Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PERBANDINGAN PENGGUNAAN ABU SEKAM PADI, SERBUK BATU BATA, DAN PASIR SIRKON SEBAGAI BAHAN STABILISASI TANAH LEMPUNG Enrico Penyang Ara; Suradji Gandi; Fatma Sarie
Jurnal Kacapuri : Jurnal keilmuan Teknik Sipil Vol 4, No 1 (2021): JURNAL KACAPURI : JURNAL KEILMUAN TEKNIK SIPIL (Edisi Juni 2021)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jk.v4i1.5273

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik   sifat-sifat tanah lempung di desa tewa   ng rangkang, kecamatan tewang sangalang garing, kabupaten katingan, Kalimantan tengah, dan mengetahui perbandingan perubahan  nilai kuat  geser dan  daya dukung tanah setelah  di stabilisasi dengan  campuran  abu  sekam  padi,  serbuk  batu  bata,  dan  pasir  sirkon. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode coba-coba (trial and error). adapun pengujian yang dilakukan meliputi pengujian sifat fisik dan mekanik,  pengujian  sifat  fisik  dilakukan  untuk  mengetahui  karakteristik sifat-sifat tanah asli. Pengujian sifat mekanik yang dilakukan merupakan pengujian kuat geser (direct shear), untuk mengetahui perbandingan perubahan nilai kuat geser dan daya dukung tanah asli setelah distabilisasi menggunakan campuran abu sekam padi, serbuk batu bata, dan pasir sirkon, dengan masing-masing variasi campuran 5%, 10%, dan 15%. Berdasarkan hasil pengujian sifat fisik, AASHTO mengklasifikasikan tanah dasar sebagai tanah lempung dalam kelompok A-6 (6),dan USCS mengklasifikasikan sebagai tanah lempung anorganik dengan tingkat plastisitas rendah sampai dengan sedang, tanah termasuk kedalam kelompok CL (Tanah Berbutir Halus), dan secara visual tanah berwarna kuning dan bercampur dengan sedikit pasir. Berdasarkan hasil pengujian sifat mekanik, didapat nilai kuat geser tanah asli dengan masa pemeraman 3 hari (τ) = 0,181 kg/cm2, setelah dilakukan pencampuran dengan masing-masing variasi 5%, 10%, 15%, berupa abu sekam, serbuk batu bata, dan pasir sirkon. Di dapat hasil abu sekam padi 5% (τ) = 0,190 kg/cm2, abu sekam padi 10% (τ) = 0,202 kg/cm2, abu sekam padi 15% (τ) = 0,211 kg/cm2, serbuk batu bata 5% (τ) = 0,195 kg/cm2, serbuk batu bata 10% (τ) = 0,203 kg/cm2, serbuk batu bata 15% (τ)= 0,214 kg/cm2, pasir sirkon 5% (τ) = 0,173kg/cm2, pasir sirkon 10% (τ) =0,177 kg/cm2, pasir sirkon 15% (τ) = 0,183 kg/cm2. Didapat persentasi nilai kuat geser mengalami peningkatan antara tanah dasar dengan variasi campuran, abu sekam padi = 3%, serbuk batu bata = 3,3%, dan pasir sirkon= 0,2%.Kata Kunci : Tanah Lempung, Kuat Geser, Daya Dukung
PENGARUH PENAMBAHAN PASIR PANTAI DAN SERBUK BATU BATA TERHADAP KEKUATAN GESER TANAH LEMPUNG Rotua Hutabarat; Suradji Gandi; Mohammad Ikhwan Yani
Jurnal Kacapuri : Jurnal keilmuan Teknik Sipil Vol 4, No 1 (2021): JURNAL KACAPURI : JURNAL KEILMUAN TEKNIK SIPIL (Edisi Juni 2021)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jk.v4i1.5128

Abstract

Tanah merupakan salah satu bagian terpenting dalam pembangunan bangunan sipil, karena berguna sebagai unsur utama pondasi dari suatu bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik dan mekanik tanah di daerah Tumbang Rungan Kota Palangka Raya, Kalimatan Tengah dan pengaruh penambahan pasir pantai dan serbuk batu bata terhadap kekuatan geser dan daya dukung tanah dengan variasi penambahan campuran sebesar 2,5%, 5% dan 7,5% dengan pemeraman 0 hari, 3 hari dan 7 hari. Penelitian ini menggunakan metode pengujian di laboratorium dan analisis terzaghi. Menurut AASHTO tanah diklasifikasikan sebagai tanah berlempung dalam kelompok A-7-5 (7) dan menurut sistem USCS tanah diklasifikasikan sebagai kelompok CL atau lempung anorganik dengan plastisitas rendah sampai dengan sedang, lempung berkerikil, lempung berpasir, lempung berlanau,  lempung  “kurus” (lean clays). Hasil pengujian sifat mekanik tanah asli didapat nilai, kohesi (C) = 0,2626 kg/cm2 dan sudut geser dalam (  ) =270. Berdasarkan parameter tersebut didapat nilai kuat geser tanah (τ) = 0,330 kg/cm2. Pada penambahan pasir pantai 7,5% dalam 7 hari pemeraman didapat nilai kuat geser tertinggi sebesar (τ) = 0,364 kg/cm2  terjadi kenaikan sebesar 0,034 kg/cm2 dengan persentase 9,34%.Variasi campuran yang paling efektif untuk meningkatkan kuat geser adalah 7,5% pasir pantai dan 2,5% serbuk batu bata dengan pemeraman 7 hari. Kata Kunci : Kuat Geser, Serbuk Batu Bata, Tanah Lempung, Uji GeserLangsung, Pasir Pantai.
THE STABILISASI TANAH LEMPUNG DENGAN CAMPURAN ABU SABUT KELAPA, SERBUK BATU BATA, DAN SEMEN POTRLAND: STABILIZATION OF CLAY WITH A MIXTURE OF COCONUT ASH, BRICK POWDER AND POTRLAND CEMENT Nengsih; Fatma Sarie; Suradji Gandi
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil TRANSUKMA Vol. 4 No. 2 (2022): Jurnal Penelitian TRANSUKMA
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.819 KB)

Abstract

Tanah di Desa Pangi terlihat disekitarnya memiliki daya dukung tanah yang rendah mengakibatkan jalan diatasnya retak-retak, rusak serta bergelombang. Stabilisasi tanah bisa dilakukan dengan cara penambahan campuran abu sabut kelapa, serbuk batu bata dan semen portland sebagai bahan stabilisasi untuk memperbaiki sifat tanah. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis hasil stabilisasi tanah dengan campuran abu sabut kelapa, serbuk batu bata dan semen portland yang telah ditambah dengan kadar campuran 3%, 5%, 7%, 0 hari dan 3 hari pemeraman. Untuk pengolahan data dilakukan di laboratorium dengan beberapa pengujian sifat fisik tanah asli yaitu uji kadar air, berat isi, uji berat jenis, batas-batas Atterberg, uji analisis saringan, uji analisis hydrometer dan untuk pengujian sifat mekanik tanah dilakukan pengujian pemadatan dan uji California Bearing Ratio (CBR). Hasil pengujian sifat fisik tanah yang dilakukan di laboratorium, klasifikasi AASHTO tanah tergolong kelompok A-7-6(10) sedangkan berdasarkan USCS tanah tergolong kelompok CH tanah lempung anorganik yang plastisitas tinggi. Setelah dilakukan pengujian stabilisasi tanah Persentase nilai CBRrencana didapat 3,13%. Tanah dengan campuran abu sabut kelapa, serbuk batu bata dan semen portland dengan variasi 3% 5%7% dengan 0 hari pemeraman mengalami peningkatan nilai CBRrencana sebesar 4,38%, 4,94%, 5,20% dan untuk pemeraman 3 hari naik sebesar 5,54%, 6,69%, 6,84%.   Soil is the oldest construction material and also very important basic material, because it place where the structure of building erected, both in field of building work and road construction. The soil in Pangi Village is around has a low soil bearing capacity resulting in cracked, damaged and bumpy roads. Soil stabilization can be done adding a mixture of coconut coir ash, brick powder and portland cement as a stabilizing agent to improve soil properties. The purpose of study was to analyze the results of soil stabilization with a mixture coconut coir ash, brick powder and portland cement had been added with mixture of 3%, 5%, 7%, 0 days and 3 days of curing. For data processing carried out in the laboratory with several tests of the physical properties original soil, the water content test, density test, specific gravity test, atterberg limits, sieve analysis test, hydrometer analysis test and testing the mechanical properties of the soil compaction test and California Bearing Ratio (CBR). The results of testing the physical properties of the soil carried out in the laboratory, AASHTO classification the soil of group A-7-6(10), while on USCS soil is classified as CH inorganic clay with high plasticity. After testing soil stabilization, percentage of design CBR value was 3.13%. Soil with a mixture coconut coir ash, brick powder and portland cement with variation of 3%, 5%, 7%, 0 days of ripening experienced increase the design CBR was 4.38%, 4.94%, 5.20% and for 3 days ripening increased was  5.54%, 6.69%, 6.84%.
PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN GROUTING KOMBINASI SEMEN DAN KAPUR PADA TANAH LEMPUNG TERHADAP NILAI DAYA DUKUNG DAN PENURUNAN Evrid Oktobrianto Eka Putra; Suradji Gandi; Fatma Sarie
Jurnal Deformasi Vol 7, No 2 (2022): JURNAL DEFORMASI
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/deformasi.v7i2.8237

Abstract

Salah satu permasalahan pada tanah yang sering menjadi kendala dalam suatu kegiatan konstruksi salah satunya adalah penurunan pada tanah. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis sifat fisik dan mekanik tanah lempung dan menganalisis besar nilai daya dukung tanah dan nilai penurunan konsolidasi tanah lempung setelah dilakukan grouting. Metode perbaikan tanah pada penelitian ini adalah metode Grouting menggunakan bahan semen portland dan kapur aktif. Variasi yang akan digunakan adalah 2 titik grouting kombinasi semen dan kapur (d = 1 cm) dan 4 titik grouting kombinasi semen dan kapur (d = 0,75 cm). Diameter titik dibuat berbeda agar total luas permukaan sampel uji sama. Semua sampel uji akan diperam selama 3 hari. Hasil pengujian sifat fisik, berdasarkan klasifikasi AASHTO tanah masuk dalam kelompok A-7-6 (6) (tanah berlempung) dengan kondisi sedang sampai buruk dan menurut sistem USCS tanah termasuk kelompok CL. Hasil uji konsolidasi tanah lempung tanpa grouting, Sc = 0,243 cm. Variasi 2 titik grouting kombinasi semen dan kapur, Sc = 0,174 cm dan variasi 4 titik grouting kombinasi semen dan kapur, Sc = 0,159 cm. Nilai daya dukung tanah lempung tanpa grouting (qult)= 4,9053 kg/cm2. Variasi 2 titik grouting kombinasi semen dan kapur, nilai daya dukung (qult) = 7,8070 kg/cm2 dan variasi 4 titik grouting kombinasi semen dan kapur, nilai daya dukung (qult) = 12,9126 kg/cm2. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan grouting meningkatkan nilai daya dukung dan memperkecil nilai penurunan tanah lempung. Kata Kunci : Tanah Lempung; Grouting; Kombinasi; Daya Dukung; Penurunan.
STABILISASI TANAH LEMPUNG DENGAN CAMPURAN ABU AMPAS TEBU DAN PASIR SIRKON TERHADAP CBR TANAH: STABILIZATION OF CLAY WITH A MIXTURE OF SUGARCANE BASE ASH AND CIRCON SAND ON SOIL CBR Dewi Ruaida Iswarni -; Fatma Sarie; Suradji Gandi
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil TRANSUKMA Vol. 5 No. 1 (2022): Jurnal Penelitian TRANSUKMA
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanah merupakan bahan bangunan yang paling melimpah di dunia. Setiap struktur rekayasa sipil seperti gedung, jembatan, jalan, bendungan, dan sebagainya, harus diletakkan di atas permukaan tanah. Tanah yang berada di desa Natai Sedawak, Kabupaten Sukamara dari hasil penelitian adalah tanah lempung yang memiliki daya dukung yang rendah. Akibatnya banyak jalan yang mengalami kerusakan seperti berlubang, retak-retak dan bergelombang. Tujuan Penelitian ini untuk menganalisis sifat fisis maupun sifat mekanis tanah lempung; menganalisis pengaruh dari hasil penambahan abu ampas tebu dan pasir sirkon terhadap tingkat kepadatan tanah lempung; dan menganalisis nilai CBR tanah sebelum dan sesudah diberikan campuran abu ampas tebu dan pasir sirkon. Pada Hasil pengujian sifat fisik tanah asli didapat nilai kadar air 31,48%; berat isi 1,26 gr/cm3; angka pori 1,13; porositas 0,53; berat jenis 2,69; batas cair  43,50%; batas plastis 26,78%; Indeks Plastisitas 16,72%; dan batas susut 25,41%; persentase lolos saringan nomor 200 50,64%.  Pada uji klasifikasi USCS tanah di klasifikasikan sebagai CL yaitu lempung anorganik dengan plastisitas rendah sampai sedang. Pada sistem klasifikasi AASHTO tanah termasuk dalam kelompok A-7-6 (6). Nilai CBR tanah asli yaitu 2,50% dan dengan campuran abu ampas tebu dan pasir sirkon pada penelitian ini diperoleh nilai CBRrencana  yaitu 5,41%.   Soil is the most abundant building material in the world. Every civil engineering structure such as buildings, bridges, roads, dams, etc., must be placed above ground level. The soil located in the village of Natai Sedawak, Sukamara Regency from the results of the study is clay soil which has a low bearing capacity. As a result, many roads are damaged, such as potholes, cracks and bumps. The purpose of this study was to analyze the physical and mechanical properties of clay; Analyzing the effect of the addition of bagasse ash and sircon sand on the density level of clay soil; Analyzing the CBR value of the soil before and after being given a mixture of bagasse ash and zirkon sand. In the results of testing the physical properties of the original soil, the value of water content (w) = 31.48%; bulk weight (γd)=1,26 gr/cm3; void ratio (n) = 1.13; porosity (e) = 0.53; specific gravity (Gs) = 2.69; liquid limit (LL) = 43.50%; plastic limit (PL) = 26.78%; Plasticity Index (IP) = 16.72%; and shrinkage limit (SL) = 25.41%; sieve analysis percentage passing sieve number 200 = 50.64%. In the USCS classification test, the soil is classified as CL, which is inorganic clay with low to moderate plasticity. In the AASHTO classification system, soils are included in group A-7-6 (6). The original soil CBR value was 2.50% and with a mixture of bagasse ash and zirkon sand in this study, the planned CBR value was 5.41%.
PENGARUH PENAMBAHAN ABU TANDAN KELAPA SAWIT DAN SEMEN TERHADAP KUAT GESER TANAH GAMBUT : THE EFFECT OF THE ADDITION OF PALM OIL FRUIT ASH AND CEMENT ON THE STRENGTH OF PEAT SOIL AYU DIAH SEPDAYANTI -; Fatma Sarie; Suradji Gandi
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil TRANSUKMA Vol. 5 No. 1 (2022): Jurnal Penelitian TRANSUKMA
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanah gambut memiliki karakteristik kandungan air yang cukup tinggi, angka pori yang besar, adanya serat-serat dan kuat geser yang rendah. Maka salah satu cara mengatasi masalah ini perlu dilakukan perbaikan dengan cara stabilisasi tanah. Stabilisasi tanah gambut antara lain dengan mencoba menambahkan bahan campuran abu tandan kelapa sawit dan semen. Jenis tanah yang digunakan untuk penelitian ini adalah tanah gambut yang diambil dari Jalan Sampit-Samuda Km 13. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisi pengaruh penambahan masing-masing 2,5%, 5% dan 7,5% untuk penambahan abu tanda kelapa sawit dan semen pada tanah gambut yang diperam selama 3 hari terhadap nilai kuat geser. Pada penelitian ini dilakukan beberapa pengujian yaitu pengujian sifat fisik tanah asli dan pengujian uji geser langsung (Direct Shear Test). Hasil pengujian sifat fisik tanah gambut yang berasal dari Jalan Sampit-Samuda Km 13, menurut ASTM dapat diklasifikasikan sebagai tanah gambut dengan kadar abu tinggi (high ash peat) berkisar >15%, dengan kadar air sebesar 202,64% dan mengandung kadar serat diantara 33% - 67% dan menurut klasifikasi MacFarlane dan Radforth termasuk kedalam fibrouse peat karena kandungan seratnya >20%. Pada pengujian uji geser langsung tanah asli di dapat nilai kuat geser ( ) sebesar 0,1014 kg/cm2, peningkatan maksimum terjadi pada persentase penambahan abu tandan kelapa sawit 7,5% dan semen 7,5%  dengan pemeraman selama 3 hari sebesar 0,0888 kg/cm2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu pemeraman maupun persentase penambahan abu tandan kelapa sawit dan semen yang diberikan mempengaruhi nilai kuat geser.         Peat soil has characteristics fairly high water content, large void ratio, the presence of fibers and low shear strength. So one way to overcome this problem needs to be improved by means of soil stabilization. Stabilization of peat soil, among others, by trying add mixture of palm oil bunch ash and cement. The type of soil used in this study peat soil taken from Jalan Sampit-Samuda Km 13. The purpose of this study to analyze effect of adding 2,5%, 5% and 7,5% respectively the addition of oil palm sign ash and cement on peat soil cured for 3 days to value of shear strength. In this study, several tests carried out, namely testing the physical properties of the original soil and testing the direct shear test. The results of testing the physical properties of peat soil originating from Jalan Sampit-Samuda Km 13, according to ASTM be classified as peat soil a high ash content (high ash peat) ranging from >15%, with moisture content of 202.64% and containing fiber content between 33% - 67% and according the classification of MacFarlane and Radforth included fibrouse peat because the fiber content >20%. In the direct shear test, the original soil obtained a shear strength value 0,1014 kg/cm2, the maximum increase occurred in percentage addition of 7,5% oil palm bunch ash and 7.5% cement with curing for 3 days of 0,0888 kg/cm2. The results showed that the curing time and percentage of addition palm oil bunch ash and cement that were given affected the shear strength value.
PASIR DAN SERBUK BATU BATA SEBAGAI BAHAN CAMPURAN DALAM PENGUJIAN CALIFORNIA BEARING RATIO (CBR) DAN DAYA DUKUNG PADA TANAH LEMPUNG: THE SAND AND BRICK POWDER AS MIXTURES IN THE TESTING OF THE CALIFORNIA BEARING RATIO (CBR) AND BEARING CAPACITY IN CLAY Husnul Wasilah; Fatma Sarie; Suradji Gandi
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil TRANSUKMA Vol. 5 No. 1 (2022): Jurnal Penelitian TRANSUKMA
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanah adalah dasar dari sebuah struktur atau kontruksi, baik itu kontruksi bangunan maupun jalan, dan akan jadi masalah apabila tanah tersebut memiliki sifat tidak baik. Di Desa Cempaka Mulia Kecamatan Cempaga Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah sebaran tanah di dominasi tanah lempung yang memiliki daya dukung rendah. Berdasarkan pengamatan jika musim penghujan terjadi penurunan pada tanah sehingga menjadi bergelombang dan rusak. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan tanah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan pasir, styrofoam dan serbuk batu bata terhadap daya dukung tanah lempung, dengan pengujian sifat fisik dan mekanik pada tanah. Pemeriksaan sifat fisik memperoleh nilai kadar air 38,09%, berat isi tanah kering 1,42 g/cm3, berat jenis 2,70, analisis persentase lolos saringan No. 200 sebesar 67,99%, batas Cair 46,09%, batas plastis 25,60%, batas susut 21,85%, Indeks Plastisitas sebesar 20,49%. Berdasarkan klasifikasi AASHTO tergolong kelompok A-7-6 (13). Berdasarkan USCS tanah tergolong kelompok CL tanah berlempung anorganik dengan plastisitas rendah sampai sedang. Pemeriksaan sifat mekanik tanah asli memperoleh nilai CBRrencana adalah 3,80% dan nilai DDT sebesar 4,19. Pada variasi campuran pasir dan serbuk batu bata, nilai CBRrencana menjadi 6,45% mengalami kenaikan 69,73% dari tanah lempung asli, dan nilai DDT diperoleh nilai 5,18 mengalami kenaikan 23,62% dari tanah lempung asli.   Soil is the basis of a structure or construction, be it a building or road construction, and it will be a problem if the land has bad properties. In Cempaka Mulia village, Cempaga sub-district, East Kotawaringin district, Central Kalimantan, the distribution of land is dominated by clay soil which has low bearing capacity. Based on observations when entering the rainy season there is a decrease in the soil so that it becomes bumpy and damaged. Therefore it is necessary to do soil improvement. The aim is to determine the effect of adding sand, styrofoam and brick powder to the bearing capacity of clay, by testing the physical and mechanical properties of the soil. Examination of physical properties obtained the value of water content (w) of 38.09%, dry soil density ( ) of 1.42 g/cm3, specific gravity (Gs) of 2.70, Analysis of the percentage passing the filter No. 200 of 67.99 %, Liquid Limit of 46.09%, Plastic Limit of 25.60%, Shrinkage Limit of 21.85%, Plasticity Index of 20.49%; soil with AASHTO classification soil classification belongs to group A-7-6 (13). Based on USCS, the soil is classified as CL group of inorganic clay soils with low to moderate plasticity. Examination of the mechanical properties of the original soil obtained a CBR value of 3.80% and a DDT value of 4.19. In the variation of the mixture of sand and brick powder, CBR value increased of  6.45%, an increase of 69.73% from the original clay, while for the DDT value the value was 5.18, an increase of 23.62% from the original clay.
IDENTIFIKASI PERUBAHAN NILAI RESISTIVITAS TANAH GAMBUT AKIBAT CAMPURAN JAMUR RHIZOPUS OLIGOSPORUS: IDENTIFICATION OF CHANGES IN PEAT SOIL RESISTIVITY VALUE DUE TO MIXTURE OF RHIZOPUS OLIGOSPORUS RIFQI HADI; Stephanus Alexsander; Fatma Sarie; Suradji Gandi; Okrobianus Hendri
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil TRANSUKMA Vol. 5 No. 2 (2023): Jurnal Penelitian Transukma
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian identifikasi perubahan nilai resistivitas tanah gambut akibat pencampuran jamur rhizopus oligosporus (10:1). Resistivitas tanah gambut diukur menggunakan metode geolistrik resistivitas konfigurasi wenner alfa. Pengambilan data dilakukan pada skala laboratorium dengan panjang kotak 4 (empat) meter dan jarak antar elektroda 10 cm. Pengukuran resistivitas tanah gambut dilakukan dengan dua tahap yaitu sebelum dan sesudah diberikan campuran jamur rhizopus oligosporus. Data resistivitas tanah gambut dipetakan dalam bentuk 2 (dua) dimensi menggunakan perangkat lunak res2dinv dengan variasi pemeraman rentang waktu dimulai dari 5 hari, 10 hari dan 15 hari. Hasil uji laboratorium pencampuran jamur rhizopus oligosporus terhadap perubahan resistivitas menunjukkan nilai resistivitas tanah gambut sebelum diberikan perlakuan berkisar 13,5-48,2 Ωm, sedangkan nilai resistivitas tanah gambut pada pemeraman 5 hari setelah diberi perlakuan berkisar 8,36-33,4 Ωm, pada rentang 10 hari pemeraman berkisar 5,18-23,3 Ωm dan pada rentang 15 hari berkisar 17,1-58,0 Ωm. Perubahan resistivitas tanah gambut yang paling signifikan terjadi pada rentang waktu 15 hari setelah pencampuran dan dengan rata-rata kesalahan iterasi 30%.   Research has been carried out to identify changes in the resistivity value of peat soil due to the mixing of the fungus Rhizopus oligosporus (10:1). The resistivity of peat soil was measured using the geoelectrical resistivity method of the Wenner alpha configuration. Data collection was carried out on a laboratory scale with a box length of 4 (four) meters and a distance between electrodes of 10 cm. Peat soil resistivity measurement was carried out in two stages, namely before and after being given a mixture of the fungus Rhizopus oligosporus. Peat soil resistivity data were mapped in 2 (two) dimensions using the res2dinv software with variations in curing time ranging from 5 days, 10 days and 15 days. The results of the laboratory test of mixing the fungus rhizopus oligosporus against changes in resistivity showed that the resistivity value of peat soil before treatment was around 13.5-48.2 Ωm, while the resistivity value of peat soil at 5 days curing after being treated ranged from 8.36-33.4 Ωm, in the range of 10 days of curing ranged from 5.18-23.3 Ωm and in the range of 15 days it ranged from 17.1 to 58.0 Ωm. The most significant change in resistivity of peat soil occurred in the 15 days after mixing and with an average iteration error of 30%.
PENGARUH PENAMBAHAN BATU ZEOLIT DAN SEMEN PORTLAND TERHADAP DAYA DUKUNG TANAH LEMPUNG: THE EFFECT OF ADDITIONAL STONE ZEOLITE AND PORTLAND CEMENT ON THE CARRYING CAPACITY OF CLAY ZULFANU HADI; Suradji Gandi; Fatma Sarie
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil TRANSUKMA Vol. 5 No. 2 (2023): Jurnal Penelitian Transukma
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanah adalah dasar dari sebuah struktur bangunan. Namun tidak semua tanah dalam suatu bangunan dapat digunakan. Sifat yang tidak baik dari tanah dapat mengakibatkan bangunan yang didirikan mengalami kerusakan. Hal tersebut sangat tidak diinginkan dalam suatu kontruksi. Maka dari itu, suatu kondisi tanah tertentu mempengaruhi kuat atau tidaknya suatu konstruksi. Pada penelitian ini akan digunakan tanah lempung pada lokasi daerah Desa samba kahayan Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya dalam meningkatkan daya dukung tanah. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan didapatkan campuran batu zeolite dan semen portland yang dicampurkan dengan tanah asli berdampak pada meningkatnya nilai daya dukung tanah yang didapatkan dari hubungan antara nilai DDT dengan CBRrencana.  Daya dukung tanah asli adalah sebesar 3,62 dengan penambahan tanah asli, batu zeolite dan semen portland di pemeraman 3 hari menjadi 4,43, 4,85 dan 5,08, dengan nilai tertinggi daya dukung tanah dasar terbesar di pemeraman 3 hari terjadi di penambahan batu zeolite dan semen portland 10% sebesar 5,08 dengan persentase kenaikan dari daya dukung tanah asli menjadi 40,3%. Sedangkan untuk pemeraman 7 hari menjadi 4,54, 5,01 dan 5,25. Nilai daya dukung tanah dasar terbesar terjadi di penambahan batu zeolite dan semen portland 10% yaitu 5,25 dengan persentase kenaikan dari daya dukung tanah asli menjadi 45,02%.   Soil is the basis of a building structure. However, not all land in a building can be used. The unfavorable nature of the soil can cause the buildings that are erected to be damaged. This is highly undesirable in a construction. Therefore, a certain soil condition affects whether or not a construction is strong. In this study, clay soil will be used at the location of the Samba Kahayan Village, Central Katingan District, Katingan Regency, Central Kalimantan. This research is expected to be one of the efforts to increase the bearing capacity of the soil. Based on the tests that have been carried out, it is found that a mixture of zeolite and portland cement mixed with native soil has an impact on increasing the carrying capacity of the soil obtained from the relationship between the DDT value and the planned CBR. The original soil bearing capacity was 3.62 with the addition of native soil, zeolite stone and portland cement in 3 days of curing to 4.43, 4.85 and 5.08, with the highest value of the largest subgrade bearing capacity at 3 days curing occurred at the addition of zeolite stone and 10% portland cement was 5.08 with a percentage increase from the original soil bearing capacity to 40.3%. As for the 7-day curing, it becomes 4.54, 5.01 and 5.25. The greatest value of subgrade bearing capacity occurred in the addition of zeolite stone and 10% portland cement, namely 5.25 with a percentage increase from the original soil bearing capacity to 45.02%.