Claim Missing Document
Check
Articles

Found 58 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Studi Efisiensi Kolektor Termal Surya Jenis Pelat Datar Dengan Menggunakan Evaporator Anbar Trisyawati Nur Zahra; Tri Ayodha Ajiwiguna
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakIndonesia yang berada di garis khatulistiwa dimana mendapatkan energi matahari sepanjang tahunsehingga sangat cocok untuk memanfatkan energi matahari. Energi matahari dapat dimanfaatkansebagai sumber energi dengan menggunakan kolektor termal surya tipe pelat datar sebagaipemanas air. Pada penelitian ini digunakan evaporator tipe pelat sebagai pelat absorber dan kanalfluida. Kolektor termal evaporator diuji diberbagai variasi untuk mendapatkan nilai efisiensi.Pengujian dilakukan diberbagai variasi intensitas dan kondisi penggunaan kaca dan tanpa kaca.Pengujian dilakukan didalam ruangan dengan menggunakan simulator radiasi sebagai penggantimatahari dengan temperatur awal air rentang 25,3oC sampai 26,3oC. Dari penelitian ini didapatkandengan menggunakan evaporator nilai efisiensi maupun temperatur akhir air yang dihasilkankolektor termal lebih tinggi dibandingkan dengan kolektor termal yang menggunakan pipatembaga. Nilai efisiensi tertinggi terdapat pada perlakuan menggunakan kaca, untuk kolektortermal evaporator nilainya sekitar 70,08% dengan nilai temperatur air akhir yang dihasilkan37,63oC, sedangkan nilai efisiensi kolektor pipa tembaga sekitar 59,98% dengan nilai temperaturakhir yang dihasilkan 36,23oC.Kata Kunci : Kolektor Termal Surya, efisiensi, evaporator, simulator radiasiAbstractIndonesia which is on the equator where it gets solar energy throughout the year is very suitablefor utilizing solar energy. Solar energy can be used as an energy source using flat plate type solarthermal collector as a water heater. In this study evaporator flat type is used as fluid canal andabsorbel plate. Tests are carried out at various intensity, use of glass, and without glass. Tests arecarried out indoors using a radiation simulator instead of the sun with temperature water startsfrom 25,3oC to 26,3oC. From this study obtained that using an evaporator the efficiency and thefinal temperature produced by the thermal collector is higher than thermal collector that usingcopper pipe. The highest efficiency value at uses glass, for the evaporator thermal collector thevalue is around 70,08% with the final water temperature value is 37.63oC, while the copper pipecollector efficiency value is around 59,98% with the final water temperature value is 36,23C.Keywords: Solar Thermal Collector, efficiency, evaporator, radiation simulator
Analisis Hasil Air Menggunkan Koneveksi Natural Pada Atmospheric Water Generator Berbasis Thermoelectric Aprilianto, Khoirul Tri; Ajiwiguna, Tri Ayodha; Kirom, M. Ramdlan
eProceedings of Engineering Vol. 12 No. 3 (2025): Juni 2025
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi penggunaanAtmospheric Water Generator (AWG) berbasis termoelektrikuntuk menghasilkan air bersih. Sistem ini menggunakanmodul Peltier, pelat aluminium, heatsink, dan kipas pendinginuntuk mengkondensasikan uap air dari udara. Hasil analisismenunjukkan suhu lingkungan memiliki pengaruh terbesarterhadap produksi air, diikuti oleh kelembaban dan suhutengah plat. Model regresi linear menunjukkan bahwa 60%variasi jumlah air dapat dijelaskan oleh suhu dankelembaban, dengan standar error 3,218 dari 26 data. Sistemini menawarkan desain sederhana dan efektif dengankebutuhan perawatan minimal, menjadikannya solusi inovatifuntuk menghasilkan air bersih dalam kondisi darurat. Kata Kunci - Sistem AWG, Air Bersih, Suhu, Tempeatur
RANCANG BANGUN SISTEM KONTROL DAN INSTRUMENTASI PADA VERTICAL FIRETUBE BOILER SKALA KECIL DENGAN MENGGUNAKAN KOMPOR GAS LPG SEBAGAI ALAT EDUKASI Sawaludin, Kartama Aji; Ajiwiguna, Tri Ayodha; Fitriyanti, Nurwulan
eProceedings of Engineering Vol. 12 No. 3 (2025): Juni 2025
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem kontrol dan instrumentasi pada boilerdibuat agar dapat memudahkan pengguna pada saatpengoperasian alat. Sistem kontrol ditambahkan pada desainuntuk secara otomatis menambahkan air ke boiler. Sistemkontrol dapat difungsikan secara manual atau otomatis denganmengubah mode operasi untuk pompa. Sistem instrumentasimemungkinkan pengguna dapat lebih mudah untukmengetahui hasil pengukuran temperature, tekanan, danketinggian air. Berdasarkan hasil kalibrasi sensor diperolehhasil kalibrasi sensor DS18B20 sudah linear dengan nilaikorelasi R²=0,9999361, nilai error rata-rata 0,4°C, persentaseerror 0,8% dan nilai akurasi 99,2%. Kemudian untuk sensortemperatur MAX6675 thermocouple tipe K diperoleh nilaikorelasi R²=0,9998777, nilai error rata-rata 1,7°C, persentaseerror 1,3% dan nilai akurasi 98,7%. Hasil kalibrasi gelaspenduga memiliki nilai error 0,39mm. Water level pada boilerberfungsi sebagai pendeteksi ketinggian air didalam boiler.Hasil proses pemasangan water level diperoleh kapasitas L1 danL2 adalah 7,5 Liter dan 6,4 liter. Kata kunci— Boiler, Temperatur, Sistem Kontrol, SistemInstrumentasi
Pengaruh Tekanan Refrigeran Terhadap COP dari Atmospheric Water Generator Berbasis Siklus Refrigerasi Kompresi Uap Hanifa, Firda Rizki Nur; Ajiwiguna, Tri Ayodha; Fitriyanti, Nurwulan
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 4 (2024): Agustus 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh tekanan refrigeran terhadap Koefisien Performansi (COP) dari Siklus Refrigerasi Kompresi Uap (SRKU) pada Atmospheric Water Generator (AWG). AWG merupakan alat yang dapat menghasilkan air dengan teknologi dehumidifikasi. AWG menggunakan Siklus Refrigerasi Kompresi Uap (SRKU) untuk membantu proses kondensasi uap air. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengukuran COP pada beberapa variasi tekanan refrigeran yaitu 0-5 psi, 5-15 psi, 10-20 psi, dan 15-25 psi. AWG dirancang dengan menggunakan komponen utama berupa kompresor, kondensor, pipa kapiler, dan evaporator. Data yang diukur yaitu parameter suhu, tekanan, dan konsumsi energi listrik. COP dapat dihitung dengan perbandingan antara beban pendinginan terhadap kerja kompresor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan tekanan refrigeran mempengaruhi COP dari AWG. Pada variasi tekanan 10-20 psi didapatkan nilai COP paling tinggi sebesar 3,56. Tekanan 0-5 psi, 5-15 psi, dan 15-25 psi menghasilkan nilai COP berturut-turut 3,18, 3,44, dan 3,5. Peningkatan tekanan cenderung meningkatkan efisiensi sistem, namun ada batas optimal ketika COP bernilai maksimum. Tekanan yang terlalu tinggi menyebabkan penurunan COP karena kerja kompresor meningkat. Kata kunci — atmospheric water generator, siklus refrigerasi kompresi uap, coefficient of performance, tekanan refrigerant
Pengaruh Kecepatan Udara Evaporator Terhadap COP AWG SRKU Iqbal, Muhammad; Ajiwiguna, Tri Ayodha; Fitriyanti, Nurwulan
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 4 (2024): Agustus 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Atmospheric Water Generator (AWG) berbasis Sistem Kompresi Uap (SRKU) adalah alat yang memproduksi air dari udara atmosfer melalui proses dehumidifikasi. Sistem ini mampu menghasilkan air minum di berbagai lokasi dengan memanfaatkan sumber daya eksternal. AWG SRKU terdiri dari beberapa komponen utama yaitu evaporator, kompresor, kondensor, dan katup ekspansi. Komponen-komponen ini bekerja sama untuk mengubah uap air dari fase gas menjadi fase cair melalui mekanisme kerja dan perpindahan panas. Pada bagian evaporator, terdapat kipas yang kecepatannya dapat diatur. Perubahan kecepatan kipas ini mempengaruhi nilai Coefficient of Performance (COP) dari AWG SRKU. Kecepatan yang diatur terdiri dari 1,5 m/s dengan COP 3,88; 1,5 m/s dengan COP 3,76; dan 1,9 m/s dengan COP 3,61. Kata kunci— AWG , COP, Kecepatan, SRKU
Pengaruh Jenis Filter Air terhadap Hasil Air Atmospheric Water Generator Berbasis Sistem Refrigerasi Kompresi Uap Nafliyah, Sururun; Ajiwiguna, Tri Ayodha; Fitriyanti, Nurwulan
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 4 (2024): Agustus 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Atmospheric Water Generator Berbasis Sistem Refrigerasi Kompresi Uap (AWG SRKU) merupakan alat yang memanfaatkan teknologi dehumidikasi untuk menghasilkan air minum. Air hasil AWG SRKU yang layak diminum harus memenuhi standar Kemenkes RI, terutama secara fisik berupa pH dan TDS air tidak melebihi baku mutu yang telah ditetapkan, yaitu nilai pH berada pada rentang 6,5-8,5 dan TDS tidak lebih dari 500 mg/l. Namun, air yang dihasilkan oleh AWG rentan terhadap kontaminasi komponen selama proses produksi air. Oleh karena itu, untuk menghasilkan air yang dapat diminum langsung, perlu dilakukan filtrasi terlebih dahulu. Pengujian parameter air dilakukan menggunakan 100 ml air dengan filter yang terdiri dari tiga lapisan, yaitu keramik, karbon aktif, dan perak. Sebelum filtrasi, parameter air menunjukkan suhu 23,5℃, pH 3,64, dan TDS 16 ppm. Setelah filtrasi, parameter air berubah menjadi suhu 23,2℃, pH 3,88, dan TDS 70 ppm. Minimnya perubahan pH dan adanya peningkatan TDS air setelah filtrasi menunjukkan ketidaksesuaian fungsi filter. Dengan demikian, penggunann jenis filter sangat mempengaruhi hasil air AWG. Pemilihan filter dapat disesuaikan dengan kebutuhan Kata kunci— Filter, pH, TDS
Pengaruh Kelembaban dan Suhu Lingkungan Terhadap Produksi Air Atmospheric Water Generator Berbasis Kompresi Uap Mutma’innah, Febria Citra; Ajiwiguna, Tri Ayodha; Fitriyanti, Nurwulan
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 4 (2024): Agustus 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kelembaban dan suhu lingkungan terhadap produksi air pada Atmospheric Water Generator (AWG) berbasis kompresi uap. Sistem AWG ini dirancang untuk mengoptimalkan proses dehumidifikasi dengan memanfaatkan kelembaban udara dan mengubahnya menjadi air. Metode yang digunakan melibatkan pengujian prototipe AWG di berbagai kondisi lingkungan dengan variasi kelembaban dan suhu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi air meningkat seiring dengan peningkatan kelembaban dan suhu lingkungan. Pada kelembaban 74,3% dan suhu 27,4°C, produksi air mencapai 116,7 ml/jam. Analisis data dilakukan menggunakan analisis psikrometrik untuk memvalidasi hasil eksperimen. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa kondisi kelembaban dan suhu yang tinggi secara signifikan meningkatkan efisiensi dan output produksi air pada AWG berbasis kompresi uap, menunjukkan potensi besar untuk aplikasi di daerah dengan iklim lembap dan panas. Kata kunci— Atmospheric Water Generator (AWG), kelembaban, suhu, produksi air, psikrometrik
Pengembangan Kompor Biomassa Berbahan Dasar Semen dengan Campuran Tanah Liat dan Perlit Ilyas, Moh. Faiz M; Kirom, Mukhammad Ramdlan; Ajiwiguna, Tri Ayodha
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan gas LPG di kalangan Masyarakat semakin meningkat. Hal tersebut menyebabkan ketersediaan energi fosil semakin menipis. Salah satu Upaya untuk masalah penggunaan bahan bakar fosil khususnya LPG adalah dengan menggunakan energi biomassa. Indonesia yang merupakan negara tropis dan memiliki perkembangan industry agrikultur yang berkembang pesat menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki ketersediaan sumber daya biomassa dan bio-energi yang cukup banyak. Kompor biomassa berbahan semen dapat menjadi salah satu teknologi untuk memanfaat ketersediaan biomassa yang melimpah di Indonesia dan menekan penggunaan gas LPG di kalangan Masyarakat. Pada penelitian ini dilakukan dua pengujian, pengujian pertama adalah menguji performas kompor biomassa berbahan semen dengan kompor biomassa konvensional, serta mengkaji pengaruh laju aliran udara pada kompor biomassa berbahan semen. Kedua pengujian tersebut dilakukan menggunakan metide WBT. Hasil menunjukkan bahwa kompor biomassa berbahan semen mampu mendidihkan air lebih cepat daripada kompor konvensional, meskipun efisiensi termalnya lebih rendah, yaitu 22,98% dibandingkan dengan 24,61% pada kompor konvensional. Penggunaan laju aliran udara primer yang lebih tinggi mempercepat waktu mendidih, tetapi meningkatkan konsumsi bahan bakar. Efisiensi termal tertinggi dicapai pada laju aliran udara 2,5 m/s dengan efisiensi rata-rata 21,63%. Kata kunci— Biomassa, Efisiensi Termal, LPG, WBT
Uji Performasi Kompor Biomassa Konvensional UB-03 dan Kompor Biomassa Berbahan Dasar Semen dengan Campuran Tanah Liat dan Perlit Menggunakan Metode WBT Salsa, Nabiela Ika; Kirom, Mukhammad Ramdlan; Ajiwiguna, Tri Ayodha
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia, sebagai negara agraris dengan banyak limbah pertanian, masih bergantung pada bahan bakar fosil, terutama gas LPG, untuk memasak. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2021 menunjukkan bahwa 82,78% rumah tangga di Indonesia menggunakan gas LPG, dengan angka yang lebih tinggi di perkotaan (88,93%) dibandingkan pedesaan (74,68%). Dengan menipisnya energi fosil, biomassa, yang berasal dari limbah pertanian dan perkebunan, menjadi alternatif bahan bakar yang semakin relevan. Biomassa tidak hanya dapat menggantikan bahan bakar fosil, tetapi juga bermanfaat untuk pangan dan pakan ternak. Penelitian ini mengevaluasi performa kompor biomassa konvensional dibandingkan dengan kompor biomassa berbahan dasar semen yang dicampur tanah liat dan perlit menggunakan metode Water Boiling Test (WBT). Hasil uji menunjukkan bahwa kompor biomassa berbahan dasar semen lebih cepat dalam mendidihkan air dibandingkan dengan kompor biomassa konvensional. Ini menunjukkan bahwa kompor semen lebih efisien dalam mentransfer panas dan mengurangi rugi kalor selama pembakaran. Namun, efisiensi termal kompor semen sedikit lebih rendah, yaitu 22,98%, dibandingkan kompor konvensional yang mencapai 24,61%. Perbedaan ini disebabkan oleh penggunaan biomassa yang lebih banyak pada kompor semen. Kata kunci— Biomassa, Efisiensi Termal, Kompor Biomassa Konvensional, Kompor Biomassa Semen, LPG, WBT
Analisis Performasi Kompor Biomassa Berbahan Dasar Semen dan Pengaruh Laju Aliran Udara Terhadap Performa Kompor Menggunakan Metode WBT Haldoko, Faisal; Kirom, Mukhammad Ramdlan; Ajiwiguna, Tri Ayodha
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan gas LPG di kalangan Masyarakat semakin meningkat. Hal tersebut menyebabkan ketersediaan energi fosil semakin menipis. Salah satu Upaya untuk masalah penggunaan bahan bakar fosil khususnya LPG adalah dengan menggunakan energi biomassa. Indonesia yang merupakan negara tropis dan memiliki perkembangan industri agrikultur yang berkembang pesat menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki ketersediaan sumber daya biomassa dan bio-energi yang cukup banyak. Kompor biomassa berbahan semen dapat menjadi salah satu teknologi untuk memanfaat ketersediaan biomassa yang melimpah di Indonesia dan menekan penggunaan gas LPG di kalangan Masyarakat. Pada penelitian ini dilakukan dua pengujian, pengujian pertama adalah menguji performas kompor biomassa berbahan semen dengan kompor biomassa konvensional, serta mengkaji pengaruh laju aliran udara pada kompor biomassa berbahan semen. Kedua pengujian tersebut dilakukan menggunakan metide WBT. Hasil menunjukkan bahwa kompor biomassa berbahan semen mampu mendidihkan air lebih cepat daripada kompor konvensional, meskipun efisiensi termalnya lebih rendah, yaitu 22,98% dibandingkan dengan 24,61% pada kompor konvensional. Penggunaan laju aliran udara primer yang lebih tinggi mempercepat waktu mendidih, tetapi meningkatkan konsumsi bahan bakar. Efisiensi termal tertinggi dicapai pada laju aliran udara 2,5 m/s dengan efisiensi rata-rata 21,63%. Kata kunci— Biomassa, Efisiensi Termal, LPG, WBT
Co-Authors Abrar Ismardi Adhidevara , Rakha Adrian Muhammad Irwansyah Ahmad Qurthobi Anbar Trisyawati Nur Zahra Andre Farlianto Anindya Nur Azizah Aprilianto, Khoirul Tri Aqilah, Falih Ardisurya Ardisurya Asep Suhendi Atika Rizkiyatul Faizah Audi Riansyahputra Ayu, Christina Putri Benny Sarihot Tua Silalahi Darmawan, Gian Arie Daulat Kliston Simatupang Dian Gunawan Dyan Franco Sinulingga Eddy Ariffin Eky Irmansyah Faiz Auliya Ramadhan Fatahah Dwi Ridhani Fathona , Indra Wahyudhin Galih Putra Anugrah Hafizh Farras Putra Haldoko, Faisal Handri Morteza Hanifa, Firda Rizki Nur Hilda Hamdah Husniyyah Ilyas, Moh. Faiz M Indra Wahyudin Fathonah Ismudiati Puri Handayani J. W. Paletekan Jovika Alitsha Hasibuan Karim, Tsabitul Azmi Abdul Kiki Azura Kirom, Mukhammad Ramdlan M Saladin Prawirasasra Mochamad Firman Muzaqi Alhaq Mochamad Roffa Firdaus Moh Riswandha Imawan Muh. Al Furqan Syafiuddin Muhamad Ramdlan Kirom Muhammad Iqbal Muhammad Zaky Mubarok, Muhammad Zaky Mutma’innah, Febria Citra Nafliyah, Sururun Narulita Andriyani Natasha Salsabila Novika Fithrah Ulfa Nur Putrialita Nurwulan Fitriyanti Nuzul Hesty Pranita Porman Pangaribuan Ramdan, M. Rafi Reza Fauzi Iskandar Rifqi Firdaus Rio Nugroho Rizal Amirah Dalal Amran Rizal Murdi Saputro Rozan Widhi Jatnika S. Suwandi Saladin Prawirasasra Salsa, Nabiela Ika Sawaludin, Kartama Aji Shaloom, Leony Anastasya Shaloom, Mukhammad Ramdlan Sucika Nandiati Suprayogi Suprayogi Susetyo Agung Prabowo Suwandi Suwandi Weli Wahyudi Yan Dewa Prabawa Yandi Firdaus Yanky Newalse Yayu Gandis Canceria Yohanes Brahmantyo Mahardhika Zuhal Sigit Rinaldi