberapa program utama yang sifatnya melayani dan menyediakan semua  tahapan proses produksi pangan hingga sampai ke tangan konsumen. Dimulai dari produksi, proses, memasak hingga penjualan tersedia disini ditambah dengan adanya fasilitas riset dan kantor bagi start-up muda yang ingin masuk ke dalam dunia agrikultur juga tersedia di sini. Dengan lokasi yang berada di kawasan CBD (Central Business District) BSD serta berbatasan langsung dengan lahan pertanian menjadikan Pusat Integrasi Agrikultur sebagai konektor antara kawasan perkotaan dan lahan pertanian, yang tidak memutus tetapi menyambungkan antar keduanya.
RUANG KOMUNITAS SENIOR: HORIZON Monique Priscilla; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10901

Abstract

Globally, elderly population keeps increasing in numbers. Since 2015, Asian countries including Indonesia began entering ageing population. Humankind predicted to live longer. Nonetheless, they are mortal. Humankind is called Dasein (being in the world). The world is a concept, relationship between ourselves and objects or other human beings. Basically Dasein is actively involved with everyday objects. The essence of Dasein is it's active interpreting (constantly something to be settled) seeing as Dasein cannot be considered a finished whole, Dasein always looking for identity. Dasein’s being as a whole can only be disclosed by Dasein being dead, for they no longer exist in the world. According to 2005 Stanford research, the majority of elderly prefer contributing to society, and 30% proven to do so. The latest stage of man emotional development experienced by elderly, individually older than the age 60. Interacting with the younger generation would result in greater contentment and benefits each other. By providing a space to encounter other people with different ages, hopefully there will be exchange of experience, a legacy of life. Through the Horizon Senior Society, millennial generations can explore a dwelling story from the past to the present and the future.  Keywords:  Elderly; Death; Interaction; Dwelling. Abstrak Secara global, populasi lansia diprediksi terus mengalami peningkatan. Sejak tahun 2015 Benua Asia dan Indonesia memasuki era penduduk menua. Diprediksi manusia akan hidup lebih lama lagi. Manusia disebut sebagai Dasein (Ada-di-sana), yakni Ada-dalam-dunia (being-in-the-world). Dunia merupakan konsep dimensi hubungan antar diri sendiri dengan benda atau manusia lain. Dasein pada dasarnya terlibat secara aktif dengan objek keseharian. Esensi Dasein adalah suatu 'kebeluman terus menerus' karena ia tidak pernah mencapai keseluruhannya, selalu mewujudkan dan mencari jati diri. Manusia mencapai totalitasnya dalam kematian, karena manusia/dasein berhenti sebagai berada-di-dalam-dunia. Menurut riset Stanford tahun 2005, mayoritas lansia memilih untuk berkontribusi terhadap masyarakat, dan terbukti 30% sudah menjalaninya. Tahap akhir pengembangan emosi manusia dirasakan pada lansia umur 60 tahun ke atas. Berinteraksi dengan generasi muda akan memberi dampak rasa kepuasan yang lebih besar dan saling menguntungkan. Dengan memberikan wadah sebagai titik temu antar generasi, diharapkan terjadi sebuah transfer pengalaman akan legacy kehidupan. Melalui Horizon Senior Society, generasi milenial dapat menggali sebuah cerita dwelling masa lalu, ke masa kini dan masa depan.
MAKNA AMBATIK – PALMERAH Indra Lesmana; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6845

Abstract

The existence of an open space, is truly important to nowadays urban society. Because basically, community of a city has been bounded to open spaces around that city. The need of a thirdplace in a city, now, is way more than just a regular, it became a lifestyle. This thirdplace phenomena give impacts to the usage of outdoor spaces in the city which used to be indoor spaces, now became outdoor ones (public areas). What used to be a mall and a café that are favorites, now turning into outdoor spaces such as parks, streets (pedestrians), public spaces for children, recreation areas, and so on. Jakarta, especially in Palmerah, open spaces are very rarely  found. In the other side, Palmerah used to be known for its batik, but now it’s already all  gone. Batik as the main program that supports this thirdplace is expected to be able to accommodate the work or activities of local residents. Hold on to Ray Oldenburg’s theory about the third place criteria, batik in this design is intended as a medium for local residents to meet, greet, and interact. With this, batik media is able to accommodate the need of a thirdplace itself. However  still, open spaces in this design has the largest percentage as public spaces for local residents to do some activities and interactions. Batik phases are realized in creating existing spaces; starting from seeing, then feeling, and finally doing. Batik produced by locals can be resold and later become their income. Plots of spaces, materials, wall tears, and batik carvings are also highlighted in this building to create characteristic of this Ambatik building. With Ambatik, all ages, all genders, all types of ethnicity, culture, and race, can be united without any difference.AbstrakKeberadaan ruang luar sangatlah penting bagi masyarakat kota saat ini. Pada dasarnya, masyarakat memiliki keterikatan pada ruang-ruang terbuka kota. Sekarang, Kebutuhan tempat ketiga di dalam suatu kota sudah lebih dari sekedar kebutuhan biasa, tetapi sudah menjadi gaya hidup. Fenomena tempat ketiga berdampak pada penggunaan ruang luar yang pada awalnya dari penggunaan ruang dalam, mulai beralih ke ruang luar (ruang publik). Yang semula mall dan kafe menjadi ruang favorit, sekarang beralih ke ruang luar publik seperti taman, jalan (pedestrian), RPTRA, tempat rekreasi dan sebagainya. Di Jakarta, tepatnya di Palmerah, ruang-ruang terbuka bagi warga sekitar sangatlah jarang ditemui. Di satu sisi, Palmerah yang dalam sejarah dikenal oleh batiknya, sekarang sudah menghilang. Ambatik hadir untuk menunjang tempat ketiga di kawasan Palmerah, yang diharapkan mampu mewadahi kegiatan ataupun aktivitas dari warga sekitar, sekaligus menghidupkan kembali identitas batik di Palmerah. Dengan teori Ray Oldenburg mengenai kriteria sebuah tempat ketiga, batik dalam rancangan ini dimaksudkan sebagai media bagi warga sekitar untuk bertemu, bersapa dan berinteraksi. Ruang-ruang terbuka dalam rancangan ini juga berguna sebagai ruang publik bagi warga sekitar untuk beraktivitas, berinteraksi untuk melakukan kegiatan seni dan budaya. Fase-fase batik juga diwujudkan dalam menciptakan ruang-ruang yang ada, mulai dari melihat, kemudian merasakan, dan melakukan. Dengan hadirnya Ambatik, diharap mampu meningkatkan relasi antar warga, pemahaman baru tentang batik, dan kesadaran akan tradisi.