Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

RELEVANSI PENGGEMBALAAN PAULUS DALAM I KORINTUS 3:1-9 TERHADAP PENJANGKAUAN ANAK MUDA DI GBI PASKO BANDUNG Victoria Eva Aryanti; Jessica E. Abraham; Christopher Santoso; Victor Deak
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1 No 2 (2020)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46558/bonafide.v1i2.24

Abstract

Konflik merupakan salah satu persoalan yang dihadapi gereja yang seringkali mengakibatkan perpecahan dan penurunan partisipasi jemaat dalam persekutuan. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi penggembalaan Rasul Paulus sebagaimana tertuang dalam 1 Korintus 3:1-9 dan relevansinya terhadap penjangkauan anak muda di GBI Pasko Bandung dengan menggunakan metode kualitatif dan studi pustaka. Dari penelitian ini ditemukan bahwa strategi penggembalaan Rasul Paulus adalah: (1) Paulus berusaha menciptakan komunikasi yang positif, (2) Paulus berusaha menghubungkan praktek pelayanan dengan ajaran Kristen, (3) menggunakan media surat untuk mengatasi kesulitan berkomunikasi pada waktu itu. Relevansinya dalam penggembalaan anak muda di GBI Pasko Bandung adalah: (1) menggembalakan anak muda dengan komunikasi yang positif, (2) mengajak anak muda menghadapi perbedaan secara dewasa, (3) menguatkan iman anak muda dengan pengajaran. Selain itu untuk mengatasi keterbatasan menjangkau anak-anak muda bisa menggunakan berbagai media komunikasi dewasa ini seperti gagdet agar mereka bisa disentuh secara personal.
Perspektif Alkitab tentang Pilihan Menikah atau tidak Menikah Styadi Senjaya; Jessica Elizabeth Abraham; Tjutjun Setiawan; Meriwati Meriwati
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.154

Abstract

Views about marriage are changing. Factors such as culture, environment, and family also influence. Several studies show the number of people who choose not to marry has increased due to economic reasons, the trauma of divorce, or lifestyle choices. This paper aims to find a biblical perspective on a person's choice to marry or not to marry. The research used in this paper, which is a qualitative method of literature study, finds that a person's choice to marry or not to marry must be focused and based on God's will, not because of personal considerations. This paper is expected to help the church to provide guidance and biblical teaching for the congregation so that they can make decisions according to God's will.  AbstrakPandangan tentang pernikahan mengalami perubahan. Faktor seperti kebudayaan, lingkungan, dan keluarga ikut memengaruhi. Beberapa studi menunjukkan jumlah orang yang memilih untuk tidak menikah mengalami peningkatan dikarenakan alasan ekonomi, trauma perceraian ataupun pilihan gaya hidup. Tulisan ini bertujuan menemukan perspektif Alkitab tentang pilihan seseorang untuk menikah atau tidak menikah. Penelitian yang digunakan dalam penulisan ini, yaitu metode kualitatif studi pustaka, menemukan pilihan seseorang untuk menikah atau tidak menikah harus berfokus dan berdasar kepada kehendak Tuhan bukannya karena pertimbangan pribadi. Tulisan ini diharapkan membantu gereja untuk memberikan bimbingan dan pengajaran Alkitabiah untuk jemaat agar dapat mengambil keputusan yang sesuai kehendak Tuhan. 
Metode Naratif dalam Konseling Pneumatologis dan Penerapannya bagi Anak Pendeta Usia Remaja Jessica Elizabeth Abraham; Junifrius Gultom
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 1 (2023): Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v8i1.912

Abstract

Abstract. The position of pastor often brings its own psychological burden to their children. They often face excessive expectations related to their parents' position. As a result, pastor's children may experience stress or even have lower life satisfaction compared to their peers whose parents are not pastors. Some even start doubting their Christian faith and no longer call themselves Christians. This paper aimed to show how the narrative approach applied in pneumatological counselling can help pastors' kids to establish their unique position and role as pastors' kids. The method used in this study was a literature study. Through this study, it was found that the narrative approach in pneumatological counselling helps to construct a new narrative so that pastor children can understand themselves well, apart from the narrative that has been constructed by their environment.Abstrak. Jabatan sebagai pendeta kerap kali membawa beban psikologis tersendiri bagi anak-anak pendeta. Mereka seringkali menghadapi ekspektasi yang berlebihan terkait dengan jabatan orang tuanya. Akibatnya, anak pendeta bisa mengalami stres atau bahkan memiliki kepuasan hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan teman-temannya yang orang tuanya bukan pendeta. Beberapa bahkan meragukan iman Kristen mereka dan tidak lagi menyebut diri mereka Kristen. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana pendekatan naratif yang diterapkan dalam konseling pneumatologis dapat membantu anak-anak pendeta untuk membangun posisi dan peran mereka yang unik sebagai anak-anak pendeta. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah studi pustaka. Melalui kajian ini diperoleh hasil bahwa pendekatan naratif dalam konseling pneumatologis membantu menyusun narasi baru sehingga anak-anak pendeta dapat memahami dirinya sendiri dengan baik, lepas dari narasi yang selama ini dikonstruksi oleh lingkungannya.
Demitologisasi Bultmann sebagai Analogi Jembatan Dialektika kepada Manusia Posmodern Jessica Elizabeth Abraham; Ferdinand Lisaldy; Gernaida Pakpahan
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i1.94

Abstract

Rudolf Bultmann introduced a hermeneutic method known as demythologizing. The authors believe that his method can be utilized to communicate the truth in postmodern era as it takes into account today’s human perspective. His approach provides the reader space to make meaning the truth in the Bible. It also makes the Gospel message urgent and requires a response from the hearers. To put forward such argument, this research will describe the characteristics of postmodern era, postmodern humans, Christian faith in the postmodern era and a little about the acceptance of Bultmann’s demythologizing. It aims to describe a point of view that places such approach in the midst of postmodern human thought. Although Bultmann tends to be avoided and is often considered heretical, the authors hope that readers can view Bultmann objectively so that they can see that his approach is indeed useful to bridge the communication gap with postmodern humans.  AbstrakRudolf Bultmann memperkenalkan metode hermeneutik yang dikenal sebagai demitologi. Penulis percaya bahwa metodenya dapat digunakan untuk mengkomunikasikan kebenaran di era postmodern karena memperhitungkan perspektif manusia saat ini. Pendekatannya memberikan ruang kepada pembaca untuk membuat makna dari kebenaran dalam Alkitab. Pendekatannya juga membuat pesan Injil bersifat mendesak dan membutuhkan tanggapan dari para pendengarnya. Untuk mengemukakan argumen tersebut, penelitian ini akan mendeskripsikan karakteristik era postmodern, manusia postmodern, iman Kristen di era postmodern dan sedikit tentang penerimaan demitologi Bultmann. Tujuannya adalah untuk menggambarkan suatu sudut pandang yang menempatkan metode tersebut di tengah-tengah pemikiran manusia postmodern. Meskipun Bultmann cenderung dihindari dan seringkali dianggap sesat, penulis berharap bahwa pembaca penelitian ini dapat melihat Bultmann secara objektif sehingga mereka dapat melihat bahwa pendekatannya memang berguna untuk menjembatani kesenjangan komunikasi dengan manusia postmodern.  
Pernikahan "intra-religi": Kristen Protestan dan Katolik Roma Abraham, Jessica Elizabeth
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 2, No 1 (2021): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v2i1.53

Abstract

While Christian teaching on marriage between a believer and an unbeliever is clear, the one between couples from different church traditions is not as straightforward. Although sharing several core beliefs, the differences that exist between the Protestant Church and the Roman Catholics are too real to be ignored. Besides, ignoring them may result in complications and conflicts in marriage life later. The research method used in this writing, which is a qualitative literature study, finds that there are several factors to be satisfied to build a strong marriage. This writing hopes to assist Protestant and Roman Catholic couples to assess their decision to get married by raising their awareness of some relevant differences between the two churches tradition. This writing will discuss the pillars of strong marriage, differences and similarities between Protestant and Roman Catholic teachings as well as some underlying conditions to be met to make a strong union between the two. Ajaran Kristen tentang pernikahan antara orang percaya dan orang yang tidak percaya cukuplah jelas. Namun, pandangan Kristen tentang pernikahan pasangan yang berasal dari dua tradisi gereja yang berbeda tidaklah demikian. Meskipun memiliki beberapa kepercayaan inti yang sama, namun perbedaan yang ada di antara gereja Kristen Protestan dan Katolik Roma terlalu nyata untuk diabaikan. Lagipula, apabila diabaikan, perbedaan ini dapat mengakibatkan timbulnya masalah dan konflik di dalam rumah tangga kelak. Penelitian yang digunakan dalam penulisan ini, yaitu metode kualitatif studi pustaka, menemukan bahwa ada faktor yang harus dipenuhi agar sebuah pernikahan dapat dibangun dengan kokoh. Tulisan ini diharapkan dapat membantu pasangan dari latar belakang Kristen Protestan dan Katolik Roma untuk mempertimbangkan keputusan mereka untuk menikah dengan meningkatkan kesadaran mereka akan beberapa perbedaan yang relevan antara kedua tradisi gereja. Tulisan ini akan membahas tentang pilar pernikahan yang kokoh, perbedaan dan persamaan antara ajaran Protestan dan Katolik Roma serta beberapa syarat mendasar yang harus dipenuhi untuk menyatukan keduanya.
Studi Apologetika Tentang Pandangan Rasul Paulus Terhadap Kepemimpinan Wanita Di Gereja Abraham, Jessica Elizabeth
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 1, No 1 (2020): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v1i1.6

Abstract

Paul’s theological view on women in church leadership is often misinterpreted if not misunderstood. It is true that at first glance, his prohibitions and policies for women sound degrading the women’s role. Yet, the application of the appropriate hermeneutical approach to his writings such as in 1 Corinths 11:2-16, 1 Corinths 14:34-35 and 1 Timothy 2:9-14 will show that Paul is never against women leading the church. This writing hopes to expand the church’s perspective on women’s leadership so that the church can provide women with the same opportunity as for the men in building up the body of Christ. On the other hand, it hopes to empower more women to take on leadership roles in the church without hesitation.  Pandangan teologis Rasul Paulus terhadap kepemimpinan wanita di gereja seringkali diterjemahkan dengan keliru atau disalah pahami. Jika dilihat secara sekilas, larangan dan aturan yang ia berikan kepada wanita terdengar merendahkan mereka. Namun, penerapan pendekatan hermeneutika yang sesuai dengan tulisan-tulisannya seperti dalam 1 Korintus 11:2-16, 1 Korintus 14:34-35 dan 1 Timotius 2:9-14 akan menunjukkan bahwa Rasul Paulus tidak pernah menentang wanita untuk memegang jabatan kepemimpinan di gereja. Tulisan ini diharapkan dapat memperluas perspektif gereja tentang kepemimpinan wanita sehingga wanita dapat memiliki kesempatan yang sama layaknya pria dalam membangun tubuh Kristus. Di sisi lain, gereja juga diharapkan untuk dapat memberdayakan lebih banyak lagi wanita untuk mengambil peran dalam kepemimpinan gereja tanpa ragu.
Kewaspadaan Terhadap Musuh Tersamarkan Dalam Komunitas Kristen: Analisis Alkitabiah Terhadap Ancaman Penyesat Dan Nabi Palsu Gunarto, Rita Oktavia; Herman, Samuel; Abraham, Jessica Elizabeth
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol 4, No 2: September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/rdj.v4i2.520

Abstract

True Christians build their faith on personal decisions born from spiritual experiences, particularly their belief in Jesus Christ. However, some individuals may join with impure motives, like yeast hidden in dough, which can negatively influence the community. This group includes deceivers, false prophets, and hypocrites who disguise themselves as fellow believers but are, in fact, hidden enemies. In Matthew 16:5-12, Jesus warns His disciples to be vigilant against the "yeast" representing the teachings of the Pharisees and Sadducees. This study employs a qualitative approach and literature review to explore strategies for being vigilant against such symbolic "yeast." It offers concrete guidelines on how to protect Christian communities from harmful elements. The analysis outlines vigilance strategies based on biblical principles, helping Christians uphold the quality of their faith and bear the fruits of righteousness. By His grace, true Christians are expected to be effective witnesses for Christ and overcome deceptive efforts in the end times. Keywords: christian vigilance; gospel of matthew 16; threats of false teachingAbstrakOrang Kristen sejati membangun iman mereka berdasarkan keputusan pribadi yang lahir dari pengalaman spiritual, khususnya keyakinan kepada Tuhan Yesus. Namun, ada individu yang bergabung dengan motif tidak murni, seperti ragi yang tersembunyi dalam tepung, yang dapat merusak komunitas. Kelompok ini termasuk penyesat, nabi palsu, dan munafik yang menyamar sebagai saudara seiman tetapi sebenarnya adalah musuh terselubung. Dalam Matius 16:5-12, Tuhan Yesus mengingatkan murid-murid-Nya untuk waspada terhadap "ragi" yang melambangkan ajaran orang Farisi dan Saduki. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan studi pustaka untuk mengeksplorasi strategi kewaspadaan terhadap ancaman "ragi" simbolis tersebut. Tulisan ini memberikan panduan konkret tentang bagaimana menjaga komunitas Kristen dari elemen perusak. Analisis ini menawarkan strategi kewaspadaan berdasarkan prinsip Alkitab, membantu orang Kristen menjaga kualitas iman dan menghasilkan buah kebenaran. Dengan anugerah-Nya, diharapkan mereka dapat menjadi saksi Kristus yang kuat dan mengatasi upaya penyesatan di akhir zaman.Kata Kunci: ancaman ajaran sesat; injil matius 16; kewaspadaan kristenTrue Christians build their faith on personal decisions born from spiritual experiences, particularly their belief in Jesus Christ. However, some individuals may join with impure motives, like yeast hidden in dough, which can negatively influence the community. This group includes deceivers, false prophets, and hypocrites who disguise themselves as fellow believers but are, in fact, hidden enemies. In Matthew 16:5-12, Jesus warns His disciples to be vigilant against the "yeast" representing the teachings of the Pharisees and Sadducees. This study employs a qualitative approach and literature review to explore strategies for being vigilant against such symbolic "yeast." It offers concrete guidelines on how to protect Christian communities from harmful elements. The analysis outlines vigilance strategies based on biblical principles, helping Christians uphold the quality of their faith and bear the fruits of righteousness. By His grace, true Christians are expected to be effective witnesses for Christ and overcome deceptive efforts in the end times. Keywords: christian vigilance; gospel of matthew 16; threats of false teaching
Penggembalaan Efektif Digital Natives dalam Transformasi Budaya Teknologi Society 5.0 Justine, Normando; Theofany, Shekinah; Abraham, Jessica Elizabeth
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 8 No 2: November 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budaya teknologi di era Society 5.0 menimbulkan efek negatif bagi anggota Tubuh Kristus, khususnya Digital Natives. Jika hal ini dibiarkan, maka Gereja akan kehilangan jiwa-jiwa yang berpotensi. Penelitian ini ditujukan supaya para gembala dapat menggembalakan dengan lebih relevan dan menjadikan mereka agen perubahan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menyelidiki karakteristik dan fenomena sosial. Data dikumpulkan melalui tinjauan pustaka untuk memberikan landasan teori dalam memecahkan masalah penggembalaan terhadap Digital natives di era Society 5.0. Hasil penelitian ini menghasilkan beberapa strategi efektif dalam membimbing generasi digital. Penelitian ini mengeksplorasi strategi penggembalaan yang relevan serta mendorong partisipasi aktif Digital natives dalam transformasi budaya teknologi. Implementasi nilai-nilai kebenaran Kristen dalam konten dan penggunaan berbagai platform digital seperti media sosial, blog, dan podcast menjadi kunci untuk menjaga relevansi gereja. Dengan demikian, gereja dapat memberikan dukungan dan pemulihan melalui ruang digital, menciptakan generasi terang di tengah dunia modern.
Misteri peristiwa pengangkatan dalam eskatologi berkaitan dengan bangsa Israel Kadir, Martin; Abraham, Jessica Elizabeth
Basileus Eirene: Jurnal Agama dan Pendidikan Vol 3 No 1 (2024)
Publisher : Basilius Eirene Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63436/bejap.v3i1.56

Abstract

Penelitian ini membahas harapan orang percaya terhadap akhir zaman, termasuk pengangkatan umat Allah, yang sering menjadi topik interpretasi dan fenomena. Mengungkap fakta pengangkatan orang percaya yang terdapat dalam 1 Tesalonika 4:17. Ternyata pengangkatan terjadi dengan referensi ganda, baik secara simbolik setelah penulisan surat 1 Tesalonika maupun secara literal sebelum masa seribu tahun. Nubuat Alkitab adalah misteri, bukan rahasia sehingga pemahaman selalu tersedia bagi siapa saja yang meluangkan waktu untuk mempelajarinya. Semua manusia pasti memiliki pertanyaan tentang akhir zaman, tidak peduli agama atau kepercayaan apa yang dia masuki. Bagi kita para pengikut Yesus, ada harapan di tengah kekacauan. Tuhan memegang kendali karena Dia akan melindungi milik-Nya sendiri. Penyingkapan posisi orang percaya yang disesuaikan dengan jadwal waktu Tuhan untuk akhir zaman sangatlah penting. Krisis tak berkesudahan di Timur Tengah mungkin akan mengarah kepada nubuat-nubuat Alkitab yang akan terungkap. Mukjizat yang masih belum terlaksana yaitu penciptaan kembali Negara Israel di tanah air aslinya merupakan mukjizat modern, begitu banyak pertanyaan dari dunia luar Israel berkaitan dengan status kenegaraannya dan bahkan lebih lagi tanah tempat hal itu akan terjadi, “Tanah Perjanjian” itu apakah hanyalah sebuah istilah yang hanya terjadi di masa lampau. Tuhan akan melakukan mukjizat. Tangan Tuhan yang sama akan juga melakukannya. Semua yang tercatat dalam Perjanjian Lama dan bagian-bagian dalam Perjanjian Baru menyatakan kebenaran ini dengan tujuan menjelaskan kehadiran Bangsa Israel adalah mukjizat dan di tahun-tahun mendatang akan terlihat semakin demikian. Dengan harapan akan memberikan manfaat pemahaman yang lebih mendalam tentang pengangkatan dalam konteks teologi Kristen
Model Mentoring Yesus dalam Injil Markus untuk Kepemimpinan Berkelanjutan di Gereja Lokal Wennar, Wennar; Abraham, Jessica Elizabeth; Chandra, Tjahjadi
VISIO DEI: JURNAL TEOLOGI KRISTEN Vol 7 No 1 (2025)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI STAR'S LUB LUWUK BANGGAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35909/visiodei.v7i1.573

Abstract

Sustainable church leadership is a pressing challenge for many local congregations amid rapid social and technological changes. The core issue addressed in this study is the absence of a structured mentoring strategy for nurturing prospective spiritual leaders, resulting in stagnation within the church’s leadership pipeline. The purpose of this study is to develop a leadership mentoring model based on Jesus Christ’s discipleship pattern as depicted in the Gospel of Mark, providing a relevant and applicable framework for local church contexts. The study employs a Research and Development (R&D) approach combined with exegetical analysis of Mark 1:16–20, 3:13–19, 6:7–13, and 16:15–18. The data were collected through a systematic review of biblical texts, and analyzed exegetically to identify the key stages and dynamics of Jesus’ mentoring of the disciples. The results reveal four distinct phases of the mentoring process: a divine call, character formation, active ministry engagement, and commissioning for global mission. In conclusion, these findings form the basis for the LEAD (Locate, Empower, Act, Deploy) mentoring model, offering a structured and practical approach for local churches to cultivate spiritually mature leaders who are both mission-ready and capable of reproducing this discipleship process across generations.