Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Menafsir Ulang Konsep Hifz ad-Dîn dalam Konteks Indonesia Supardi; Rokhim, Abdur
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr
Publisher : Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Mahasiswa UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.418 KB) | DOI: 10.24090/jimrf.v10i1.4922

Abstract

Konsep paling penting dalam struktur maqashid syari’ah klasik dan masih bertahan hingga kini adalah hifz ad-din. Yang mencakup dua dimensi: min janib al-wujud dan min janib al-‘adam. Keduanya, dengan sengaja, penulis jadikan kerangka berpikir dalam rangka melakukan reinterpretasi terhadap konsep pelestarian agama. Penelitian yang dilakukan penulis adalah penelitian hukum Islam normatif, yang memiliki tujuan untuk menyelidiki norma-norma hukum Islam untuk memperoleh kaidah tingkah laku yang dipandang terbaik. Menurut Bambang Sunggono, penelitian hukum normatif mencakup ilmu kaidah dan ilmu pengertian (yang biasa disebut dengan dogmatik hukum). Jika melihat pada permasalahan yang dikaji dan diteliti penulis, maka penelitian ini termasuk jenis penelitian normatif. Yang dimaksud penelitian hukum normatif atau penelitian literer (library research) adalah metode atau cara yang diaplikasikan dalam penelitian hukum yang ditempuh dengan cara mengkaji dan meneliti bahan-bahan pustaka yang sudah tersedia. Pada penelitian ini, penulis memanfaatkan pendekatan maqashid syariah. Dari kajian yang dilakukan dapat diketahui bahwa melestarikan agama min janib al-wujud sejalan dengan hukum positif sebagaimana tercantum dalam Pasal 28E ayat 1 dan 2, 28I ayat 1, dan Pasal 29 ayat 2. Sedangkan, min janib al-‘adam terdapat dalam UU No. 1 Tahun 1965 berikut sanksi hukum dalam Pasal 156a KUHP. Sehingga, beberapa kebijakan hukum yang terdapat dalam kerangka hifz ad-din klasik seperti jihad dan hukuman bagi murtad, perlu dipertimbangkan kembali.
Crafting Interfaith Harmony through Ritual and Identity Integration: A Localised Muslim-Hindu Model from Saren, Bali, Indonesia Supardi; Jauharudin
Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : the Faculty of Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jw.v10i1.44464

Abstract

Indonesia's complex religious landscape presents potential and persistent challenges in cultivating interfaith harmony, particularly in local contexts where theological divergence and structural segregation exacerbate communal divisions. This study examines the intentional construction of interreligious harmony in Saren Village, Bali, by analysing culturally embedded strategies employed by Muslim and Hindu communities. The research adopts a phenomenological approach, incorporating in-depth interviews, participant observation, and document analysis. It is theoretically grounded in Émile Durkheim's (1912) theory of social integration and Diana Eck's (2001) concept of religious pluralism. Durkheim highlights the role of shared rituals in generating collective solidarity and a cohesive moral order. At the same time, Eck emphasises active and equal participation across religious traditions as essential for a pluralist society. The findings demonstrate that traditional practices—such as Subak (a cooperative irrigation system), Bale Banjar (a local consensus forum), and Burdah (a Muslim devotional performance incorporated into Hindu ceremonial life)—serve as functional mechanisms for fostering interreligious cooperation, ritual synergy, and hybrid identity formation. Despite enduring challenges such as spatial segregation, cultural dominance, and digital polarisation, the Saren community sustains interfaith harmony through youth engagement, inclusive ritual adaptations, and grassroots digital literacy initiatives. Unlike many Balinese localities that reinforce Hindu cultural hegemony, Saren exemplifies a reciprocal model in which Muslim contributions, particularly the Burdah, are ritually embedded within dominant Hindu frameworks. This two-way assimilation of ritual practice marks a notable departure from conventional patterns of religious accommodation. Beyond applying Durkheim and Eck, this study contributes a contextual model of interfaith harmony grounded in reciprocal ritual integration. It underscores the value of local religious practices as generative sources for interreligious coexistence in plural societies.
Tafsir Kenabian Mirza Ghulam Ahmad Supardi, Supardi
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 13 No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v13i1.3900

Abstract

ABSTRAK Artikel ini fokus pada kajian penafsiran tentang kenabian pendiri Ahmadiyah  yaitu  Mirza  Ghulam  Ahmad  Tujuan dari studi ini adalah untuk menganalisa proses penafsiran yang dilakukan oleh Mirza Ghulam Ahmad berikut pokok-pokok pemikirannya  yang dianggap keluar dari Islam mainstream. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif agar dapat menyajikan data secara lebih  detail  dan  mendalam.  Dari  studi  ini,  diperoleh  hasil  bahwa proses penafsiran Mirza Ghulam Ahmad dipengaruhi oleh faktor sosial-politik yang berkembang di masanya. Penafsirannya tentang konsep kenabian sangat berseberangan secara diametral terhadap teologi ortodok Keywords: Proses, Penafsiran, Konflik Sosial
Analisis Tari Rudat Dalam Pelebon Puri Agung Karangasem Perspektif Fikih Dan Uṣūl al-Fiqh: Tari Rudat dalam Pelebon Puri Agung Karangasem Perspektif Fiqh dan Usul al-Fiqh Supardi; Mustafid Amna
Wasathiyyah Vol 6 No 2 (2024): Wasathiyyah: Jurnal Pemikiran Fikih dan Ushul Fikih
Publisher : Wasathiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58470/wasathiyyah.v6i2.92

Abstract

Penelitian ini membahas Tari Rudat Kecicang Islam sebagai warisan budaya khususnya terkait partisipasinya dalam upacara pelebon Puri Agung Karangasem. Tari Rudat yang berkembang sejak 1950-an menggabungkan unsur pencak silat, musik hadrah, dan lantunan shalawat, dan biasanya ditampilkan dalam acara keagamaan Islam. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hukum partisipasi Tari Rudat dalam upacara adat Hindu melalui perspektif fikih dan ushul fikih, dengan menitikberatkan pada teori ‘urf  dan Iqra>r al-Nabi>. Penelitian menggunakan metode kualitatif lapangan, data diperoleh melalui wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa Tari Rudat dapat dikategorikan sebagai ‘urf s}ah}i>h} yang tidak bertentangan dengan nash syariat, sehingga hukumnya mubah. Pendekatan tasamuh memperkuat pandangan bahwa keterlibatan Tari Rudat dalam pelebon berkontribusi pada penguatan toleransi, harmoni sosial, dan hubungan lintas agama di Karangasem. Temuan ini menegaskan pentingnya konteks budaya lokal dalam penerapan hukum Islam, serta menggarisbawahi potensi seni sebagai medium toleransi antarumat beragama.