Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

IMPLEMENTASI PENYUSUNAN ROLE COMPETENCY PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR ALAT BERAT Tansri Adzlan Syah; Sovi Septania
Psyche: Jurnal Psikologi Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36269/psyche.v2i2.239

Abstract

Proses penyesuaian terhadap perubahan ekonomi global menimbulkan berbagai gejala permaslahan pada PT. XYZ, diantaranya tidak puasnya konsumen terhadap kualitas unit yang dihasilkan, munculnya keluhan karyawan terkait dengan pekerjaan tambahan yang tanggung jawab jabatannya, hal ini menyebabkan karyawan terbebani dan muncul tidak puasan dari karyawan. Permasalahan yang terjadi pada akhirnya berdampak pada tidak tercapainya tujuan perusahaan seperti pemenuhan kepuasan pelanggan dan penurunan profit perusahaan. Tujuan penelitian untuk mendeteksi dan mengidentifikasi permasalahan yang terjadi pada PT. XYZ serta mengimplementasikan solusi. Metode penelitian melalui teknik open system dengan menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya kamus kompetensi pada PT. XYZ mengakibatkan pengaruh signifikan terhadap belum optimalnya pengelolaan sumber daya manusia. PT. XYZ ini belum memiliki kamus kompetensi yang dapat digunakan sebagai acuan untuk menggerakan setiap tugas dan tanggung jawab yang ada di perusahaan. Hasil Evaluasi implementasi penyusunan role competency yang dilakukan evaluator PT.XYZ menilai bahwa panduan, hasil role competency dan alat ukur kompetensi telah sesuai dengan kebutuhan organisasi PT. XYZ
SOSIALISASI KOPERASI PADA IBU IBU PKK PEKON GUNUNG SARI KECAMATAN ULUBELU KABUPATEN TANGGAMUS Shalahudin Habibullah; Indri Puspitasari; Medi Yansyah; Tansri Adzlan Syah
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2023): Volume 4 Nomor 4 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i4.19100

Abstract

Koperasi melandaskan kegiatan berdasarkan prinsip Gerakan ekonomi rakyat yang berdasrkan asas kekeluargaan keberadaan di wilayah pepekonan diharapkan mampu mensejahterahkan kelompok masyarakat yang jauh dari perkotaan. Namun keberadaan koperasi hingga saat ini belum memiliki daya tarik bagi sebagian besar masyarakat terutama ibu ibu anggota PKK. Faktor penyebab tidak adanya kesadaran dari masyarakat, terkhusus ibu ibu PKK untuk membentuk koperasi di pekon ini, sebelum kegitan sosialisasi ini di lakukan adalah :1) pekon ini belum pernah mendapat sosialisasi koprasi 2) persepsi negatif sebagian masyarakat terhadap kelembagaan koprasi, 3) tidak adanya kelompok mayarakat yang peduli akan koperasi pekon, 4) kurangnya pemahaman konsep manfaat dan nilai nilai koperasi. Bentuk pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat dan ibu ibu anggota PKK tentang peran penting koperasi serta memberikan dorongan pada masyarakat untuk membangun koperasi di pekon terkhusus pekon Gunung Sari. Hasil dari kegiatan sosiallisasi yang telah dilakukan di Pekon Gunung Sari Kabupaten Tanggamus ini menunjukkan bahwa masyarakat khususnya ibu-ibu anggota PKK menjadi lebih sadar tentang keberadaan koperasi, tujuan dan mafaatnya. Mereka dapat memahami bagaimana koperasi dapat membantu mereka secara ekonomi.
Analysis Of The Influence Of Organizational Climate On Productivity Of Sharia Private Banking Employees In Indonesia Fauzie Senoaji; Akbar; Sudianto; Andi Amang; Tansri Adzlan Syah
JEMSI (Jurnal Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi) Vol. 9 No. 6 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekretariat Pusat Lembaga Komunitas Informasi Teknologi Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35870/jemsi.v9i6.1633

Abstract

Islamic finance has experienced one of the greatest growth rates in the previous ten years, even outpacing traditional financial markets. The momentum created by the pandemic's end can be exploited to promote the strongest possible economic expansion. Even so, the absence of a supportive organizational climate is still felt, which naturally disturbs the climate that has already been established. Every head office employee can have opportunity to act well, perform well, and, of course, be more productive at work with a positive corporate climate. The purpose of this study is to ascertain how workplace culture affects workers' productivity. This study employs quantitative methods along with descriptive ones. A sample of 30 employees was used in this investigation. A questionnaire with four alternative answers and a Likert scale score selection form was issued to all employees as the primary method of data gathering. In the meanwhile, document analyses and interviews are merely supplementary methods of data collection. Validity and reliability tests are used to assess the instruments employed, and then overall valid and reliable data is created. Data processing procedures are used to test the data's overall quality. The correlation between organizational climate and productivity was found to be 36%, and this finding indicates that organizational climate influences 36% of productivity, with the other 36% influenced by factors not included in this study.
Membangun Generasi yang Jujur dan Berintegritas Melalui Sosialisasi Anti Korupsi Oktavia Eka Rahayu; Regita Cahya Kuswara; Anisa Aulia Fitri; Tansri Adzlan Syah
Jurnal Cakrawala Akademika Vol. 1 No. 3 (2024): Edisi September-Oktober
Publisher : PT. Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70182/JCA.v1i3.31

Abstract

Pendidikan Anti Korupsi merupakan strategi penting dalam pembentukan karakter anak yang berintegritas dan tidak terlibat dalam perbuatan korupsi. Kejujuran adalah salah satu nilai anti korupsi yang sangat penting. Anak yang memiliki karakter jujur lebih cenderung untuk selalu berbuat baik dan tidak melakukan kecurangan dalam hal apapun.  Maka dari itu perlu ditanamkan pendidikan anti korupsi sejak jenjang dasar. Pendidikan Anti Korupsi berfungsi untuk meningkatkan kepedulian masyarakat untuk membangun pemahaman tentang bahayanya dan akibat yang akan diterima ketika melakukan korupsi. Strategi Pendidikan anti korupsi pada siswa sekolah dasar (SD) dapat dilakukan dengan cara menanamkan sikap jujur, adil, berani dan disiplin pada peserta didik yang diimplementasikan dalam setiap pembelajaran bagi peserta didik. Metode pendidikan anti korupsi yang efektif melibatkan kegiatan sosialisasi langsung di kelas. Sosialisasi ini dapat dilakukan melalui ceramah,tanya jawab,dan kegiatan ekstrakulikuler yang mempromosikan nilai-nilai anti korupsi. Mengaplikasikan Pendidikan anti korupsi di sekolah dasar dapat dilakukan melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, terdapat nilai-nilai anti korupsi yang diajarkan seperti nilai kejujuran dan kesederhanaan. Selain mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan juga bisa menjadi media dalam mengaplikasikan Pendidikan anti korupsi. Melalui mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, ditanamkan nilai-nilai tanggung- jawab, cinta tanah air dan bela negara.
Efektivitas Pelatihan Efikasi Diri (Self Efficacy) Untuk Menurunkan Kejenuhan Kerja Pada Guru SLB YSCL Bandar Lampung Ngatemi; Tansri Adzlan Syah; Khairani
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/z2r8qj23

Abstract

Teachers in Special Education Schools (SLB), such as YSCL Bandar Lampung, face significant challenges in educating students with special needs. High workloads, performance demands, and limited support often lead to increased levels of job burnout. This study aims to examine the effectiveness of self-efficacy training in reducing job burnout and enhancing educational quality in the special education context. A quasi-experimental design with a one-group pretest-posttest approach was used. Participants were selected using the saturated sampling technique. Data was collected using the Maslach Burnout Inventory (MBI) and the Teachers’ Sense of Efficacy Scale (TSES). Data analysis was performed using paired t-tests, ANOVA, and regression to assess the impact of the training on teacher self-efficacy and burnout. Pretest results showed that 70% of teachers experienced moderate burnout, 20% mild burnout, and 10% severe. After the intervention, the rate of mild burnout increased to 35%, moderate burnout was 65%, and there were no longer any teachers experiencing severe burnout. Following the intervention, the proportion of teachers reporting mild burnout. increased to 35%, while no teachers remained in the severe category. The burnout score also showed a significant reduction from 60.65 to 53.20 (t = 3.308; p = 0.004), indicating the effectiveness of the self-efficacy training program. These results support the integration of self-efficacy training into professional development programs for special education teachers. Schools and education authorities are encouraged to adopt similar interventions to improve teacher well-being and resilience, particularly in inclusive and high-demand educational environments.
STUDENTS SELF-PRESENTATION STRATEGIES ON INSTAGRAM Imam Handoyo; Tansri Adzlan Syah; Setriani Setriani
Psyche: Jurnal Psikologi Vol 8, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36269/psyche.v8i1.4104

Abstract

This study explores online self-presentation strategies among Indonesian university students who actively use Instagram. Employing a descriptive qualitative design, two participants (SR and MT) were selected based on their high level of engagement on the platform and their willingness to provide access to both primary and secondary Instagram accounts. Data were collected through in-depth interviews, observational analysis of Instagram activities, and content documentation. The data were analyzed using Miles and Hubermans interactive model to identify key patterns of digital self-presentation. The findings reveal five core self-presentation strategies aligned with Hogans (2010) digital dramaturgy framework: performance, exhibition, curation, audience selection, and archive control. SR demonstrated a spontaneous and reflective self-presentation style grounded in authenticity, whereas MT employed deliberate curation to construct a professional and aesthetically refined digital identity. These findings indicate that Instagram functions as a dynamic digital stage in which students strategically manage impressions in accordance with social contexts and identity goals. This study contributes to the growing discourse on digital culture by illustrating how Indonesian university students negotiate authenticity and professionalism in their online self-presentation practices.
"PLAYING WITH THE MASK": STUDI PHOTOVOICE ONLINE PERSONA GENERASI Z Tansri Adzlan Syah; Sovi Septania
Psyche: Jurnal Psikologi Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36269/psyche.v6i2.2502

Abstract

ABSTRAKGenerasi Z sebagai generasi digital menjadikan media sosial sebagai ruang untuk terus mendapatkan pengakuan, melalui jumlah followers, like, share dan comment. Apa yang ditampilkan melalui media sosial menjadi sangat penting bagi mereka. Hal ini disebabkan karena generasi Z tidak memiliki pengalaman persimpangan antara dunia analog dan digital (Podara et al., 2021). Menciptakan online persona yang mengagumkan di media sosial adalah sesuatu yang wajar karena karakter mereka sebagai generasi figital menjadikan ruang maya menjadi suatu realitas (Stillman & Stillman, 2019). Online persona dibentuk tanpa menghadirkan impresi yang secara nyata kita miliki, seperti senyuman asli, bahasa tubuh hingga petunjuk non-verbal lain yang menyebabkan identitas diri yang tidak otentik bahkan manipulatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana pengalaman pembentukan online persona pada generasi Z dengan menggunakan pendekatan photovoice. Partisipan penelitian adalah generasi Z yang memiliki rentang usia 18-27 tahun, memiliki jumlah pengikut media sosial diatas 1.000 orang serta aktif menampilkan diri di media sosial. Partisipan mengikuti pelatihan smart photography kemudian secara mandiri mengambil foto selama 7 hari dengan smartphone lalu di unggah di media sosial masing-masing. Penggalian pengalaman dan permaknaan foto oleh partisipan menggunakan wawancara mendalam yang kemudian dianalisis secara tematik. Hasil analisis tematik dengan menggunakan program Nvivo 12 menunjukan pengalaman pembentukan online persona sebagai strategi presentasi diri yang melibatkan pemilihan foto sebagai cues (isyarat/sinyal), kekuatan captions (keterangan gambar), keterampilan sunting foto dan ketepatan pemilihan waktu unggah di media sosial. Selain itu, pembentukan online persona terkait dengan tiga tujuan yaitu untuk disukai (ingratiation), promosi diri (self-promotion) dan agar menjadi inspirasi/contoh (exemplification). ABSTRACTGeneration Z, being a digital cohort, utilizes social media platforms as a way to consistently acquire acknowledgment by increasing the quantity of followers, likes, shares, and comments. The content exhibited on social media platforms assumes significant importance for individuals. This is due to the fact that Generation Z lacks exposure to the convergence of the physical and digital realms [1]. Developing exceptional online personas on social media is an inherent phenomenon, since their persona as a fictional generation materializes in the virtual realm. The formation of an online persona occurs without the deliberate presentation of true impressions, such as a genuine smile, body language, and other non-verbal clues. This process results in the creation of an authentic self-identity that is free from manipulation. The objective of this study is to investigate the process of online persona construction among individuals belonging to Generation Z through the utilization of photovoice methodologies. The research participants consisted of individuals from generation Z, specifically between the ages of 18 and 27, possessed a social media followed by over 1,000 followers and actively engaged in self-presentation on social media platforms. Participants engage in a comprehensive training program on smart photography techniques. Subsequently, they are required to capture photographs using a smartphone camera for a duration of 7 days and subsequently share them on their own social media platforms. The process of data extraction will involve conducting in-depth interviews to gather a comprehensive understanding of their online persona’s building experience. This information will then be examined thematically, taking into account the participants' descriptions of the images they captured. The results of the thematic analysis conducted using the Nvivo 12 software revealed that the online persona is associated with a self-presentation strategy that encompasses the deliberate selection of photo displays as cues, the effectiveness of captions, proficiency in capturing displays (photos or videos), and the precision in choosing upload times. The self-presentation strategy is implemented with three primary goals: to cultivate favor and approval (ingratiation), to promote oneself, and to serve as a source of inspiration or example (exemplification).
Pengaruh Beban Kerja terhadap Subjective Well Being Ustadz dan Ustadzah Muda Yuva Monica Sari; Any Nurhayaty; Tansri Adzlan Syah
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol. 15 No. 4 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v15i4.14458

Abstract

This study examines the influence of workload on subjective well-being among young ustadz and ustadzah working in Islamic boarding schools (pesantren). Using a quantitative approach with simple linear regression analysis, this research involved 276 respondents aged 18–29 years who were actively teaching in various pesantren across Indonesia. Data were collected using validated measurement instruments, including the Satisfaction With Life Scale (SWLS), the Positive and Negative Affect Schedule (PANAS) based on Diener’s theory (2018), and a workload scale developed based on Gawron’s theory (2018). Data analysis was conducted using SPSS version 27, encompassing validity testing, reliability testing, normality testing, and Pearson product–moment correlation analysis. The results indicated that workload had a positive and significant relationship with subjective well-being (r = 0.520, p < 0.001). This finding suggests that higher workload is associated with higher levels of subjective well-being when work is perceived as meaningful and interpreted as a form of devotion. Within the pesantren context, spiritual meaning and religious values play a crucial role in transforming work pressure into a source of psychological satisfaction and happiness. These results highlight the importance of value-based work environments in shaping positive psychological outcomes. This study contributes to the development of positive psychology, particularly in enhancing the understanding of well-being within religious-based work settings.