Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : MEDIAN

Persepsi Pengunjung Tentang Objek Wisata Di Taman Wisata Alam Sorong Provinsi Papua Barat Maya Pattiwael; Yetty Siska Serkadifat
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1091.907 KB) | DOI: 10.33506/md.v12i1.869

Abstract

AbstrakSuatu kawasan yang dijadikan sebagai tempat wisata tentu harus memiliki daya tarik tersendiri yang unik dan berbeda dengan kawasan wisata lainnya. TWA Sorong merupakan salah satu kawasan wisata yang masih terus dikembangkan untuk menarik minat wisatawan atau pengunjung untuk datang ke tempat tersebut. Peningkatan jumlah pengunjung di suatu lokasi juga tidak terlepas dari kepuasan pengunjung itu sendiri terhadap daerah yang dikunjungi. Pemilihan responden sebagai sampel penelitian dilakukan dengan metode Accidental Sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 67 orang. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara studi kepustakaan, observasi langsung di lapangan, serta pembagian kuesioner kepada pengunjung objek wisata di Taman Wisata Alam Sorong. Persepsi pengunjung tentang objek wisata di Taman Wisata Alam Sorong memberikan hasil yang positif untuk 4 indikator yaitu daya tarik (skor rata-rata 285,2 dengan kategori sangat baik), aksesibilitas (Skor rata-rata 260, kategori baik), fasilitas (Skor rata-rata 264,9 kategori baik) dan layanan tambahan (Skor rata-rata 241,5 dengan kategori baik) . Beberapa harapan yang disampaikan oleh responden terkait pengembangan lokasi tersebut ke depan yaitu berupa perbaikan fasilitas yang ada seperti penambahan tempat sampah dan adanya kebersihan toilet.
Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Oleh Masyarakat di Kampung Malagufuk Distrik Makbon Kabupaten Sorong Maya Pattiwael; Yetty Serkadifat; Ema Hindom
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 13 No. 2 (2021): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (830.629 KB) | DOI: 10.33506/md.v13i2.1321

Abstract

AbstrakTingkat pemanfaatan Hasil Hutan bukan Kayu (HHBK) oleh masyarakat yang cukup tinggi, perlu diimbangi dengan pengelolaan hutan yang lestari untuk pemanfaatan yang berkelanjutan. Hal tersebut tentu akan terwujud dengan adanya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya hutan yang ada. Mayarakat kampung Malagufuk memanfaatkan HHBK untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Data mengenai pemanfaatan HHBK yang dilakukan perlu diketahui secara pasti agar upaya pembudidayaan dan pemanfaatannya dapat dilakukan lebih terencana dan terfokus sehingga pengembangan HHBK di kampung tersebut dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis hasil hutan bukan kayu yang dimanfaatkan dan cara pemanfaatannya oleh masyarakat Kampung Malagufuk Distrik Makbon Kabupaten Sorong. Responden dalam penelitian ini sebanyak 15 Kepala Keluarga dengan pengumpulan data menggunakan metode wawancara, studi pustaka dan pengamatan langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis-jenis HHBK yang dimanfaatkan masyarakat Kampung Malagufuk berupa sagu (Metroxylon sagu), rotan (Calamus sp.), bambu (Bambusa sp.), daun tikar (Pandanus sp.), daun gatal (Laportea decumana), Aren (Arenga pinnata), kulit lawang (Cinnamomum culilaban) ; sayur-sayuran seperti melinjo (Gnetum gnemon) dan buah-buahan seperti cempedak (Artocarpus integer), jambu (Syzygium malacensis), langsat (Lansium domesticum), matoa (Pometia pinnata), kemiri (Aleurites moluccana), buah merah (Pandanus conoideus), sirih (Piper betie), dan pinang (Arreca catechu). Masyarakat memanfaatkan HHBK untuk memenuhi kebutuhan hidupnya karena selain dikonsumsi, mereka juga terkadang menjual hasil olahan dari HHBK tersebut. Selain itu, pengambilan HHBK oleh masyarakat dilakukan dengan tetap memperhatikan kelestarian hutan. Jenis-jenis HHBK yang diambil sering diimbangi dengan penanaman kembali agar keberadaannya tidak habis.
Pemanfaatan Tumbuhan Sarang Semut (Myrmecodia pendens) Sebagai Obat Tradisional Oleh Masyarakat Kampung Wailen Distrik Salawati Tengah Kabupaten Raja Ampat Maya Pattiwael; Lanny Wattimena; Yulistiani Klagilit
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 13 No. 3 (2021): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.639 KB) | DOI: 10.33506/md.v13i3.1603

Abstract

Salah satu tumbuhan berkhasiat yang digunakan sebagai obat tradisional adalah Sarang Semut (Myrmecodia pendens) dari suku Rubiaceae. Kampung Wailen Distrik Salawati Tengah Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat merupakan lokasi ditemukannya tumbuhan Sarang Semut (Myrmecodia pendens) yang hidup sebagai epifit pada beberapa pohon seperti kayu putih, cemara gunung, mangrove, ketapang, jambu dan rambutan. Masyarakat telah lama mengenal tumbuhan ini dan digunakan untuk mengobati berbagai penyakit secara turun temurun. Agar dapat diketahui banyak orang maka informasi tentang pemanfaatan tumbuhan sarang semut (Myrmecodia pendens) sebagai obat tradisional perlu disebarluaskan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis penyakit yang dapat disembuhkan dan cara pemanfaatan tumbuhan sarang semut (Myrmecodia pendens) sebagai obat tradisional. Jumlah responden yang dipilih sebanyak 20 kepala keluarga menggunakan metode purposive sampling dengan teknik wawancara, pengamatan langsung di lapangan dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa bagian tumbuhan Sarang Semut (Myrmecodia pendens) yang digunakan sebagai obat tradisional adalah bagian daging dari umbi yakni ujung batangnya yang menggelembung (hypocotyl). Beberapa penyakit yang dapat disembuhkan antara lain rematik, sakit kepala dan pegal linu, sedangkan cara penggunaannya yaitu secara oral seperti direbus kemudian air rebusannya diminum.
Perilaku Bertelur Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) Di Pantai Jeen Womom Distrik Abun Kabupaten Tambrauw Maya Pattiwael
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.041 KB)

Abstract

Di Papua Barat, lokasi peneluran Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) ini dapat ditemukan di Distrik Abun Kabupaten Tambrauw tepatnya di Pantai Jeen Womom. Pengamatan aktivitas penyu pada saat bertelur harus dilakukan dengan hati-hati, karena jika ada gangguan terhadap aktivitas bertelurnya maka penyu kembali ke laut tanpa bertelur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku bertelur penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di pantai Jeen Womom Distrik Abun Kabupaten Tambrauw. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) pertama terlihat pada saat pengamatan dipilih sebagai sampel. Survei pendahuluan dan observasi langsung digunakan untuk mengumpulkan data tentang perilaku bertelur Penyu Belimbing disertai dengan dokumentasi kegiatan. Hasil penelitian menunjukan ada 6 fase yang dilewati oleh Penyu Belimbing dalam proses bertelur, yaitu fase mendarat (keluar dari laut) dan mencari tempat bertelur, menemukan dan menggali sarang, bertelur, menutup lubang telur atau sarang, membuat kamuflase, dan kembali ke laut. Total waktu bagi Penyu Belimbing untuk melakukan peneluran dari fase pertama sampai akhir adalah 129 menit atau sekitar 2 jam. Diketahui juga bahwa Penyu Belimbing mengeluarkan air mata pada saat bertelur dan tidak makan selama melakukan aktivitas peneluran, yaitu sejak keluar dari laut sampai kembali lagi ke laut.
Pola Sebaran Jenis Burung Paruh Bengkok Di Hutan Malagufuk Distrik Makbon Kabupaten Sorong Maya Pattiwael; Charliany Hetharia
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 15 No. 1 (2023): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v15i1.2267

Abstract

The distribution of parrots in Indonesia, one of which can be found in West Papua, precisely in the Malagufuk forest area, Sorong Regency. These types are also usually used as objects of observation by tourists. To complete the data on parrots in the Malagufuk forest, it is necessary to conduct research, both on their species and their distribution patterns, so that later this data can become a reference in efforts to protect and preserve these species, considering that this bird species is still included in the bird list vulnerable to extinction. The Point of Abundance Index (IPA) or point count is used as a method in this study, using 4 path observations with a length of 1000 meters each, distance between count points of 100 m and a circle diameter of 50 meters. Observation time is 20 minutes for each circle or counting point, which is carried out at 06.00 to 09.00 WIB and 15.00 to 17.00 WIB. The Morisita index (Id) is used to analyze the pattern of distribution of parrot species. There were 5 types of parrots from 3 families found at the study site, namely the rainbow lorikeet (Trichoglossus haemadotus) and parrot parrot (Eclectus roratus) from the Psittacidae family, the yellow-crested cockatoo (Cacatua galerita) and the king's cockatoo (Probosciger atterimus) from the family Cacatuidae and the Ambon king parrot (Alisterus amboinensis) from the Psitaculidae family. The results of the distribution pattern analysis using the Morisita Index (Id) means that there are 4 types of parrots whose distribution pattern is grouped while 1 other species cannot be analyzed because it only covers 1 individual.