Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Pembelajaran Era Pandemi Covid-19 di Indonesia (Studi terhadap Aplikasi Discord) Edward Tjahjadi; Sinta Paramita; Doddy Salman
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10165

Abstract

The use of various applications such as ZOOM, Microsoft Teams, and Google Meets has become familiar to students and teachers thanks to their functionality. It is not widely known that there is one other application that has the same function, that is Discord. With the COVID-19 pandemic situation and the existence of this Discord application, a problem formulation emerged, namely How to use the Discord application as a learning medium for the COVID-19 pandemic era and whether the Discord application as a new innovation is suitable for use as an online learning medium in the COVID-19 pandemic era. The theoretical basis used in this research is the theory of learning media, the use of applications as learning media, social media theory and diffusion of innovation. The approach used in this research is qualitative research. The research method used is a case study. The data collection method used to collect the information needed in this study is to use semi-structured interviews and documentation. The data processing and analysis techniques used in this study were data reduction, data presentation, and conclusion drawing. To test the validity of the data obtained, this study uses triangulation techniques by utilizing other data for comparison and data checking. The result of this research is that Discord is an ideal new innovation and has great potential as a learning medium in the era of the COVID-19 pandemic.Penggunaan berbagai aplikasi seperti ZOOM, Microsoft Teams, dan Google Meets sudah menjadi tidak asing lagi bagi siswa dan pengajar berkat fungsionalitas mereka. Tidak banyak diketahui ada satu aplikasi lain yang memiliki fungsi yang sama, aplikasi tersebut adalah Discord. Dengan situasi pandemi COVID-19 dan beserta keberadaan aplikasi Discord ini, muncul suatu rumusan masalah yakni Bagaimana penggunaan aplikasi Discord sebagai media pembelajaran era pandemi COVID-19 dan Apakah aplikasi Discord sebagai inovasi baru layak digunakan sebagai media pembelajaran online pada era pandemi COVID-19. Landasan Teori yang digunakan dalam penelitain ini adalah teori media pembelajaran, penggunaan aplikasi sebagai media pembelajaran, teori sosial media dan difusi inovasi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan penelitian ini adalah dengan menggunakan wawancara semiterstruktur dan dokumentasi. Teknik pengolahan dan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menguji keabsahan data yang didapat penelitian ini menggunakan teknik triangulasi dengan memanfaatkan data lain untuk perbandingan dan pengecekan data. Hasil dari penelitian ini adalah Discord merupakan inovasi baru yang ideal dan memiliki potensi besar sebagai media pembelajaran di era pandemi COVID-19.
Analisis Instagram Selebritis Terhadap Gaya Hidup Hedonis (Studi Kasus Akun Instagram @Awkarin Saat Liburan Di Era Pandemi Covid-19) Ariesca Tansia; Yugih Setyanto; Doddy Salman
Kiwari Vol. 1 No. 1 (2022): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v1i1.15487

Abstract

In this modern era, the internet has become a necessity to access information and various social media. One of social media with the biggest users in Indonesia is Instagram. Instagram can be considered to have become a social media used to showcase a hedonic lifestyle. Hedonist lifestyle of controversial celebrity named Awkarin is still clearly visible even during the Covid-19 pandemic. In June and July 2021, Awkarin continues to travel with fairly rapid mobility from one city to another in his luxurious style in the midst of the pandemic. The purpose of this study was to determine the role of social media Instagram account @Awkarin in representing the hedonic lifestyle. The theory used is the hedonic lifestyle theory and the semiotic theory. The research method used is descriptive qualitative with Fiske's semiotic analysis. Using the technique of observation, documentation, and literature study. The results of this study show that the activities Awkarin did during the holidays in Covid-19 pandemic represented hedonism. Awkarin shows a lot of luxurious life, always having fun, pursuing worldly pleasures, and owning prestigious branded goods which are a reflection of hedonistic behavior. This is the identity of Awkarin, who is known as one of Jakarta's young celebrities. Pada era yang modern ini internet menjadi kebutuhan untuk mengakses informasi maupun beragam media sosial. Salah satu media sosial dengan pengguna terbanyak di Indonesia adalah Instagram. Instagram dapat dikatakan sudah menjadi media sosial yang digunakan untuk memamerkan sebuah gaya hidup hedonis. Gaya hidup hedonis selebritis kotroversial yaitu Awkarin masih terlihat jelas walapun berada di masa pandemi Covid-19. Pada Juni dan Juli 2021 Awkarin tetap melakukan liburan dengan mobilitas yang cukup pesat dari satu kota ke kota lainnya dengan gayanya yang mewah di tengah pandemi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui peran media sosial Instagram akun @Awkarin dalam merepresentasikan gaya hidup hedonis. Teori yang digunakan adalah teori gaya hidup hedonis dan teori semiotika. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika Fiske. Menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan kegiatan yang Awkarin lakukan selama liburan di masa pandemi Covid-19 merepresentasikan hedonisme. Awkarin banyak memperlihatkan kehidupan mewah, selalu bersenang-senang, mengejar kenikmatan duniawi, dan memiliki barang bermerk prestisius yang merupakan cerminan perilaku hedonisme. Ini lah yang menjadi identitas Awkarin yang dikenal sebagai salah satu selebritis muda Jakarta.
Analisis Strategi Komunikasi Pembelajaran Daring Siswa Sekolah Pelita II di Masa Covid-19 Tiffany Gintara; Sinta Paramita; Doddy Salman
Kiwari Vol. 1 No. 1 (2022): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v1i1.15640

Abstract

As a result of the emergence of the Covid-19 virus that occurred, it had a fairly large impact throughout the world, one of which was Indonesia. The impact of Covid-19 can be felt in various sectors, including in the field of education. Inside, face-to-face learning is shifting to online learning which is one of the logical consequences of today's technological developments. This study aims to analyze the application of communication strategies to Pelita II Elementary School students in online learning during the Covid-19 period, using a qualitative case study method and the model of analysis to see the various problems that are often encountered in Pelita II elementary school during online learning that takes place through the time. Using the theory of diffusion of innovation in analyzing this research problem. The results of this study indicate that the implementation of online learning at SD Pelita II starts from the preparation of the teacher itself by teaching using a strategy that is to create the same understanding and thoughts as the basic form of communication. In addition, the communication process that occurs during online learning is conveyed through the communicator (teacher) to the communicant (student). Kemunculan virus Covid-19 yang terjadi, memberikan dampak yang cukup besar bagi seluruh dunia, salah satunya adalah negara Indonesia. Dampak Covid-19 dapat dirasakan di berbagai kalangan sektor, termasuk di bidang pendidikan. Maka dari itu, pembelajaran tatap muka bergeser ke pembelajaran daring yang merupakan salah satu konsekuensi logis dari perkembangan teknologi saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan strategi komunikasi pada siswa SD Pelita II dalam pembelajaran daring pada masa Covid-19, dengan menggunakan metode studi kasus kualitatif. Model Analisis untuk melihat berbagai permasalahan yang sering ditemui di SD Pelita II dalam pembelajaran daring yang berlangsung. Menggunakan teori difusi inovasi dalam menganalisis permasalahan penelitian ni. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran daring di SD Pelita II dimulai dari persiapan guru itu sendiri dengan mengajar menggunakan strategi yaitu menciptakan pengertian dan pemikiran yang sama sebagai bentuk dasar komunikasi, proses komunikasi yang terjadi saat pembelajaran daring yaitu disampaikan melalui komunikator (guru) kepada komunikan (siswa).
Tingkat Kepercayaan Mahasiswa Fikom Untar pada Akurasi Berita Covid-19 di Kompas.com Gherry Daniel; Sinta Paramita; Doddy Salman
Kiwari Vol. 1 No. 3 (2022): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v1i3.15778

Abstract

News of Covid-19 is published in many cyber media portals. The issue of Covid-19 is an issue that is currently hot in all parts of the earth. This of course makes Kompas.com as a cyber news media to present news about the Covid-19 issue. This study aims to find out how the level of trust of FIKOM UNTAR students in reading and acting on cyber news about the Covid-19 issue on the cyber media Kompas.com, the worst covid case in Indonesia in July. This study uses the theory of digital journalism, which makes the media can be used as a source of information in the form of audio and visual. This study uses quantitative research methods, researchers took 100 samples from the student population of FIKOM UNTAR. The sampling technique was carried out by distributing questionnaires to the 2018 - 2020 FIKOM UNTAR students. This study obtained the results of the effect of information accuracy on the 50.5 percent confidence level. And the results of the T test are known that Ho is rejected and Ha is accepted which means that there is an influence between the variables x and y. Berita Covid-19 dimuat di banyak portal media siber, Isu tentang Covid-19 merupakan isu yang sedang panas panasnya di seluruh bagian bumi. Hal ini tentu saja membuat Kompas.com sebagai media berita siber menyajikan berita tentang isu Covid-19. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana tingkat kepercayaan Mahasiswa Fikom UNTAR dalam membaca dan bersikap pada berita siber tentang isu Covid-19 di media siber Kompas.com, kasus covid terburuk di Indonesia di bulan Juli. Penelitian ini menggunakan teori jurnalisme digital, yang membuat media dapat digunakan menjadi sebuah sumber informasi yang bentuknya bisa berupa audio dan visual.  Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif, peneliti mengambil 100 sampel dari populasi Mahasiswa Fikom UNTAR. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada Mahasiswa FIKOM UNTAR angkatan 2018 – 2020. Penelitian ini mendapatkan hasil pengaruh akurasi informasi terhadap tingkat kepercayaan 50,5 persen.  Dan hasil uji T diketahui bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa adanya pengaruh antara variabel x dan y.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH ORGANIK MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN ECO ENZYME DI KOTA YOGYAKARTA Doddy Salman
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 8 No. 3 (2025): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v8i3.36325

Abstract

Permasalahan sampah menjadi isu serius di berbagai kota besar di Indonesia, termasuk Kota Yogyakarta. Dalam beberapa tahun terakhir, persoalan ini belum terselesaikan secara menyeluruh, seiring dengan terus meningkatnya volume timbulan sampah, khususnya jenis organik, yang menimbulkan tantangan besar bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta (2024), rata-rata produksi sampah harian mencapai sekitar 600 ton, dengan 60 persen di antaranya merupakan sampah organik. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah memperburuk kondisi tersebut, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih inovatif, aplikatif, dan berkelanjutan. Berangkat dari kondisi itu, program pengabdian kepada masyarakat ini dirancang untuk memberikan pelatihan pembuatan eco enzyme kepada warga RW 11, Kelurahan Bausasran, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, sebagai langkah konkret dalam mengelola sampah organik sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan. Kegiatan ini memiliki kekhasan dibandingkan program sejenis karena dilaksanakan di Kota Yogyakarta, yang dikenal sebagai destinasi wisata nasional namun tengah menghadapi persoalan pengelolaan sampah. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan pelatihan partisipatif melalui empat tahap utama: sosialisasi, pengenalan teori, praktik pembuatan eco enzyme, serta diskusi dan evaluasi. Keempat tahapan tersebut saling melengkapi, membangun kesadaran, memperkuat pemahaman, melatih keterampilan, serta memastikan keberlanjutan penerapan. Hasil kegiatan menunjukkan perubahan persepsi peserta bahwa sampah organik bukan lagi masalah, melainkan sumber daya yang bermanfaat bagi lingkungan. Antusiasme, kerja sama kelompok, dan komitmen peserta untuk menularkan pengetahuan ini mencerminkan potensi besar replikasi program di wilayah lain.
Optimalisasi Strategi Public Relations dalam Meningkatkan Citra Night Club Pink Panther di Jakarta Grace Ketty Wilandar; Doddy Salman
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37609

Abstract

This study examines the digital public relations strategy implemented by Pink Panther PIK 2 on Instagram to shape its brand image among visitors and potential audiences. The research focuses on visual content, caption strategies, posting consistency, engagement patterns, and content differentiation as essential elements of online communication. Using a qualitative descriptive approach, data were collected through in-depth interviews and documentation of Instagram posts, including feed uploads, reels, and user interactions. The findings indicate that Pink Panther positions Instagram as its primary digital platform to enhance brand visibility, highlight differentiation, and manage audience perceptions. Content differentiation emerges as a key strategy, particularly in emphasizing permissive policies such as allowing customers to bring their own bottles, which distinguishes the club from competitors. The study also identifies a significant improvement in content quality, shifting from previously vulgar styled visuals to more curated, aesthetic, and professional content aligned with current digital branding trends. This transformation contributes to a stronger and more positive brand image, portraying Pink Panther as an exclusive, secure, and professionally managed entertainment venue. Overall, the research shows that strategic digital public relations on Instagram effectively supports brand image-building in the nightlife industry. Penelitian ini menganalisis strategi Digital Public Relations yang diterapkan Pink Panther PIK 2 melalui Instagram dalam membangun citra di kalangan pengunjung maupun calon audiens. Fokus penelitian diarahkan pada pemanfaatan konten visual, strategi penulisan caption, konsistensi unggahan, pola interaksi digital, serta diferensiasi konten sebagai elemen utama komunikasi publik yang dijalankan secara daring. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan dokumentasi konten Instagram, mencakup unggahan feed, reels, serta interaksi pengguna. Temuan menunjukkan bahwa Pink Panther menempatkan Instagram sebagai kanal digital utama untuk memperkuat visibilitas merek, menonjolkan diferensiasi, serta mengelola persepsi audiens. Diferensiasi konten menjadi strategi yang paling menonjol, terutama melalui penekanan pada kebijakan yang membedakan Pink Panther dari klub lain, seperti diperbolehkannya pengunjung membawa botol minuman dari luar. Penelitian juga menemukan adanya peningkatan kualitas konten, dari gaya yang sebelumnya lebih vulgar menjadi visual yang lebih terkurasi, estetis, dan profesional sesuai tren branding digital saat ini. Transformasi ini berkontribusi pada pembentukan citra Pink Panther sebagai tempat hiburan yang eksklusif, aman, dan dikelola secara profesional. Secara keseluruhan, strategi Digital Public Relations melalui Instagram terbukti efektif dalam mendukung pembangunan citra di industri hiburan malam.
Tahapan Emosi dan Makna Kehilangan dalam Lirik Lagu “The Apartment We Won’t Share” Kristi Monika; Doddy Salman
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37638

Abstract

The lyrics of The Apartment We Won’t Share convey a sense of loss and depict the emotional stages the character experiences through linguistic symbolism. This study applies Ferdinand de Saussure’s semiotic theory, particularly the concepts of the signifier and signified, and draws on Kübler-Ross's stages of grief. Using a qualitative descriptive method, the lyrics are analyzed as a mass communication medium that conveys emotional experiences symbolically to listeners. The analysis shows that the song represents a complex process of loss, reflecting the stages of denial, anger, bargaining, depression, and acceptance in sequence. Word symbolism, language structure, and repeated motifs in the lyrics play a crucial role in expressing the character’s emotions and psychology. The lyrics function not only as entertainment but also as a medium for communicating universal emotional experiences, providing insight into the interaction among music, psychology, and semiotics. These findings demonstrate that popular music can serve as a tool for understanding and interpreting human emotions, opening avenues for further research on the role of song lyrics in mass communication and psychological meaning-making. Lirik lagu The Apartment We Won’t Share mengandung makna kehilangan dan menampilkan tahapan emosi yang dialami tokoh melalui simbolisme bahasa. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Ferdinand de Saussure, khususnya konsep penanda dan petanda, serta mengacu pada teori tahapan kehilangan yang dikemukakan oleh Kübler-Ross. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan menganalisis lirik lagu sebagai media komunikasi massa yang menyampaikan pengalaman emosional secara simbolik kepada pendengar. Analisis menunjukkan bahwa lagu ini merepresentasikan proses kehilangan yang kompleks, mencerminkan tahapan penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan secara berurutan. Simbolisme kata, struktur bahasa, dan pengulangan motif dalam lirik berperan penting dalam mengekspresikan emosi dan psikologi tokoh. Lirik ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media untuk mengomunikasikan pengalaman emosional universal, sehingga memberikan wawasan tentang interaksi antara musik, psikologi, dan semiotika. Temuan ini memperlihatkan bahwa musik populer dapat menjadi alat untuk memahami dan menafsirkan emosi manusia, serta membuka ruang bagi studi lebih lanjut mengenai peran lirik lagu dalam komunikasi massa dan pemaknaan psikologis.
Resepsi Khalayak terhadap Narasi Pemberitaan Medali ‘Giveaway’ di Metro TV Regina Florentina; Doddy Salman
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.33307

Abstract

Framing is the way the media conveys information to influence the audience's perception and interpretation of an event. This study aims to understand how audiences interpret the term “giveaway” in the news narrative of Gregoria Mariska Tunjung's medal win reported by Metro TV. The theories used include mass communication, the role of the media in influencing public perception through framing, as well as reception theory by Stuart Hall to analyze the audience's position in understanding media messages. The research approach used is qualitative with a case study method. Data were collected through structured interviews with 10 informants who have different backgrounds and are aware of the news of the 'giveaway' medal, as well as documentation from various sources. The data were analyzed using thematic analysis techniques. The results showed that the majority of respondents were in the Dominant-Hegemonic, Negotiated, and Oppositional Positions, where they had various interpretations of the media messages conveyed by Metro TV. This research concludes that audiences are not passive in receiving media messages, but actively interpret them based on ideology, culture, and individual understanding. This research also emphasizes the importance of proper framing in news reporting in order to better respect the context and struggles being reported. Framing merupakan cara media menyampaikan informasi untuk mempengaruhi persepsi dan interpretasi khalayak terhadap suatu peristiwa. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana audiens menginterpretasikan istilah “giveaway” dalam narasi berita kemenangan medali Gregoria Mariska Tunjung yang dilaporkan oleh Metro TV. Teori yang digunakan meliputi komunikasi massa, peran media dalam mempengaruhi persepsi publik melalui framing, serta teori resepsi oleh Stuart Hall untuk menganalisis posisi audiens dalam memahami pesan media. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dengan 10 informan yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda dan mengetahui pemberitaan medali ‘giveaway’ tersebut, serta dokumentasi dari berbagai sumber. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berada pada Posisi Dominant-Hegemonic, Negotiated, dan Oposisional, di mana mereka infroman memiliki pemaknaan beragam terhadap pesan media yang disampaikan Metro TV. Penelitian ini menyimpulkan bahwa audiens tidak pasif dalam menerima pesan media, melainkan aktif menginterpretasi berdasarkan ideologi, budaya, dan pemahaman individu. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya framing yang tepat dalam pemberitaan agar lebih menghormati konteks dan perjuangan yang dilaporkan.
Krisis Kepercayaan pada Fenomena Kabur Aja Dulu Studi Resepsi Gen Z dalam Perspektif Komunikasi Krisis Joe Franco; Doddy Salman
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36299

Abstract

The “Kabur Aja Dulu” phenomenon reflects a growing trust crisis among Indonesian Gen Z toward the government, driven by social, economic, and political conditions that they perceive as failing to meet their expectations. This study aims to analyze Gen Z’s reception of the phenomenon and how they interpret it as a form of trust crisis using a communication perspective. Two theoretical frameworks are applied: Coombs’ Situational Crisis Communication Theory (SCCT) to examine attribution of government responsibility, and Stuart Hall’s Encoding/Decoding model to identify Gen Z’s reception positions. This research employs a descriptive, qualitative method through in-depth interviews with five Gen Z participants and one expert to validate the data. The findings indicate that Gen Z predominantly occupies dominant and negotiated positions, reflecting general acceptance of the phenomenon as an expression of dissatisfaction toward the government. Participants attribute significant responsibility to the government, reinforced by negative reputation, corruption cases, and defensive crisis communication. Many also view migration as a rational response to limited domestic opportunities and perceived inconsistencies in public policy. This study highlights that restoring public trust requires systemic reforms, transparency, and a more empathetic, consistent communication approach from the government that aligns with the expectations of younger generations.     Fenomena “Kabur Aja Dulu” mencerminkan meningkatnya krisis kepercayaan generasi muda terhadap pemerintah, terutama dalam konteks sosial, ekonomi, dan politik yang dianggap tidak memenuhi ekspektasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis resepsi Gen Z terhadap fenomena tersebut serta memahami bagaimana Gen Z mengaitkannya dengan krisis kepercayaan dalam perspektif komunikasi krisis. Dua kerangka teori digunakan, yaitu Situational Crisis Communication Theory (SCCT) Coombs untuk melihat atribusi tanggung jawab pemerintah, dan teori Encoding/Decoding Stuart Hall untuk menelaah posisi resepsi Gen Z terhadap makna fenomena ini. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam dengan lima narasumber Gen Z serta satu narasumber ahli sebagai validasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resepsi Gen Z berada pada posisi dominan dan negosiasi, menandakan penerimaan umum bahwa fenomena ini adalah bentuk ketidakpuasan terhadap pemerintah. Gen Z memberi atribusi tanggung jawab besar kepada pemerintah, diperburuk oleh reputasi negatif, kasus korupsi, dan komunikasi krisis yang dinilai defensif. Narasumber juga memandang migrasi sebagai pilihan rasional akibat keterbatasan peluang dan kualitas kebijakan dalam negeri. Studi ini menegaskan bahwa pemulihan kepercayaan publik mensyaratkan transparansi, perbaikan sistemik, serta komunikasi pemerintah yang lebih empatik, konsisten, dan responsif terhadap kebutuhan generasi muda.
Makna Prasangka sebagai 'Monster' dalam Film Monster (2023) Agdelia Meliana; Doddy Salman
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36457

Abstract

Film is a medium in mass communication that functions to convey messages to audiences through audio-visual forms. This study aims to analyze the meaning of prejudice as a ‘monster’ in the Japanese film Monster (2023) using Roland Barthes’ semiotic analysis and Edwin M. Lemert’s labeling theory. The focus of this research is on visual and narrative signs that indicate social prejudice toward the Other within the context of social relations in Japanese society. The main concepts employed include mass communication, film as a medium of mass communication, prejudice, the concept of monsters in Japanese culture, Roland Barthes semiotics, and labeling theory. This study adopts a qualitative approach with semiotic text analysis to examine denotative, connotative, and mythic meanings presented in the film. The findings show that the ‘monster’ in the film does not refer to a physical being, but rather to a social construct formed through rigid cultural systems and social institutions. Labeling mechanisms, normative pressures, and Japanese cultural values play an important role in transforming difference into stigma. Thus, Monster conveys a social critique of society’s efforts to maintain superficial harmony by excluding individuals who are considered different. The film essentially addresses the failure of social systems to protect individuals. Prejudice and the labeling of "monsters" arise from a rigid society that chooses to exclude the other in order to maintain social harmony.   Film menjadi salah satu media dalam komunikasi massa yang berfungsi menyampaikan pesan kepada audiens melalui bentuk audio-visualnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna prasangka sebagai ‘monster’ dalam film Jepang Monster (2023) dengan menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes dan teori labelling Edwin M. Lemert. Fokus penelitian diarahkan pada tanda-tanda visual dan naratif yang menunjukkan prasangka sosial terhadap liyan (the other) dalam konteks relasi sosial masyarakat Jepang. Konsep-konsep utama yang digunakan meliputi komunikasi massa, film sebagai media komunikasi massa, prasangka, konsep monster dalam budaya Jepang, semiotika Roland Barthes, serta teori labelling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik analisis teks semiotika untuk mengungkap makna denotatif, konotatif, dan mitos yang terkandung dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ‘monster’ dalam film tidak merujuk pada sosok fisik, melainkan pada konstruksi sosial yang terbentuk melalui sistem budaya dan institusi sosial yang kaku. Mekanisme pelabelan, tekanan norma, serta nilai budaya Jepang berperan penting dalam mengubah perbedaan menjadi stigma. Dengan demikian, film Monster menyampaikan kritik sosial terhadap upaya masyarakat mempertahankan harmoni semu dengan cara menyingkirkan individu yang dianggap berbeda. Film sejatinya merujuk pada kegagalan sistem sosial dalam melindungi individu. Prasangka dan pelabelan ‘monster’ muncul dari masyarakat yang kaku, yang memilih untuk menyingkirkan liyan (the other) demi mempertahankan harmoni sosial.