Arif Sulistiyono
Program Studi Animasi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Penciptaan Serial “AKURA-POPO” Episode “SAMPAH” Dengan Teknik Animasi Komputer 2D Abidin Syamsul Arifin; Arif Sulistiyono; Mahendradewa Suminto
Journal of Animation and Games Studies Vol 3, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jags.v3i1.1717

Abstract

 Trash is actually not a new problem on the planet. However, the handling is still less effective in various places around the world. But at least how humans try to reduce the minimum amount of waste. It is the human hand that actually creates the waste itself.The serial animation "Akura-Popo Trash episode" wears the human hand-character design as a picture of the amount of chaos perpetrated by them. 2D computer animation techniques are applied to add artistic value and provide media variations of messengers to the general public Keywords: trash, 2D animation, environmentAbstrak Sampah sebenarnya bukan masalah baru di planet ini. Akan tetapi penanganannya masih kurang efektif di berbagai tempat di seluruh penjuru dunia. Namun setidaknya bagaimana manusia berusaha mengurangi seminimal mungkin jumlah sampah. Ulah tangan manusialah yang sesungguhnya menciptakan sampah itu sendiri.Animasi serial “Akura-Popo episode Sampah” memakai desain karakter tangan manusia sebagai gambaran banyaknya kekacauan yang dilakukan oleh mereka. Teknik animasi komputer 2D diterapkan untuk menambahkan nilai seni dan memberikan variasi media penyampai pesan kepada khalayak umum Kata kunci: sampah, animasi 2D, lingkungan 
Pemaknaan Konsep Suara Cross Over Diegetic Dan Lack Of Fidelity Berdasarkan Teori Semiotika John Fiske Pada Film Apocalypse Now (1979) Ulfa Huwaida Nursyifa; Arif Sulistiyono; Raden Roro Ari Prasetyowati
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 4, No 2 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.189 KB) | DOI: 10.24821/sense.v4i2.6795

Abstract

ABSTRAK Keunggulan tata suara Film Apocalypse Now ada pada kemajuan teknologi 5.1 (stereo surround) pertama kali, kemegahan suara dari suara sintetis, konsep suara yang variatif. Dengan demikian, mendukung jalannya penelitian khususnya pada konsep suara cross over diegetic dan lack of fidelity. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang menjabarkan analisis ke dalam data berupa gambar, tabel, dan kata-kata. Selanjutnya mengobservasi data pada film, menganalisis unsur suara yang membangun konsep tersebut dengan memerhatikan ruang diegetic dan non diegetic, kemudian identifikasi makna berdasarkan teori semiotika John Fiske. Hasil kajian ditemukan turunan  konsep baru dari konsep cross over diegetic yakni suara yang berangkap peran. Pemaknaan konsep suara cross over diegetic dan lack of fidelity memaknai subjektivitas karakter dari level representasi, pada level ideologi konsep ini cenderung menguak sisi Amerika, meliputi karakter, kemiliteran, kelas sosial.  Kata Kunci : Film "Apocalypse Now", Cross Over Diegetic, Lack of Fidelity, Semiotika John Fiske
Kisah Hidup Korban Bullying Dalam Dokumenter Performatif "Repost" Vera Isnaini; Arif Sulistiyono; Gregorius Arya Dhipayana
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.475 KB) | DOI: 10.24821/sense.v2i1.5071

Abstract

ABSTRACTNegative side of bullying is the main theme of“REPOST” documentary. The making of “REPOST” aimed to deliver a story and perception of bullying by Vera (Nia’s sister) through the bullying case of Vera’s sister, Nia. This film appears under the performative mode. According to Bill Nichols, performative mode contains three aspect, subjective, related to memory and experience, and expressive.The performative mode of this film formed by putting Vera as the narrator owning a personal point of view to describe the phenomena of bullying through her sister case. Information and story are delivered by reconstruction, symbol, and expressively using cinematography elements. Performative documentary film brings personal and emotional intensities from the subject to deliver the case inside the film. The performative mode in “REPOST” documentary can deliver the emotion of Vera and her contradiction of her sister bullying case. Keyword: documentary, performative, bullying, reconstruction ABSTRAKFilm dokumenter performatif “REPOST” mengangkat tema besar dampak negatif bullying. Penciptaan karya film dokumenter “REPOST” digunakan untuk menyampaikan cerita dan persepsi Vera (adik) terhadap kisah hidup Nia, kakak dari Vera, sebagai korban bullying. Film dokumenter ini dikemas dengan bentuk performatif. Bentuk/mode performatif menurut Bill Nichols memiliki ciri-ciri subjektif, bersifat memory and experience, dan ekspresif.Bentuk performatif pada film ini dibangun dengan menempatkan Vera (adik) sebagai narator yang memiliki sudut pandang personal dalam memandang fenomena bullying melalui kasus kakaknya. Penyampaian informasi dan cerita dilakukan melalui rekonstruksi simbol dan secara ekspresif menggunakan unsur-unsur sinematik dalam mendukung penyampaian informasi.Dokumenter performatif berangkat dengan tujuan memberikan intensitas personal dan emosional seorang subjek dalam menyampaikan kasus di dalamnya. Penggunaan bentuk performatif  pada film dokumenter “REPOST” dapat menyampaikan emosi dari Vera serta menyampaikan ketidakberpihakan dia terhadap kasus bullying kakaknya. Kata kunci: dokumenter, performatif, bullying, rekonstruksi
Analisis Efektivitas Montage Sequence untuk Menunjukkan Pemadatan Waktu pada Film “Hot Fuzz” Raden Harsono Budiprasetya; Lucia Ratnaningdyah; Arif Sulistiyono
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 1, No 1 (2018): SENSE
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.386 KB) | DOI: 10.24821/sense.v1i1.3485

Abstract

Sebuah film umumnya menggunakan teknik editing yang dinamakan ellipsis (pemadatan waktu), ellipsis adalah teknik yang menghilangkan beberapa porsi dari suatu adegan yang dianggap tidak mempengaruhi naratif secara signifikan untuk menghemat waktu. Terdapat salah satu cara untuk membentuk ellipsis yang dinamakan montage sequence. Montage sequence adalah serangkaian shot yang menunjukkan suatu rangkaian proses dari sebuah adegan yang terbilang lama menjadi lebih pendek.Film “Hot Fuzz” adalah salah satu film yang cukup banyak menggunakan montage sequence dalam membentuk ellipsis. Umumnya penggunaan montage sequence dalam satu film tidaklah banyak dan dalam rentang yang cukup berjauhan. Namun pada film “Hot Fuzz” karya sutradara Edgar Wright ini justru terlihat dominan menggunakan banyak montage sequence dalam rentang yang berdekatan. Karena alasan tersebut film ini dipilih sebagai objek penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang akan mengidentifikasi dan menganalisis efektivitas semua montage sequence yang ada dalam film tersebut.Penelitian ini melakukan analisis terhadap keefektifan montage sequence dengan cara mengamati esensi adegan dan unsur pembentuk montage sequence. Berdasarkan analisa yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa montage sequence yang muncul dalam film “Hot Fuzz” dapat secara efektif memadatkan waktu. Durasinya cepat dan dapat mempertahankan inti esensi dari adegan yang dipadatkan. Montage sequence pun turut membantu dalam hal seperti pendukung kesan komedi dan pembentuk suasana.
PERAN DIEGETIC SOUND DALAM MEMBANGUN SUSPENSE PADA FILM “A QUIET PLACE” Panji Kukuh Priambodho; Arif Sulistiyono; Lilik Kustanto
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.358 KB) | DOI: 10.24821/sense.v2i2.5078

Abstract

ABSTRAK            Film A Quiet Place di sutradarai oleh John Krasinki. Film ini berdurasikan 90 menit dan berdiri di bawah naungan Paramount Picture. Adapun prestasi dari film A Quite Place yakni pada Hollywood Film Award 2018 sebagai pemenang Sound of the Year, dan berbagai prestasi lainnya di bidang suara. Skripsi Pengkajian Seni yang berjudul “Peran Diegetic Sound Dalam Membangun Suspense Pada Film A Quiet Place” ini bertujuan untuk melihat bagaimana diegetic sound berperan dalam pembangunan suspense pada film A Quiet Place.     Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian dilakukan dengan mengobservasi data pada film, menganalisis, memilah dan memperhatikan bagaimana suspense terjadi, lalu setiap titik suspense diamati setiap komponen pembentuk diegetic sound, dan selanjutnya menggabungkan data-data yang berkaitan sehingga didapatkan kesimpulan bagaimana suspense dapat dibangun dengan diegetic sound.Berdasarkan hasil kajian dapat disimpulkan bahwa Diegetic sound pada film A Quiet Place mampu membangun ketegangan atau suspense. Hal ini dilihat berdasarkan dari hasil analisa bahwa komponen diegetic sound seperti onscreen sound, offscreen sound, external diegetic sound dan internal diegetic sound memiliki perannya masing-masing dalam pembangunan suspense, setiap komponen diegetic sound memiliki motif kemunculan yang berbeda-beda namun tujuan mereka sama-sama sebagai pemancing atau pemantik tensi suspense. Kata Kunci: Film “A Quiet Place”, Diegetic Sound, Suspense
PENGGUNAAN ELLIPTICAL EDITING UNTUK MEMBANGUN SURPRISE DALAM EDITING FILM “BAJING LONCAT” Tegar Dyon Muhammad; Arif Sulistiyono; Andri Nur Patrio
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.117 KB) | DOI: 10.24821/sense.v3i2.5125

Abstract

ABSTRACT            In writing a scenario, there are elements that can support development of the story, one of it is "surprise".  Scenario of "Bajing Loncat" has a potential surprise that can be presented through editing.  The surprise factor in the story can't be separated from the bridging set-up design of audience's expectations. Set-up and expectations are one unit formed as a formula for creation of a surprise.            The editor will apply the concept of elliptical editing to the storytelling structure of film "Bajing Loncat" to manipulate the storytelling and timing without corrupting the important information of the story. Elliptical editing applied in the story is not only manipulating time, besides The application of elliptical editing can actually have another impact, named by surprise.            The construction of the set-up for generating a surprise is applied to causality, action-reaction, and the emotional continuity that becomes a solid foundation in shaping audience expectations. Embodiment concept of elliptical editing is used in some potential scenes that emergence a surprise. The surprises that appear in the story have a various impact to the audience. Keywords: set-up, expectations, elliptical editing, surprise.  ABSTRAK                        Dalam penulisan skenario terdapat unsur-unsur yang dapat mendukung perkembangan cerita, salah satunya adalah surprise. Skenario film “Bajing Loncat” memiliki potensi surprise yang dapat dihadirkan melalui editing. Kemunculan surprise dalam cerita, tidak lepas dari rancangan set-up yang menjembatani ekspektasi penonton. Set-up dan ekspektasi merupakan satu kesatuan yang terbentuk sebagai formula atas terciptanya sebuah surprise.            Editor akan menerapkan konsep elliptical editing ke dalam struktur penceritaan film “Bajing Loncat” untuk memanipulasi runag dan waktu penceritaan tanpa mengurangi informasi penting dalam penceritaan. Elliptical editing yang diterapkan dalam cerita tidak hanya memanipulasi waktu saja, disamping itu penerapan elliptical editing justru dapat memunculkan dampak lain yaitu surprise.            Pembangunan set-up untuk memunculkan surprise diterapkan pada hubungan sebab akibat, aksi reaksi, dan kesinambungan emosi yang menjadi landasan kuat dalam membentuk ekspektasi penonton. Konsep perwujudan elliptical editing digunakan pada beberapa scene yang mengandung potensi kemunculan surprise. Surprise yang dimunculkan dalam cerita memiliki dampak yang berbeda-beda pada penonton. Kata kunci: set-up, ekspektasi, elliptical editing, surprise.
ANALISIS FAKTOR PENENTU KINERJA KARYAWAN PATRA HOTEL DAN CONVENTION SEMARANG Arif Sulistiyono; Jefri Heridiansyah; Theresia Susetyarsi
JURNAL STIE SEMARANG Vol 12 No 2 (2020): Volume 12 No 2 Edisi Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33747/stiesmg.v12i2.415

Abstract

This research aims to find out: 1) The influence of work motivation on the performance performance of Patra Hotel and Convention Semarang employees. 3) Effect of work environment on the performance of Patra Hotel and Convention Semarang employees. 4) The effect of work discipline on the performance of Patra Hotel and Convention Semarang employees. The population in this study were 150 employees of Patra Hotel and Semarang Convention. The sample of Patra Hotel and Convention Semarang employees 2) The influence of leadership on the of this study were 60 employees of Patra Hotel and Convention Semarang. The results found that: 1) Work motivation has a significant effect on employee performance (β) 0.388 with a sig value of 0,000 <0.05. 2) Leadership has a significant effect on employee performance (β) 0,277 with sig value 0,001 <0,05 3.) Work environment has a significant effect on employee performance of (β) 0,256 with sig value 0,000> 0,05. 4) Work Discipline has a significant effect on employee performance of (β) 0.382 with sig 0.002 <0.05.
Evaluation of Training Effectiveness of Kirkpatrick Model on Blended Learning and Classical Training in Sarolangun District Government Sulistiyono, Arif; Ginting, Ginta; Khalid, Idham
Golden Ratio of Human Resource Management Vol. 5 No. 1 (2025): August - February (Article in Press)
Publisher : Manunggal Halim Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52970/grhrm.v5i1.539

Abstract

This research aims to evaluate the effectiveness of the Kirkpatrick training model in leadership training for supervisors in the Sarolangun Regency Government. The study compares the effectiveness of supervisor leadership training conducted using classical methods and blended learning methods. A quantitative comparative research method is employed. The study's population comprises 80 individuals for training evaluation at levels 1 and 2, and 160 individuals for training evaluation at levels 3 and 4. Primary and secondary data sources are utilized. Data collection techniques include interviews, questionnaires, and documentation. The Likert scale measurement is conducted using Microsoft Excel, and hypothesis testing is performed using SPSS 26.0 software. The results indicate that the evaluation using the Kirkpatrick model between blended learning and classical methods obtained a P value (0.523 > 0.05), indicating that Ho is accepted and Ha is rejected. This means there is no significant difference in the Kirkpatrick model evaluation results between training using blended learning methods and classical methods.
Evaluation of Training Effectiveness of Kirkpatrick Model on Blended Learning and Classical Training in Sarolangun District Government Sulistiyono, Arif; Ginting, Ginta; Khalid, Idham
Golden Ratio of Human Resource Management Vol. 5 No. 1 (2025): August - February
Publisher : Manunggal Halim Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52970/grhrm.v5i1.539

Abstract

This research aims to evaluate the effectiveness of the Kirkpatrick training model in leadership training for supervisors in the Sarolangun Regency Government. The study compares the effectiveness of supervisor leadership training conducted using classical methods and blended learning methods. A quantitative comparative research method is employed. The study's population comprises 80 individuals for training evaluation at levels 1 and 2, and 160 individuals for training evaluation at levels 3 and 4. Primary and secondary data sources are utilized. Data collection techniques include interviews, questionnaires, and documentation. The Likert scale measurement is conducted using Microsoft Excel, and hypothesis testing is performed using SPSS 26.0 software. The results indicate that the evaluation using the Kirkpatrick model between blended learning and classical methods obtained a P value (0.523 > 0.05), indicating that Ho is accepted and Ha is rejected. This means there is no significant difference in the Kirkpatrick model evaluation results between training using blended learning methods and classical methods.