Petrus Rudi Kasimun
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PERANCANGAN SARANA REKREASI BUDAYA BETAWI DALAM MEMBANGKITKAN KEMBALI KAWASAN JALAN JAKSA Benedictus Leonardus Tamin; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22233

Abstract

Jalan Jaksa is a place where a long history was created. This road is located in Kelurahan Kebon Sirih, Kecamatan Menteng, Central Jakarta. Jalan Jaksa started from the phenomenon of backpacker tourists who joined Jalan Jaksa at the end of 1960. Around that time, Jalan Jaksa began to be known internationally with foreign backpacker tourists. This makes local residents see positive business opportunities, so residents start turning their homes into accommodation facilities for backpackers. In addition, this place is an entry for foreign culture that tourists bring when they come or stay on Jalan Jaksa. Currently, the area is experiencing significant degradation, such as social degradation, which can be seen from the decline in tourist visitors to the Jalan Jaksa area due to the disappearance of street vendors, as well as the disappearance of Betawi culture. Then mental degradation which has an impact on people who provide accommodation services, because tourists rarely rent anymore. This has had a huge impact on the economy as well as spatial planning which has caused physical degradation on Jalan Jaksa, which has led to many buildings being rented and sold on that road. Betawi culture is starting to disappear, causing ondel-ondel to be often used to performed for money, this shows that one of our cultures is experiencing a degradation of meaning. The method used is observation which aims to see the activities directly on Jalan Jaksa and contextual methods in order to strengthen the relationship between the site and the surrounding environment. This project aims to heal the Way of the Jaksa by reviving the Betawi culture on Jalan Jaksa, this is because culture is something that gives identity to the community, but if there is a degradation of meaning then the identity will slowly disappear. Through architectural projects as cultural places, programs that are combined with technology, road networks that are conceptualized to connect the site with the surrounding environment, as well as reviving Betawi culture, it is hoped that the problem points on Jalan Jaksa and its surroundings can be healed and have a symbiotic relationship. Keywords:  culture; degradation; symbiosis; technology Abstrak Jalan Jaksa merupakan tempat di mana sejarah yang panjang tercipta. Jalan ini  berada di Kelurahan Kebon Sirih, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Jalan Jaksa dimulai dari fenomena turis backpacker yang bergabung dengan Jalan Jaksa pada akhir tahun 1960. Sekitar waktu itu, Jalan Jaksa mulai dikenal secara internasional dengan turis backpacker asing. Hal ini membuat warga setempat melihat peluang bisnis yang positif, sehingga warga mulai mengubah rumah mereka menjadi fasilitas akomodasi bagi para backpacker. Selain itu tempat ini menjadi masuknya budaya luar yang dibawa turis saat datang maupun menetap di Jalan Jaksa. Saat ini kawasan tersebut mengalami degradasi yang cukup signifikan seperti degradasi sosial yang dapat dilihat dari turunnya pengunjung turis pada kawasan Jalan Jaksa ini yang diakibatkan hilangnya pedagang kaki lima, dan mulai menurunnya budaya Betawi. Kemudian  degradasi mental yang berdampak bagi masyarakat yang memberikan jasa akomodasi, dikarenakan jarang turis menyewa lagi. Hal ini sangat berdampak pada ekonomi serta tata ruang yang menyebabkan degradasi fisik pada Jalan Jaksa yang membuat bangunan pada jalan tersebut mulai banyak disewa dan dijual. Budaya Betawi yang mulai menghilang menyebabkan ondel-ondel sering digunakan untuk mengamen.  Hal ini menunjukkan bahwa salah satu budaya kita mengalami degradasi makna. Metode yang digunakan adalah observasi yang bertujuan untuk melihat aktivitas secara langsung pada Jalan Jaksa dan metode  kontekstual agar dapat memperkuat hubungan tapak dan lingkungan sekitar. Proyek ini bertujuan untuk menyembuhkan dan menciptakan hubungan simbiosis di Jalan Jaksa melalui budaya Betawi. Hubungan simbiosis ini terbentuk dari kerja sama melalui program yang terhubung dan kerja sama agar bisa bersama-sama berkembang. Budaya memberikan identitas pada masyarakat atau komunitas, namun jika terjadi degradasi makna maka identitas akan hilang perlahan-lahan. Melalui proyek arsitektur sebagai tempat budaya, program yang digabung dengan teknologi, jaringan jalan yang dikonsepkan untuk menghubungkan tapak dengan lingkungan sekitar, serta membangkitkan budaya Betawi kembali, diharapkan titik masalah pada Jalan Jaksa serta sekitarnya dapat disembuhkan dan memiliki hubungan simbiosis.
INOVASI URBAN DI KAMPUNG TAHU TEMPE MELALUI EKSPANSI POTENSI PRODUK OLAHAN TEMPE DAN TAHU Stevans Niuvianto; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22234

Abstract

Located in Johar Baru, precisely in Kampung Rawa , there is a local and existing potential in the form of tempeh and tofu producers. The existing tofu and tempeh producers have been running between generations spanning decades. Tempe and tofu are fermented foods that are widely consumed by Indonesians, which have begun to spread internationally. The purpose of this report is to understand how the expansion of the potential of tofu and tempeh in the urban conditions of Kampung Rawa, Johar Baru could be done in the constraints of its existing conditions. Urban acupuncture is carried out at locations that face contradictions, where there is a coexistence between the old and the new, traffic problems from modern life, and other urban problems. Through the design methods of shape grammar, delicious architecture and gestalt, a space is created that is in harmony with its surroundings and also follows the program. Through production and culinary programs with open public spaces, The possibility of expansion of the potential of tempe and tofu in the Kampung Tahu Tempe can be carried out through the Recesses of the Tofu Tempe Village. Where an integrated area is created, which is more flexible and also invites visitors to the location. Instead of working individually, existing producers can work collectively to create a more effective and efficient work system. Tofu and tempeh products in Tahu Tempe Village can also improve the economy of Johar Baru, expand and improve existing conditions for the residents of Tofu Tempe Village. Keywords: Production and Tourism Space; Settlement Empowerment; Tempeh and Tofu; Urban Innovation Abstrak Berlokasi di Johar Baru tepatnya di Kampung Rawa, terdapat potensi lokal berupa produsen-produsen tempe dan tahu. Produsen tahu dan tempe yang ada sudah berjalan turun temurun yang mencakup berpuluh-puluh tahun. Tempe dan tahu adalah salah satu makanan fermentasi yang luas dikonsumsi oleh warga Indonesia, yang sudah mulai meluas secara internasional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami cara dilakukannya upaya ekspansi potensi tahu dan tempe di kondisi ruang urban Kampung Rawa, Johar Baru dan penyegaran guna meningkatkan kondisi kehidupan dan potensi yang ada. Urban acupuncture dilakukan di titik ruang yang menghadapi kontradiksi, dimana terdapat koeksistensi antara yang lama dan baru, masalah lalu lintas dari kehidupan modern, dan permasalahan urban lainnya. Di Kampung Rawa, titik ini memiliki potensi kekayaan yaitu produsen tempe dan tahu yang ada. Melalui metode desain shape grammar, delicious architecture dan gestalt, dihadirkan ruang dengan program baru yang tetap selaras dengan kondisi yang ada. Melalui program produksi dan kuliner dengan ruang publik terbuka diharapkan ruang dapat menjadi ruang kumpul untuk penghuni sekitar dan membawa wisatawan ke lokasi melalui program produksi dan wisata kuliner. Kemungkinan dilakukannya ekspansi akan potensi tempe dan tahu di Kampung Tahu Tempe dapat dilaksanakan melalui Relung Kampung Tahu Tempe. Diciptakan suatu kawasan yang terintegrasi; lebih leluasa; mengundang pengunjung ke lokasi; dan ruang untuk produsen bekerja secara kolektif menciptakan sistem kerja yang lebih efektif dan efisien. Produk tahu dan tempe di Kampung Tahu Tempe juga dapat meningkatkan ekonomi Johar Baru, memperluas dan meningkatkan kondisi yang ada bagi penduduk Kampung Tahu Tempe.
PENERAPAN METODE KESEHARIAN UNTUK MENGHIDUPKAN KEMBALI KAWASAN PIK PENGGILINGAN MELALUI FUNGSI PUSAT OLAHRAGA DAN REKREASI SEBAGAI ATTRACTOR Claresta Gemma Tjong; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22236

Abstract

PIK Penggilingan is a small and medium enterprise area, initially known as a shopping tourism area, before the recent degradation occurred in some spots. Tends to be more active from evening to night, PIK Penggilingan becomes an unproductive area, especially in the afternoon. The lack of green spaces and recreation facilities for the citizens to socialize, gather, and relax makes them, especially the blue-collar workers, feel stressed. Both of these things create many problems, such as an unhealthy lifestyle and environment. Through the application of urban acupuncture, new programs are injected as a medicine, that combined with everydayness method for the currently sick area, beneficial to improve the city's quality in a small-scale intervention. The pattern of everydayness that tends to be unhealthy is formed in the area which is the main reference for determining the right program for this project. Through urban acupuncture and everydayness of this area, sports activities are applied to become a bridge as well as a medicine to the area, thus developing and creating a healthy lifestyle and environment for the citizens. Sports activities are able to have a role in improving the welfare of the citizen, along with accommodating social interactions among them. Therefore, PIK Penggilingan area which was dim and unattractive to the surroundings, can gradually thrive and become a viable sports tourism area. Keywords:  Social Space; Sport and Recreation; Urban Acupuncture Abstrak Kawasan PIK Penggilingan merupakan kawasan industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang pada awalnya dikenal sebagai kawasan wisata belanja, sebelum mengalami degradasi di berbagai titik seperti sekarang.  Cenderung aktif pada sore hingga malam hari, PIK Penggilingan menjadi kawasan yang tidak produktif pada siang hari. Minimnya ruang hijau serta fasilitas rekreasi bagi masyarakat untuk bersosialisasi, berkumpul, maupun relaksasi diri membuat masyarakat, khususnya pekerja pabrik menjadi stres. Kedua hal ini menyebabkan banyak masalah yang timbul, seperti pola hidup masyarakat dan lingkungan yang tidak sehat. Melalui penerapan urban Akupunktur, “program” baru disuntikkan sebagai obat bagi kawasan yang sedang sakit. Dengan cara menggabungkan metode keseharian dan metode urban akupunktur pada kawasan ditujukan untuk meningkatkan kualitas kota menjadi lebih baik dalam intervensi skala kecil. Pola keseharian masyarakat yang cenderung tidak sehat terbentuk dalam kawasan menjadi acuan utama untuk menentukan program yang tepat bagi proyek ini. Dengan begitu, kegiatan olahraga kawasan yang diterapkan dengan metode urban Akupunktur dan keseharian dapat menjadi jembatan sekaligus obat bagi kawasan ini, sehingga dapat berkembang dan menciptakan pola hidup sehat bagi kawasan serta masyarakat setempat. Adanya kegiatan olahraga dapat berperan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mewadahi terbentuknya interaksi sosial di kalangan masyarakat. Dengan begitu, kawasan PIK Penggilingan yang semula redup dan tidak diminati orang, perlahan dapat berkembang dan menjadi kawasan wisata olahraga yang hidup.
MENGANGKAT ATRAKTOR BUDAYA DAN KOMUNITAS DI KAWASAN GLODOK UNTUK WADAH EKSPLORATIF KESENIAN DAN EDUKASI GENERASI MUDA Yordy Christian; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24259

Abstract

In looking at the developments that have occurred in the Glodok area until now there has been a degradation of Chinese culture which was caused by several aspects of the past, and cannot be separated from the role of the younger generation. Looking at what is there now, with the persistence of Chinese culture, one can see that empathy will be included in terms of cultural values that are passed on to the younger generation and become learning for all levels of society who are interested in more modernism as a form of renewal value. The role of architecture is needed in empathizing with the degraded Chinese culture in the Glodok Chinatown area. The method used to research the issues raised is a mixture of qualitative and quantitative cultural essence values which can later be contained as substance values in buildings and empathy for culture to be preserved. The empathy that is felt from the cultural degradation in the area will later be aimed at cultural actors, parents and the current generation who find it difficult to see the value of Chinese culture in Jakarta. The search is based on the early development of Chinese history in Jakarta. The selected site can respond to the issues raised regarding the degradation of Chinese culture and the problems that occur within the Glodok environment so that the site can have empathetic value conveyed in designing the building. The resulting spatial program responds to issues of cultural degradation that occur, recognition and preservation of culture as things to be emphatic. Keywords:  Chinese; culture; degradation; empathy; Glodok Abstrak Dalam melihat perkembangan yang terjadi di Kawasan Glodok hingga kini terjadi degradasi budaya Tionghoa yang diakibatkan beberapa aspek masa lampau, dan tidak terlepas juga dari peran generasi muda. Melihat apa yang ada sekarang dengan masih adanya ketahanan kebudayaan Tionghoa dapat dilihat empati akan masuk dalam hal nilai kebudayaan yang diwariskan ke generasi muda dan manjadi pembelajaran untuk semua lapisan masyarakat yang tertarik dalam lingkup hal yang lebih modernisme sebagai bentuk nilai pembaharuannya. Peran arsitektur dibutuhkan dalam berempati terhadap budaya Tionghoa yang terdegradasi di kawasan pecinan Glodok. Metode yang digunakan untuk meneliti perihal isu yang diangkat ialah campuran yakni kualitatif dan kuantitatif Nilai esensi kebudayaan yang nantinya dapat tertuang sebagai nilai substansi dalam bangunan dan empati terhadap budaya untuk dilestarikan. Empati yang dirasakan dari adanya degradasi budaya pada kawasan tersebut nantinya ditujukan kepada pelaku kebudayaan, orang tua dan generasi kini yang sulit melihat nilai budaya Tionghoa di Jakarta. Pencarian didasari perkembangan awal mula sejarah Tionghoa di Jakarta. Tapak yang dipilih dapat merespon mengenai isu yang diangkat tentang degradasi budaya Tionghoa dan permasalahan yang terjadi dalam lingkup Glodok sehingga tapak dapat mempunyai nilai empati yang disampaikan dalam mendesain bangunan. Program ruang yang dihasilkan merespon isu tentang degradasi budaya yang terjadi, pengenalan dan pelestarian budaya sebagai hal untuk diempatikan.
KAJIAN STRATEGI DESAIN JUHANI PALLASMA DALAM PERANCANGAN FASILITAS KESEHATAN MENTAL MAHASISWA Gabriella Angelene Sinanta; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24260

Abstract

A medical condition called depression can have a negative impact on a person's thoughts, behavior, emotions, and mental health. Currently, there is a significant increase in the number of depression cases among university students. The Research and Assessment Team (TRACK) of the Department of Studies and Strategic Action of BEM Faculty of Psychology UI 2019 found that two out of three UI students experience high psychological distress. Many adolescents suffer from depression, but few seek professional help because the negative stigma in society prevents them from getting the help they need. Limited counseling space is a problem because each individual has different needs in dealing with mental health problems. So this project is designed as a depression prevention and recovery facility for UI students by using the Juhani Pallasma design strategy as a design foundation using the Phenomenological observation method with observations and interviews with UI health clinics and the Behavioral Architecture design method to map the dominant depression problems in students. Then, through the Space Perception design concept to create an atmosphere that supports the recovery process. The purpose of this design is to create a facility that serves as a means of prevention and recovery for students who experience depression. This facility aims to change the negative views that may exist and increase public awareness about the importance of mental health issues. In addition, this facility also provides a space for them to reduce pressure and tension as a first step in dealing with depression or as part of the recovery process from depression. Keywords:  depression; juhani pallasma; prevention; recovery; UI students Abstrak   Kondisi medis yang disebut depresi dapat memiliki dampak negatif pada pikiran, perilaku, emosi, dan kesehatan mental seseorang. Saat ini, terdapat peningkatan yang signifikan dalam jumlah kasus depresi di antara mahasiswa. Tim riset dan Kajian (TRACK) Departemen Kajian dan Aksi Startegis BEM Fakultas Psikologi UI 2019 menemukan bahwa dua dari tiga mahasiswa UI mengalami psychological distress yang tinggi. Banyak remaja yang menderita depresi, tetapi sedikit yang mencari bantuan dari professional karena stigma negative di masyarakat menghambat mereka untuk mendapatkan bantuan yang diperlukan. Ruang konseling yang terbatas menjadi permasalahan dikarenakan setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dalam menangani permasalahan kesehatan mentalnya. Sehingga proyek ini dirancang sebagai fasilitas pencegahan dan pemulihan depresi bagi mahasiswa UI dengan menggunakan strategi perancangan desain Juhani Pallasma sebagai landasan perancangan dengan menggunakan metode pengamatan Fenomenologi dengan observasi dan wawancara dengan klinik kesehatan UI serta metode desain Arsitektur Perilaku untuk melakukan pemetaan terkait permasalahan depresi yang dominan pada mahasiswa. Lalu, melalui konsep desain Space Perception agar tercipatanya suasana yang mendukung proses pemulihan. Tujuan dari rancangan ini adalah menciptakan fasilitas yang berfungsi sebagai sarana pencegahan dan pemulihan bagi mahasiswa yang mengalami depresi. Fasilitas ini bertujuan untuk mengubah pandangan negatif yang mungkin ada serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya isu kesehatan mental. Selain itu, fasilitas ini juga memberikan ruang bagi mereka untuk mengurangi tekanan dan ketegangan sebagai langkah awal dalam menghadapi depresi atau sebagai bagian dari proses pemulihan dari depresi.  
STRATEGI PEMBERDAYAAN PEMUDA TIDAK SEKOLAH DALAM MENDUKUNG PROGRAM KAMPUNG KITA DI KECAMATAN JATIUWUNG Nathasya Nathasya; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24261

Abstract

Youth not having access to school has become a pervasive problem in education systems around the world. While dropping out of school can result in high unemployment rates, especially in Indonesia. Responding to the challenges of this issue, a new strategy is needed to achieve the goal of reducing the unemployment rate as well as the dropout rate which is closely related to being empathetic towards it. in the manufacturing industry on the basis of empathy as spatial planning that adapts to the needs of the activities within it. By using quantitative and qualitative research methods, collecting data through a survey of empathy subjects, namely youth who have dropped out of school. Then a strategy can be produced to overcome this problem by designing a training and mentoring forum that embraces fields with a high proportion of workforce needs. Keywords:  dropout; empathy; manufacturing industry; training; unemployment Abstrak Pemuda yang tidak berkesempatan sekolah telah menjadi masalah yang meluas dalam sistem pendidikan di seluruh dunia. Sementara putus sekolah dapat mengakibatkan tingginya angka pengangguran, terutama di Indonesia. Menanggapi tantangan isu ini, diperlukan sebuah strategi baru dalam mencapai tujuan yaitu mengurangi angka pengangguran sekaligus angka putus sekolah yang berkaitan erat dengan bersikap empati terhadap hal tersebut.Tujuan dari perancangan penelitian strategi ini adalah untuk memberdayakan pemuda tidak sekolah untuk dapat merencanakan karir dengan memanfaatkan kebutuhan urgensitas di industri manufaktur dengan dasar empati sebagai perencanaan ruang yang menyesuaikan dengan kebutuhan aktivitas di dalamnya. Dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif, mengumpulkan data melalui survey terhadap subjek empati yaitu pemuda putus sekolah. Maka dapat dihasilkan sebuah strategi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah merancang sebuah wadah pelatihan dan pendampingan yang merangkul bidang dengan kebutuhan proporsi tenaga kerja tinggi.