Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Identifikasi Potensi dalam Upaya Perencanaan Masterplan Desa Wisata Sumbersawit, Magetan, Jawa Timur Pratiwi Anjar Sari; Vita Fibri Taufiq Hidayat; Ade Fitria Yupa
Jurnal Syntax Admiration Vol. 5 No. 8 (2024): Jurnal Syntax Admiration
Publisher : Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/jsa.v5i8.1430

Abstract

Sumbersawit Village is located on the slopes of Mount Lawu and has a natural panorama that can be a promising tourism potential. The village government has ideas for the development of village tourism, but until now it has not been able to develop well due to the lack of resources and the role of actors in the development of village tourism. The method used in this research is descriptive exploratory which aims to describe a phenomenon and describe chronologically the data and facts in the field. The data obtained is then processed using the triangulation method. This technique analyzes data from various data sources, including observation data, interviews, and secondary data. The use of this analysis technique aims to combine all data in order to produce a precise and comprehensive conclusion. The results of the research show that Sumbersawit Village has the potential of an agritourism village which is divided into 3 areas namely Growong, Sawit and Miri. The results of potential mapping can be used as a reference in the development of a tourist village master plan.  
Perancangan Masterplan Desa Tapak Lestari dengan Pendekatan Saujana Budaya Kusumaningdyah Nurul Handayani; Pratiwi Anjar Sari; Fauzan Ail Ikhsan; Anita Dianingrum; Bagas Satria Akbar; Nurmalita Kumalasari
Buletin Dharmas Andalas Vol. 1 No. 2 (2024): Buletin Dharmas Andalas
Publisher : Departemen Budidaya Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/bda.v1i2.14

Abstract

Pengembangan kawasan pedesaan yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan kelestarian lingkungan menjadi tantangan penting dalam melestarikan identitas lokal sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem. Desa Tapak, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur memiliki potensi alam dan budaya yang kaya, namun menghadapi ancaman alih fungsi lahan dan modernisasi, seperti pada umumnya pembangunan pedesaan. Oleh karena itu, pendekatan lanskap budaya berkelanjutan menawarkan solusi dengan memadukan pelestarian warisan budaya dan perlindungan lingkungan dalam pengelolaan desa yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan Desa Tapak Magetan dengan menerapkan konsep lanskap budaya yang melibatkan analisis lanskap alam dan budaya secara holistik. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, analisis spasial, dan partisipasi desain masyarakat melalui wawancara dan diskusi kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan lanskap budaya yang berkelanjutan tidak hanya mampu melestarikan nilai-nilai budaya lokal, tetapi juga meningkatkan daya dukung lingkungan desa. Penerapan strategi ini diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan desa-desa lain yang memiliki potensi serupa sehingga tercapai keseimbangan antara pelestarian budaya dan kelestarian lingkungan.
Perancangan Masterplan Desa Tapak Lestari dengan Pendekatan Saujana Budaya Kusumaningdyah Nurul Handayani; Pratiwi Anjar Sari; Fauzan Ail Ikhsan; Anita Dianingrum; Bagas Satria Akbar; Nurmalita Kumalasari
Buletin Dharmas Andalas Vol. 1 No. 2 (2024): Buletin Dharmas Andalas
Publisher : Departemen Budidaya Tanaman Perkebunan, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/bda.v1i2.14

Abstract

Pengembangan kawasan pedesaan yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan kelestarian lingkungan menjadi tantangan penting dalam melestarikan identitas lokal sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem. Desa Tapak, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur memiliki potensi alam dan budaya yang kaya, namun menghadapi ancaman alih fungsi lahan dan modernisasi, seperti pada umumnya pembangunan pedesaan. Oleh karena itu, pendekatan lanskap budaya berkelanjutan menawarkan solusi dengan memadukan pelestarian warisan budaya dan perlindungan lingkungan dalam pengelolaan desa yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan Desa Tapak Magetan dengan menerapkan konsep lanskap budaya yang melibatkan analisis lanskap alam dan budaya secara holistik. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, analisis spasial, dan partisipasi desain masyarakat melalui wawancara dan diskusi kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan lanskap budaya yang berkelanjutan tidak hanya mampu melestarikan nilai-nilai budaya lokal, tetapi juga meningkatkan daya dukung lingkungan desa. Penerapan strategi ini diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan desa-desa lain yang memiliki potensi serupa sehingga tercapai keseimbangan antara pelestarian budaya dan kelestarian lingkungan.
Symbolic Meaning of Space: Interpreting Cosmological Order in Indigenous Balinese and Javanese Architecture Titis Srimuda Pitana; Pratiwi Anjar Sari
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol. 16 No. 2 (2026): Bali Overtourism
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JKB.2026.v16.i02.p13

Abstract

Studies on Nusantara architecture often isolate spatial systems and disregard their shared cosmological foundations. This comparative study examines how cosmology shapes spatial planning in the Balinese Tri Mandala (a tripartite spatial hierarchy) and the Javanese Catur Gatra Tunggal (a quadripartite civic order), with a focus on orientation, zoning, and structure. Using an interpretive qualitative approach, the research draws on Gadamer’s philosophical hermeneutics, Ricoeur’s symbolic hermeneutics, and spatial phenomenology. The findings show that both traditions project cosmology into space through different spatial logics: Bali emphasizes a vertical sacred–profane hierarchy, whereas Java stresses horizontal integration of social, religious, and political domains. Variations in spatial form do not indicate distinct cosmological paradigms but rather different symbolic expressions of comparable ontological concepts. The novelty of this study lies in synthesizing zoning, structure, orientation, and philosophical meaning into a unified analytical model that views architecture as a spatial knowledge system mediating relationships among humans, nature, and transcendence.