Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Jurnal Bios Logos

Struktur Lamun di Zona Intertidal Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara (Structure of Seagrass on Intertidal Zone of Southern Tabukan Sub-District, Sangihe Islands District, North Sulawesi) Tumadang, Stevi; Siahaan, Ratna; Maabuat, Pience
JURNAL BIOS LOGOS Vol 9, No 2 (2019): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.9.2.2019.24170

Abstract

Struktur Lamun di Zona Intertidal Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan  Sangihe, Sulawesi Utara(Structure of Seagrass on Intertidal Zone of Southern Tabukan Sub-District, Sangihe Islands District, North Sulawesi) Stevi Tumadang1), Ratna Siahaan1*) , Pience V. Maabuat1*) 1) Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sam Ratulangi – Manado 95115*Email korespondensi:ratnasiahaan@unsrat.ac.id Diterima 1 Juli  2019, diterima untuk dipublikasi 5  Agustus 2019 Abstrak  Lamun memiliki fungsi ekologis dan nilai ekonomi yang penting. Penelitian berujuan untuk menganalisis struktur lamun di tiga area intertidal yaitu Pantai Karurung (Desa Salurang), Pantai Palareng (Desa Palareng), dan Pantai Galogong (Desa Batuwingkung), Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Metode purposive sampling digunakan dalam penentuan tempat sampling dengan pengambilan sampel yang menggunakan metode line transect. Jenis-jenis lamun yang ditemukan sebanyak tujuh (7) jenis yaitu Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Enhalus  acoroides, Halodule uninervis, Halophila ovalis, Syringodium isoetifolium, dan Thalassodendron ciliatum. Lamun S. isoetifolium memiliki nilai Kepadatan Relatif tertinggi di ketiga stasiun berturut-turut, yaitu 48,60%, 43,31%, dan 44,08%. Secara berturut-turut, lamun S. isoetifolium juga memiliki Indeks Nilai Penting tertinggi di ketiga stasiun, yaitu 74,92%, 65,31%, dan 70,75%. Keanekaragaman jenis lamun pada ketiga stasiun tergolong sedang dengan Indeks Keanakeragaman Shannon-Wiener (H’) secara berturut-turut, yaitu 1,52; 1,61; dan 1,23. Secara keseluruhan, keanekaragaman jenis lamun di Kecamatan Tabukan Selatan tergolong sedang (H’:1,59). Kata kunci  :    struktur lamun, Tabukan Selatan, Pantai Karurung, Pantai Palareng, Pantai Galoghong, Kepulauan Sangihe Abstract Seagrasses have important ecological functions and economic values. The study was carried out to analyze structure and distribution of seagrass on three intertidal areas, i.e. Karurung Beach (Salurang Village), Palareng Beach (Palareng Village), and Galogong Beach (Batuwingkung Village), South Tabukan District, Sangihe Islands Regency, North Sulawesi. The purposive sampling method was applied in choosing sampling locations. The line transect method was used for sampling seagrass. Seagrass species found were seven (7) species, i.e. Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, Halodule uninervis, Halophila ovalis, Syringodium isoetifolium, and Thalassodendron ciliatum. Seagrass S. isoetifolium had the highest Relative Density Value in three locations, i.e. 48.60%, 43.31%, and 44.08% perspectively. The seagrass S. isoetifolium also had the highest Important Value Index i.e. 74.92%, 65.31%, and 70.75% perspectively. The diversity of seagrass species in three stations was classified into moderate with Shannon-Wiener Biodiversity Index (H ') i.e. 1.52; 1.61; and 1.23 perspectively. The overall H’ of seagrass of South Tabukan was classified into moderate (H ': 1.59). Key words:      seagrass structure, South Tabukan, Karurung Beach, Palareng Beach, Galoghong Beach, Sangihe Islands
Kehadiran Logam-Logam Berat (Pb, Cd, Cu, Zn) Pada Air dan Sedimen Sungai Lowatag, Minahasa Tenggara - Sulawesi Utara (The Occurrence of Heavy Metals (Pb, Cd, Cu, Zn) on Water and Sediment in the River Lowatag, Southeast Minahasa - North Sulawesi) Patty, Jesica O; Siahaan, Ratna; Maabuat, Pience V
JURNAL BIOS LOGOS Vol 8, No 1 (2018): JURNAL BIOSLOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.8.1.2018.20592

Abstract

Abstrak Kualitas air sungai yang baik dibutuhkan oleh makhluk hidup untuk keberlanjutan kehidupannya. Kehadiran logam-logam berat di air dan sedimen dapat menurunkan kualitas air sungai. Penelitian ini bertujuan menganalisis kehadiran logam-logam berat timbal (Pb), kadmium (Cd), tembaga (Cu) dan seng (Zn) di air dan sedimen Sungai Lowatag. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling pada tiga stasiun yang tersebar dari hulu ke hilir. Pengambilan sampel sedimen dilakukan secara komposit di tiap stasiun. Sampel air diulang sebanyak tiga kali di tiap stasiun. Kehadiran logam berat-logam  berat  pada sedimen dengan konsentrasi berbeda-beda yaitu Cu berturut-turut dari Stasiun I, II dan III yaitu 13; 17 dan 13 mg/kg dan Zn yaitu 73; 48 dan 56 mg/kg. Kehadiran logam berat Pb di sedimen dari Stasiun I, II dan III yaitu 28; 19,1 dan 28,2 mg/kg masih di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) menurut RNO/1981 sebesar 10 mg/kg – 70 mg/kg. Kehadiran logam berat Cd berturut-turut 3,83;  2,69 dan 4,03 mg/kg telah melampaui NAB menurut RNO/1981 (0,1 mg/kg – 2,0 mg/kg). Kehadiran logam-logam berat Pb, Cd, Cu, dan Zn di air masih di bawah NAB menurut PP No.82/2001. Kata-kata kunci: logam berat, kualitas air, sedimen, Sungai Lowatag, Sulawesi Utara AbstractThe qualified river water is required by organisms for their sustainability. The occurrence of heavy metals in surface water and sediments can degrade the quality of river water. The aim of this study was to analyze the occurrence of lead metals (Pb), cadmium (Cd), copper (Cu) and zinc (Zn) in water and sediment of Lowatag River. The purposive sampling method was applied to survey three stations from upstream to downstream. Sediment sampling was collected compositely at each station. Water samples were collected three times in each station. The occurrence of heavy metals in the surface sediments with different concentrations of Cu were 13; 17 and 13 mg /kg and Zn were 73; 48 and 56 mg/kg respectively from Station I, II and III. The occurrence of heavy metal Pb in the sediments of Stations I (28 mg/kg), II (19.1 mg/kg) and III (28.2 mg/kg) were below the Threshold Limit Value (TLV) according to Du Reseau National D’ Observation (RNO) year 1981 (10 mg/kg-70 mg/kg). The occurrence of heavy metal Cd in the sediments of Stations I (3.83 mg/kg), II (2.69 mg/kg) and III (4.03 mg/kg) were exceeded TLV according to RNO/1981 (0.1 mg/kg-2.0 mg/kg). The occurrence of heavy metals Pb, Cd, Cu, and Zn in water were still in the standard range of Indonesia Government Regulation No.82 year 2001.Key words: heavy metals, water quality, sediment, Lowatag River, North Sulawesi 
Keanekaragaman Vegetasi Riparian Sungai Polimaan, Minahasa Selatan – Sulawesi Utara (Riparian Vegetation Diversity of Polimaan River, South Minahasa- Sulawesi Utara) Bental, Winda Puspita; Siahaan, Ratna; Maabuat, Pience Vera
JURNAL BIOS LOGOS Vol 7, No 1 (2017): JURNAL BIOSLOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.7.1.2017.16254

Abstract

Abstrak Degradasi riparian akibat aktivitas manusia dapat menyebabkan penurunan vegetasi riparian yang akan berdampak pada fungsi dalam mempertahankan kualitas air sungai, habitat hidupan liar dan menurunkan jasanya bagi kesejahteraan manusia. Penelitian vegetasi riparian Sungai Polimaan dilakukan untuk menganalisis keanekaragaman vegetasi riparian Sungai Polimaan. Penelitian dilakukan dari Desember 2016 sampai Maret 2017 di sepanjang sungai dari hulu, tengah hingga hilir Sungai Polimaan. Metode analisis vegetasi transek petak sistematik dilakukan pada tingkat rumput, semai, pancang, tihang dan pohon. Vegetasi riparian yang ditemukan di Sungai Polimaan sebanyak 665 individu, 68 spesies, 41 suku. Keanekaragaman vegetasi riparian (H’) secara keseluruhan tergolong sedang untuk tingkat rumput (1,55), pancang (1,53), tihang (1,64) dan pohon (1,76) dan tergolong tinggi pada tingkat semai (3,59).  Upaya pengelolaan zona riparian diperlukan untuk mempertahankan keanekaragaman vegetasi riparian di Sungai Polimaan. Kata kunci: keanekaragaman, Sungai Polimaan, vegetasi riparian. Abstract Riparian degradation due to human activities can lead to decreased riparian vegetation that affects riparian function to maintain river quality, wildlife habitat and riparian services for human well-being. The riparian vegetation research of the Polimaan River was conducted to analyze the diversity of riparian vegetation of the Polimaan River. The study was conducted from December 2016 to March 2017 along river from upper, middle to down the Polimaan River. Method of systematic transect vegetation analysis was carried out at the levels of grass, seedling, stake, banana and tree. The riparian vegetation found in the Polimaan River consisted of 665 individuals, 68 species, 41 families. Riparian vegetation diversity (H ') could be classified into middle diversity for grass (1.55), sapling (1.53), poles (1.64) as well as tree (1.76), and high diversity for seedlings (3.59). Riparian zone management are required to preserve the diversity of riparian vegetation of Polimaan River.Key words: biodiversity, Polimaan River, riparian vegetation
Kepadatan Cacing Tanah pada Lahan Pertanian Tomat Terpapar Pestisida di Desa Ampreng, Kecamatan Langowan Barat - Provinsi Sulawesi Utara (Earthworm Density in Tomato Farming Exposed to Pesticides at Ampreng Village, Langowan Barat Sub District – North S Tribrata, Yulita; Siahaan, Ratna; Pelealu, Johanis J; Mambu, Susan M
JURNAL BIOS LOGOS Vol 5, No 1 (2015): JURNAL BIOSLOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.5.1.2015.7045

Abstract

Abstrak Penggunaan pestisida dimaksudkan untuk mempertahankan produksi pertnaian tomat namun hal ini dapat mempengaruhi kepadatan cacing tanah. Penelitan bertujuan menganalisis kepadatan cacing tanah pada lahan pertanian tomat terpapar pestisida di Desa Ampreng, Kecamatan Langowan Barat – Provinsi Sulawesi Utara. Hasil menunjukkan bahwa di lahan pertanian ada dua jenis cacing tanah (Pontoscolex sp. dan Amynthas sp.) dan di lahan pekarangan ada empat jenis (Pontoscolex sp., Amynthas sp., Pheretima sp. dan Perionyx sp). Kepadatan relatif cacing tanah di lahan pertanian yaitu Pontoscolex sp. (66, 49 %) dan Amynthas sp. (33,51 %) dan pekarangan yaitu Pontoscolex sp. (68, 10%), Amynthas sp. (29,31 %), Pheretima sp. (1,72 %) dan Perionyx sp. (0,86 %). Kepadatan relatif cacing tanah yang lebih rendah di lahan pertanian dibandingkan lahan pekarangan dapat disebabkan oleh residu pestisida mankozeb (0,035 mg/kg) dan propineb (0,014 mg/kg). Faktor lain yang turut mempengaruhi yaitu serasah yang lebih sedikit di lahan pertanian tomat dibandingkan di lahan pertanian. Kata kunci: cacing tanah, kepadatan relatif, pestisida, tomat, Sulawesi Utara   Abstract The application of pesticides is intended to maintain the production of tomato however this may affect the density of earthworms. The aim of research was to analyze the density of earthworms in tomato farming applied pesticide at Ampreng Village, Langowan West Sub-District - North Sulawesi. The results showed that earthworms in the tomato farming were two taxa i.e Pontoscolex sp.and Amynthas sp and in the front yards were four taxa i.e. Pontoscolex sp Amynthas sp., Pheretima sp. and Perionyx sp). The relative density of earthworms in tomato farming were Pontoscolex sp (66, 49%) and Amynthas sp (33.51%) and front yards were Pontoscolex sp (68, 10%), Amynthas sp (29.31%), Pheretima sp (1, 72%) and Perionyx sp (0.86%). The relative density of earthworms in tomato farming was lower than front yards caused by residue of mancozeb (0.035 mg/kg) and propineb (0,014 mg/kg) and the litter factor. Tomato farming have smaller litter than front yard that reduced the density of earthworm. Keywords: earthworm, relative density, pesticide, tomatoes, North Sulawesi
Keanekaragaman Jenis Mangrove di Pantai Kapeta dan Pantai Tanaki, Kecamatan Siau Barat Selatan, Kabupaten Sitaro - Sulawesi Utara (Mangrove Diversity of Kapeta Beach and Tanaki Beach, South West Siau District, Sitaro Regency - North Sulawesi) Kirauhe, Ivandri Viktor; Siahaan, Ratna; Pelealu, Johanis Julian
JURNAL BIOS LOGOS Vol 6, No 1 (2016): JURNAL BIOSLOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.6.1.2016.16256

Abstract

Abstrak             Penelitian tentang keanekaragaman mangrove berdasarkan fungsi dan manfaat mangrove di Pulau Siau telah dilakukan untuk menganalisis keanekaragaman jenis vegetasi mangrove di Pantai Kapeta dan Pantai Tanaki, Kecamatan Siau Barat Selatan, Kabupaten Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara. Metode garis berpetak berselang digunakan untuk memperoleh kekayaan dan kelimpahan jenis vegetasi. Garis transek diletakkan secara vertikal dari laut ke daratan sebanyak 3 jalur di tiap stasiun dengan jarak antar jalur sekitar 300 m. Data dianalisis secara deskriptif. Indeks keanekaragaman jenis diketahui berdasarkan Indeks Shannon - Wienner (H’). Pantai Kapeta dan Tanaki memiliki kekayaan jenis mangrove sebanyak 10 jenis dari 9 suku dan kelimpahan jenis sebesar 657 individu. Jenis mangrove yang ditemukan di Kecamatan Siau Barat Selatan yaitu Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba, Rhizophora apiculata, Nypa fruticans, Croton oblongus, Ficus,  Heritiera littoralis, Intsia bijuga, Ixora talaudensis dan Terminalia catappa. Keanekaragaman jenis mangrove di wilayah penelitian Kecamatan Siau Barat Selatan tergolong rendah dengan indeks H’ sebesar 0,775 yang lebih rendah dari 1. Keanekaragaman mangrove di Pantai Kapeta dan Tanaki juga rendah dengan indeks berturut-turut yaitu 0,654 dan 0,880.Kata Kunci: keanekaragaman mangrove, Pantai Kapeta, Pantai Tanaki, Pulau Siau. Abstract The study on the diversity of mangrove on Siau Island based on the its functions and benefits was conducted to analyze the diversity of mangrove vegetation in Kapeta and Tanaki Beach, District of South West Siau, Sitaro Regency, North Sulawesi. The quadrate line transect method was used to obtain data of species richness and abundance. Three line transects were installed vertically from sea margin to land at each station.  Line spaces were 300 m. Data were analyzed descriptively. Biodiversity index of mangrove was based on  Shannon - Wienner index (H ').  Kapeta Beach and Tanaki Beach had species richness and abundance respectively i.e. 10 species of 9 familes and 657 individu. The mangrove  found in South West Siau District i.e. Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba, Rhizophora apiculata, Nypa fruticans, Croton oblongus, Ficus, Heritiera littoralis, Intsia bijuga, Ixora talaudensis and Terminalia catappa. Mangrove diversity in the study area was low (H ' index = 0.775). The diversity of mangrove in Kapeta Beach and Tanaki Beach were also low, i.e.  0.654 and 0.880 respectively.Keywords: mangrove diversity, Kapeta Beach, Tanaki Beach, Siau Island.
Struktur Makroalga Pada Ekosistem Lamun Di Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara (Structure of Macroalgae in Seagrass Ecosystems at South Tabukan District, Sangihe Islands Regency, North Sulawesi) Mertosono, Irawaty; Siahaan, Ratna; Maabuat, Pience
JURNAL BIOS LOGOS Vol 9, No 1 (2019): JURNAL BIOSLOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.9.1.2019.24374

Abstract

Struktur Makroalga Pada Ekosistem Lamun Di Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara(Structure of Macroalgae in Seagrass Ecosystems at South TabukanDistrict, Sangihe Islands Regency, North Sulawesi) Irawaty A. Mertosono1), Ratna Siahaan1*) Pience V. Maabuat1)1)Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sam Ratulangi, Manado 95115*Email korespondensi:ratnasiahaan@unsrat.ac.id Diterima  15 Februari 2019, diterima untuk dipublikasi 28 Februari  2019 Abstrak Makroalga laut merupakan tumbuhan laut yang tidak memiliki akar, batang, maupun daun sejati. Kegiatan manusia berupa pemanfaatan makroalga, konversi lahan, dan transportasi laut dapat menjadi penyebab penurunan biodiversitas makroalga. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis struktur dan distribusi makroalga pada ekosistem lamun di Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Lokasi penelitian di tiga stasiun penelitian yaitu Pantai Karurung - Desa Salurang, Pantai Palareng - Desa Palareng dan Pantai Galoghong – Desa Batuwingkung. Penelitian dilakukan pada November-Desember 2018 dengan pengambilan sampel menggunakan metode garis transek (line transect) dengan teknik pencuplikan kuadrat. Makroalga yang ditemukan sebanyak 36 spesies yang terdiri atas 25 spesies Divisi Chlorophyta, sembilan (9) spesies Divisi Rhodophyta dan dua (2) spesies Divisi Phaeophyta. Makroalga Bornetella nitida memiliki Indeks Nilai Penting 39, 24% mendominasi di lokasi penelitian. Keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) spesies makroalga di Stasiun I (H’:3,02) tergolong tinggi sedangkan pada Stasiun II (H’:2,86)  dan Stasiun III (H’:2,63) tergolong sedang. Secara keseluruhan, keanekaragaman spesies makroalga di Kecamatan Tabukan Selatang tergolong tinggi (H’:3,00). Kata kunci:   struktur makroalga, Pantai Karurung, Pantai Palareng, Pantai Galoghong,Tabukan Selatan Abstract Marine macroalgae are marine plant-like organisms that has no true roots, stems, or leaves. The human ativities of macroalgae utilization, land conversion, and sea transportation can cause of macroalgae biodiversity decline. The purpose of this study was to analyze the structure and distribution of macroalgae in seagrass ecosystems at South Tabukan District, Sangihe Islands Regency, North Sulawesi. The research locations were at three research stations, i.e. Karurung Beach - Salurang Village, Palareng Beach - Palareng Village and Galoghong Beach - Batuwingkung Village. The study was conducted in November-December 2018 with line transect method sampling and quadrate sampling technique. Macroalgae were 36 species consists of 25 species of Chlorophyta Division, nine (9) species of Rhodophyta Division and two (2) species of Phaeophyta Division. Macroalga Bornetella nitida had Importance Value Index 39.24% that dominated research locations. The Shannon-Wiener biodiversity Index (H’) of macroalgae species at Station I (H': 3.02) was classified as high while Station II (H': 2.86) and Station III (H ': 2.63) were moderate. Overall, macroalgae species diversity at Tabukan Selatang District was high (H’: 3.00). Keywords: Macroalgae structure, Macroalgae distribution, Karurung Beach, Palareng Beach, Galoghong Beach, South Tabukan
Keanekaragaman Makrozoobentos sebagai Indikator Kualitas Air Sungai Cisadane, Jawa Barat – Banten (Macrozoobenthos diversity as indicator of water quality of Cisadane River) Siahaan, Ratna
JURNAL BIOS LOGOS Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Bioslogos
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.2.1.2012.374

Abstract

AbstrakSungai Cisadane memiliki multifungsi untuk kebutuhan pertanian, rumah tangga dan industri. Namun, kegiatan manusia di Daerah Aliran Sungai/DAS Cisadane dan di Sungai Cisadane dapat mengancam fungsi dan nilai ekosistem S.Cisadane. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanakeragaman makrozoobentos sebagai indikator kualitas air S.Cisadane. Penelitian dilakukan di sembilan (9) titik di sepanjang Sungai Cisadane dari hulu hingga hilir. Sampel makrozoobentos dikoleksi dengan jala surber dan Eckman Grabb. Pada musim kemarau, kekayaan taksa makrozoobentos terendah di bagian tengah dan hilir hilir (8 taksa) dan tertinggi di hulu (20 taksa). Kualitas air sungai ditentukan berdasarkan Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’). Kualitas air S.Cisadane yaitu baik/tercemar sangat ringan di hulu (Stasiun 1), cukup baik/tercemar ringan di hulu - tengah (Stasiun 2-5), sedang/tercemar sedang tengah mendekati hilir (Stasiun 6), dan buruk/tercemar berat di hilir (Stasiun 7-9).Kata kunci: kualitas air, makrozoobentos, Sungai CisadaneAbstractCisadane River has multifunction i.e. agriculture, domestic and industry. All human activities in Cisadane Watershed and in Cisadane River could threat function and value of Cisadane River. The aim of this research was to analysis macrozoobenthos diversity as bioindicator of Cisadane River. Nine (9) stations were designed along Cisadane River from up to downstream. Samples were collected with Surber net and Eckman Grabb. The taxa richness decreased from upstream (20 taxa) to downstream (8 taxa).Based on Shannon-Wiener (H’), the water quality of Cisadane River were classified i.e. good (Station 1), quite good/slightly polluted (Station 2-5), moderate/moderately polluted (Station 6), and not good/ heavily polluted (Station 7-9).Keywords: Cisadane River, water quality, macrozoobenthos
Species Diversity of Understory Vegetation of Riparian Zone of Upper Ranoyapo River, South Minahasa, North Sulawesi Wanindi, Agustina; Siahaan, Ratna; Nio, Song Ai
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 15 No. 3 (2025): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v15i3.62564

Abstract

Riparian is a transitional ecosystem that occupies the area between land and river water bodies. The study aimed to analyze the diversity of understory vegetation of riparian zone of the Ranoyapo River upstream at Kinamang Village and Kinamang Satu Village, South Minahasa Regency. Vegetation samples were taken at two stations, namely Station I at Kinamang Village before the Ranoyapo dam and Station II in Kinamang Satu Village after dam. The purposive sampling method was used with quadrat plot vegetation analysis. Data analysis was carried out descriptively. Understory vegetation found in the riparian zone of the Ranoyapo River upstream amounted to 16 species, namely Acmella paniculata, Arenga pinata, Aglaonema simplex, Colocasia esculenta var. esculenta, Diospyros abyssinica, Diplazium esculentum, Diplazium sp., Elatostema stewardii, Ficus septica, Homalomena sp., Hellenia speciosa, Musa paradisiaca, Pandanus amaryllifolius, Phrynium pubinerve, Piper sp., and Selaginella obtusa. The diversity index of riparian vegetation understory vegetation at Station I and Station II were 1.76 and 1.95, respectively were classified as moderate diversity. This indicated that there was ecological pressure on the riparian understory vegetation of the upstream Ranoyapo River.