Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PENGARUH KONSEP POLA GRID TERHADAP KEMAMPUAN JANGKAUAN LANSIA DI KELURAHAN KROBOKAN Pratiwi, Busada Eka Kristi; Suprapti, Atiek; Murtini, Titien Woro
TEKNIK Volume 34, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.665 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v34i2.5635

Abstract

Elderly is people who aged 60 years and older and generaly has decreased physical and psychological. Thenumber of elderly in Kelurahan Krobokan has reached 8.9%, its means that the region can be said to havean old structure. Elderly in Kelurahan Krobokan can still use their environment can still use theirenvironment to get to a certain social facilities to meet their needs. Existing spatial pattern in the district isusing a grid that has a lot of intersections. The purpose of this study was to determine the physical aspects ofthe elements forming a regular grid patterns that exist in the area of research, so as to affect the nonphysicalaspects of the ability range of the elderly.Research methods that will be used is a qualitative method rationalistic. Where the assessment is used toform a grand theory of concept consisting of the variables that will be connected. Then the data analysisstarts from reviewing and systematics of data that has been obtained by grouping data into variables thathave been previously determined. The group is then presented in the form of maps, patterns, percentages andnarrative text. The data that has been arranged, then made a conclusion and interpretation.An analysis found that the grid pattern affect the ability of elderly to use their environment. The positiveinfluence that can reach the elderly Kelurahan Krobokan social facilities they want them to go the distanceeven beyond their ability.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN SIGNAGE (Studi Kasus Jalan Tjilik Riwut di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah) Nopemberi, Andri; Suprapti, Atiek; Murtomo, Bambang Adji
TEKNIK Vol 36, No 1 (2015): (Juli 2015)
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.341 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v36i1.7887

Abstract

Keberadaan signage disatu sisi tidak terlepas dari peran masyarakat sebagai objek konsumsi, selain itu juga seringkali penempatan signage tersebut merambah kawasan ruang publik perkotaan (public space). Dalam perkembangannya, Kota Palangka Raya sudah menggunakan signage di samping menciptakan karakter tertentu pada lingkungan, pemasangan signage juga memberikan masalah tersendiri. Konflik juga terjadi karena adanya perbedaan kepentingan antara public environmental information dan private sign. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat dari publik maupun penyedia jasa reklame serta mengetahui peran pemerintah dalam pengaturan signage. Untuk menganalisis persepsi masyarakat metode yang digunakan menggunakan metode kuantitatif rasionalistik. Metode tersebut dilakukan melalui kegiatan wawancara yang mendalam (In depth interview). Hasil Analisis menunjukan bahwa terdapat pengaruh keberadaan signage terhadap persepsi masyarkat pada koridor Jalan Tjilik Riwut. Hasil dari analisa peta mental diketahui bahwa keberadaan signage pada Jalan Tjilik Riwut ini timbul akibat persaingan antar penyedia barang dan jasa tanpa lagi memperhatikan keindahan dan keefektifan dari signage tersebut, serta tidak adanya peraturan pemerintah dalam menata jenis signage dan pemerintah Kota Palangka Raya tidak mempunyai master plan/grand design. Maka pemasangan signage belum memenuhi kriteria keindahan dan keefektifan Kota Palangka Raya sehingga mengakibatkan kekaburan informasi yang disampaikan serta signage di Jalan Tjilik Riwut.[Public Perception of the Existence of Signage (Case Study: Tjilik Riwut Road in Palangkaraya, Central Kalimantan)] The presence of signage is inseparable from the role of the society of consumers. The placement of signage often penetrates urban public areas (public spaces). During its development, Palangkaraya has been using signage that creates a particular character on the environment. However, the installation of signage also creates its own problems caused by a conflict of interest between the public environmental information signs and the private signs.This study aimed to find out the perception of the public, the advertising service providers and the government’s role in regulating signage. To analyze the perception, the method used was quantitative rationalistic. Post positivistic rationalistic approach emerged as a combination of positivism and rationalism philosophies. The method was carried out by in-depth interviews. The analysis results showed that there was significant effect of the presence of signage at the corridor of Tjilik Riwut road on public’s perception. The result of the mental map analysis was that the presence of signage on the Tjilik Riwut road emerged from competitions among providers of goods and services that neglect the fineness and effectiveness of the signage. Problems are also caused by the absence of government’s regulation in managing the types of signage and the absence of a master plan or grand design of the City of Palangkaraya. The installation of signage in Palangkaraya does not meet the criterion of fineness and effectiveness, resulting obscurity on the intended information of the signage on the Tjilik Riwut road. 
Menuju Harmonisasi Kehidupan: Ruang Padat Manfaat Di Kampung Kauman Semarang Suprapti, Atiek
MODUL Vol 14, No 1 (2014): MODUL
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2270.79 KB) | DOI: 10.14710/mdl.14.1.2014.29-38

Abstract

Abstrak Dikenal adanya dikotomi dalam proses formasi ruang: pertama adalah formasi ruang melalui skenario pengembangan material, dalam hal ini mobilitas tenaga kerja dan modal; sementara itu yang kedua adalah sebuah ruang yang terbentuk melalui hubungan sosial antar komunitas atau antar individual (Lefebvre, 1995). Kota-kota kuno Indonesia sebagian besar terbentuk secara tradisional dari proses yang kedua. Menembus perjalanan panjang berabad-abad lapis demi lapis kehidupan telah diterakan. Beberapa peristiwa kekuatan politik, ekonomi, sosial budaya telah membentuk wajah kota. Salah satu artefak penting adalah kampung tradisional yang termasuk bagian inti kota lama. Di dalam sebuah kampung, masyarakat hidup bersama dalam kelompok etnis dan dalam kelompok pertetanggaan (kampung pecinan, pekojan, Melayu, Banjaran, Kauman, Pandean, dsb. Kampung merefleksikan pengembangan sosial budaya komunitas, kampung juga merupakan lahan dibawah tekanan kapitalistik. Di dalam suasana ketidak cukupan ruang, kampung tradisional tumbuh, dengan tugas utama untuk membangun mentalitas generasi kota. Banyak aktivitas, sosial budaya, religius, ekonomi, dsb (harian dan eventual aktivitas melengkapi di dalamnya). Dengan jalan ini, akan menjaga keberlanjutan kehidupan sosial. Pengaturan arsitektur-ruang tidak hanya dalam cara-cara peraturan formal, namun juga dilengkapi dengan kesepakatan sosial antara komunitas. Tujuan tulisan ini untuk memberikan pemahaman makna dari kampung tradisional yang memiliki kepadatan tinggi dalam sebuah komponen material sebagaimana dalam komponen non material. Dengan metoda etnografi arsitektur akan memungkinkan mendeskripsikan pengalaman ruang di dalam detail keruangan. Kata Kunci : Bangunan Fungsi Spesifik , Persyaratan Fungsional, Detail Finishing Arsitektur
TIPOLOGI BANGUNAN DI PERMUKIMAN BANTARAN SUNGAI BERDASARKAN LOKASI DAN JENIS KONSTRUKSI (STUDI KASUS: PERMUKIMAN BANTARAN SUNGAI KAHAYAN, PALANGKARAYA) Murti, Nindita Kresna; Suprapti, Atiek; Sardjono, Agung Budi
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 7, No 1 (2020): April
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (864.698 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v7i1.37646

Abstract

Rumah yang berada di permukiman bantaran Sungai memiliki keunikan dan karakter tersendiri, hal ini dikarenakan fisik bangunan rumah menyesuaikan dengan kondisi dan lingkungan di daerah bantaran sungai. Pulau Kalimantan dibelah oleh sungai – sungai besar yang memiliki keunikan dan kondisi lingkungan yang berbeda satu dan yang lain, misalnya Sungai Kahayan yang membelah kota Palangkaraya memiliki kondisi dimana ketinggian pasang surut air sungai yang sangat tinggi dan terdapat permukiman awal terbentuknya Kota Palangkaraya. Bangunan rumah di permukiman yang berada di bantara Sungai Kahayan memiliki 3 segmen, yaitu 1) bangunan rumah yang bearda di atas air (apung/lanting), 2) bangunan rumah yang berada di bantaran/transisi antara air dan daratan (panggung), 3) bangunan rumah yang berada di darat. Metode yang di gunakan adalah metode kualitatif deskriptif, metode ini bertujuan untuk mengambarkan dan mendeskripsikan tipologi berdasarkan jenis struktur dan ruang pada bangunan di permukiman ini. Tujuan Penulisan artikel ini untuk mengetahui tipologi  bangunan rumah  di bantaran Sungai Kahayan yang terdiri dari segmen bangunan di atas air, panggung, dan bangunan yang di darat, berdasarkan konfigurasi bentuk dan ruang (spatial structure). Hasil dari penulisan paper ini adalah lokasi rumah dan perkembangan permukiman ini mempengaruhi tipologi yang terbentuk.BUILDINGS TYPOLOGY IN RIVERFRONT SETTLEMENTS BASED ON LOCATION AND TYPE OF CONSTRUCTION (CASE STUDY: KAHAYAN RIVER SIDE SETTLEMENTS, PALANGKARAYA)Houses in riverbank settlements have their uniqueness and character, and this is because the physical building of the house adapts to the conditions and environment in the riverbanks. Borneo is divided by large rivers that have unique and different environmental conditions; for example, the Kahayan River, which divides the city of Palangkaraya has a condition where the tidal height of the river is very high, and early settlements forming the City of Palangkaraya. Houses in settlements located on the riverbanks of the Kahayan have 3 segments, 1) Houses that are built on water (floating/lanting), 2) Houses that are located on the banks/transitions between water and land (stage), 3) house building in the land. The method used is a descriptive qualitative method; this method aims to describe and describe typologies based on the type of structure and space in buildings in this settlement. Purpose The writing of this paper seeks to find out the typology of house buildings on the banks of the Kahayan river, which consists of building segments on water, stage buildings, and buildings on the land, based on their spatial structure configurations. The results of this paper are the location of the house and the development of this settlement affect the typology that is formed.
PENGARUH AKULTURASI PADA MAKNA ORNAMEN BUNGA TERATAI DI MIHRAB MASJID SANG CIPTA RASA CIREBON Schiffer, Lia Rosmala; Suprapti, Atiek; Rukayah, R. Siti; Nugraha, Yudi
Jurnal Ilmiah Desain & Konstruksi Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/dk.2019.v18i2.2581

Abstract

Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang terletak di sisi barat alun-alun di depan Keraton Kasepuhan Cirebon merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Pulau Jawa sebagai peninggalan dari bukti penyebaran agama Islam oleh para Walisongo di Pulau Jawa. Bukti fisik bangunan dari segi arsitektur mempunyai nilai simbolis dan historis dari pengaruh Islam di Cirebon. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif dengan menggunakan teori akulturasi dan makna pada elemen arsitektural berupa ornamentasi pada interior peninggalan bangunan masjid bersejarah. Dan secara arsitektural membahas masjid dengan pendekatan dari pengaruh akulturasi dari Hindu, Budha dan Islam terhadap ornament pada masjid, dengan demikian teori dan metodologi yang digunakan dapat menangkap fenomena akulturasi dalam arsitektur masjid ini melalui penelusuran masjid sebagai Peninggalan arsitektur islam dan dalam proses pengaruh budaya nusantara pada ornamentasi pada bangunan masjid. Analisis data mencakupi: (1) indentifikasi unsur artistik dari objek (seni hias Teratai pada Mihrab bangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa), konfigurasi elemen rupa dan bentuk, dan kaitannya dengan pengaruh dari Hindu-Budha-Mesir ; (2) tahap interpretasi makna ornamen, yaitu pengaruh akulturasi dengan pertimbangan berbagai gejala visual. Dapat dibuat kesimpulan bahwa memang dari tahun pembuatannya, Masjid Sang Cipta Rasa dibangun pada 1489 M, pada masa itua dalah masa peralihan masa pra-Islam ketika Jawa masih dikuasai Mataram Hindu ke masa Kerajaan Raja-raja Islam dengan persebaran agam Islam melalui para Walisongo di Pulau Jawa. Dimasa peralihan inilah masjid dibangun dengan toleransi kepada kebudayaan sekitar yaitu terlihat dengan masih adanya pengaruh Hindu Budha Mesir pada tampilan ornament bunga Teratai pada masjid ini.
Prinsip-prinsip taman ramah anak berdasarkan sudut pandang pengguna Maria, Catalina Rosari; Pandelaki, Edward; Suprapti, Atiek
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 16, No 2 (2021)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v16i2.37913

Abstract

Penyediaan taman yang ramah anak sebagai sarana anak beraktivitas dan berinteraksi dengan lingkungan merupakan salah satu indikator keberhasilan Kota Layak Anak (KLA).  Penelitian ini dilakukan di Taman Citra Satwa yang merupakan salah satu taman terluas di Kota Semarang dengan berbagai fasilitas permainan dan olahraga. Sebagai taman yang baru beroperasi, taman ini telah banyak diminati oleh anak dan remaja dan memiliki potensi untuk dimaksimalkan sebagai taman ramah anak. Beberapa tahun terakhir, penelitian mengenai taman ramah anak membahas apa saja prinsip dalam taman ramah anak dan evaluasi penerapan prinsip tersebut pada beberapa taman di Indonesia. Namun belum ada penelitian tentang pendapat pengguna taman terhadap prinsip-prinsip tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pendapat pengguna terhadap prinsip yang dianggap paling mutlak dan prinsip mana yang masih dapat dikompromikan dalam taman ramah anak. Demi mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif rasionalisitik dalam menggali dan menganalisa pendapat pengguna terhadap prinsip-prinsip taman ramah anak yang sebelumnya telah dirumuskan berdasarkan teori dan temuan dari penelitian sebelumnya. Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa menurut pengguna taman, prinsip yang terpenting adalah kesehatan. Prinsip yang dianggap penting selanjutnya adalah prinsip daya tarik taman, keamanan dan keselamatan, kenyamanan, kebutuhan sosial, pembelajaran dan terkahir adalah prinsip kemudahan akses pada taman.
Transformation of Settlement caused by Housing Development in Suburbs of Semarang Muladica, Nur; Murtini, Titien Woro; Suprapti, Atiek
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v20i2.15171

Abstract

Abstract. The development of the region towards the outskirts of the city has become a common phenomenon of cities in Indonesia. The area that was formerly a deserted area is now a sought-after area of urban society. This is due to limited land in the city center causing the start of the spread of occupancy in the suburbs. The development of suburban areas that will undergo a transition causes a change of space in the region This phenomenon can be found in the city of Semarang. One of them is the district of Mijen Semarang. The area that was formerly a small settlement with the potential of rubber forest farming has changed into one of the elite areas in the city of Semarang. The emergence of housing Bukit Semarang Baru (BSB) as a catalyst has a great impact on the development of the surrounding environment. Bukit Semarang Baru (BSB) in Mijen District, Semarang City is a new city concept housing that provides housing, education, industry, recreation and other commercial facilities. The transfer of land from rubber plantation to BSB housing is estimated to cause the transformation of space related to the function and land use in the surrounding settlements, especially the area directly adjacent to the village of Wonolopo. This research uses a rationalistic approach with qualitative paradigm, which in this study aims to understand and know the pattern of settlement transformation in settlements that occur in the village Wonolopo, Mijen, Semarang. Through this research is expected to be able to analyze and know how big the change of settlement space
TRANSFORMASI ADAPTASI BANGUNAN DI PERMUKIMAN INFORMAL TEPI SUNGAI KAHAYAN Murti, Nindita Kresna; Suprapti, Atiek; Sardjono, Agung Budi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Many informal settlements in Indonesia have been unable to survive, this is due to changes that occur in the neighborhood. This change resulted in the not surviving of informal settlements, but this did not affect the informal settlements in the city of Palangkaraya, settlements on the banks of the Kahayan river were even more developed, and began to develop towards the mainland.As climate change and the global environment increase, there is a tendency for people to conceptualize adaptation in residential buildings as a process of survival and how adaptation is practiced by people who face the negative impacts of climate change, for example in informal settlements on the Kahayan river bank, where residents adapt to building their homes to be able to withstand environmental changes. Where the neighborhood is located there are tides of the river, as well as other environmental factorsThis study is to find out how the Kahayan River settlement communities can survive, with changes that occur in the environment by analyzing using 6 strategies in building adaptation, namely: Adjustable, Versatile, Refitable, Convertible, Scalable, and Movable (Robert Schmid, 2009). Adaptation that occurs in these settlements, namely on building houses that follow climate change, times, and the environment.Keyword: Informal Settlements, Kahayan River Edge, Adaptation, Transformation.Abstrak: Permukiman Informal di Indonesia banyak yang sudah tidak dapat bertahan, hal ini di karenakan adanya perubahan yang terjadi di lingkungan permukiman tersebut. Perubahan ini berakibat tidak bertahannya permukiman informal, namun hal ini tidak mempengaruhi permukiman informal di Kota Palangkaraya, permukiman yang berada di tepi sungai kahayan ini malah semakin berkembang, dan mulai berkembang menuju ke daratan.Seiring dengan meningkatnya perubahan iklim dan lingkungan global, ada kecenderungan masyarakat untuk membuat konsep adaptasi pada bangunan rumah tinggal sebagai proses untuk bertahan dan bagaimana adaptasi dipraktikkan oleh orang-orang yang menghadapi dampak negatif perubahan iklim, sebagai contoh pada permukiman informal yang berada di tepi sungai Kahayan, di mana warga beradaptasi pada bangunan rumah mereka untuk dapat bertahan terhadap perubahan lingkungan. Di mana lingkungan permukiman ini terdapat pasang surut air sungai, serta faktor lingkungan lainnya.Penelitian ini untuk mengetahui cara masyarakat permukiman tepi Sungai Kahayan dapat bertahan, dengan perubahan yang terjadi di lingkungan dengan menganalisa menggunakan 6 strategi dalam adaptasi bangunan, yaitu: Adjustable, Versatile, Refitable, Convertible, Scalable, dan Movable (Robert Schmid, 2009). Adaptasi yang terjadi pada permukiman ini, yaitu pada bangunan rumah yang mengikuti perubahan iklim, jaman, dan lingkungan.Kata Kunci: Permukiman Informal, Tepi  Sungai Kahayan, Adaptasi, Transformasi.
PEMANFAATAN JALUR PEDESTRIAN PADA AREA MIXED-USE DI JL. MT HARYONO (KORIDOR PETERONGAN-PEREMPATAN BANGKONG) Kinasih, Kania; Purwanto, Edi; Suprapti, Atiek
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This research is based on a new design on the pedestrian ways on MT. Haryono Street corridor of the Peterongan-Bangkong intersection, because the Semarang City Government made several changes to the pedestrian lane design in several locations, one of which was on MT. Haryono Street. Through this new pedestrian ways design, researchers will associate with mixed areas or mixed-use areas in the corridor that will be examined based on factors and indicators of the mixed area and pedestrian ways design. The purpose of this study is to determine the utilization of pedestrian ways in the mixed-use area which gets the highest priority based on pedestrian path users. Field data and interview results on pedestrian path users obtained were then analyzed using a qualitative deductive method combined with quantitative through sampling with purposive sampling. And it was concluded that the highest utilization of the new design of pedestrian ways in the MT Haryono Street is a function and activity.Keyword: Pedestrian ways’ utilization, mixed-use area, MT. Haryono street corridor, fuction and activityAbstrak: Penelitian ini didasari oleh desain baru pada jalur pedestrian di Jalan MT. Haryono koridor Peterongan-Perempatan Bangkong, karena Pemerintah Kota Semarang melakukan beberapa perubahan terhadap desain jalur pedestrian di beberapa lokasi, salah satunya di Jalan MT. Haryono. Melalui desain jalur pedestrian yang baru ini, peneliti akan mengkaitkan dengan area campuran atau mixed-use area pada koridor tersebut yang akan diteliti berdasarkan faktor-faktor dan indikator area campuran dan desain jalur pedestrian. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pemanfaatan jalur pedestrian pada area mixed-use manakah yang mendapat prioritas paling besar berdasarkan pengguna jalur pedestrian. Data lapangan dan hasil wawancara pada pengguna jalur pedestrian yang didapat kemudian dianalisa menggunakan metode deduktif kualitatif yang dikombinasikan dengan kuantitatif melalui pengambilan sample dengan purposive sampling. Dan didapatkan kesimpulan pemanfaatan paling tinggi dari desain baru jalur pedestrian Jalan MT. Haryono adalah fungsi dan aktivitas.Kata Kunci: Pemanfaatan jalur pedestrian, area mixed-use, koridor Jalan MT. Haryono, fungsi dan aktivitas
TIPOLOGI RUMAH VERNAKULAR BERDASARKAN SISTEM FISIK DI KAMPUNG BANDAR PEKANBARU, RIAU Annisa, Laili Dwi; Suprapti, Atiek; Pandelaki, Edward Edrianto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of the city of Pekanbaru originally came from a small hamlet on the edge of the Siak river. The development of Senapelan (Kampung Bandar now) is very closely related to the development of the Sri Indrapura Siak Kingdom which brought Malay culture and architecture to Bandar Village. To learn the characteristics of an architectural building one of them can be known by studying the typology of the building. Likewise with the characteristics of houses in a settlement, this can be known by examining the typology of the houses. The purpose of this study was to determine the typology of vernacular houses based on physical elements in Kampung Bandar Pekanbaru. The typology of this house will be discussed descriptively with qualitative methods. In this study, a strategy to determine the typology of vernacular houses uses physical system parameters that will discuss typologies based on the character of the material, typologies based on space constraints and typologies based on the structure of the house. The results of the study are expected to be a foundation for maintaining and preserving vernacular houses with Malay architecture in Pekanbaru. It also can be an input for the government to be able to develop the Bandar village area by continuing to emphasize the character of Malay architecture and advanced steps such as conservation so that it can be a positive impact on the city of Pekanbaru.