Petrus Rudi Kasimun
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

REDESAIN PASAR KOPRO MENJADI PASAR BERBASIS NOL SAMPAH MAKANAN, GROGOL PETAMBURAN Venny Mettasari; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12360

Abstract

Food waste is one of the ecological issues that exist in big cities. In fact, food waste is one of the biggest causes of the greenhouse effect. Food that is thrown away, if stockpiled can produce methane gas which can destroy the ozone layer which can lead to global   warming. According to data from the Ministry of Environment and Forestry's National Waste Management Information System for 2017-2018, the composition of food waste in West Jakarta is the highest among other metropolitan areas with 70% of the composition of waste is food waste. Therefore, the need for handling so that food waste can be processed so that it can be reused. The proposed program aims to create a market cycle based on zero food waste which is expected to reduce environmental issues regarding the amount of food waste that is wasted, especially in the city of Jakarta. The concept used is a sustainable building that uses green architectural design methods so that it can accommodate community activities so that this building is designed to have a semi-open inner space and uses environmentally friendly materials. This market program is also supported by several other programs such as processing and community programs, small kitchens, and dining areas. Activity grouping is made based on zoning and takes into account the privacy of each activity. With this building, it is hoped that it can reduce the increase in food waste which can increase global warming. Keywords:  food waste; global warming, green architecture, zero food waste marketAbstrakSampah makanan adalah salah satu isu ekologi yang terdapat pada kota-kota besar. Nyatanya, sampah makanan merupakan salah satu penyebab efek rumah kaca terbesar. Makanan yang dibuang, jika ditimbun dapat menghasilkan gas metana yang dapat merusak lapisan ozon yang dapat mengakibatkan pemanasan global. Menurut data sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional KLHK tahun 2017-2018, komposisi sampah sisa makanan di Jakarta Barat merupakan yang tertinggi diantara daerah metropolitan lainnya dengan 70% komposisi dari sampah adalah sampah makanan. Oleh karena itu, diperlukannya penanganan agar sampah makanan dapat diolah agar bisa digunakan kembali. Program yang diusulkan memiliki tujuan untuk menciptakan siklus pasar berbasis nol sampah makanan yang diharapkan dapat mengurangi isu lingkungan tentang banyaknya sampah makanan yang terbuang khususnya di Kota Jakarta. Konsep yang digunakan adalah bangunan berkelanjutan yang menggunakan metode desain arsitektur hijau agar dapat mewadahi kegiatan masyarakat sehingga bangunan ini di desain memiliki ruang dalam yang semi terbuka dan menggunakan material yang ramah lingkungan. Program pasar ini pun didukung dengan beberapa program yang lainnya seperti program pengolahan, dan komunitas, dapur kecil, serta area makan. Pengelompokkan kegiatan dibuat berdasarkan zoning dan memperhatikan privasi dari setiap kegiatan. Dengan  adanya bangunan ini diharapkan dapat mengurangi maraknya sampah makanan yang dapat meningkatkan pemanasan global.
SARANA REKREASI AIR DI BEKASI SELATAN Karen Rafaela; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6772

Abstract

The rapid development of the population in this current era leads the growing population density. In daily life, we know the terms of  first-place and second-place (the place of work/school). As the era developments, each function of first-place and second-place is often combined and in the end it has no clear separation of functions between the two. From the issue, comes third-place to be an intermediate space between first-place and second-place to host activities that should be done outside of the both places. Bekasi as one of the most populous city in Indonesia has a large potential source such as Irrigation Channels Kalimalang which can be utilized as recreational facilities and also water treatment as an educational platform for the community and utilize existing technology. The method used in this project is the Behavior Setting Method, by observing the behavior patterns of surrounding communities supported by other methods such as mapping the pattern of human movements and the place that is the goal of the movement. With this method, the goals that we hoped is we can create a program that fits the habits of the community. The results obtained are a third-place with the main water recreation program, and supported by supporting program such as food-street, waterfront garden, cultural show, and commercial to suit the needs of the surrounding community. AbstrakPerkembangan penduduk yang pesat di era sekarang ini menyebabkan kepadatan penduduk yang terus meningkat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal istilah first-place (rumah) dan second-place (tempat bekerja/sekolah). Seiring perkembangan jaman, masing-masing fungsi dari first-place dan second-place seringkali menyatu dan pada akhirnya tidak memiliki pemisahan fungsi yang jelas diantara keduanya. Dari permasalahan tersebut, terbentuklah third-place untuk menjadi ruang perantara antara first-place dan second-place untuk mewadahi aktivitas yang seharusnya dilakukan di luar kedua tempat tersebut. Bekasi sebagai salah satu kota terpadat di Indonesia memiliki sumber potensi besar seperti Saluran Irigasi kalimalang yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana rekreasi dan juga pengolahan air sebagai wadah edukasi bagi masyarakat dan memanfaatkan teknologi yang telah ada. Metode yang dipakai dalam proyek ini adalah Metode Behavior Setting, yakni dengan melakukan pengamatan terhadap pola perilaku masyarakat sekitar yang didukung dengan metode lain seperti melakukan pemetaan terhadap pola pergerakan manusia dan tempat yang menjadi tujuan dari pergerakan tersebut. Dengan metode ini, diharapkan dapat menciptakan program yang sesuai dengan kebiasaan yang ada di masyarakat. Hasil yang diperoleh ialah berupa sebuah third-place dengan program utama rekreasi air, dan didukung oleh program pendukung seperti food-street, waterfront garden, pertunjukkan budaya, dan komersial yang sesuai dengan kebutuhan masayarakat sekitar.
RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DAN PERKEBUNAN KOTA DI KELURAHAN PONDOK BAMBU Giorgio Jivanka; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12325

Abstract

The rate of population growth in big cities, such as Jakarta, which is not followed by good quality human resources has an impact on the birth of other social problems, namely poverty. These problems can lead to conversion of agricultural land to non-agricultural land so that it has an impact on ecological changes that lead to land degradation. Rusunawa (Simple Rental Flats) is one solution to solve the problem of land degradation in urban areas. Rusunawa only solves the problem of land degradation, therefore, the presence of a program that is able to support the economic aspects of its inhabitants is also needed, such as urban plantations. On the other hand, there are social needs that residents need when changing places of residence called social adaptation. This study is intended to analyze the application of the hybrid concept in this residential project, the need for social adaptation, and determine the area of planting land needed to meet the needs of the residents of the apartment. This residential project will be guided by the hybrid concept which will be used as design criteria. The application of the hybrid concept in work-based residential buildings can be achieved through several criteria such as project scale, urban area density, function diversity, function scale, function integration, flexibility, vertical connections (that promote integration), and integrated public gathering space. Keywords: Flats; Hybrid Concept; Urban Farming; Social Adaptation AbstrakLaju pertumbuhan penduduk di kota-kota besar, seperti Jakarta yang tidak diikuti dengan kualitas SDM yang baik berdampak pada terlahirnya masalah sosial lainnya, yaitu kemiskinan. Masalah tersebut dapat menyebabkan terjadinya konversi lahan pertanian ke lahan non pertanian sehingga berdampak pada perubahan ekologis yang mengarah ke degradasi lahan. Rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa) adalah salah satu solusi untuk menyelesaikan masalah degradasi lahan di perkotaan. Rusunawa hanya memecahkan masalah degradasi lahan saja, oleh karena itu, kehadiran program yang mampu menunjang aspek ekonomi penghuninya juga diperlukan, seperti perkebunan kota. Di lain sisi, terdapat kebutuhan sosial yang dibutuhkan warga saat berpindah tempat tinggal yang disebut adaptasi sosial.  Kajian ini dimaksudkan untuk menganalisis penerapan konsep hybrid pada proyek hunian ini, kebutuhan atas adaptasi sosial, dan menentukan luasan lahan tanam yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan penghuni rumah susun. Proyek hunian ini akan berpedoman pada konsep hybrid yang akan dijadikan kriteria desain. Penerapan konsep hybrid pada bangunan hunian berbasis pekerjaan dapat dicapaimelalui beberapa kriteria seperti project scale, urban area density, function diversity, fuction scale, function integration, flexibility, vertical connections (that promote integration), dan integrated public gathering space.
RUANG PERTUNJUKAN SENI DI BLOK M Gary Cantonna Tamin; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6855

Abstract

As time goes by, people, especially in urban areas, tend to have individualistic characteristics due to their busy daily routines. Where most of the time spent at work, home or shopping centers. Humans as social creatures who should socialize and interact with others to meet social needs. To meet social needs in the current modern era, it takes a social container that can accommodate the activities of the surrounding community. So that people can meet with each other, socialize and also interact through these social media platforms. South Jakarta, precisely in the Blok M area, was known as a place for the gathering of young people of its time. However, at this time Blok M has begun to be abandoned by the community because other regions have more adequate gathering places. Blok M is an area that has a lot of art communities, such as street buskers, Japanese communities, contemporary music and much more. According to Richard Florida, creative people have the desire to do creative things and also get together with other creative people. This has a continuity where The Third place according to Ray Oldenburg, is a place where people can gather and interact with one another to meet their social needs. Blok M is an area that has a lot of art communities, such as street buskers, Japanese communities, contemporary music and much more. Blok M Performing Arts Space is present as the third space or "The Third place" and also as a place to show and hone creativity, where people can gather, interact and move with each other. This project is also intended as a forum for surrounding communities to interact with other communities and also can show their works to the wider community, so there is a reciprocal relationship between the community and the local community. Did not rule out the possibility of also triggering collaboration between these communities, thus bringing up a new and unique collaborative performing arts performance. Abstrak Seiring perkembangannya zaman, masyarakat khususnya di perkotaan cenderung memiliki sifat yang individualis dikarenakan rutinitas sehari-hari yang padat. Dimana sebagian besar waktu dihabiskan di tempat kerja, rumah ataupun pusat perbelanjaan. Manusia sebagai makhluk sosial yang seharusnya bersosialisasi dan berinteraksi dengan sesama untuk memenuhi kebutuhan sosial. Untuk memenuhi kebutuhan sosial di era modern saat ini, dibutuhkan wadah sosial yang dapat menampung aktivitas-aktivitas masyarakat sekitar. Sehingga masyarakat dapat saling bertemu, bersosialisasi dan juga berinteraksi melalui media wadah sosial tersebut. Jakarta Selatan, tepatnya di kawasan Blok M, dikenal sebagai tempat perkumpulan anak-anak muda pada zamannya. Namun, pada saat ini Blok M mulai ditinggalkan oleh masyarakat dikarenakan kawasan-kawasan lain mempunyai tempat berkumpul yang lebih memadai. Blok M merupakan kawasan yang memiliki banyak sekali komunitas seni, seperti pengamen jalanan, komunitas Jepang, musik kontemporer dan masih banyak lagi. Menurut Richard Florida, orang-orang kreatif mempunyai keinginan untuk melakukan hal-hal yang kreatif dan juga berkumpul dengan orang-orang kreatif lainnya. Hal ini mempunyai kesinambungan dimana The Third place menurut Ray Oldenburg, merupakan sebuah tempat dimana orang-orang dapat berkumpul dan saling berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan sosial mereka. Blok M merupakan kawasan yang memiliki banyak sekali komunitas seni, seperti pengamen jalanan, komunitas Jepang, musik kontemporer dan masih banyak lagi. Ruang Pertunjukan Seni Blok M hadir sebagai ruang ketiga atau “The Third place” dan juga sebagai tempat untuk menunjukan dan mengasah kreatifitas , dimana masyarakat dapat berkumpul, berinteraksi dan beraktivitas dengan sesamanya.Proyek ini juga ditujukan sebagai wadah bagi komunitas-komunitas sekitar untuk berinteraksi dengan komunitas lainnya dan juga dapat menunjukan karya-karya mereka ke masyarakat luas, sehingga terjadi hubungan timbal balik antara masyarakat dengan komunitas setempat. Tidak menutup kemungkinan juga memicu timbulnya kolaborasi antara komunitas-komunitas tersebut, sehingga memunculkan sebuah karya pertunjukan seni kolaborasi yang baru dan unik. 
STASIUN RELAKSASI Felicia Setiawan; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10837

Abstract

Jakarta is a city that is included in the 150 most stressful cities in the world and Jakarta is in the 6th position as the most stressful city in the world. Stress has become an inherent issue in big cities and Jakarta is one of these cities. People in Indonesia, especially in Jakarta, still underestimate mental health. Because people who experience and feel stress do not have the right place to treat stress. So that the impact of untreated stress can have a negative impact on the individual and the people around. By providing a place to pay more attention to stress problems in Jakarta, it is hoped that people will no longer be taboo in consulting and treating stress problems experienced by someone. So that the relaxation station is a program that is offered to provide a healing process for people who are experiencing stress, especially in the city of Jakarta, so that people who undergo the healing process at this relaxation station are expected to achieve mental and physical relaxation and can reduce significant stress levels for their visitors. The use of the biophilic design method in this design is very important in healing to reduce stress levels in a person. Apart from using the biophilic design method, the concept of architecture and the sense is also used where this concept involves the human senses to participate in reducing stress mentally and psychologically. Keywords:  Biophilic Design; Healing; Relaxation; Stress AbstrakJakarta merupakan kota yang termasuk ke dalam 150 kota paling stress di dunia dan Jakarta berada di urutan ke 6 sebagai kota paling stress di dunia. Stress sudah menjadi sebuah isu yang melekat di perkotaan besar dan jakarta salah satu kota tersebut. Masyarakat di Indonesia khususnya di Jakarta ini masih memandang kesehatan mental secara sebelah mata. Karena orang-orang yang mengalami dan merasakan stress tidak memiliki wadah yang tepat untuk mengobati rasa stress tersebut. Sehingga dampak stres yang tidak diobati dapat berdampak buruk terhadap individu maupun orang-orang disekitarnya. Dengan memberikan wadah untuk lebih memperhatikan masalah stress di Jakarta ini, diharapkan orang-orang tidak lagi tabu dalam mengkonsultasikan dan mengobati masalah stress yang di alami seseorang. Sehingga stasiun relaksasi merupakan program yang ditawarkan untuk memberikan proses healing kepada orang-orang yang mengalami stress khususnya di kota Jakarta sehingga orang yang menjalani proses healing di stasiun relaksasi ini diharapkan akan mencapai relaksasi secara pikiran dan fisik dan dapat mengurangi tingat stress yang signifikan untuk para pengunjungnya. Penggunaan metode biophilic design pada perancangan ini sangat berperan penting dalam healing untuk menurunkan tingkat stress pada seseorang. Selain menggunakan metode biophilic design di gunakan juga konsep architecture and the sense dimana konsep ini melibatkan indra dari manusia untuk ikut dalam menurunkan stress secara mental dan psikologis.
WADAH KOMUNITAS GOTONG ROYONG CBS Bryan Marco Wijaya; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8610

Abstract

The project, which is located in Cipinang Besar Selatan (CBS) sub-district, has become a prototype of the CBS community's daily life. "Community" and "mutual cooperation" are the basic essences held by the local society and these essences can be clearly seen from the existing conditions in the CBS village. They work together to build positive activities in their village such as; The First Smoke-Free Village in Jakarta, "Kampung Warna Warni", "Kampung Listrik Indie". However, these activities were formed unevenly in the CBS village. This problem is tried to be resolved through a design that has been proposed. The design is about how the CBS Mutual Cooperation Community could become a Third Place that is not only a place to carry out routines and activities. It also can become an entertainment facility and education for the CBS community. As a result, the CBS community could grow forward and develop together. The program is arranged in accordance to the daily activities of the CBS community. Therefore, the CBS Mutual Cooperation Community may become a center for the village activities that has been separated from each other. The society will not only be participating in the program, but they are involved in its development, like assembling the main material in the design of Glulam Timber with a modular system, up to the management stage. As well as the other aspects, it can be said that the CBS Gotong Royong Community Forum not only answer the essence of "community" and "mutual cooperation", but also answers the challenges of the Third Place itself. Keywords:  Cipinang besar selatan; community; mutual cooperationAbstrakProyek yang berlokasi di Kelurahan Cipinang Besar Selatan (CBS) ini menjadi sebuah prototype bagi kehidupan sehari-hari dari masyarakat perkampungan CBS, dimana “komunitas” dan “gotong royong” adalah esensi dasar yang dipegang teguh oleh masyarakat sekitar. Esensi dari “komunitas” dan “gotong royong” dapat secara nyata dilihat apabila melihat kondisi existing pada perkampungan CBS, dimana mereka bergotong-royong membangun kegiatan-kegiatan positif pada kampung mereka seperti; Kampung Bebas Asap Rokok Pertama di Jakarta, Kampung Warna Warni, Kampung Listrik Indie. Namun kegiatan-kegiatan positif terbentuk secara tidak merata pada perkampungan CBS. Hal itulah yang berusaha diselesaikan dalam desain yakni tentang bagaimana Wadah Komunitas Gotong Royong CBS dapat menjadi sebuah Third Place yang bukan saja hanya menjadi wadah untuk melakukan rutinitas dan aktivitas, tetapi menjadi sarana hiburan dan juga edukasi bagi masyarakat CBS, sehingga perkampungan CBS dapat tumbuh maju dan berkembang bersama-sama. Program yang diusung pun sesuai dengan aktivitas sehari-hari masyarakat CBS, sehingga Wadah Komunitas Gotong Royong CBS bukan hanya sebuah wadah, namun menjadi pusat bagi aktivitas-aktivitas perkampungan CBS yang selama ini terpisah satu dengan lainnya. Masyarakat pun bukan hanya menjadi pengguna program, namun mereka dilibatkan sejak awal pembangunan seperti halnya perakitan material utama pada desain yakni Glulam Timber dengan sistem modular, hingga dengan tahap pengelolaan. Begitu juga dengan beberapa aspek lainnya, sehingga dapat dikatakan Wadah Komunitas Gotong Royong CBS bukan saja hanya dapat menjawab esensi dari “komunitas” dan “gotong royong”, namun juga menjawab tantangan dari Third Place itu sendiri.
RUANG PEMBERDAYAAN DAN EKSPLORASI POTENSI AIR DI WADUK TOMANG Yoga Gouwijaya; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10812

Abstract

At the author’s self-authentication stage during the COVID-19 pandemic, looking at perspective of water in Jakarta that has been capitalized and controlled by the fresh water scarcity campaign. The perspective of water divided into fresh water and polluted water, that raises resident’s concerns about living in utilizing water. This makes the vital programs in large water reservoirs, such as Tomang Reservoir, that can be a place to properly empower the district, the integration between humans and water brings out the potential of this water. With the experimental architecture method and Bio-Integrated Design, spatial narrative in Tomang Reservoir presents space and visual that created by the water of Tomang Reservoir, and can provide benefits for humans and the environment, starts from the desire to save, accept, waiting, and start to realize moments, ideas, or new things to get to dwelling, so that the programs that formed can recover the environment and human’s survival. Not only to produce architectural buildings, but also non-architectural, and the result can be widely disseminated and trigger the enthusiasm for the residents in other places to process and utilize water. This project that redefining water can present a cultural element in responding to water between fresh water and polluted water, and the results can also be enjoyed by the wider community. This also answers the challenges of The Future of Dwelling itself. Keywords: Culture; Dwelling; Reimagining Water;  Water DimensionAbstrakPada tahap otentikasi diri penulis selama pandemi ‘Covid-19’, melihat gambaran gambaran tentang air di Jakarta yang telah di kapitalisasi dan dikendalikan oleh kampanye kelangkaan air bersih. Pandangan mengenai air terbagi menjadi air bersih dan air kotor memunculkan kekhawatiran masyarakat dalam berhuni dalam memanfaatkan air. Hal ini membuat adanya program vital pada tempat penampungan air besar seperti Waduk Tomang dapat menjadi wadah untuk memberdayakan kawasan dengan baik, integrasi antara manusia dan air memunculkan potensi dari air tersebut, Dengan metode arsitektur eksperimental yang didukung dengan Bio-Integrated Design, narasi spasialitas di Waduk Tomang menghadirkan ruang dan visual hasil cipta atau produk dari ‘air’ Waduk Tomang yang dapat memberikan keuntungan bagi manusia dan lingkungan. Dimulai dari keinginan menyelamatkan, menerima, menunggu dan memulai merealisasikan momen, ide, atau hal yang baru untuk menuju dwelling. Sehingga program yang terbentuk dapat memperbaiki lingkungan serta keberlangsungan hidup manusia. Tidak hanya menghasilkan banguna arsitektural tetapi juga produk air kreatif non-arsitektural, hasilnya dapat disebarkan secara luas dan memicu semangat masyarakat di tempat lain dalam mengolah dan memanfaatkan air. Sehingga dapat dikatakan dari proyek memaknai kembali air dapat menghadirkan unsur budaya dalam menanggapi air antara air bersih dan kotor yang hasilnya juga dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Hal ini juga menjawab tantangan dari The Future of Dwelling itu sendiri.    
KOMPLEKS RETRET KOTA DI KEMBANGAN William William; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4471

Abstract

Working routines and big assertion unconsciously have impacted to millennial’s mental issue, many of them did “hotel vacation” as a solution for self refreshment. Urban Retreat is a space for them to do a temporary retreat  in the refreshment process at urban scale. Urban Retreat is a buildings complex that divided into several masses with dis-orientation design application for not to present the order that commonly experienced by millennials, then it shows flexibility of circulation. Building Complex is designed to hide from urban system by urban forest integration and green barriers to be able to offer a unique atmosphere like not being in a city. Addition of water element into design as refrehing thing also for site’s micro temperature drop. Spaces are designed by phenomenology method, intend to provide a psychological effect on human through senses with the embodiment of architecture in the form of; lighting, shadow, material, texture, temperature, color, layer, and shape.AbstrakRutinitas pekerjaan serta tuntutan yang besar tanpa disadari telah berdampak akan kondisi mental generasi milenial, tak sedikit dari mereka melakukan “hotel vacation” sebagai solusi untuk penyegaran diri. Retret Kota merupakan sebuah wadah bagi mereka untuk menarik diri sementara dalam proses penyegaran kembali di skala urban. Retret Kota merupakan sebuah kompleks bangunan yang terbagi dari beberapa massa dengan penerapan dis-orientasi dalam desain untuk tidak menghadirkan runtutan yang biasa dialami oleh generasi milenial, sehingga adanya fleksibilitas dalam pergerakan didalamnya. Kompleks bangunan didesain bersembunyi dari sistem urban dengan integrasi hutan kota dan barier hijau agar mampu memberikan suasana berbeda seperti tidak berada di sebuah kota. Penambahan elemen air dalam desain sebagai elemen penyegaran serta penurunan suhu mikro tapak. Ruang – ruang didesain secara fenomenologi sebagai metode yang digunakan, bertujuan untuk mampu memberikan efek psikologis terhadap pengunjung melalui indera dengan perwujudan arsitektur berupa; cahaya, bayangan, material, tekstur, suhu, warna, lapisan ruang dan bentuk.
PENGOLAHAN RUANG AKTIVITAS WARGA DENGAN METODE PROGRAM DI KOTA BAMBU UTARA Clara Djohan; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22231

Abstract

North Kota Bambu required a good planning, an environment also influences the behaviour of the people in it. However, often an environment is porrly plannedm resulting in an environment with a building density that is too high, resulting in lacks quality Urban Open Public Space, one of which is North Kota Bambu. Meanwhile, the existence of open space is needed to meet the needs of the surrounding community, as one of the essential needs that accomodates and provides for the needs and tendecies of existing activities in an evironment. North Kota Bambu has a density level that is too dense, resulting in an unhealthy environment. The existence of openness, triggers a healthy environment. To achieve this, the research method used is qualitative data collection and literature study related to the criteria for a healthy environment and the factors that affect the quality of an environment, and the importance of openness to the environment. For the design method,   the program method will be used, which is a method that looks at the tendency of the need for related problems and creates an appropriate program as a form of solving related problem. The result of this study are in the form of design that can blend in with the environment of North Kota Bambu, the formation of open spaces, and the formation of program that can help improve the quality of life by looking at the trend of activities of the people of North kota Bambu. The result of this study are expected to be a solution to the problem of the lack of open space which plays a role in the low quality of life in North Kota Bambu. Keywords: Density; Environment; Oppenness; Public Space; Quality Abstrak Kota Bambu Utara membutuhkan perencanaan yang baik, suatu lingkungan turut memengaruhi perilaku masyarakat didalamnya. Tetapi, seringkali suatu lingkungan direncanakan dengan tidak baik, menghasilkan lingkungan dengan kepadatan bangunan yang terlalu tinggi sehingga kekurangan Urban Open Public Space yang berkualitas, salah satunya Kota Bambu Utara. Adanya ruang terbuka sangatlah dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar, sebagai salah satu kebutuhan esensial yang menampung dan menyediakan kebutuhan dan kecenderungan aktivitas yang ada pada suatu lingkungan. Adanya keterbukaan, memicu terjadinya lingkungan yang sehat. Untuk mencapai hal tersebut, maka metode penelitian yang digunakan adalah pengumpulan data secara kualitatif dan studi literatur terkait dengan kriteria lingkungan yang sehat serta faktor - faktor yang memengaruhi kualitas hidup dan kesehatan suatu lingkungan, dan pentingnya keterbukaan pada lingkungan . Untuk metode desain akan menggunakan metode program, yaitu metode yang melihat akan kecenderungan akan kebutuhan permasalahan terkait dan memunculkan program yang sesuai sebagai bentuk penyelesaian akan permasalahan terkait. Hasil dari penelitian ini berupa desain bangunan yang dapat berbaur dengan lingkungan Kota Bambu Utara, pembentukan ruang terbuka, serta pembentukan program yang dapat membantu meningkatkan kualitas hidup dengan melihat kecenderungan aktivitas masyarakat Kota Bambu Utara. Hasil dari penelitian ini diharapkan menjadi solusi atas permasalahan kurangnya ruang terbuka yang berperan dalam rendahnya kualitas hidup di Kota Bambu Utara.
MENGHIDUPKAN KEMBALI RUANG SOSIAL PINANGSIA Elizabeth Henry Putri Kosasih; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22232

Abstract

The strategic location of the area makes Pinangsia a center of shopping and trade. The rapid physical development of the city can be seen in the Pinangsia Region, which is why many social spaces are lost. This makes the development process and the lives of city residents increasingly uncertain. The physical condition of the city that can lead to environmental quality degradation. To find out what factors influence the fading of social space in an area, urban acupuncture methods are applied to identify and analyze the site in terms of history and the degradation that occurred. By using the daily design method, the application of this method is applied by reading the social space formed in society so that it can direct the architecture to become an inclusive one. This is done with a participatory approach, namely conducting field surveys and seeking stories from sources. The Pinangsia area is one of the areas experiencing degradation in terms of physical structure and social space. To rebuild the lost layers of the area, a third architectural platform is needed to restore the social space that has begun to fade in accordance with the development of the City of Jakarta. The space that we want to present is a third place where it can be a gathering point for the surrounding community and can be a generator for the Pinangsia Region. The container from this third place will be supported by community hub and transit hub programs. By presenting Pinangsia Connect, dynamic spaces can be accessed by all residents, and connected to the surrounding environment. By presenting a third place in this area as well, it is hoped that it can revive the social space that has long faded and re-attract the local community. Keywords: Daily Life; Degredation; Third Place; Urban Acupuncture Abstrak Letak kawasan yang strategis membuat Pinangsia menjadi  salah satu pusat pertokoan dan perdagangan. Pesatnya pembangunan fisik kota dapat terlihat pada Kawasan Pinangsia, yang mengakibatkan mengapa banyak ruang sosial menjadi hilang. Hal ini membuat proses pembangunan dan kehidupan warga kota menjadi semakin tidak menentu. Kondisi fisik kota yang berantakan mengakibatkan terjadinya degradasi kualitas lingkungan. Untuk mengetahui faktor apa yang mempengaruhi pudarnya ruang sosial suatu kawasan, diterapkan metode urban akupuntur untuk mengidentifikasi dan menganalisis tapak dari segi sejarah dan degradasi yang terjadi. Dengan menggunakan metode desain keseharian, penerapan metode ini diterapkan dengan membaca ruang sosial yang terbentuk dalam masyarakat sehingga dapat mengarahkan arsitektur menjadi suatu yang inklusif. Hal ini dilakukan dengan pendekatan partisipatif, yakni melakukan survey lapangan dan mencari cerita dari narasumber. Kawasan Pinangsia merupakan salah satu kawasan yang mengalami degradasi secara struktur fisik dan ruang sosial. Untuk membangun kembali lapisan yang hilang dari kawasan ini dibutuhkan wadah arsitektur third place untuk mengembalikan ruang sosial yang mulai pudar sesuai dengan perkembangan Kota Jakarta. Ruang yang ingin dihadirkan adalah sebuah third place dimana dapat menjadi titik kumpul bagi masyarakat sekitar dan dapat menjadi generator bagi Kawasan Pinangsia. Wadah dari third place ini akan didukung dengan program community hub dan transit hub. Dengan menghadirkan Pinangsia Connect, ruang dinamis dapat diakses oleh semua penghuni, dan terhubung dengan lingkungan sekitar. Dengan menghadirkan third place pada kawasan ini juga, diharapkan dapat menghidupkan kembali ruang sosial yang sudah lama pudar dan kembali menarik masyarakat setempat.