Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Paskah Kristiani Menggenapi Kovenan Mesianik Dalam Kejadian 3:15 [The Christian Passover Fulfills the Messianic Covenant in Genesis 3:15] Tjutjun Setiawan; Fery Rondonuwu; Sri Darajat Suaji; Simon Simon
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol 5, No 1 (2023): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i1.6494

Abstract

Passover celebrations are always repeated every year for Christians, although not as festive as Christmas. Christian Passover events are a series of events from the death of Jesus Christ on the cross and His resurrection on the third day. There have been many attempts to reduce the events of the cross and deny the crucified figure of Jesus Christ. This research tries to explore and examine the meaning of Easter in Christianity and how it relates to the Messianic Covenant in Genesis 3:15. The method used is qualitative with a literature review approach, examining the red threads of the Old and New Testaments regarding Passover, where in the conclusion there is a relationship between Genesis 3:15 concerning the Messianic covenant as a type and its antitype or fulfilment is in the event of the cross, and this is a work God's salvation in overcoming human sin, on the one hand God's justice is satisfied by punishing sin on the cross, and on the other hand it shows God's love for humans. Thus, as people who believe in Jesus Christ, they must understand the meaning of this Passover in their daily lives, and moreover, theological high school students and church pastors must understand that and educate the congregation to maintain the spirit of Passover. BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Perayaan Paskah selalu berulang setiap tahun bagi umat Kristiani, meskipun tidak semeriah Natal. Peristiwa Paskah adalah suatu rangkaian peristiwa dari kematian Yesus Kristus di kayu salib dan kebangkitan-Nya pada hari yang ketiga. Banyak upaya untuk mereduksi peristiwa salib dan menafikan sosok Yesus Kristus yang tersalib. Penelitian ini mencoba menggali dan mengkaji makna paskah dalam kekristenan dan apa hubungannya dengan kovenan Mesianik dalam Kejadian 3:15. Metode yang dipergunakan adalah kualitatif dengan pendekatan kajian Pustaka, menelisik benang merah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tentang Paskah, di mana dalam simpulan terdapat hubungan antara Kejadian 3:15 tentang kovenan Mesianik sebagai tipe dan antitipenya atau penggenapannya ada pada peristiwa salib, dan ini merupakan karya keselamatan Allah dalam mengatasi dosa manusia, di satu sisi keadilan Allah terpuaskan dengan menghukum dosa di salib, dan di sisi lainnya menunjukkan kasih Allah pada manusia. Dengan demikian sebagai umat yang percaya kepada Yesus Kristus harus memahami makna Paskah ini dalam kehidupan sehari-hari dan terlebih bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi dan para gembala gereja harus memahami itu dan mengedukasi jemaat untuk tetap menjaga semangat Paskah.
Perspektif Alkitab tentang Pilihan Menikah atau tidak Menikah Styadi Senjaya; Jessica Elizabeth Abraham; Tjutjun Setiawan; Meriwati Meriwati
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 5 No. 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.154

Abstract

Views about marriage are changing. Factors such as culture, environment, and family also influence. Several studies show the number of people who choose not to marry has increased due to economic reasons, the trauma of divorce, or lifestyle choices. This paper aims to find a biblical perspective on a person's choice to marry or not to marry. The research used in this paper, which is a qualitative method of literature study, finds that a person's choice to marry or not to marry must be focused and based on God's will, not because of personal considerations. This paper is expected to help the church to provide guidance and biblical teaching for the congregation so that they can make decisions according to God's will.  AbstrakPandangan tentang pernikahan mengalami perubahan. Faktor seperti kebudayaan, lingkungan, dan keluarga ikut memengaruhi. Beberapa studi menunjukkan jumlah orang yang memilih untuk tidak menikah mengalami peningkatan dikarenakan alasan ekonomi, trauma perceraian ataupun pilihan gaya hidup. Tulisan ini bertujuan menemukan perspektif Alkitab tentang pilihan seseorang untuk menikah atau tidak menikah. Penelitian yang digunakan dalam penulisan ini, yaitu metode kualitatif studi pustaka, menemukan pilihan seseorang untuk menikah atau tidak menikah harus berfokus dan berdasar kepada kehendak Tuhan bukannya karena pertimbangan pribadi. Tulisan ini diharapkan membantu gereja untuk memberikan bimbingan dan pengajaran Alkitabiah untuk jemaat agar dapat mengambil keputusan yang sesuai kehendak Tuhan. 
APOLOGETIKA IRENEUS KEPADA KAUM BIDAT YANG MEMPERTENTANGKAN KEILAHIAN YESUS Meriwati; Tjutjun Setiawan
Manna Rafflesia Vol. 11 No. 1 (2024): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v11i1.471

Abstract

Topics about the Trinity, Christology, as well as topics about heretics are always debatable topics. It's not only happening at the present time but has also started since the first centuries, during the time of the church fathers. Irenaeus is a Christian figure who is known as the father of the church, also at the time when he was dealing with the teachings of Gnosticism, and how was Irenaeus’ view in dealing with Gnosticism as well as explaining Christology. This article is a descriptive description of Irenaeus' Christology as a contrast to the development of Gnostic Christology in the second century AD, so the method used is descriptive qualitative. The purpose of this article is so that Christians can understand Christology correctly. This article is not only meant to be a historical depiction, but also to show its continuity with the post-Enlightenment Christological dynamics as proposed by William Bousset who attempted to place Paul's Christology in the context of Gnosticism.
Literasi Digital sebagai Tanggung Jawab Etis Pendidik Kristen Andreas Kurniawan; Stefanus Dully; Tjutjun Setiawan
GLOSSAIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 1 (2025): EDISI NOVEMBER
Publisher : STT Pantekosta Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This topic is written because, factually, the digital ethics of theology students tend not to be based on the principles of truth. This phenomenon demands that Christian educators not only master technology, but also develop ethical awareness in its use. This article aims to examine what digital literacy looks like as an ethical responsibility for Christian educators in the context of theological education. The method used is a descriptive-analytical approach that focuses on literature review (library research) to understand the relationship between faith, ethics, and digitalization. The research question is formulated as: How is the ethical responsibility of Christian educators manifested in the use of digital technology? The findings of this study reveal that digital literacy needs to be understood as the spiritual and ethical dimension of the Christian educator's calling. Theology, church, and Christian educational institution curricula need to collaborate to build a wise, faithful, and responsible digital culture within digital society. ABSTRAK Dasariah topik ini ditulis karena secara faktual, etika berdigital mahasiswa teologi cenderung tidak mendasarkan pada prinsip prinsip kebenaran. Fenomena ini menuntut pendidik Kristen tidak hanya menguasai teknologi, tetapi bagaimana para pendidik memiliki kesadaran etis dalam penggunaannya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji seperti apa literasi digital sebagai tanggung jawab etis pendidik Kristen dalam konteks pendidikan teologi. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-analitis yang berfokus pada kajian literatur (library research untuk memahami hubungan terkait iman, etika, dan digitalisasi. Rumusan pertanyaan penelitian difokuskan pada bagaimana tanggung jawab etis pendidik Kristen diwujudkan dalam penggunaan teknologi digital? Temuan hasil kajian ini menngungkapkan bahwa literasi digital perlu dipahami sebagai dimensi spiritual dan etis dari panggilan pendidik Kristen. Kurikulum teologi, gereja, dan lembaga pendidikan Kristen perlu berkolaborasi membangun budaya digital yang bijak, beriman, dan bertanggung jawab di tengah masyarakat digital. Kata kunci: Literasi Digital, Etika Kristen, Pendidikan Teologi, Pendidik Kristen.
Komunikasi Etis dalam Pendidikan Kristen di Tengah Relativisme Moral di Era Digitalisasi Andreas Kurniawan; Tjutjun Setiawan; Suranto Suranto; Simon Simon
Logia Vol 7, No 2 (2026): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v7i2.367

Abstract

This article focuses on explaining explaining how ethical communication relates to Christian Religious Education amidst the emergence of moral relativism in the digitalization era. The available discussion tends to focus more on Christian Religious Education (CRE)  in relation to spirituality, ethics, or evangelical values. Given the still-limited direction of studies that elaborate on communication in Christian Religious Education (CRE) amidst moral relativism, the researcher sees this as a gap in the discussion. The method used by the researcher in elaborating this paper is descriptive-analytical qualitative. The selection of this method is to obtain a deep and comprehensive understanding of phenomena that are conceptual in nature. The findings of this study indicate that moral relativism is becoming increasingly dominant as exposure to diverse values and norms through digital media increases. As a result, cyberbullying and hate speech in digital media have become dominant. The collaborative efforts of the church, school, and family become crucial in building ethical communication rooted in Christian values.ABSTRAKArtikel ini berfokus menguraikan bagaimana komunikasi Etis dalam kaitan Pendidikan Agama Kristen ditengah menguaknya relativisme moral dalam era digitalisasi. Kajian ini peneliti uraikan karena observasi terkait penelitian yang berkaitan topik ini masih amat minim dibahas. Kecenderungan arah pembahasan yang tersedia lebih mentik-beratkan PAK dalam kaitan spiritual, etika maupun nilai-nilai Injili. Dari masih minimnya arah kajian yang mengelaborasikan tentang komunikasi dalam PAK ditengah relativisme moral, peneliti melihat hal ini sebagai gap dalam pembahasan. Metode yang digunakan peneliti dalam menguraikan tulisan ini kualitatif deskriptif-analitis. Pemilihan metode ini untuk memperoleh pemahaman mendalam dan komprehensif terhadap fenomena yang bersifat konseptual. Temuan kajian ini mengemukakan relativisme moral menjadi semakin dominan seiring dengan meningkatnya paparan terhadap keragaman nilai dan norma melalui media digital. Akibatnya, perundungan di media seperti bullyan, ujan kebencian mendominasi. Upaya kolaborasi gereja, sekolah, dan keluarga menjadi sangat krusial dalam membangun komunikasi etis yang berakar pada nilai-nilai Kristiani. Kata Kunci: Komunikasi, Pendidikan Agama Kristen, Moral, Digitalisasi.
Peran Gereja Dalam Bingkai Kebenaran Alkitab Terhadap Perkawinan Beda Agama Tjutjun Setiawan; Suranto Suranto
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v2i2.136

Abstract

Marriage was God's plan from the beginning since the creation of the first humans, Adam and Eve.  Genesis 2:18 said that it was not good for humans to be alone.  As a social being who got along in the society, there was a possibility for a man or woman to be acquainted and chose a marriage partner from a different religion so they performed an interfaith marriage.  How did the Bible highlight this issue?   This research used a  descriptive qualitative method with a literature approach in which   interfaith marriages were studied and explored from various references such as journals, literature,    online news and more specifically  from biblical sources.   This study aimed to enable Christians in general to know God's will about a marriage and to equip the church leaders to teach about marriage in accordance with the biblical truth. The conclusion was that the Bible forbade interfaith marriages, but if they were already in that situation, then remained in the marriage unless the non-believer spouse wanted to divorce, then the divorce could be carried out.  ABSTRAKPerkawinan adalah rencana Allah sedari semula sejak penciptaan manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa. Dalam Kejadian 2:18 bahwa tidak baik manusia itu seorang diri saja. Sebagai makhluk sosial yang bergaul dalam kehidupan masyarakat tidak tertutup kemungkinan bagi seorang laki-laki atau perempuan untuk mengenal, memilih pasangan dari agama yang berbeda sehingga melakukan perkawinan beda agama. Bagaimana kebenaran Alkitab dalam menyoroti masalah ini? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif desktiptif dengan pendekatan kepustakaan di mana perkawinan beda agama digali dan didalami dari berbagai referensi seperti jurnal, literatur, berita online dan terlebih khusus dari sumber Alkitab. Penelitian ini bertujuan supaya umat Kristiani secara umum dapat mengetahui kehendak Allah dari suatu perkawinan, dan bagi para pemimpin gereja supaya dapat memberikan pengajaran tentang perkawinan yang sesuai dengan kebenaran Alkitab Kesimpulan yang didapat bahwa Alkitab melarang untuk melakukan perkawinan beda agama, tetapi jika sudah terlanjur berada dalam situasi itu, maka tetaplah bertahan kecuali pasangan yang tidak seiman itu hendak melakukan cerai, maka perceraian dapat dilaksanakan.Kata Kunci: Peran Gereja, kebenaran Alkitab, Perkawinan, Beda Agama
Keberhasilan Yosua dalam Tugas dan Kehidupan: Studi Eksposisi Yosua 1:1-9 Adi Prasetyo Wibowo; Tjutjun Setiawan; Tomi Yulianto
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 1 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v5i1.271

Abstract

Semua orang ingin berhasil dalam menjalankan tugas tanggung jawabnya maupun dalam kehidupannya terlebih lagi bagi seorang pemimpin, ia akan berusaha untuk berhasil dalam tugasnya. Kepemimpinan yang berhasil merupakan kebutuhan mendasar pada setiap zaman sebagaimana contoh yang tertulis dalam Alkitab tentang Yosua. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji keberhasilan Yosua dalam menjalankan tugas dan kehidupannya melalui studi eksposisi Yosua 1:1-9. osua menggantikan Musa yang telah mati di dalam memimpin bangsa Israel ke tanah perjanjian, dan ini merupakan tugas yang tidak mudah. Musa saja selama hampir empat puluh tahun memimpin banyak halangan dan hambatan yang dialaminya baik dari pihak eksternal maupun internal yaitu dari bangsa yang dipimpinnya. Bagaimana Yosua dapat menuntaskan tugas dan tanggung jawabnya dan bahkan berhasil juga dalam kehidupannya, inilah yang menjadi pertanyaan penelitian dari artikel ini. Artikel ini menggunakan metode deskriptif kualitatifdengan pendekatan eksposisi terhadap ayat-ayat dalam kitab Yosua 1:1- 9. Penelitian ini mengungkap prinsip-prinsip teologis dan praktis yang mendasari keberhasilan Yosua. Hasil analisis menunjukkan bahwa keberhasilan Yosua tidak hanya bergantung pada kemampuan manusiawi, tetapi terutama pada ketaatan, keberanian, dan penyertaan Tuhan. Artikel ini juga menawarkan relevansi teks tersebut bagi kehidupan modern, khususnya dalam konteks kepemimpinan dan pengambilan keputusan. Kepemimpinan yang berhasil merupakan kebutuhan mendasar dalam setiap zaman. Dalam konteks Alkitab, Yosua dipanggil menggantikan Musa untuk memimpin Israel memasuki Tanah Perjanjian. Artikel ini mengkaji keberhasilan Yosua melalui eksposisi Yosua 1:1–9.