Abdul Karim
Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PEMBINAAN KEAGAMAAN PADA NARAPIDANA LEMBAGA PEMASYARAKATAN PEREMPUAN KELAS II A KOTA PALEMBANG Yuvita Sari; Abdul Karim; Zaki Faddad Syarif Zain
Jurnal Studi Agama Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v5i1.8948

Abstract

This research aims to determine the process and implementation of religious guidance on women inmates in the Women's Correctional Institution class II A Palembang City. This study uses qualitative descriptive methods. This study uses several methods in the data collection: observation, interview, and documentation methods. Data analysis techniques used are data reduction, data presentation, and conclusion. The research results showed that religious guidance on female inmates in Palembang city correctional institution is carried out intensively every day and continuously, such as prayer dhuhr congregation. The methods used are situation-based coaching methods, individual treatment methods, classical treatment methods, learning and experience methods (experimental learning), and autosuggestion. Supporting factors in spiritual development are a) LPP Palembang in collaboration with institutions related to spiritual development, b) musholla facilities in blocks, c) providing prayer equipment, and d) providing learning and teaching equipment. As for the factors that hinder religious coaching: a) the background of female inmates are not the same, b) differences in sentencing period and un concurrent entry, c) the interest of female inmates following religious coaching is lacking, d) the ability of inmates in digesting materials delivered is not the same, and e) the absence of a particular curriculum.
PERGESERAN TAPAK LAPAN PADA MASYARAKAT MELAYU PALEMBANG ZURIYAT KAPITAN BELA MINAL MUSLIMIN Duski Ibrahim; Maya Panorama; Nur Fitriyana; Abdul Karim Nasution; Raden Muhammad Fauwaz Diradja
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol. 11 No. 2 (2021): Juli - Desember
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/khazanah.v11i2.657

Abstract

The study of the Tread Lapan shift in the Malay community of Palembang zuriyat of the ninth Kapitan Bela minal Muslimim has never been studied. In the history of the global economic development of the Malay community, it is known that this community has played an important role in the economic field. They have succeeded in processing natural resources so that they become superior products needed by local and foreign traders. The community's global economy is supported by eight traditional livelihoods known as tapak lapan. The focus of this research is the shift in the Tapak Lapan of the Malay community to the ninth zuriyat of Kapitan Bela which seems to be the zuriyat of the Ming Dynasty. This type of research is field research with a qualitative descriptive approach. Primary data source for the ninth zuriyat of Kapitan Bela in Palembang. Secondary data is sourced from relevant articles, journals, and books. Data collection techniques through observation, interviews, and documentation. Data analysis techniques are data reduction, data presentation and conclusions. This study resulted in the following findings: (1) Referring to the genealogy and ecofac evidence of the village of Saudagar Koching 3 Ulu Palembang, the Malay community of the ninth zuriyat of Kapitan Bela seems to have come from the Ming Dynasty. (2) Although there are still zuriyat who are engaged in trading, there has been a shift in the eight sites, such as some who work as teachers, lecturers, health workers and work in companies. This shift is due to the desire to live, the desire to get a job and the desire to gain social status. This desire is supported by internal and external factors. Internal factors come from religious teachings and Malay philosophy. External factors are the development of science and technology, education and other family success motivations.
Fungsi Laten Penziarahan Makam Keramat (Analisis Sosio-Religius Terhadap Makam Ki Marogan Palembang) Abdul Karim
Jurnal Studi Agama Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v7i1.17947

Abstract

Penelitian ini secara khusus mengkaji tentang penziarahan makam Ki Marogan dengan menggunakan pendekatan sosio-religius yang berusaha mengungkap tentang fungsi laten dari penziarah makam Ki Marogan. Penelitian ini dilakukan di Jl. Ki Marogan Kelurahan Kertapati Kecamatan Kertapati kota Palembang. Data primer dalam penelitian ini bersumber dari hasil observasi langsung dan wawancara mendalam. Setelah memperoleh data kemudian dianalisis menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini menemukan dua fungsi laten dari fenomena penziarahan makam keramat Ki Marogan; sebagai pengembangan tradisi ke-NU-an di kota Palembang dan sebagai bentuk pelestarian nilai-nilai sufistik dalam umat beragama. Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa fenomena ziarah harus dijaga dan dilestarikan oleh umat Muslim itu sendiri, karena dengan berziarah umat Muslim dapat mengintegrasikan aspek hukum atau fikih, spiritual dan kultural dalam ajaran Islam, sehingga dengan terpenuhinya ketiga aspek tersebut dapat melahirkan sikap moderat dalam diri seseorang
Murur Sebagai Wujud Moderasi Dalam Pelaksanaan Ibadah Haji Abdul Karim; Maulani Maulani; Qoim Nurani; Muhammad Alfath Qaaf
Khazanah Multidisiplin Vol. 5 No. 1 (2024): Khazanah Multidisiplin
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/kl.v5i2.36902

Abstract

Penelitian ini membahas tentang skema murur di Muzdalifah yang diterapkan pemerintah Indonesia pada pelaksanaan ibadah haji tahun 2024. Secara spesifik penelitian ini menganalisis Keputusan Pengurus Besar Harian Syuriah Tentang Hasil Bahtul Masail Al Diniyyah Al- Waqiiyah dengan menggunakan pendekatan moderasi beragama. Melalui studi literatur dan menerapkan metode analisis deskriptif-analitis, penelitian ini menemukan bahwa murur di Muzdalifah merupakan aktualisasi dari moderasi beragama dalam pelaksanaan ibadah haji. Dari tiga pilar utama moderasi beragama; moderasi pemikiran, moderasi gerakan, dan moderasi perbuatan, murur di Muzdalifah termasuk dalam moderasi pemikiran. Murur di Muzdalifah sebagai bukti fleksibelitas pemahaman agama dalam memadukan konsep haji dengan kondisi jemaah haji tanpa menghilangkan substansi ibadah haji dan nilai-nilai spiritual yang mendasarinya dan dengan lahirnya keputusan Syuriah PBNU tentang murur di Muzdalifah memberi pandangan yang holistik dan inspiratif bagi umat muslim dalam menjalankan praktik ibadah yang lebih ramah dan inklusif di masa depan.
MAKNA SIMBOLIK TRADISI TOLAK BALA SEDEKAH PETANG JUM’AT PADA MASYARAKAT ISLAM DI DESA SUNGAI PINANG KABUPATEN MUSI RAWAS Eriga Sarmalinda; Abdul Karim; Nugroho
Salimiya: Jurnal Studi Ilmu Keagamaan Islam Vol. 6 No. 3 (2025): Salimiya
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58401/salimiya.v6i3.2751

Abstract

Penelitian ini berjudul “Makna Simbolik Tradisi Tolak Bala Sedekah Petang Jum’at pada Masyarakat Islam di Sungai Pinang Kabupaten Musi Rawas.” Fokus penelitian ini adalah menganalisis makna simbolik yang terdapat dalam tradisi sedekah petang Jum’at sebagai bentuk tolak bala di Desa Sungai Pinang. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan tata cara pelaksanaan tradisi tersebut serta mengungkap makna simbolik yang dipercaya masyarakat setempat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan kepala desa, tokoh agama, dan masyarakat berjumlah 20 orang, observasi terhadap proses pelaksanaan sedekah petang Jum’at, serta dokumentasi kegiatan terkait. Analisis data dilakukan melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diperkuat dengan triangulasi waktu, sumber, dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini dilaksanakan sekitar pukul 14.30 WIB di rumah warga yang menjadi tempat penyelenggaraan. Seluruh masyarakat ikut serta dengan membaca Surah Yasin dan doa bersama. Hidangan seperti nasi tumpeng, wajik ketan, nasi punjung ayam kampung, bobonos, dan makanan lainnya dijadikan simbol sedekah. Masyarakat meyakini tradisi ini membawa keberkahan dan keselamatan bagi keluarga pelaksana serta masyarakat Desa Sungai Pinang secara umum.
KHURUJ FI SABILILLAH: Gerakan Sufisme Jamaah Tabligh di Palembang Perspektif Gerakan Pembaharuan Islam Abdul Karim
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.293

Abstract

This paper aims to find out the practice of khuruj fi sabilillah as a Sufism movement run by Jamaah Tabligh and to know the style of the khuruj fi sabilillah movement from the perspective of the Islamic renewal movement in the city of Palembang. This research is field research with primary data sources from observation, interviews, and documentation. Meanwhile, in data analysis techniques, the authors use the method proposed by Miles and Huberman. This study found that the tablighi congregation presented a new typology in the Islamic renewal movement: moderate radicalism with a Sufistic nuance. This study also found new facts, namely three periods of movement; the introduction period (1965-1985), consolidation period (1985-1992), and expansion period (1992-present). The teachings of Sufism carried out by Jama'ah Tabligh are believing in and realizing the essence of the sentence of thayyibah, khusyu' and khudu' prayers, knowledge, and remembrance, glorifying Muslims, improving intentions, and da'wah ilallah. This research is expected to make an academic contribution to the treasures of Islamic science, especially in the field of Sufism. It is expected to be able to enlighten the public about the Sufism movement or khuruj fi sabilillah, which the Tablighi Jamaat runs. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui praktik khuruj fi sabilillah sebagai gerakan sufisme yang dijalankan oleh Jamaah Tabligh serta mengetahui corak gerakan khuruj fi sabilillah perspektif gerakan pembaharuan Islam di kota Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan sumber data primer yang dihasilkan dari proses observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan dalam teknik analisis data, penulis meggunakan metode yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman. Penelitian ini menemukan bahwa jama’ah tabligh menampilkan tipologi baru dalam gerakan pembaharuan Islam, yaitu radikalisme-moderat yang bernuansa sufistik. Penelitian ini juga menemukan fakta baru, yaitu tiga periodisasi gerakan; periode perkenalan (1965-1985), periode konsolidasi (1985-1992), dan periode ekspansi (1992-sampai sekarang). Adapun ajaran tasawuf yang dijalankan oleh Jama’ah tabligh ialah meyakini dan mewujudkan hakikat kalimat thayyibah, salat khusyu’ dan khudu’, ilmu dan zikir, memuliakan umat muslim, memberbaiki niat, dan dakwah ilallah. Penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi akademis bagi khazanah ilmu keislaman khususnya di bidang ilmu tasawuf serta diharapkan mampu memberi pencerahan kepada masyarakat tentang gerakan sufisme atau khuruj fi sabilillah yang dijalankan oleh Jamaah Tabligh.
Negotiating Faith, Ritual, and Ecology: Islamic–Hindu Acculturation and Interreligious Cohesion in the Petik Laut Ritual of Pengambengan, Bali Abdul Karim; Jumhur Jumhur; Cucu Setiawan; Maulani Maulani; Nidal Rabbani
Journal of Contemporary Rituals and Traditions Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jcrt.2014

Abstract

Purpose: This study examines how Petik Laut, a coastal sea thanksgiving ritual in Pengambengan, Jembrana, Bali, functions as a negotiated arena of Islamic–Hindu acculturation, interreligious cohesion, and coastal environmental ethics. It addresses the need to move beyond viewing coastal rituals merely as cultural heritage, syncretic practice, or one-way Islamization by analyzing how religious boundaries, shared participation, and ecological responsibility are produced within a multi-religious fishing community. Methodology: This study employed a qualitative ethnography of religion. Data were collected during the 2025 Petik Laut ritual cycle through participant observation, semi-structured interviews with 15 key informants, and visual documentation. Informants included religious leaders, civic leaders, committee members, senior fishermen, youth participants, and community members. The data were analyzed using thematic analysis and Geertzian thick description to interpret symbolic transformation, boundary-making, interreligious cooperation, and ecological meaning. Findings: The study reveals three main findings. First, Islamic-Hindu acculturation occurs through symbolic relabeling, Islamic liturgical adaptation, and committee-based theological boundary-making. Ritual elements such as offerings, larung (the ritual release of offerings into the sea), decorated boats, and prayers are not erased but reinterpreted to remain culturally meaningful while reducing theological ambiguity. Second, interreligious cohesion is produced through gotong royong (communal mutual assistance), joint committee work, shared ritual space, differentiated participation, and collective maritime narratives such as the idea that “the sea belongs to everyone.” Third, ecological ethics are embedded through the understanding of the sea as rezeki (divinely granted sustenance or blessing), the use of biodegradable materials, plastic reduction, beach cleaning, youth monitoring, and informal social control. However, the ritual’s sustainability is challenged by declining youth involvement, tourism commodification, and debates over religious orthodoxy. Implications: The findings suggest that sustaining Petik Laut requires community-based ritual governance, stronger youth participation, ethical tourism management, and clearer environmental rules. The ritual should not be treated merely as a cultural festival, but as a local institution linking pluralism, maritime identity, and ecological responsibility. Originality: This study contributes to ritual studies by showing that a coastal ritual can simultaneously function as a mechanism of religious negotiation, an infrastructure of interreligious cohesion, and a medium of religious ecology. It challenges one-way narratives of Islamization by demonstrating that Muslim and Hindu actors jointly negotiate ritual authority, symbolic meaning, and environmental ethics within a shared ritual cycle.