Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MITOLOGI TENUN GEDOGAN INDRAMAYU: IDE DAN PROSES KONSTRUKSI WACANA Dewi Mustikasari
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 9, No 1 (2021): KARYA RUPA DALAM PERSPEKTIF MAKNA, FUNGSI, DAN IMPLEMENTASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v9i1.1657

Abstract

The motifs of Babaran, Kluwungan, Poléng Méntisa, and Udan Mas Prambutan are the four motifs of Gedogan Indramayu weaving which are mythized by the user community as narratives of defense mechanisms for systems that have been practiced for a long time. In principle, a mythology is formed by the people themselves to gain their own knowledge in reading the phenomena of life and the natural surroundings. Mythology stems from the perception of the people who are arbitrary and connotative in deciphering the meanings of Gedogan Indramayu weaving. The connotation of believing and being believed together becomes a kind of collective 'faith'. The connotative perception is then uniformized and turned into a fixed and absolute rule or into a kind of convention. Furthermore, when testing the validity of the convention, it persists in its application in society, so that its predicate turns into a myth. Then this myth is also tested by time, survives in the community, reaches the side of a solid belief for the people, so that it becomes a system of thinking and living for the Juntikebon community. Keywords: Mythology, Weaving Gedogan Indramayu, Babaran, Kluwungan, Poléng Méntisa, Udan Mas Prambutan. -----------------------------------------------------------------------------------------Motif Babaran, Kluwungan, Poléng Méntisa, dan Udan Mas Prambutan adalah empat motif tenun Gedogan Indramayu yang dimitoskan oleh masyarakat penggunanya sebagai narasi mekanisme pertahanan bagi sistem-sistem yang telah dijalani sejak dulu. Pada prinsipnya, suatu mitologi dibentuk oleh masyarakatnya sendiri untuk mendapatkan pengetahuannya sendiri dalam membaca fenomena hidup dan alam sekitar. Mitologi bermula dari persepsi masyarakatnya yang arbiter dan konotatif dalam menguraikan makna-makna tenun Gedogan Indramayu. Konotasi itu dipercaya dan diyakini secara bersama-sama menjadi semacan ‘iman’ kolektif. Persepsi yang konotatif itu kemudian diseragamkan dan berubah menjadi suatu aturan yang tetap dan mutlak atau menjadi semacam konvensi. Selanjutnya, waktu menguji keberlakuan konvensi itu tetap bertahan dalam penerapannya di masyarakat, sehingga predikatnya berubah menjadi sebuah mitos. Kemudian mitos ini juga diuji oleh waktu, bertahan di masyarakatnya, mencapai pada sisi keyakinan yang mantap bagi masyarakatnya, hingga menjadi suatu sistem berpikir dan berkehidupan bagi masyarakat Juntikebon. Kata Kunci: Mitologi, Tenun Gedogan Indramayu, Babaran, Kluwungan, Poléng Méntisa, Udan Mas Prambutan.
Analisis Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas , Leverage Terhadap Perataan Laba Pada Perusahaan Food And Beverage Yang Terdaftar Di Bei Dewi Mustikasari
Jurnal Ekonomika dan Bisnis Vol. 11 No. 1 (2024): Volume 11 Nomer 1 April 2024
Publisher : Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Selamat Sri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51792/ah9yqj06

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage,terhadap praktik perataan laba pada perusahaan food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.Ukuran perusahan diukur dengan menggunakan natural logaritma total asset, profitabilitas diukur dengan rasio antara laba setelah pajak dengan total asset, leverage diukur dengan rasio total hutang terhadap total asset, Perataan laba diukur dengan menggunakan Indeks Eckel. Populasi dalam penelitian ini adalah 26 perusahaan food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2016-2020. Berdasarkan metode purposive sampling, sampel yang diperoleh sebanyak 11 perusahaan. Hipotesis dalam pengujian ini diuji dengan menggunakan analisis regresi logistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap perataan laba adalah profitabilitas, sedangkan ukuran perusahaan dan leverage tidak berpengaruh terhadap perataan laba
Sosialisasi dan Edukasi Pemilahan Sampah Rumah Tangga Berbasis Program Kang Pisman di Kelurahan Cijawura, Kecamatan Buah Batu, Kota Bandung Ramayani; Agnes Alzena Syafitri; Renny Sunarny; Dewi Mustikasari; Yuki Hidayat Kusdinar
INCOME: Indonesian Journal of Community Service and Engagement Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/income.v5i3.2408

Abstract

Peningkatan volume sampah rumah tangga menjadi tantangan pengelolaan lingkungan perkotaan, termasuk di Kelurahan Cijawura, Kecamatan Buahbatu, Kota Bandung, seiring keterbatasan kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti dan masih rendahnya kebiasaan memilah sampah dari sumber. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan praktik pemilahan sampah rumah tangga warga Kelurahan Cijawura sesuai anjuran pemerintah melalui program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung. Metode pelaksanaan mengikuti kerangka design thinking meliputi tahap empathize, define, ideate, prototype, dan test, melalui sosialisasi dan edukasi door to door oleh mahasiswa dan dosen pendamping lintas program studi kepada rumah tangga, kader RW/RT, PKK, dan Karang Taruna. Hasil kegiatan menunjukkan RW 13 yang menjadi lokasi percontohan telah mendekati kondisi zero waste, enam RW telah memiliki fasilitas Rumah Maggot untuk mengolah sampah organik, dan media edukasi flash card berhasil digunakan dalam sosialisasi kepada masyarakat maupun sekolah. Replikasi praktik baik ke RW lain masih memerlukan pendampingan berkelanjutan karena keterbatasan lahan dan variasi partisipasi warga antarwilayah. Kegiatan ini merekomendasikan penguatan edukasi berkelanjutan, replikasi praktik RW percontohan, dan penerapan umpan balik serta apresiasi warga agar kebiasaan memilah sampah dapat bertahan dalam jangka panjang.