Adnani Budi Utami
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PENGENALAN ANGKA KEPADA ANAK USIA 6 TAHUN DENGAN MEDIA KARTU Geraisa Dayura Chanet; Adnani Budi Utami
PSIKOLOGI KONSELING Vol 12, No 2 (2021): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/konseling.v19i2.30438

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab anak usia 6 tahun sulit mengenal angka-angka dasar dan bagaimana cara mengatasinya. Metode dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan desain kasus tunggal (single case experiement) dengan pemberian intervensi yaitu pengenalan angka dengan media kartu dan pendampingan. Pelaksanaan intervensi dilakukan di rumah subjek selama 1 jam sebanyak 6 kali pertemuan. Hasil yang diperoleh selama 6 kali pertemuan subjek dapat mengenal simbol angka 1-10 namun untuk simbol belasan subjek masih cenderung salah penyebutannya dan subjek mebutuhkan konsentrasi untuk dapat mengingat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah subjek dapat lebih cepat mengenal angka dengan bantuan media dalam kegiatan belajarnya sehingga subjek dapat belajar dengan senang dan tidak merasa kesulitan.
Phubbing di Kalangan Mahasiswa: Peran Kontrol Diri sebagai Faktor Internal Moh Ivan Fadil; Hetti Sari Ramadhani; Adnani Budi Utami
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis study aims to determine the relationship between self-control and phubbing behavior among university students. The issue of phubbing is increasingly prevalent alongside the growing use of smartphones among students, which can disrupt the quality of social interactions. This research employed a quantitative approach with a correlational design. The participants consisted of 265 active students from the Faculty of Psychology at the University of 17 August 1945 Surabaya, selected using purposive sampling. The instruments used were a self-control scale and a phubbing behavior scale. Data were analyzed using the Pearson Product Moment correlation technique. The results showed a significant negative relationship between self-control and phubbing behavior. Individuals with higher levels of self-control tend to exhibit lower tendencies to engage in phubbing. These findings indicate that self-control plays an important role in preventing phubbing behavior and in supporting healthy social interactions among students.Keywords: Self-control, Phubbing, Students, Smartphone.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dengan perilaku phubbing pada mahasiswa. Fenomena phubbing semakin marak seiring dengan meningkatnya penggunaan smartphone di kalangan mahasiswa, yang dapat mengganggu kualitas interaksi sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 265 mahasiswa aktif dari Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kontrol diri dan skala perilaku phubbing. Teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kontrol diri dan perilaku phubbing. Individu dengan tingkat kontrol diri yang lebih tinggi cenderung memiliki kecenderungan phubbing yang lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa kontrol diri memiliki peran penting dalam mencegah perilaku phubbing serta mendukung interaksi sosial yang sehat di kalangan mahasiswa.Kata kunci: Kontrol Diri, Phubbing, Mahasiswa, Smartphone.
Membangun Komitmen Guru: Peran Iklim Organisasi dan Kepuasan Kerja di Lingkungan Sekolah Menengah Berlian Ica Herawati; Adnani Budi Utami; Sayidah Aulia Ul Haque
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Teacher commitment is a critical factor in the success of educational outcomes. However, a significant number of teachers continue to exhibit low levels of commitment, as reflected in limited involvement in student mentoring, inadequate preparation for teaching and learning activities, poor adherence to school regulations, and a tendency to seek alternative employment outside the teaching profession. This lack of commitment is believed to be influenced by various factors, including the organizational climate and job satisfaction. This study aims to investigate the relationship between organizational climate and job satisfaction with teacher commitment. A quantitative correlational approach was employed, using total sampling of 125 high school teachers in Menganti District, Gresik. Data were analyzed using Spearman’s Rho test with the assistance of SPSS 26 for Windows. The findings reveal that both organizational climate and job satisfaction are positively and significantly correlated with teacher commitment. These results highlight the importance of cultivating a supportive organizational climate and enhancing job satisfaction as strategies to reinforce teachers’ commitment to their schools. Keywords: Teacher, Teacher Commitment, Organizational Climate, Job Satisfaction Abstrak Komitmen guru berperan penting dalam keberhasilan pendidikan, namun masih banyak guru yang menunjukkan rendahnya komitmen, seperti minimnya keterlibatan dalam membimbing siswa, kurangnya kesiapan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran, kurangnya kepatuhan terhadap aturan sekolah dan guru yang justru mencari peluang kerja lain di luar profesi guru. Komitmen ini diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya iklim organisasi dan kepuasan kerja. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menguji apakah termuat hubungan antara iklim organisasi dan kepuasan kerja dengan komitmen guru. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan teknik total sampling terhadap 125 guru SMA di Kecamatan Menganti, Gresik. Analisis data dilakukan dengan uji Spearman Rho dengan bantuan SPSS 26 for windows. Hasil menunjukkan bahwa baik iklim organisasi dan kepuasan kerja memiliki hubungan positif dan signifikan dengan komitmen guru. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim kerja yang positif dan meningkatkan kepuasan kerja guna memperkuat komitmen guru terhadap sekolah. Kata kunci: Guru, Komitmen Guru, Iklim Organisasi, Kepuasan Kerja
Dukungan Sosial terhadap Psychological Well-Being Mahasiswa dari Keluarga Bercerai Sri Setyoningsih; Hetti Sari Ramadhani; Adnani Budi Utami
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Students from divorced families are a vulnerable group prone to a decline in psychological well-being due to emotional and social instability within the family. This study aims to investigate the relationship between social support and psychological well-being among students from divorced families. A quantitative approach using a correlational method was chosen for this study. The sample consisted of 335 students from the University of 17 August 1945 Surabaya aged 18–25 years, selected using purposive sampling. The instrument used was a questionnaire that had undergone a series of validity and reliability checks. Data were analyzed using Pearson's correlation test. The results showed a positive and significant relationship between social support and psychological well-being (r = 0.870; p < 0.05). The findings indicate that the higher the level of social support received by students, the higher their psychological well-being. This study emphasizes the importance of social support as a protective factor in maintaining the psychological balance of students from divorced families, and serves as a basis for developing contextual interventions in higher education settings. Keywords: Social Support; Psychological Well-Being Abstrak Mahasiswa dari keluarga bercerai merupakan kelompok rentan terhadap penurunan psychological well-being akibat ketidakstabilan emosional dan sosial dalam keluarga. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan dukungan sosial dengan psychological well-being pada mahasiswa yang berasal dari keluarga bercerai. Pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional dipilih pada penelitian ini. Sampel sejumlah 335 mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya berusia 18–25 tahun, yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang dipakai adalah kuesioner yang telah melalui serangkaian alur validitas serta reliabilitas dengan baik. Data dianalisis dengan uji korelasi Pearson. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara dukungan sosial dan psychological well-being (r = 0,870; p < 0,05). Temuan menunjukkan semakin tinggi dukungan sosial yang diterima mahasiswa, semakin tinggi pula tingkat psychological well-being yang dimiliki. Penelitian ini menekankan pentingnya dukungan sosial sebagai faktor pelindung dalam menjaga keseimbangan psikologis mahasiswa dari keluarga bercerai, serta menjadi dasar pengembangan intervensi yang kontekstual di lingkungan pendidikan tinggi. Kata kunci: Dukungan Sosial; Psychological Well-Being
Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa ditinjau dari Status Pekerjaaan dan Status Pernikahan Destin Agung Setiawan Putra; Hetti Sari Ramadhani; Adnani Budi Utami
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study employs a quantitative comparative method. The study aims to reveal whether differences in academic procrastination exist among students based on their employment and marital statuses. The 237 respondents were seventh-semester students from the Faculty of Law and Psychology at the University of 17 August 1945 in Surabaya. They were selected using snowball sampling. The study employed a psychological scale measurement tool developed by the researcher based on Ferrari's (1995) indicators of academic procrastination. Data analysis using the Mann-Whitney U test showed no significant difference in the level of academic procrastination based on employment or marital status. The study also revealed that employment and marital status do not serve as reasons to explain students' procrastination behavior. Keywords: Academic Procrastination, Employment Status, Marital Status, Mann-Whitney U Test, Comparative Research. Abstrak Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif komparatif. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap ada atau tidak perbedaan prokrastinasi akademik pada mahasiswa ditinjau dari status pekerjaan dan status pernikahan. Responden pada penelitian ini merupakan mahasiswa semester 7 Fakultas Hukum dan Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya sebanyak 237 partisipan yang dipilih melalui teknik snowball sampling. Penelitian ini menggunakan alat ukur skala psikologi dengan instrumen yang disusun peneliti berdasarkan indikator prokrastinasi akademik dari Ferrari (1995). Hasil penelitian menggunakan analisis data uji Mann-Whitney U menunjukkan adanya tidak adanya perbedaan signifikan dalam tingkat prokrastinasi akademik berdasarkan status pekerjaan dan status pernikahan. Penelitian ini juga mengungkapkan mahasiswa status pekerjaan maupun status pernikahan tidak menjadi alasan untuk mendukung perilaku prokrastinasi mahasiswa. Kata Kunci: Prokrastinasi Akademik, Status Pekerjaan, Status Pernikahan, Uji Mann-Whitney-U,Penelitian Komparatif. Abstract This study employs a quantitative comparative method. The study aims to reveal whether differences in academic procrastination exist among students based on their employment and marital statuses. The 237 respondents were seventh-semester students from the Faculty of Law and Psychology at the University of 17 August 1945 in Surabaya. They were selected using snowball sampling. The study employed a psychological scale measurement tool developed by the researcher based on Ferrari's (1995) indicators of academic procrastination. Data analysis using the Mann-Whitney U test showed no significant difference in the level of academic procrastination based on employment or marital status. The study also revealed that employment and marital status do not serve as reasons to explain students' procrastination behavior. Keywords: Academic Procrastination, Employment Status, Marital Status, Mann-Whitney U Test, Comparative Research. Abstrak Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif komparatif. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap ada atau tidak perbedaan prokrastinasi akademik pada mahasiswa ditinjau dari status pekerjaan dan status pernikahan. Responden pada penelitian ini merupakan mahasiswa semester 7 Fakultas Hukum dan Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya sebanyak 237 partisipan yang dipilih melalui teknik snowball sampling. Penelitian ini menggunakan alat ukur skala psikologi dengan instrumen yang disusun peneliti berdasarkan indikator prokrastinasi akademik dari Ferrari (1995). Hasil penelitian menggunakan analisis data uji Mann-Whitney U menunjukkan adanya tidak adanya perbedaan signifikan dalam tingkat prokrastinasi akademik berdasarkan status pekerjaan dan status pernikahan. Penelitian ini juga mengungkapkan mahasiswa status pekerjaan maupun status pernikahan tidak menjadi alasan untuk mendukung perilaku prokrastinasi mahasiswa. Kata Kunci: Prokrastinasi Akademik, Status Pekerjaan, Status Pernikahan, Uji Mann-Whitney-U,Penelitian Komparatif.
Motivasi Mengajar Tumbuh dari Meaning of Work yang Dirasakan Guru Azalia Putri Salsabila; Adnani Budi Utami; Sayidah Aulia'Ul Haque
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study aims to determine the relationship between the meaning of work and the work motivation of elementary school teachers, particularly during the enjoyable transition period from early childhood education to elementary school. During this phase, teachers are required to create an adaptive, supportive, and enjoyable learning environment for children who have just entered elementary school. Teachers' acceptance of the meaning of their work is an important factor in encouraging their work motivation. This study employs a quantitative approach using correlational techniques. The research subjects are 82 first-grade elementary school teachers involved in the student transition process from preschool to elementary school. The research instruments consist of scales measuring the meaning of work and work motivation. Data were analyzed using Spearman Brown correlation techniques. The results of the study indicate a positive and significant relationship between the meaning of work and teachers' work motivation. The higher the meaning teachers perceive in their work, the higher their work motivation. This finding underscores the importance of strengthening the meaning of work in enhancing teachers' work motivation during this critical transition phase. Keywords: elementary education; elementary school teachers; meaning of work; work; transition from preschool to elementary school; work motivation Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara meaning of work dengan motivasi kerja guru sekolah dasar khususnya pada masa transisi menyenangkan dari PAUD ke SD. Pada fase ini, guru dituntut untuk menciptakan lingkungan belajar yang adaptif, mendukung, dan menyenangkan bagi anak-anak yang baru saja memasuki jenjang sekolah dasar. Penerimaan guru terhadap makna pekerjaannya menjadi faktor penting dalam mendorong motivasi kerja mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik korelasional. Subjek penelitian adalah 82 guru kelas 1 sekolah dasar yang terlibat dalam proses transisi siswa dari pembelajaran anak usia dini ke sekolah dasar. Instrumen penelitian berupa skala meaning of work dan motivasi kerja. Data dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi Spearman Brown. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara meaning of work dan motivasi kerja guru. Semakin tinggi makna yang dirasakan guru terhadap pekerjaannya, semakin tinggi pula motivasi kerjanya. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan makna kerja dalam meningkatkan motibasi kerja guru selama fase transisi penting ini. Kata kunci: guru sekolah dasar; meaning of work; motivasi kerja; pendidikan dasar; transisi PAUD ke SD
Transisi PAUD ke SD: Implikasinya terhadap Motivasi Kerja Guru Zafira Pramesti Ahmad Yani; Adnani Budi Utami; Sayidah Aulia'Ul Haque
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study was motivated by the pleasant transition policy from early childhood education to elementary school, which has generated different perceptions among teachers. This study aimed to determine if there is a relationship between teachers' perceptions of the policy and their work motivation in elementary schools. The study employed a quantitative correlational approach using the Spearman Brown technique with 82 first-grade teachers in Surabaya. Data were collected using manual and digital questionnaires via Google Forms. The results indicate a relationship between perceptions of the transition policy and work motivation. Teachers with a positive perception of the policy tend to be highly motivated at work. Conversely, low work motivation tends to accompany negative perceptions. Keywords: Teachers, Work Motivation, Perception, Elementary Schools Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebijakan transisi menyenangkan dari pendidikan anak usia dini ke sekolah dasar yang menimbulkan berbagai persepsi dikalangan guru. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah adanya hubungan antara persepsi guru terhadap kebijakan transisi yang menyenangkan pada motivasi kerja guru sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan menggunakan Teknik Spearman Brown pada partisipan berjumlah 82 guru kelas 1 di Surabaya. Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuisioner angket manual serta digital menggunakan google form. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan antara variabel persepsi dengan motivasi kerja pada kebiajkan transisi yang menyenangkan, guru yang memiliki persepsi yang positif pada kebijakan transisi akan cenderung memiliki motivasi kerja yang tinggi. Sebaliknya, jika persepsi yang dihasilkan negating maka motivasi kerja cenderung rendah. Kata kunci: Guru, Motivasi Kerja, Persepsi, Sekolah Dasar, Transisi Menyenangkan
Self Concept dan Subjective Wellbeing dalam Online Disinhibition Effect Mahasiswa Pengguna Instagram Devinita Budiman; Hetti Sari Ramadhani; Adnani Budi Utami
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Devinita Budiman Hetti Sari Ramadhani Adnani Budi Utami devinitaa28@gmail.com Abstract The Relationship Between Self-Concept and Subjective Well-Being with Online Disinhibition Effect Among Instagram Users. The purpose of this study is to analyze the relationship between self-concept and subjective well-being with online disinhibition effect among students who have Instagram accounts. This study employs a quantitative correlational approach, utilizing purposive sampling for sample selection and the Lameshow formula to determine the sample size in this population. Data were collected through an online questionnaire distributed across several social media platforms. A negative relationship was found between self-concept and the online disinhibition effect. The second hypothesis was accepted, indicating a significant negative relationship between subjective well-being and the online disinhibition effect. The results of this study showed a significant relationship between self-concept and subjective well-being with the online disinhibition effect among college students with Instagram accounts, with an F value of 93.48 and significance of 0.000 (p<0.05). This study concludes that self-concept and subjective well-being act as predictors of the online disinhibition effect among Instagram-using students. It is important for students to better understand themselves and enhance their awareness in maintaining appropriate behavior on social media, especially for those with multiple accounts, to avoid inappropriate behavior. Keywords: Online Disinhibition Effect, Self Concept, Subjective Wellbeing, Instagram Abstrak Hubungan Konsep Diri dan Kesejahteraan Subjektif dengan Efek Disinhibisi Online pada Mahasiswa Pengguna Instagram. Tujuan penelitian ini yakni guna menganalisis hubungan antara self concept dan subjective wellbeing dengan online disinhibition effect pada mahasiswa yang memiliki akun Instagram. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan menerapkan teknik purposive sampling untuk pengambilan sampel serta penggunaan rumus Lameshow untuk menentukan jumlah sampel pada populasi di penelitian ini. Data dikumpulkan berdasarkan kuesioner yang disebarkan secara online dibeberapa platform media sosial. hubungan negatif antara self concept dan online disinhibition effect. Hipotesis kedua diterima, yaitu terdapat hubungan negatif yang signifikan antara subjective wellbeing dan online disinhibition effect. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara self concept dan subjective wellbeing dengan online disinhibition effect pada mahasiswa yang memiliki Instagram dengan nilai F sebesar 93,48 dengan signifikansi 0,000 (p<0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa self concept dan subjective wellbeing berperan sebagai prediktor online disinhibition effect pada mahasiswa pengguna Instagram. Penting bagi mahasiswa untuk lebih mengenali diri dan meningkatkan kesadaran dalam menjaga perilaku di media sosial, terutama bagi mahasiswa yang memiliki akun ganda, guna menghindari perilaku yang tidak sesuai. Kata kunci: Online Disinhibition Effect, Self Concept, Subjective Wellbeing, Instagram