Yanti Sunaidi
Program Studi DIII Teknologi Laboratorium Medis, Fakultas Teknologi Kesehatan, Universitas Megarezky

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Studi Literatur: Tinjauan Pemeriksaan  Laboratorium pada Pasien COVID-19 Rosdiana Mus; Thaslifa Thaslifa; Mutmainnah Abbas; Yanti Sunaidi
Jurnal Kesehatan Vokasional Vol 5, No 4 (2020): November
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkesvo.58741

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Corona virus 19 (COVID-19) yang disebabkan oleh SARS-COV-2 terjadi melalui droplet dengan menyerang saluran pernafasan melalui reseptor ACE2, menyebabkan pneumonia berat yaitu Acute Respiratory Distress Syndrome. Pemeriksaan laboratorium penting dalam menunjang diagnosis dan menilai prognosis penyakit COVID-19.Tujuan: Tinjauan ini menjelaskan peran diagnosis dan prognosis pengembangan COVID-19 pada tes laboratorium berdasarkan kemajuan penelitian terbaru SARS-CoV-2 yang telah dilaporkan.Metode: Penelitian bersifat studi literatur dengan menggunakan data sekunder. Sumber data penelitian berasal dari e-journal yaitu Google Scholar, Open Access, dan PubMed Central yang dilakukan skrining berdasarkan kata kunciHasil: Pemeriksaan imunoserologi menunjukan IgM dan IgG muncul secara berurutan pada hari ke 12 dan 14 setelah terinfeksi. Pemeriksaan hematologi melaporkan peningkatan jumlah neutrofil dan penurunan jumlah limfosit. NLR tinggi pada pasien yang parah. Pemeriksaan kimia klinik menunjukan penurunan albumin, peningkatan CRP, LDH, kreatinin, AST dan ALT.Kesimpulan: Pemeriksaan imunoserologi dilakukan dengan pemeriksaan sel T, sel B serta menilai kadar immunoglobin (IgM dan IgG). Parameter hematologi digunakan untuk memprediksi keparahan COVID-19, termasuk limfosit, leukosit dan neutrofil. Peningkatan neutrofil-leukosit rasio (NLR)  dapat digunakan sebagai marker untuk menilai faktor risiko COVID-19. Pada pemeriksaan kimia klinik ditemukan peningkatan kadar pada parameter fungsi hati, fungsi jantung, analisa gas darah dan penanda inflamasi.
Edukasi dan Pemeriksaan Kolesterol Tentang Bahayanya Terhadap Kesehatan : Education and Cholesterol Examination About Its Dangers to Health Ariza, Desyani; Angria, Nirmawati; Kesrianti, Andi Maya; Santi, Santi; Fadlila, Rizky Nurul; Arfani, Nurfitri; Sunaidi, Yanti
Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Program Studi Teknologi Laboratorium Medis, ITKES Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/abdmlt.v5i1.1849

Abstract

Perubahan gaya hidup modern menyebabkan pola makan berubah. Merebaknya makanan dengan tinggi lemak menyebabkan penderita kolesterol dari tahun ke tahun semakin meningkat. Dengan sering  konsumsi makanan tinggi lemak seseorang beresiko terkena kolesterol tinggi.  Penderita kolesterol cukup tinggi di Indonesia, mencapai 28% dari total populasi dan merupakan penyebab 7,9% kematian di seluruh dunia.  Kolesterol tinggi dapat membahayakan kesehatan dan bahkan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani segera.  Kadar kolesterol tinggi didefinisikan sebagai kadar kolesterol darah yang lebih tinggi daripada nilai normal.  Kolesterol yang tidak terkendali dapat menyumbat saluran pembuluh darah dan menyebabkan penyakit seperti stroke, aterosklerosis, angina, atau serangan jantung (Kementrian Kesehatan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, 2022). Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa adalah salah satu target tempat edukasi dan pemeriksaan kolesterol tentang bahayanya terhadap kesehatan. Tujuan dilakukan kegiatan ini untuk memberikan edukasi tentang bahaya kolesterol terhadap kesehatan dan juga dilakukan pemeriksaan kolesterol untuk mengetahui kadar kolesterol masyarakat setempat di Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan di Aula Kantor Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa pada hari Kamis, 17 April 2025 pukul 09.00 WITA-selesai. Peserta dalam kegiatan ini adalah para warga yang tinggal disekitar kantor Camat Bontomarannu Kabupaten Gowa dan diikuti 23 peserta. Hasil yang diperoleh dari kegiatan edukasi yaitu bertambahnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya kolesterol terhadap kesehatan. Hasil pemeriksaan kesehatan diperoleh 16 (69,57%) peserta dengan kadar kolesterol normal dibawah <200 mg/dl dan 7 (30,43%) peserta dengan kadar kolesterol meningkat > 200 mg/dl.
PERBANDINGAN INDEKS ERITROSIT PADA PENDERITA TUBERKULOSIS YANG MENJALANI PENGOBATAN FASE AWAL DAN FASE LANJUTAN SEBAGAI MONITORING RISIKO ANEMIA Yanti Sunaidi; Imelda pongsimpin; Nuramaniyah Taufiq
Jurnal Analis Kesehatan Kendari Vol. 7 No. 1 (2024): Jurnal Analis Kesehatan Kendari (JAKK) : Vol. 7 (1) Desember 2024)
Publisher : Program Study of Medical Laboratory Technology , Politeknik Bina Husada Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46356/jakk.v7i1.335

Abstract

Tuberculosis is an infectious disease caused by the bacteria Mycobacterium tuberculosis. Tuberculosis can be treated by taking Anti-Tuberculosis Drugs (OAT). Tuberculosis treatment is divided into two phases, namely the initial phase and the advanced phase. Side effects of OAT use can cause hematological abnormalities in the blood such as anemia. The purpose of this study was to determine the comparison of erythrocytes in tuberculosis patients undergoing initial and advanced phase treatment as monitoring of anemia risk. This type of research was a comparative study. The research subjects were 30 subjects undergoing initial phase treatment and 30 subjects in advanced phase treatment obtained using the total sampling method. The results of this study obtained a normal erythrocyte index in the early phase of 21 (70%) subjects, normocytic hypochromic 6 (20%) subjects, and microcytic hypochromic 3 (10%) subjects. In comparison, the normal erythrocyte index in the advanced phase was 26 (87%) subjects and microcytic hypochromic 4 (13%) subjects. From the results of the statistical test study using the Mann-Whitney test, the Asymp. Sig. (2 tailed) value was obtained 0.000 (<0.05), which indicates that there is a comparison between the results of the erythrocyte index examination in TB patients undergoing early and advanced phase treatment so that in this study, the hypothesis H is accepted and Ho is rejected. This study concludes that more people experience anemia in the early phase of treatment than in the advanced phase of treatment.
Perbandingan Nilai Hematokrit Sebelum dan Sesudah Terapi Tirosin Kinase Inhibitor pada Pasien Chronic Myeloid Leukemia Muhammad Ihza Lisan Shidqi; Yanti Sunaidi; Eleventi Oktarina Putri; Antoni Aldo Danendra Sawal
Jurnal Analis Kesehatan Kendari Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Analis Kesehatan Kendari (JAKK) : Vol. 8 (1) Desember 2025)
Publisher : Program Study of Medical Laboratory Technology , Politeknik Bina Husada Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46356/jakk.v8i1.382

Abstract

Chronic Myeloid Leukemia (CML) is a hematologic malignancy characterized by the presence of the Philadelphia chromosome and the BCR-ABL1 fusion gene. Tyrosine kinase inhibitors (TKIs) have revolutionized CML management, improving patient survival and quality of life. However, evidence regarding the effect of TKI therapy on simple hematologic parameters, particularly hematocrit values, remains limited. This study aimed to analyze the differences in hematocrit levels before and after TKI therapy in patients with CML. A quantitative comparative design was conducted involving 53 CML patients (32 males, 21 females) aged 19–66 years. Hematocrit values were collected from medical records at two points: prior to therapy and after twelve months of TKI treatment. Data distribution was assessed using the Shapiro-Wilk test, and comparisons were performed using a paired sample t-test with a significance level of p < 0.05. The mean hematocrit value before therapy was 29.7%, increasing to 36.7% after therapy, with an average rise of 7.0%. Of the total patients, 42 (79.2%) showed an increase in hematocrit, while 11 (20.8%) demonstrated a decrease. Statistical analysis confirmed a significant difference between pre- and post-therapy values (p < 0.001). TKI therapy significantly improves hematocrit levels in CML patients, reflecting restored hematopoiesis and improved hematologic status. Hematocrit may serve as a practical and cost-effective parameter for monitoring therapy effectiveness, especially in healthcare settings with limited access to molecular testing.