Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

APLIKASI TEORI SOSIOLOGI DALAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM Ahmad Mukhlishin; Aan Suhendri
INJECT (Interdisciplinary Journal of Communication) Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.459 KB) | DOI: 10.18326/inject.v2i2.211-234

Abstract

Theory is the highest form of knowledge because not all experts are prominent in creating and producing new theories. This is the reason to highly respect people who have successfully made theories. Theory generally becomes the main goal of science. The most typical thing of theorists is that they do not merely describe social life or the history of social development stand-alone. They help us to view human society with different perspective. Therefore, we will understand about the information of social life through their masterpieces and farther we will comprehend about the essence of human social connections. AbstrakTeori merupakan bentuk tertinggi dari pengetahuan. Karena tidak semua para ahli pandai membuat dan menghasilkan teori-teori baru. Di sinilah mengapa orang yang berhasil membuat teori sangat dihargai, karena teori merupakan tujuan utama dari ilmu pengetahuan pada umumnya. Hal yang paling penting yang sama-sama dimiliki oleh para teoritikus adalah bahwa mereka tidak semata-mata melukiskan kehidupan sosial atau menceritakan sejarah perkembangan sosial demi kehidupan sosial, atau menceritakan sejarah perkembangan sosial itu sendriri. Mereka lebih berusaha membantu kita untuk melihat masyarakat manusia dengan cara tertentu sehingga apa yang kita peroleh dengan membaca karya-karya mereka tidak hanya lebih banyak informasi mengenai kehidupan sosial, melainkan sesuatu yang jauh lebih penting lagi, yaitu sebuah pemahaman yang lebih baik mengenai hakikat hubungan-hubungan sosial manusia.
Peran Guru Bimbingan Konseling Dalam Mengatasi Tantangan Siswa: Studi Layanan Dan Kegiatan Konseling Di Smp N 6 Metro Ahmad Mukhlishin; Anisa Putri Muda
DIMAR: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 5 No. 2 (2024): DIMAR: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al Mubarok Bandar Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58577/dimar.v5i02.173

Abstract

Abstract : This study focuses on the role of guidance and counseling teachers in overcoming student challenges at SMP N 6 Metro. This study uses qualitative research methods, such as interviews and observations, to evaluate the guidance and counseling services provided by these teachers. The results showed that guidance and counseling teachers have an important role in improving students' academic achievement, then they help students overcome mental and emotional health problems, as well as create a better learning environment In addition, this study also found that guidance and counseling teachers can reduce students' level of loss, which is interpreted by their involvement in the learning process. In the context of this study, guidance and counseling teachers play a key role in education. They not only provide academic support, but also help students overcome challenges they face, such as stress, worries, and mental health issues. By conducting individual and group counseling and providing counseling services for the school community, guidance and counseling teachers help students develop social and emotional competencies and prepare them for future challenges. Overall, this study shows that the role of guidance and counseling teachers in overcoming student challenges at SMP N 6 Metro is very important. By understanding and utilizing this role, guidance and counseling teachers can help students achieve their academic and non-academic success. Keyword: Guidance and Counseling, Implementation of Guidance and Counseling, Students
Transformasi Keagamaan dan Sosial dalam Komunitas Ṭarīqah Qādiriyyah Naqshabandiyyah di Purwosari, Lampung Tengah Ahmad Mukhlishin; Jauharotun Nafisah; M. Muslih; Annida Ayu Damaro; Deby Setia Negara; Tristi Monita; Afika Duri
Bulletin of Indonesian Islamic Studies Vol. 3 No. 2 (2024): Bulletin of Indonesian Islamic Studies
Publisher : KURAS Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51214/biis.v3i2.1432

Abstract

This study explores the religious and social transformation within the Ṭarīqah Qādiriyyah Naqshabandiyyah (TQN) community of Roudlotus Solihin in Purwosari, Lampung Tengah. Using a qualitative case study approach, the research is grounded in Anthony Giddens’s theory of structuration and Pierre Bourdieu’s theory of practice. Data were collected through in-depth interviews and participant observation involving religious leaders (mursyid) and ordinary members. The findings reveal that the community has undergone significant transformation both in spiritual practices and social engagement. Regular religious activities—such as dzikr assemblies, haul celebrations, and routine pengajian—have expanded to include social empowerment programs and digital outreach through social media. These practices strengthen internal solidarity and promote broader social interaction. Moreover, generational differences are managed through inclusive strategies that integrate youth participation and technological innovation without abandoning the core spiritual doctrines. The study concludes that the TQN community in Purwosari acts as both a religious institution and a social agent, capable of reinterpreting its traditions to address contemporary challenges. This research contributes to the broader discourse on Indonesian Islam by showing how local Sufi communities sustain religious authority while engaging in meaningful social transformation.
Eksistensi Tradisi Nganteuran Pada Masyarakat Sunda Dilingkungan Masyarakat Islam Ranau Siti huzaimah; Meriyana; Ahmad Mukhlishin
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 3 No. 4: Juli 2024
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam tentang tradisi nganteuran yang masih eksis hingga saat ini walaupun sudah berada di luar jawa dan sudah berada ditengah-tengah lingkungan masyarakat suku Ranau. Tradisi nganteuran adalah tradisi mengantarkan makanan khas lebaran seperti masakan yang berupa nasi, daging (ayam, sapi atau kerbau), ikan, hingga beragam jenis kue kering atau kue basah kepada orang terdekat seperti sanak saudara atau keluarga khususnya kepada saudara yang lebih tua. Khususnya oleh kalangan muda kepada orang yang lebih tua. Makanan biasanya di kemas dalam rantang bertingkat. Nganteuran merupakan sebuah tradisi yang mungkin saat ini sudah mulai jarang ditemukan khususnya di lingkungan masyarakat perkotaan. Tradisi nganteuran ini bisa eksis dan bertahan hingga saat ini karena di dalam tradisi nganteuran ini terdapat nilai-nilai dan makna-makna yang terkandung di dalamnya, nilai-nilai yang terkandung didalamnya adalah nilai kasih sayang (loves), nilai tanggung jawab (responsibility) dan nilai keserasian hidup (life harmony). Adapun makna dari tradisi nganteuran jika ditinjau dari teori interaksionisme simbolik Herbert Blumer yaitu; (a) Pemaknaan (meaning), Dalam penelitian ini masyarakat melakukan tradisi nganteuran dimaknai sebagai sarana dalam mempererat tali silaturahmi, penghormatan dan tanda kasih sayang kepada saudara atau keluarga yang lebih tua. Tradisi nganteuran juga memiliki makna bahwa dengan kita melakukan tradisi ini artinya kita masih bisa berbagi antar saudara sesama muslim. Adapun makanan yang terdapat dalam tradisi nganteuran seperti nasi, lauk seperti daging sapi, kambing, ayam atau ikan dan berbagai kue kering atau kue basah, semua itu juga memiliki makna. (b) Bahasa (Language) Tradisi nganteuran adalah sebuah hasil daripada suatu bentuk interaksi yang dibangun oleh para pendahulu yang beranggapan bahwa tradisi nganteuran tidak semerta-merta tradisi saling memberi saja, namun juga sebagai ajang berkumpulnya keluarga serta mempererat tali silaturahmi antar keluarga. Selain itu tradisi nganteuran juga memiliki makna kasih sayang dan penghormatan kepada orang yang lebih tua serta saling melengkapi antar saudara sesame muslim. (c) Pikiran (thought) Berdasarkan teori Blumer, manusia akan mencoba berpikir untuk dapat merealisasikan makna dari simbol yang ada dikehidupan sosialnya. Setelah itu, manusia akan menyepakati hasil makna dari suatu simbol dan disosialisasikan pada keturunannya. Sesudah dari hasil interaksi dan kesepakatan tersebut, para orang tua akan mengenal dan mengajarkan simbol tersebut kepada keturunannya agar dapat mempercayai dan menyakini pada simbol yang dibangun oleh para pendahulu kemudian dilakukan terus-menerus dan menjadikannya sebagai tradisi. Nilai-nilai dan makna-makna itulah yang mendasari tradisi nganteuran masih eksis dan bertahan hingga sekarang walaupun sudah berada ditengah-tengah lingkungan masyarakat yang bersuku Ranau. Adapun factor yang mempengaruhi eksistensi tradisi nganteuran diantaranya (a) Minat generasi selanjutnya dalam melestarikan tradisi nganteuran. (b) Kelonggaran dalam pelaksanaan tradisi. (c) Adanya persepsi positif yang berkembang di masyarakat.