Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

TELAAH PENELUSURAN SOUNDSCAPE SEBAGAI KRITIK TERHADAP KONSEP GEREJA TERBUKA KARYA Y.B. MANGUNWIJAYA (STUDI KASUS: GEREJA SANTA MARIA FATIMA, SRAGEN) Narendra Pradhana ; Roni Sugiarto
Riset Arsitektur (RISA) Vol 5 No 02 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/.v5i02.4729.134-152

Abstract

Abstrak Penghayatan arsitektur tidak hanya terbatas pada pengalaman visual yang seringkali lebih dominan dibandingkan dengan indra lainnya. Menghayati arsitektur dapat juga dilakukan melalui kegiatan mendengar. Telaah soundscape merupakan cara untuk melihat arsitektur dari sudut pandang audial dan mencari hubungan antara suara dengan fenomena spasial yang terjadi. Penelitian ini dilakukan pada bangunan gereja dengan konsep terbuka rancangan Y.B. Mangunwijaya. Potensi permasalah pada objek studi berada pada konsep keterbukaannya karena membaurnya pengaruh luar dengan dalam bangunan. Fenomena yang ingin dipelajari adalah keterkaitan antara soundscape dengan aspek keterbukaannya. Penelitian ini dilakukan dengan metode gabungan antara kualitatif dan kuantitatif. Suara yang diukur pada berbagai titk ukur (dalam dan luar bangunan) menghasilkan data berupa angka yang kemudian dibandingkan secara kuantitatif. Observasi lapangan, dilengkapi dengan wawancara dan pengisian kuesioner, menjadi acuan yang bersifat kualitatif. Metode analisis secara deskriptif mengungkapkan fakta dan temuan di lapangan dengan teori-teori yang mendukung: teori Gereja Terbuka (Gereja Diaspora), teori Soundcape, teori Akustik, teori Persepsi, dan teori Intentions in Architecture. Keterbukaan pada bangunan gereja ini menghasilkan soundscape yang karakternya dipengaruhi oleh penataan ruang luar (tapak) dan ruang dalam pada bangunan (interior). Oleh karena itu, elemen tapak menjadi sama pentingnya dengan elemen interior dalam menciptakan nuansa audial yang baik. Suara keynote dan sound signal yang bersifat bising (motor, ramai aktivitas manusia, dan sebagainya) mengalami penguatan atau pelemahan tergantung pada elemen yang ada pada jalur rambat suara. Temuan lain adalah terkait hubungan soundmark dengan kondisi perkotaan atau townscape di sekitar bangunan ini. Densitas perkotaan yang tidak terlalu tinggi menciptakan rambatan dari soundmark yang lebih jelas. Temuan persepsi tidak menunjukkan adanya gangguan audial yang signifikan pada bangunan ini di pagi hari. Meskipun demikian, penyesuaian lebih lanjut dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas audial pada siang/sore hari. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman berarsitektur secara indrawi khususnya mendengar arsitektur. Selain itu, penelitian ini juga dilakukan dalam rangka untuk mengungkap kembali dan melestarikan kekayaan dari arsitektur Romo Mangun sehingga dapat menjadi wawasan dan renungan berarsitektur yang baik di kemudian hari. Kata Kunci: soundscape, Mangunwijaya, keterbukaan, Maria Fatima Sragen
STUDI ANALOGIS ARSITEKTUR DAN MUSIK BAROK Jevon Hosea Thenadi ; Roni Sugiarto
Riset Arsitektur (RISA) Vol 5 No 03 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/.v5i03.4738.240 - 258

Abstract

Abstrak Spasialitas dapat kita persepsikan melalui penglihatan. Demikian pula pendengaran kita dapat mempersepsikan spasialitas. Hal ini menunjukkan adanya relasi antara arsitektur dan musik. Keduanya adalah bidang seni dan keduanya berkaitan dengan makna dan keindahan sehingga memiliki suatu dasar estetika tertentu. Keduanya merupakan hasil dari perkembangan kultur manusia sehingga menunjukkan bagaimana manusia hidup dan bagaimana pandangan manusia terhadap hidup itu sendiri. Penelitian ini akan menjelajahi masa Barok untuk mencari analogi kualitatif antara persepsi auditorial dan persepsi visual melalui manifestasi seni Barok, yakni arsitektur dan musik zaman Barok. Dengan metode analisis analogis, penelitian ini ditujukan untuk mencari korelasi antara keduanya dengan bantuan sistem representasi. Melalui penelitian ini, peneliti menemukan adanya keterkaitan dalam soal pola bentuk, tekstur, dan artikulasi antara arsitektur dan musik Barok yang membuktikan adanya dasar estetika yang sama. Penemuan ini diharapkan dapat memberi arsitektur dan musik lebih banyak pemahaman tentang disiplinnya masing-masing, dan juga memberi cara baru berpikir melalui perenungan akan yang lampau. Kata Kunci: analogis, barok, arsitektur dan musik, bentuk dan ruang, spasialitas, tekstur, artikulasi
KAJIAN SOUNDSCAPE KOMPLEKS GEREJA KATEDRAL BANDUNG Roni Sugiarto
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2013)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10672.508 KB)

Abstract

Dalam mengalami, disamping dapat melihat bentuk dan mendengar bunyi, kita dapat juga mendengarbentuk dan melihat bunyi. Ketika kita mendengar bunyi (auditory) kita pun dapat melihat ruang(spatiality).Meskipun bahasa bunyi dan bahasa arsitektur berbeda, namun keduanya memiliki motif yang sama, yaitusama-sama membutuhkan pengayaan panca indera yang lengkap sehingga menghadirkan tingkatkeestetisan yang tinggi. . Arsitektur bisa menjadi sesuatu yang sangat indah, dan bagi setiap orangkeindahannya berbeda-beda karena ada ‘bunyi’ dalam setiap komposisi arsitektur yang dinikmati secaravisual dan berdasarkan sensasi persepsi subjektif. Melalui pendekatan soundscape penelitian berusahamembentang bunyi dan untuk menghadirkan pemandangan akustik lingkungan yang berkualitas. Makinberkualitas soundscape yang dibentuk maka arsitektur yang diciptakan akan baik secara pengalamannya(visual maupun audial). Kompleks Gereja Katedral yang telah memiliki ekspresi visual yang sangat baikternyata “gaduh”, melalui penelitian ini yang dilakukan melalui studi literatur, observasi audial dan visuallapangan, analisis pendekatan soundscape maka didapat beberapa kondisi fakta yang terungkap.Elemen-elemen soundscape yang didapat dapat memperkuat dan menhidupakan konstruksi ruangarsitektural. Tujuan utama dari penelitian ini membuka jendela untuk peneliti bidang arsitektur untukmenggali keterkaitan antara soundscape dan arsitektur, sehingga diharapkan ditemukan kegunaan yangbermanfaat bagi pendekatan perancangan yang efektif dengan mengkonsentrasikan pada sosok audiallingkungan. Dan dapat diyakini bahwa tidak ada ruang arsitektur yang dirusak oleh keberadaan suaralingkungan, dan telinga kita tidak akan dibutakan.Kata kunci: soundscape, ruang audial, ruang arsitektural
INDIKASI KEESTETIKAAN LINGKUNGAN PERKOTAAN PADA RUAS KORIDOR JALAN DI TEPIAN SELOKAN MATARAM DAN RUAS KORIDOR JALAN DI KAWASAN NGASEM YOGYAKARTA FX. Budiwidodo Pangarso; Diyanto Diyanto; Iwan Purnama; Roni Sugiarto; Tri Yuniastuti; Prawatya Widyanto; Asies Sigit Pramujo; Gideon Suryanugraha; A. Nityasa Swinareswari P
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2013)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4747.476 KB)

Abstract

Perkara ke-estetika-an lingkungan seringkali menjadi suatu intensi seseorang atausekelompok masyarakat, yang secara umum dianggap sebagai sesuatu ungkapan ekspresikeindahan atas tatanan fisik/spasial dan kultural, sehingga akan menunjukkan eksistensikegiatan dan pola aktivitas lingkungan perkotaan tertentu. Premis mayor ini merupakanlandasan penelitian bertema keestetikaan lingkungan perkotaan yang berbasis kulturalhistoriografis, dengan tujuan memperoleh unsur fisik/spasial dan unsur normatif yangsecara eksistensial maupun arsitektural berpotensi determinatif-indikatif dalam menciptakeestetikaan lingkungan.Lingkungan perkotaan yang di pilih yaitu Koridor Selokan Mataram (SM) KabupatenSleman Yogyakarta dan Koridor Wisata Ngasem (NG) Tamansari Kota Yogyakarta.Kedua lokasi ini merupakan pengembangan tema tipologis dari penelitian sebelumnya diKoridor Jalan Kesambi Kota Cirebon. Kedua koridor perkotaan ini memiliki keterkaitanfungsional masing-masing dan norma simbolik eksistensial atas Karaton NgayogyakartaHadiningrat secara historis dan secara administratif perkotaan berada pada tempat yangberbeda satu sama lain. Koridor SM berada di kawasan Bulaksumur Kampus UGM, Kab.Sleman; sedangkan koridor NG berada di kawasan Jeron Beteng Karaton NgayogyakartaHadiningrat. Saat ini secara fungsional koridor SM pada ruas jalan Pogung-Gejayan inibertumbuh menjadi area kegiatan campuran secara linier, yang tentu akan berdampakpada nilai strategis yang dimilikinya. Sementara pada ruas koridor NG jalan Kauman-Tamansari tetap sebagai fungsi pengendali kesinambungan eksistensi tradisi budaya,walaupun saat ini berkembang menjadi area kepariwisataan. Kondisi kedua lokasi inisecara estetis menjadi unik, oleh karena dalam pertumbuhan dan upaya peningkatankebutuhan masyarakat serta ragam kegiatannya berlangsung melalui proses keselarasanantara nilai-budaya tradisi dan nilai-modernitas kehidupan urban, tetapi tetap dapatmemberikan ekspresi nilai strategis kultural.Metoda kualitatif & kuantitatif serta analisis visual lingkungan, akan didaya-gunakanterhadap tatanan maupun ekspresi rupa ragam elemen fisik/spasial panorama perkotaan(“townscape”) dan disintesis padu-padankan dengan norma kultural strategis, perilakudan pola aktivitas disepanjang kedua koridor. Berbasis metoda tersebut diharapkan dapatmenunjuk berbagai model indikasi positif eksistensi nilai-nilai keestetikaan lingkungan.Praduga yang mengemuka pada observasi awal adalah, bahwa indikasi keestetikaan yangberbasis pada nilai-nilai kultural telah dapat dikelola, sejalan dengan pengendalian citralingkungan kultural strategis atas eksistensi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Olehkarenanya manfaat dari penelitian ini, bisa memberi inspirasi cara pola pikir keestetikaanlingkungan dan memberi alternatif model pertimbangan dalam penyusunan kebijakanpengelolaan estetika lingkungan perkotaan.Penelitian ini dilakukan dalam format multidisiplin keilmuan, yang difokuskan padabidang arsitektur-kota dan bidang seni-rupa lingkungan, melalui proses studi literatur,observasi visual lapangan, pengolahan data, analisis fenomenologis citra kultural kota,diskusi dengan para nara-sumber terkait dan penyimpulan atas praduga awal.Kata kunci : keestetikaan lingkungan, panorama perkotaan, strategis kultural, analisis visual.
INDIKASI KEESTETIKAAN LINGKUNGAN PERKOTAAN KAWASAN PUSAT KOTA WONOSARI KABUPATEN GUNUNGKIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA FEBRUARI s/d OKTOBER 2015 FX Budiwidodo Pangarso; Arief Sabarudin; Iwan Purnama; Roni Sugiarto; Gideon Suryanugraha; Nityasa Swinareswari
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2015)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15481.262 KB)

Abstract

Perkara ke-estetika-an lingkungan seringkali menjadi suatu intensi seseorang atau sekelompok masyarakat, dalam menanggapi sesuatu ungkapan ekspresi keindahan atas tatanan fisik/spasial dan kultural, yang akan dapat menunjukkan eksistensi kegiatan dan pola aktivitas lingkungan perkotaan tertentu. Premis mayor ini merupakan landasan penelitian bertema keestetikaan lingkungan perkotaan yang berbasis pada aspek kultural historiografis, dengan tujuan memperoleh fakta unsur fisik/spasial dan unsur normatif yang secara eksistensial maupun arsitektural memiliki potensi determinatif-indikatif dalam upaya mencipta keestetikaan lingkungan. Penelitian ini merupakan pengembangan tema tipologis dari penelitian sebelumnya di Kota Cirebon (2012), Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman (Kecamatan Depok) DIY (2013).Lingkungan perkotaan yang diamati dan diteliti difokuskan pada Kawasan Pusat kota Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Kawasan perkotaan ini memiliki keterkaitan fungsional maupun normatif eksistensial dan simbolik dengan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yang secara historis maupun administratif mendefinisikan basis model kultur Yogyakarta terkait fenomena perkembangan fungsi kepariwisataan. Koridor KH.Agus Salim, Brigjen Katamso dan Sugiyapranata menjadi orientasi spasial utama/primer, yang akan berpendar ke koridor-koridor sekitarnya dan simpul-simpul sirkulasi strategis lainnya. Ketiga segmen koridor ini secara spasial perkotaan merupakan simpul strategis atas pertumbuhan sosial-ekonomi yang langsung berdampak pada perkembangan struktur tatanan rupa fisik kawasan terkait.Saat ini secara eksistensial / fungsional koridor telah bertumbuh menjadi area kegiatan campuran secara linier, yang tentu akan dampak pada nilai strategis yang dimilikinya. Sementara pada ruas koridor lainnya tetap sebagai fungsi sosial-ekonomi, yang seharusnya juga berfungsi sebagai pengendali kesinambungan rupa eksistensial tradisi dan budaya, walaupun saat ini berkembang menjadi jalur sirkulasi kepariwisataan. Dilain pihak kondisi lokasi ini secara estetis bisa menjadi picu keunikan tata-rupa spasial, yang tetap memberikan ekspresi nilai strategis kultural karena gejala pertumbuhan dan pemenuhan peningkatan kebutuhan masyarakat melalui ragam aktivitas dan kegiatannya berlangsung melalui proses keselarasan antara nilai-budaya tradisi serta nilai-modernitas kehidupan urban.Metoda kualitatif & kuantitatif serta analisis visual lingkungan, akan didaya-gunakan terhadap tatanan maupun ekspresi rupa ragam elemen fisik/spasial panorama perkotaan (“townscape”) dan di-sintesis padu-padankan dengan norma kultural strategis, perilaku dan pola aktivitas disepanjang koridor maupun simpul-simpul ruang strategis perkotaan. Berbasis metoda tersebut diharapkan dapat menunjuk berbagai model indikasi positif eksistensi nilai-nilai keestetikaan lingkungan. Praduga yang mengemuka pada observasi awal adalah, bahwa indikasi keestetikaan yang berbasis pada nilai kultural belum optimal dikelola, selaras dengan pengendalian citra lingkungan kultural strategis dan eksistensial Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Oleh karenanya manfaat dari penelitian ini, bisa memberi inspirasi cara pola pikir keestetikaan lingkungan dan memberi alternatif model pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pengelolaan estetika lingkungan perkotaan.Penelitian ini dilakukan dalam format multidisiplin keilmuan, antara bidang desain arsitektur lingkungan perkotaan dan bidang estetika filsafati; yang difokuskan pada bidang arsitektur-kota dan bidang seni-rupa lingkungan, melalui proses studi literatur, observasi visual lapangan, pengolahan data, analisis fenomenologis citra kultural kota, diskusi dengan para nara-sumber terkait dan penyimpulan atas praduga awal.Kata kunci : keestetikaan lingkungan, panorama perkotaan, strategis kultural, analisis visual.
Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pengalaman Soundscape Di Taman Dewi Sartika Bandung Aldo Golfana Topan Rachardjo; Roni Sugiarto
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 20, No 2 (2022): Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan
Publisher : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/arst.v20i2.59672

Abstract

This research aims to explore the extent to which the Covid-19 pandemic with all kinds of restrictions that occur affects the soundscape experience, and explores the extent to which an audial study was created at Taman Dewi Sartika Bandung as a thematic city park in the center of Bandung City. This is deemed necessary so that practical and theoretical contributions are not only limited to visual goals but also give meaning to audial experience. The soundscape approach has not been widely applied in the architectural design process, especially in urban parks in the city center in Indonesia, particurarly in Bandung. This research was conducted by using observations at Dewi Sartika Park, and used a qualitative and quantitative approach, accompanied by an exploratory literature review on soundscapes, city parks as part of public space, and human perception. Through this research, it was found that the presence of the COVID-19 pandemic has changed the soundscape experience and shifted the existence of the park from being very cultural, namely domination in aspects of activity and place, to being very natural which is "sacred".
STUDI KOMPARATIF ANALOGIS UNSUR ARSITEKTURAL DAN MUSIKAL BALI Roni Sugiarto
MEDIA MATRASAIN Vol. 12 No. 1 (2015)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v12i1.7696

Abstract

Bentuk kesenian musik memiliki kekuatan yang dapat mempengaruhi sisi personal manusia dan bersifat universal – mampu dinikmati beragam kalangan usia, status, latar belakang budaya dan sebagainya. Kekuatan musik mampu menembus batas ruang dan waktu. Hal ini yang menjadi inspirasi untuk menelaah lebih jauh sejauh mana kekuatan musik mampu merambah pula ranah arsitektural. Bahasa arsitektur dan musik berbeda, namun dua konfigurasi seni ini memiliki kesamaan motif berkesenian yaitu pencarian makna keindahan yang tiada akhir, untuk memenuhi kerinduan manusia akan nilai-nilai puitis yang tertanam dalam lubuk sanubarinya. Arsitektur bisa menjadi sesuatu yang sangat indah, dan bagi setiap orang keindahannya berbeda-beda karena ada ‘lagu’ dalam setiap komposisi arsitektur yang dinikmati secara visual dan berdasarkan sensasi persepsi subjektif. Melalui penjelajahan imajinatif karya seni Bali, tulisan ini dilakukan dalam usaha menelusuri analogi antara sensasi auditory (berupa nada, irama, ritme, tempo, dinamika, gerakan) dengan manifestasi wujud arsitektur (bentuk, material, tekstur, struktur, hirarki, sikuens) dengan bantuan pendekatan konsep representatif dan analogis. Melalui konteks kajian komparatif analogis telah membuktikan adanya keterkaitan dan kesinambungan unsur-unsur antara arsitektur serta musik Bali. Sistem representasi menjadi kunci dalam menghantarkan visi arsitektur serta musik Bali yang bersifat imajinatif dan ekspresif ke dalam perwujudan suatu manifestasi melalui bentuk atau komposisi. Kata Kunci: Arsitektur, Musik, Bali, Auditory, Representasi
STUDI ANALOGIS BENTUK ARSITEKTURAL DAN MUSIK BAROK Roni Sugiarto
MEDIA MATRASAIN Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v16i1.25260

Abstract

Di samping dapat melihat bentuk dan mendengar bunyi, kita dapat juga mendengar bentuk dan melihat bunyi. Ketika kita mendengar bunyi (auditory) kita pun dapat melihat ruang (spatiality).  Meski bahasa yang dipergunakan arsitektur dan musik berbeda, namun kedua bidang ini memiliki karakter berkesenian yang sama yaitu pencarian makna keindahan yang tiada akhir, untuk memenuhi kerinduan manusia akan nilai-nilai puitis yang tertanam dalam lubuk sanubarinya. Arsitektur bisa menjadi sesuatu yang sangat indah, dan bagi setiap orang keindahannya berbeda-beda karena ada „lagu‟ dalam setiap komposisi arsitektur yang dinikmati secara visual dan berdasarkan sensasi persepsi subjektif. Melalui penjelajahan imajinatif dan perseptif karya seni Barok, penelitian ini mencoba mencari analogi antara sensasi auditory (berupa nada, irama, ritme, tempo, dinamika) dengan manifestasi wujud arsitektur (bentuk, material, tekstur, struktur, hirarki, sikuens) dengan bantuan pendekatan konsep representatif dan analogis. Melalui kajian dengan penelusuran dengan membandingkan secara analogis (yang bersifat atributif) telah membuktikan adanya keterkaitan dan kesenambungan unsur bentuk antara arsitektur serta musik Barok. Sistem representasi menjadi kunci dalam menghantarkan visi arsitektur serta musik Barok yang bersifat imajinatif dan ekspresif ke dalam perwujudan bentuk atau suatu manifestasi.
PENDOKUMENTASIAN GAMBAR TERUKUR CAGAR BUDAYA OMAH GEDE DAN WITANA BUYUT TRUSMI CIREBON herwindo, Rahadhian P; Arif, Kamal A; Dewi, Mira; Sugiarto, Roni; Purnama, Mimie; Purnama, Iwan; Hidayah, Nur
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sabangka Vol 2 No 01 (2023): Jurnal Pengabdian Masyarakat Sabangka
Publisher : Pusat Studi Ekonomi, Publikasi Ilmiah dan Pengembangan SDM Azramedia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62668/sabangka.v2i01.427

Abstract

Kabupaten Cirebon merupakan wilayah di pesisir Jawa Barat yang memiliki kekayaan cagar budaya termasuk dalam wujud arsitekturnya. Secara garis besar, upaya pelestarian cagar budaya dilakukan melalui upaya perlindungan, pemeliharaan, dan dokumentasi. Upaya perlindungan dilakukan melalui penyelamatan, pengamanan. Upaya pemeliharaan dilakukan melalui konservasi dan pemugaran. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendukung Upaya dokumentasi dilakukan melalui perekaman data dan publikasi. Adapun perekaman data, merupakan rangkaian kegiatan pembuatan dokumen tentang cagar budaya yang dapat memberikan informasi atau pembuktian keberadaannya. Kegiatannya berupa pemotretan, penataan, penggambaran, survey. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut untuk mendukung Pemerintah Daerah Cirebon dan masyarakat dalam pendokumentasian Cagar Budaya. Selain itu juga untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal kepekaan dan pemahaman mengenai bangunan cagar budaya di wilayah Jawa Barat. Selain itu materinya dapat dikembangkan untuk menunjang penelitian dan abdimas berikutnya. Metode Dokumentasi ini dilaksanakan dengan pendekatan measured drawing dilakukan pada Bale Gede dan Witana Trusmi melalui pengukuran keseluruhan kondisi eksisting bangunan sedemikian adanya. Hasilnya digunakan sebagai dokumen referensi dalam melakukan penelitian ataupun pemugaran/renovasi bangunan kedepannya apabila terjadi kerusakan/ kehancuran pada bangunan yang bersangkutan.
TELAAH PENGUKURAN SOUNDSCAPE SEBAGAI KRITIK TERHADAP ELEMEN ARSITEKTURAL DI TAMAN FILM BANDUNG SEBAGAI USAHA PENINGKATAN KUALITAS RUANG KOTA Sugiarto, Roni; Wijaya, Nadya Gani
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Although in Indonesia has a standard rules about the level of noise in the region and the environment according to the decree of the Minister of Environment No. KEP-48/MENLH/11/1996, but the evaluation and control done to an area is still lacking. Soundscape is an environmentally acoustics part that is closely related to the quality perception of region noise. The purpose of this research is to critically study how architectural elements of the Bandung Film Park, are able to effectively and optimally contribute to the quality of environmental auditory, while also discovering the soundscape benefits as one of the analytical tools in designing. By implementing a qualitative approach with direct observation data retrieval techniques and merge into the phenomenon, the research can be an example of strategic implementation in the creation of good environmental sound quality. In other respects, a soundscape research can be a necessity to raise human awareness or designer in particular to environmental sounds as an aspirational and evaluative means to a sustainable city and community order.Kata Kunci: Soundscape, City Park, Architectural ElementAbstrak: Walaupun di Indonesia memiliki aturan standar tentang tingkat kebisingan dalam kawasan dan lingkungan, menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Kep-48/Menlh/11/1996, namun evaluasi dan kontrol yang dilakukan terhadap suatu kawasan masih kurang dilakukan. Soundscape merupakan bagian akustika lingkungan yang terkait erat dengan kualitas persepsi kenyamanan bunyi kawasan. Tujuan penelitian ini adalah secara kritis menelaah bagaimana elemen arsitektural pembentuk Taman Film Bandung mampu secara efektif dan optimal dalam memberi kontribusi yang baik terhadap kualitas audial lingkungan, sekaligus menemukan manfaat soundscape sebagai salah satu alat analisis dalam perancangan. Dengan menerapkan pendekatan yang bersifat kualitatif dengan teknik pengambilan data observasi langsung serta melebur dengan fenomena yang terjadi, maka penelitian dapat menjadi contoh penerapan strategis dalam penciptaan kualitas suara lingkungan yang baik. Di lain hal, penelusuran soundscape dapat menjadi kebutuhan untuk meningkatkan kesadaran manusia atau perancang secara khusus terhadap suara-suara lingkungan sebagai sarana aspiratif dan evaluatif menuju tatanan kota dan masyarakat yang berkelanjutanKata Kunci: Soundscape, Taman Kota, elemen Arsitektur