Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Interaksi Simbolik dalam Budaya Ngarot Masyarakat Desa Jambak Kecamatan Ciedung Kabupetan Indramayu Yasin, Moch. Fikri; Priyanto, AT. Sugeng; Setiajid, Setiajid
Unnes Political Science Journal Vol 1 No 1 (2017): January
Publisher : Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budaya ngarot adalah salah satu upacara adat di Desa Jambak yang masih sangat dipercayai dan selalu dilestarikan. Kebudayaan ngarot ini merupakan sarana pewarisan nilai-nilai luhur dan sistem pertanian melalui seni pertunjukkan tradisional. Dengan adanya budaya ngarot ini generasi muda selanjutnya dapat terus melestarikan dan memahami nilai yang terkandung dalam budaya ngarot. Mitos terkait budaya ngarot yaitu pada dasarnya adalah kegiatan hiburan di mana diawali dengan adanya kegiatan para pemuda yang menanami sawah desa secara bergotong royong pada siang hari dan kemudian pada malam hari diadakan sebuah hiburan untuk mengobati rasa lelah di siang hari kegiatan ini diadakan untuk menyambut musim tanam tiba. (2) Interaksi simbolik terjadi selama rangkaian kegiatan upacara adat ngarot meliputi iring-iringan pengantin cilik, persembahan tarian topeng, dan hiburan rakyat. Interaksi simbolik dalam budaya ngarot berupa pertukaran simbol. Benda simbolis tersebut meliputi riasan bunga kepala kasinoman perempuan, perhiasan emas, busana kasinoman perempuan, keris yang dibawa kasinoman laki-laki, bibit padi, bambu, kendi, daun pohon, saweran kepada penari topeng. Saran yang peneliti rekomendasikan adalah (1) Kepada Kepala Desa Jambak, Tokoh Agama/masyarakat, dan sesepuh desa untuk lebih memperhatikan ngarot sehingga ngarot yang dilaksanakan menjadi lebih bermakna dan tata kegiatan serta pelaksanaannya dapat lebih tradisional sesuai ngarot yang terdahulu. (2) Kepada Pemerintah Kabupaten Indramayu diharapkan adanya dukungan baik pendanaan maupun pembinaan serta perhatian lebih agar ngarot dapat terus dilestarikan.
Analisis Kebutuhan Pengembangan Instrumen Penilaian Sikap Program Pendidikan Karakter untuk Siswa Boarding Scholl Berbasis Sis Dorm Nurul Hidayah; Suyahmo Suyahmo; Agustinus Sugeng Priyanto
Jurnal Basicedu Vol 6, No 2 (2022): April Pages 1500- 3199
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v6i2.2552

Abstract

Perkembangan sikap siswa di asrama merupakan hal yang penting bagi sekolah dan orangtua. Untuk mengoptimalkan sikap siswa dibutuhkan solusi yang tepat mengingat masa pandemi memberi efek psikologi siswa. Pembina asrama dan guru sangat berperan penting dalam hal ini. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengembangkan instrumen penilaian sikap siswa yang terdiri penilaian sikap sosial dan sikap spiritual di asrama. Desain SIS Dorm yang diusulkan harapannya memberikan alternatif instrument yang efektif dan efisien. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data melalui angket, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kebutuhan media instrumen 95,5% menjawab pengembangan instrumen berbasis SIS Dorm. (2) Sesuai kebutuhan penilaian sikap siswa, 95,4% menjawab bahwa SIS Dorm penggunannya untuk pembina asrama, guru (walikelas dan konselor), siswa, dan orangtua. (3) Fungsi SIS Dorm 81,8% menjawab akan mendukung semua hal yang dibutuhkan oleh asrama dan sekolah terkait penilaian sikap siswa. Adapun pengembangan instrument penilaian sikap siswa terintegrasi dengan program pendidikan karakter sekolah
Analisis Kebutuhan Pengembangan Instrumen Penilaian Sikap Program Pendidikan Karakter untuk Siswa Boarding Scholl Berbasis Sis Dorm Nurul Hidayah; Suyahmo Suyahmo; Agustinus Sugeng Priyanto
Jurnal Basicedu Vol 6, No 2 (2022): April Pages 1500- 3199
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v6i2.2552

Abstract

Perkembangan sikap siswa di asrama merupakan hal yang penting bagi sekolah dan orangtua. Untuk mengoptimalkan sikap siswa dibutuhkan solusi yang tepat mengingat masa pandemi memberi efek psikologi siswa. Pembina asrama dan guru sangat berperan penting dalam hal ini. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengembangkan instrumen penilaian sikap siswa yang terdiri penilaian sikap sosial dan sikap spiritual di asrama. Desain SIS Dorm yang diusulkan harapannya memberikan alternatif instrument yang efektif dan efisien. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data melalui angket, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kebutuhan media instrumen 95,5% menjawab pengembangan instrumen berbasis SIS Dorm. (2) Sesuai kebutuhan penilaian sikap siswa, 95,4% menjawab bahwa SIS Dorm penggunannya untuk pembina asrama, guru (walikelas dan konselor), siswa, dan orangtua. (3) Fungsi SIS Dorm 81,8% menjawab akan mendukung semua hal yang dibutuhkan oleh asrama dan sekolah terkait penilaian sikap siswa. Adapun pengembangan instrument penilaian sikap siswa terintegrasi dengan program pendidikan karakter sekolah
Penguatan Profil Pelajar Pancasila Melalui Pembelajaran Diferensiasi Pada Mata Pelajaran IPS di Sekolah Penggerak Fitria Martanti; Joko Widodo; Rusdarti Rusdarti; Agustinus Sugeng Priyanto
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Profil pelajar pancasila merupakan karakter siswa yang harus dibentuk dan diwujudkan dalam implementasi kurikulum merdeka. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Tegowanu Grobogan yang merupakan salah satu sekolah penggerak yang telah mengimplementasikan kurikulum merdeka selama satu tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam pembelajaran IPS, hambatan dan faktor pendorong maupun penghambat dalam pengimplementasian pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran IPS di Sekolah penggerak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data observasi, dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dalam pembelajaran IPS dilaksanakan melalui diferensiasi proses, diferensiasi konten dan diferensiasi produk yang sudah sesuai dengan prinsip pembelajaran diferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi dalam mata pelajaran IPS masih belum maksimal dilakukan, hal ini karena guru masih kesulitan dalam mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi. Guru masih kesulitan dalam membuat Modul Ajar yang sesuai dengan pembelajaran yang berdiferensiasi dan mengelola kelas yang sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi. Faktor pendorong implementasi pembelajaran berdiferensiasi yaitu kepemimpinan kepala sekolah yang selalu memberikan motivasi kepada guru dan menyelenggarakan berbagai pendampingan bagi guru melalui berbagai kegiatan seminar, in house training maupun kegiatan workshop. Adapun faktor penghambat pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi adalah pada kesiapan guru dalam merencanakan pembelaajaran berdiferensiasi dan kemampuan guru yang belum maksimal dalam melakukan asesmen dignostik dan pada pemahaman tentang dimensi profil pelajar Pancasila yang akan dikembangkan dalam pembelajaran.
Interpretation of Javanese Ethics in Handling Deviant Behavior of Adolescents: An Interpretative Phenomenological Analysis Suprihatiningsih Suprihatiningsih; Tri Marhaeni Pudji Astuti; Agustinus Sugeng Priyanto; Sunarto Sunarto
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 3 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i3.83968

Abstract

This study aims to understand the application of Javanese ethical values in dealing with deviant behavior of adolescents in Bandengan Fishing Village, Kendal Regency. Using Interpretive Phenomenological Analysis (IPA), this study involved five adolescents with a history of deviant behavior and community leaders active in Javanese ethics-based intervention programs. Data was collected through in-depth interviews (January–April 2024) and Focus Group Discussions (FGDs) (May–June 2024) that explored perceptions, experiences, and strategies for overcoming social stigma. The study participants, consisting of adolescents with a history of deviant behavior and community leaders who are considered to have insight into Javanese ethics, offered diverse perspectives on concepts such as gotong royong (cooperation), tepo seliro (mutual respect), and rukun (harmony) in the context of behavior formation. The analysis results found main themes, including the importance of social acceptance in building adolescents' sense of self-esteem, the role of community support in building positive behavior, and the influence of instilling local values in strengthening adolescent mental resilience. These findings suggest that Javanese ethical values not only serve as a method of handling behavior but also as a tool to reduce stigma and improve social integration for adolescents who engage in deviant behavior. In the long term, these results can be implemented in social practice to develop more effective and contextually relevant models of culture-based interventions. This research makes an important contribution to the social intervention approach by offering insights into the potential of local ethics in supporting the formation of adolescent characters in a community-based environment.
Aksesibilitas dan Rasa Keadilan Siswa Berkebutuhan Khusus di SMP Negeri 15 Semarang Aqila Jihan Pradina Paramitha; Yan Amal Abdilah; Agustinus Sugeng Priyanto
Simpati Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Jurnal Penelitian Pendidikan dan Bahasa
Publisher : CV. Alim's Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/simpati.v4i3.2111

Abstract

Inclusive education seeks to ensure that all learners, including students with special needs, have equal access to quality educational services. Its successful implementation depends on accessibility and educational fairness, which enable students to participate meaningfully in the learning process. This study examined the implementation of these two aspects at SMP Negeri 15 Semarang using a qualitative descriptive approach. Data were gathered through observations, interviews, and documentation involving the principal, teachers, and students with special needs, and were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that accessibility has been supported through inclusive classroom environments, appropriate seating arrangements, adaptive instructional strategies, simplified learning materials, individualized learning assistance, and emotional support. However, several challenges remain, including unequal classroom facilities, damaged learning equipment, and classroom conditions that have not fully supported the learning process. Educational fairness was reflected in equal learning opportunities, instructional adjustments based on students' needs, social support from teachers and peers, and the active participation of students with special needs in school activities. Nevertheless, several obstacles persisted, including excessive peer teasing, limited self-confidence among some students, and insufficient opportunities for individualized assistance.
Da’wah bil hikmah in Macapat Serat Wulangreh Songs: Analysis of da’wah messages in javanese cultural expressions Suprihatiningsih Suprihatiningsih; Tri Marhaeni Pudji Astuti; Agustinus Sugeng Priyanto; Sunarto
Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 46 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v46.1.28782

Abstract

Purpose – The purpose of this study is  to explore Da’wah bil hikmah in the macapat poems of Serat Wulangreh by Pakubuwana IV, focusing on four pupuh, namely Dhandhanggula, Gambuh, Asmarandana, and Kinanthi. This study examines how the message of Da’wah is manifested in the form of Javanese cultural expressions that are rich in moral, ethical, and spiritual values. Method - This study uses a descriptive qualitative approach with content analysis. The research population consists of all verses in Serat Wulangreh, totaling 13 pupuh. The research sample is limited to four pupuh that are the focus of this study. The analysis is conducted textually and contextually to interpret the messages of da'wah contained therein. Result – Research shows that Serat Wulangreh contains messages of preaching with wisdom. Pupuh Dhandhanggula advises that the knowledge received should always be based on sharia principles and taught with wisdom. Pupuh Gambuh emphasizes the importance of honesty and the need to choose the right role models. Asmarandana emphasizes the importance of self-control and humility, while Kinanthi conveys a message about living humbly and choosing good company.  Implication – This study indicates the importance of the Da’wah bil hikmah approach in conveying the message of Da’wah through local cultural media. This approach allows the message of Da’wah to be conveyed politely, relevantly, and accepted by a community that upholds symbolic expressions and Javanese traditional values Originality/Value - This study provides a new interpretation of Serat Wulangreh from the perspective of Da’wah bil hikmah, which has rarely been specifically examined in Da’wah studies based on classical literary texts. *** Purpose – Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi Da’wah bil hikmah dalam tembang macapat Serat Wulangreh karya Pakubuwana IV, dengan fokus pada empat pupuh, yaitu Dhandhanggula, Gambuh,  Asmarandana dan Kinanthi. Penelitian ini menelaah bagaimana pesan Da’wah diwujudkan dalam bentuk ekspresi budaya Jawa yang sarat nilai moral, etika, dan spiritual. Method - Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis isi (content analysis). Populasi penelitian adalah seluruh bait dalam Serat Wulangreh yang berjumlah 13 pupuh. Sampel penelitian dibatasi empat pupuh yang menjadi fokus. Analisis dilakukan secara tekstual dan kontekstual untuk menafsirkan pesan Da’wah yang terkandung di dalamnya. Hasil – Penelitian menunjukkan bahwa Serat Wulangreh memuat pesan-pesan Da’wah bil hikmah. Pupuh Dhandhanggula memberikan anjuran  agar ilmu yang diterima selalu berlandaskan pada dalil syariat serta diajarkan dengan kebijaksanaan. Pupuh Gambuh menegaskan keutamaan kejujuran dan perlunya memilih teladan yang benar. Asmarandana menekankan pentingnya pengendalian diri dan kerendahan hati, Kinanthi  memberikan pesan tentang hidup rendah hati dan  memilih pergaulan yang baik.  Implication – Penelitian ini mengindikasikan  pentingnya pendekatan Da’wah bil hikmah dalam menyampaikan pesan Da’wah melalui media budaya lokal. Pendekatan ini memungkinkan pesan Da’wah tersampaikan secara santun, relevan, dan diterima oleh masyarakat yang menjunjung tinggi ekspresi simbolik dan nilai-nilai adat Jawa. Originality/Value - Penelitian ini memberikan pembacaan baru terhadap Serat Wulangreh dari perspektif Da’wah bil hikmah, yang masih jarang dikaji secara khusus dalam studi Da’wah berbasis teks sastra klasik.
Nilai-nilai Kearifan Lokal dalam Kesenian Tari Bangilun di Kabupaten Temanggung Elana Rachmawati; Tutik Wijayanti; Sunarto; Agustinus Sugeng Priyanto
Unnes Civic Education Journal Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ucej.v11i1.11246

Abstract

Globalization has had a considerable impact on the shift of culture in Indonesia. The existence of cultural changes in society has made the arts shift towards commercialism. However, this does not mean that all traditional arts have disappeared. Bangilun dance is a traditional art that is able to adapt until now. The objectives of this research are as follows: 1) How is the history of the emergence of Bangilun Dance?; 2) What are the local wisdom values behind Bangilun Dance?; 3) How is the existence of Bangilun Dance performances in the community? This research was conducted using a qualitative method. The location of this research is Kledung Village, Kledung District, Temanggung Regency. The results of the research in this thesis show that Bangilun Dance is a dance that has long appeared and was lost and then revived in Kledung Village and continues to experience renewal. The values of local wisdom contained in Bangilun Dance, among others: religious value, historical value, nasinalism value, mutual cooperation value, independent value, moral value, and aesthetic value. The existence of Bangilun Dance is still well maintained with the support of the community and government.
Perubahan Sosial pada Tradisi Gotong Royong Masyarakat Petani di Desa Sigentong Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes ziadatulkhoeriyah; Agustinus Sugeng Priyanto
Unnes Civic Education Journal Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ucej.v10i1.20496

Abstract

Gotong-royong merupakan tradisi yang telah lama menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di pedesaan. Di Desa Sigentong, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, tradisi ini menjadi simbol solidaritas dan kekeluargaan dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di kalangan petani. Namun, modernisasi dan perkembangan teknologi pertanian telah membawa perubahan sosial yang signifikan terhadap tradisi gotong-royong ini.  Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan sosial yang terjadi pada tradisi gotongroyong di Desa Sigentong, serta menganalisis dampaknya, baik dari segi sosial, budaya, maupun ekonomi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas kepala desa, tokoh masyarakat, dan petani setempat yang memiliki pengalaman langsung dengan tradisi gotong-royong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan sosial pada tradisi gotong-royong di Desa Sigentong disebabkan oleh beberapa faktor, seperti modernisasi teknologi pertanian, pergeseran nilai-nilai budaya, dan perubahan kebutuhan masyarakat. Tradisi yang sebelumnya mengandalkan kerja sama kolektif secara manual dalam aktivitas pertanian, seperti menanam dan memanen padi, kini mulai tergantikan oleh penggunaan mesin dan tenaga kerja individual.
COMMUNITY PERCEPTIONS OF THE FULFILLMENT OF NUTRITIONAL NEEDS THROUGH THE CONSUMPTION OF OYEK STAPLE FOOD IN CEMORO VILLAGE, TEMANGGUNG REGENCY. Indra Resya Afani; Agustinus Sugeng Priyanto; Puji Lestari; Hafiz Rafi Uddin
Unnes Civic Education Journal Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ucej.v11i2.58333

Abstract

Fulfilling nutritional needs is a fundamental human right essential for achieving a healthy and prosperous life. In Cemoro Village, Temanggung Regency, some residents continue to consume Oyek, a traditional corn-based staple food, as part of their daily diet despite the increasing preference for rice due to its convenience. This study aims to analyze community perceptions of fulfilling food and nutrition rights through Oyek consumption and identify the social, cultural, and dietary factors influencing these perceptions. A qualitative descriptive approach was employed using interviews, observations, and documentation involving Oyek consumers, village officials, Posyandu cadres, and nutritionists. Data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model. The findings indicate that Oyek contributes to fulfilling nutritional needs and reflects local wisdom while supporting household food security. Community perceptions are shaped by sociological, anthropological, geographical, nutritional, and human rights perspectives, as well as local culture and generational differences. Based on Social Cognitive Theory, Oyek consumption results from interactions among personal, environmental, and behavioral factors. Older generations primarily maintain Oyek as a cultural heritage and energy source, whereas younger generations tend to consume it for health and dietary reasons. Overall, Oyek remains a valuable local food that supports nutrition, food security, and cultural preservation in rural communities.