Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Improving Arabic Speaking Skills Through the Implementation of Daily Arabic Expressions in a Language Environment Irsal Amin; Mahyudin Ritonga; Sylvia Kurnia Ritonga; Ridho Abdul Ali Abbas Riswan
Al-Muyassar: Journal of Arabic Education Vol 5 No 2 (2026): Al-Muyassar: Journal of Arabic Education
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/gczhdp09

Abstract

Arabic speaking skills (maharah al-kalam) are widely regarded as a primary objective of Arabic language learning, yet they remain one of the most challenging competencies for students to acquire. This study aims to examine the implementation of a daily Arabic expressions program in enhancing students’ maharah al-kalam at Ma'had Darul Ikhlas Padangsidimpuan. A qualitative approach with a case study design was employed. Data were collected through classroom observations, semi-structured interviews, and document analysis, and analyzed using an interactive model involving data reduction, data display, and conclusion drawing through triangulation. The findings indicate that the implementation of daily Arabic expressions significantly enhanced students’ speaking competence, particularly in terms of fluency, self-confidence, and contextual language use. These improvements were supported by integrated language activities, including Shobahul Lughah, Muhadatsah, Muhadharah, Arabic vlog production, and regular Musabaqah Lughawiyah. Nevertheless, the findings also reveal that improvements in speaking fluency were more substantial than gains in grammatical accuracy. Several challenges affected the implementation of the program, including differences in students’ cognitive abilities, varying levels of learner commitment, limited supervision, and institutional support. The study concludes that a language environment enriched with structured daily Arabic expressions provides an effective strategy for developing students’ maharah al-kalam. However, strengthening grammatical instruction, ensuring consistent implementation, and enhancing institutional support are essential for achieving more comprehensive and sustainable speaking competence.
Pergeseran Paradigma Kafa’ah dalam Pernikahan Generasi Millenial Muslim Modern (Studi Kasus pada Lembaga Pendidikan Tinggi di Kota Padangsidimpuan Sylvia Kurnia Ritonga; Misbah Mrd
Jurnal EL-QANUNIY: Jurnal Ilmu-Ilmu Kesyariahan dan Pranata Sosial Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : Syekh Ali Hasan Ahmad Addary State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/el-qanuniy.v11i2.18585

Abstract

Kesetaraan antara suami dan istri dalam pernikahan menjadi sebab keutuhan dalam menjalankan bahtera rumah tangga. Setelah menikah terjadi tidak kafa’ah antara suami dan istri teruma dalam hal Al-hirfah (penghasilan) dan Al-mal (kemampuan finalsial). Penelitian ini ditujukan untuk menjelaskan kafa’ah antara suami dan istri setelah menikah generasi millenial muslim kekinian yang sering kali menyebabkan perpecahan bahkan perceraian antara keduanya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif analitik deskriptif untuk menggambarkan secara jelas tentang kafa’ah suami dan istri setelah menikah yang terfokus pada kafa’ah Al-Hirfah dan Al-mal sebagai sebab kebutuhan kehidupan yang acapkali membuat ketidakharmonisan keduanya. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam kepada informan sebanyak delapan keluarga yang merupakan pengajar pada perguruan tinggi. Setelah data dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan triangulasi data yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan analisa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kafa’ah dalam pernikahan generasi millenial muslim dalam dua kategori ­kafa’ah yaitu ­kafa’ah Al-Hirfah dan Al-mal. Kafa’ah Al-hirfah (penghasilan) dalam bentuk pendidikan istri lebih tinggi dari pada suami, karir (pekerjaan) istri lebih maju dari suami, dan pengetahuan istri lebih luas dari suami. Kemudian pada aspek kafa’ah Al-mal (penghasilan), penghasilan istri lebih besar dari suami, istri bekerja menjadi pencari nafkah utama keluarga, dan suami tidak memiliki penghasilan tetap. Kedua kafa’ah ini tidak menjadi sebab perpecahan dalam keluarga mereka karena secara syari’ah tidak menjadi sebab batalnya pernikahan karena sudah menjadi kesepakatan keduanya sebelum menikah dan sesudah menikah. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kafa’ah setelah menikah ditujukan untuk menjaga keharmonisan keluarga.