Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Nilai-Nilai Ritual Mappoli’ Au dan Implementasinya bagi Masyarakat Toraja Sumiaty Sumiaty; Oktopianus Oktopianus
Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton Vol 8 No 2 (2022): Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Buton

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.152 KB) | DOI: 10.35326/pencerah.v8i2.1865

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan nilai-nilai ritual Mappoli’ au dan implementasinya bagi masyarakat Toraja. Mappoli’ au adalah ritual yang dilaksanakan oleh orang yang mengalami musibah kebakaran rumah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data pada penelitian ini diperoleh dari informan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi pustaka dan studi lapangan. Studi pustaka dilakukan dengan cara menggunakan reverensi dari buku yang erat kaitannya dengan masalah yang diteliti. Studi lapangan dengan menggunakan 2 metode yaitu observasi dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data, interpretasi data dengan memberikan pendapat atau pandangan teoretis terhadap objek penelitian dengan menggunakan perspektif Teologi, dan penarikan kesimpulan. Adapun hasil penelitian yaitu (1) nilai religius adalah nilai yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, (2) nilai kejujuran adalah nilai yang sangat diutamakan, mengatakan yang sebenar-benarnya, (3) nilai solidaritas keluarga adalah perilaku saling menghargai dalam keluarga dan saling membantu atau meringankan beban sesame, (4) nilai karapasan adalah perilaku menciptakan suasana damai, hidup rukun dengan sesama dan semua orang, dan (5) nilai gotong royong (siangkaran, siendekan) saling membantu atau tolong-menolong mengerjakan suatu pekerjaan. Adapun implementasi tradisi Mappoli’au bagi masyarakat Toraja yaitu sebagai sebuah tradisi pengakuan kesalahan, menghibur keluarga korban dan meminta berkat kepada Tuhan, serta menjadi sebuah momen bagi keluarga yang bertikai atau berselisih paham untuk saling memaafkan.
Mangrompo Tondok Toraja Traditional Rituals Facing Covid-19 In The Tallu Kalo'na Traditional Region Lembang Gasing Mengkendek District Sumiaty Sumiaty; Deltiana Saputri Samara
ELS Journal on Interdisciplinary Studies in Humanities Vol. 5 No. 1 (2022): March
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.782 KB) | DOI: 10.34050/elsjish.v5i1.18897

Abstract

This study aims to (1) determine the series of ritual processions and (2) find out the symbolic meaning contained in theritual Mangrompo Tondok. Mangrompo Tondok is a ritual of worship or a request for protection to Puang Matua. This research is a descriptive qualitative research. Research informants were determined by non-probability sampling. The primary data is done through observation(observation)and interviews with parties related to the research and secondary data is done through library(libraryresearch)by reviewing some of the literature that is closely related to the issues to be discussed. The data that has been collected is then presented in the form of anarrative realism and analyzed qualitatively. The results showed that (1) the procession of theritual Mangrompo Tondok consisted of the rituals of Ma'kapuran Panggan, Mangkaro Bubun, Ma'bugi, and Mangrompo Tondok (2) the meaning of Mangrompo Tondok for the indigenous peoples of the Tallu Kalo'na Lembang Gasing area is hope for Puang Matua to protect the indigenous people of Tallu Kalo'na Lembang Gasing from the threat of the COVID-19 outbreak.
Honorific Sunda Language in Buru Island Azwan Azwan; Riki Bugis; Kaharuddin Kaharuddin; Ibnu Hajar; Sumiaty Sumiaty; Susiati Susiati
ELS Journal on Interdisciplinary Studies in Humanities Vol. 6 No. 1 (2023): March
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/elsjish.v6i1.25965

Abstract

This study tries to describe the honorific usage in Sunda language on Buru Island as it relates to gender. This study is qualitative in nature. A modest level of participant observation, recording, and recording procedures were used to gather the data. The study's findings revealed that among other things, (1) honorifics on the male sex include honorifics for brothers in the form pamegut, honorifics for other brothers in the form aa', and honorifics for younger brothers in the form ujang; honorifics for husbands in the form caroge, bapak, and ayah; honorifics for fathers in law in the form mitoha and bapak; honorifics for young adults in the form jaja (2) Honorifics on the fa male sex include garwa, mama, and ibu for the wife, nyai for girls, teteh and neng for sisters and younger sisters, mitoha, mama, and ibu for the mather in law, bibi for the aunt, ema for the mother, nini for the grandmother, and unyut for the parents of the grandma.