Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search
Journal : Animal Agricultural Journal

KOMBINASI VITAMIN E DAN BAKTERI ASAM LAKTAT (BAL) TERHADAP KONSENTRASI BAL DAN POTENSIAL HIDROGEN (pH) PADA AYAM KEDU DIPELIHARA SECARA IN SITU Cahyaningsih, Cahyaningsih; Suthama, Nyoman; Sukamto, Bambang
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.52 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan mengkaji pengaruh penambahan bakteri asam laktat dalam ransum terhadap potensial hidrogen (pH) dan konsentrasi bakteri asam laktat (BAL) dalam saluran pencernaan pada ayam kedu umur 12 bulan. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2011 sampai Januari 2012 di Kelompok Tani Ternak (KTT) Makukuhan Mandiri Kedu, Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung. Penelitian menggunakan 100 ekor ayam kedu betina, dan 20 ekor ayam kedu jantan umur 12 bulan. Penelitian disusun dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan (5 betina dan 1 jantan). Perlakuan yang diterapkan adalah T0 = ransum tanpa suplement, T1 = ransum + vitamin E 20 IU, T2 = ransum + 0,6 ml bakteri asam laktat (Biostrater A) dan T3 = ransum + vitamin E 20 IU + 0,6 ml bakteri asam laktat (Biostrater A). Ransum tersusun dari bekatul, jagung kuning, bungkil kedelai, tepung ikan, tepung kerang, dan CaCO3. Parameter yang diamati meliputi konsumsi ransum, konsentrasi BAL, kondisi pH usus halus, laju digesta, dan produksi telur harian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi bakteri asam laktat (BAL) (P<0,05) nyata antar semua perlakuan tetapi dengan pemberian vitamin E dan BAL nyata menurunkan pH, demikian pula pemberian BAL maupun kombinasi nyata memperlambat laju digesta. Parameter lain seperti konsumsi dan produksi telur harian (HDP) tidak dipengaruhi oleh perlakuan. Simpulan dari penelitian bahwa pemberian vitamin E sebanyak 20 IU/100 g ransum dan bakteri asam laktat sebanyak 0,6 ml/ekor/hari menghasilkan konsumsi ransum dan produksi telur harian yang sama, tetapi dapat meningkatkan konsentrasi bakteri asam laktat, menurunkan pH usus halus, dan memperlambat laju digesta.Kata kunci : Ayam kedu, vitamin E, bakteri asam laktat, laju digesta, produksi telurABSTRACT The study aims to determine the effect of the addition of lactic acid bacteria in the ration to potential hydrogen (pH) and the concentration of lactic acid bacteria (LAB) in digestive track 12 months old kedu chicken. The research was conducted on November 2011 to January 2012 on Livestock Farmers Groups Makukuhan Mandiri Kedu, Temanggung. The Research using 100 female kedu chickens, and 20 male kedu chickens age of 12 months. Experimental design used was Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 5 replications (5 females and 1 male). Treatment applied is T0 = ration without supplements, T1 = ration + 20 IU vitamin E, T2 = ration + 0.6 ml lactic acid bacteria (Biostarter A) and T3 = ration + vitamin E 20 IU + 0.6 ml acid bacteria lactate (Biostarter A). Ration composed from bran, yellow corn, soybean meal, fish meal, shellfish meal, and CaCO3. Parameters observed include consumption, LAB concentrations, intestinal pH conditions, rate of digesta, and hen day production. The results showed that the concentration of lactic acid bacteria (LAB) (P <0.05) is significant among all treatments but the combination of vitamin E and LAB lower the pH and slow the rate of digesta. Other parameters such as consumption and hen day production (HDP) is not affected by the treatment. Conclusion from the study is addition of vitamin E by 20 IU/100 g ration and lactic acid bacteria as much as 0.6 ml / head / day make the same result in consumption of rations and daily egg production, but may increase the concentration of lactic acid bacteria, lowering the pH of the small intestine, and slow the rate of digesta.Keywords: Kedu Chicken, vitamin E, lactic acid bacteria, rate of digesta, hen day production
PEMBERIAN EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluchea indica Less) DAN KLORIN TERHADAP MASSA KALSIUM DAN MASSA PROTEIN DAGING PADA AYAM BROILER (Feeding Beluntas Leaf Extract (Pluchea indica Less) and Chlorine on Muscle Calcium and Protein Massin Broiler Chickens) Syafitri, Yuniar Erlin; Yunianto, Vitus Dwi; Suthama, Nyoman
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.852 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan mengkaji pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dan klorin dalam ransum ayam broiler terhadap massa kalsium dan protein daging. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan5 perlakuan dan 4 ulangan, masing-masing unit ulangan 7 ekor ayam.Perlakuan yang diterapkan T0 = ransum tanpa penambahan ekstrak beluntas dan klorin, T1 = ransum dengan penambahan ekstrak daun beluntas 2%, dan air minum dengan klorin 30 ppm, T2 = ransum dengan penambahan ekstrak daun beluntas 4%, dan air minum dengan klorin 20 ppm, T3 = ransum dengan penambahan ekstrak daun beluntas 6%, dan air minum dengan klorin 10 ppm, dan T4 = ransum dengan penambahan ekstrak daun beluntas 8%, tanpa klorin.Parameter yang diamati adalah retensi kalsium, massa kalsium daging, massa protein daging, danpertambahan bobot badan harian (PBBH). Ternak yang digunakan adalahDay Old Chick (DOC) broiler sebanyak 140 ekor, dengan bobot badan awal 45,58 ±2,99 g.Ransum yang digunakan satu jenis formulasi sejak periode starter sampai finisher. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) 8% setelah 5 minggu perlakuan menghasilkan protein daging sama, tetapi terjadi peningkatan pertambahan bobot badan pada ayam broiler.Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa ransum dengan menggunakan ekstrak daun beluntas 8% sebagai feed supplementtanpa klorin (T4)menghasilkan pertambahan bobot badan ayam broiler paling tinggi, dengan massa protein daging yang sama. Kata kunci: ayam broiler; Pluchea indica Less; retensi kalsium; massa kalsium daging; massa protein daging. ABSTRACT         The aims of the study was to determine the effect of beluntas leaf extract (Pluchea indica Less) and chlorine on muscle calcium and protein mass in broiler.The present study was assigned in a acompletely randomized design with 5 treatments and 4 replications ,(7 birds). Dietary treatments were as follows T0 = control diet, T1 = 2 % beluntas leaf extract and 30 ppm chlorine , T2 = 4 % beluntas leaf extract and 20 ppm chlorine , T3 = 6 % leaf extract beluntas and 10 ppm , T4 = 8 % beluntas leaf extract wihtout chlorine. Parameters measured were retention of calcium ,muscle calcium mass,muscle protein mass, and daily body weight gain (DBWG).Experimental animals were 140 birds of Day Old Chick (DOC) broilers,with initial body weight of 45.58  ± 2.99 g. One formulation ration was applied for the period from starter to finisher. The results showed that beluntas leaf extract(Pluchea indica Less) at 8 % after 5 weeks of treatment resulted in the same muscle protein mass, but it increased body weight gain in broiler chickens.Based on the results, it can be concluded that the ration by using beluntas leaf extracts 8% as a feed supplement without chlorine (T4) resulted in body weight gain of broilers highest, with the same mass of meat protein.Keywords : broilers; Pluchea indica Less; retention of calcium; muscle calcium mass; muscle protein mass.
FERTILITAS TELUR DAN MORTALITAS EMBRIO AYAM KEDU PEBIBIT YANG DIBERI RANSUM DENGAN PENINGKATAN NUTRIEN DAN TAMBAHAN Sacharomyces cerevisiae Suryani, Nining; Suthama, Nyoman; Wahyuni, Hanny Indrat
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.891 KB)

Abstract

ABSTRACT The study aimed to assess the effect increased with the addition of nutrient rations Saccharomyces cerevisiae as a source of pre-probiotics on fertility and embryonic mortality of breeder kedu hen. The materials in use are 90 black kedu chickens in a year production period with weight 1636,13 g 109, 51 for females and 1850,54 g  120,89 for males, and yeast breads (fermipan) as a source of S. cerevisiae. The ration consists of corn, concentrate, premix, rice bran, fish flour, soybean meal, lime, and shell flour. The design of experiment that is used is complete randomized design (CRD) 2x3 factorial with 3 replications. The first factor is the type of breeder ration (R1) and improved ration (R2), the second factor is the level of addition of yeast bread of 0% (S0), 2% (S1) and 4% (S2) of the ration given. The result of this research showed that there was no interaction (P>0,05) between the ration improvement and the level of yeast nread to the value of ration consumption of breeder’s kedu chicken for eggs fertility and embryo mortility. The addition of yeast bread factor significantly increase egg fertility and reduce embryo mortality, especially the addition of 2% (S1) than unleavened bread (S0) and the addition of 4% (S2). Based on the results, it can be concluded that administration of yeast as much as 2% can improve fertility by reduce embryo mortality in breeder kedu chickens.   Key words: Kedu hen, Saccharomyces cerevisiae, fertility and embryonic mortality.   ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengkaji akibat peningkatan nutrien ransum disertai penambahan S. cerevisiae sebagai sumber pre-probiotik terhadap fertlititas dan mortalitas embrio ayam kedu pebibit. Materi yang digunakan adalah 90 ekor ayam kedu hitam periode produksi  umur 1 tahun dengan bobot badan pada betina 1636,13 g ± 109,51 dan pada jantan 1850,54 g ± 120,89, ragi roti (fermipan) sebagai sumber S. cereviciae, ransum terdiri dari jagung, konsentrat, premix, dedak padi, tepung ikan, bungkil kedelai, kapur, dan tepung kulit kerang. Penelitian  menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 2x3 dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah jenis ransum peternak (R1) dan ransum perbaikan (R2), faktor kedua adalah level penambahan ragi roti yaitu 0% (S0), 2% (S1) dan 4% (S2) dari ransum yang diberikan. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi (P>0,05) antara perbaikan ransum dan level ragi roti terhadap nilai konsumsi ransum ayam Kedu pebibit baik terhadap fertilitas telur maupunn mortalitas embrio. Faktor penambahan ragi roti nyata meningkatkan fertlititas telur dan menurunkan mortalitas embrio terutama penambahan 2% (S1) dibandingkan tanpa ragi roti (S0) dan penambahan 4% (S2). Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian ragi roti sebanyak 2% dapat meningkatkan fertilitas dengan penurunan angka mortalitas embrio pada  ayam Kedu pebibit.   Kata kunci: ayam kedu, Saccharomyces cerevisiae, fertilitas dan mortalitas embrio
MASSA KALSIUM DAN PROTEIN DAGING PADA AYAM ARAB PETELUR YANG DIBERI RANSUM MENGGUNAKAN Azolla microphylla Maharani, Putri; Suthama, Nyoman; Wahyuni, Hanny Indrat
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.894 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Azolla microphylla dalam ransum ayam Arab petelur terhadap massa kalsium dan protein daging. Manfaat penelitian dapat memberikan informasi mengenai pemanfaatan A. microphylla sebagai bahan ransum ayam Arab petelur. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian A. microphylla level berbeda (0%, 3%, 6% dan 9%). Parameter yang diamati adalah massa kalsium daging, massa protein daging, dan produksi telur. Materi yang digunakan adalah 80 ekor ayam Arab petelur (umur ± 9 bulan) dengan rata-rata bobot badan 1125±124,52g. Penyusunan ransum perlakuan menggunakan prinsip iso protein dan iso energi. Massa kalsium dan protein daging diukur dari sampel daging yang diambil dua kali yaitu penyembelihan setelah 4 dan 8 minggu perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian A. microphylla sampai level 6% setelah 8 minggu perlakuan dapat memperbaiki kemampuan deposisi protein yang dinyatakan sebagai massa protein daging.Kata kunci : ayam Arab petelur, A. microphylla, massa kalsium daging, massa protein daging. ABSTRACT The study aims to determine the effect of A. microphylla in Arabic layer rations on meat calcium mass and meat protein mass. The benefits of research can provide information on the utilization of A. microphylla as a Arabic layer. This research used completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replications. The treatment given is the gift of A. microphylla different levels (0%, 3%, 6% and 9%). Parameters measured were meat calcium mass, meat protein mass, and hen day production. The materials used are 80 Arabic layers (age ± 9 months) with average weight at 1125±124,52g. The making of ration is based on iso protein and iso energy principle. Meat calcium mass and meat protein mass was measured from meat sample which is taken twice at 4 and 8 weeks after the treatment has been implemented. The results showed that combining the A. microphylla into the ration up to level 6% after 8 weeks of treatment could improve protein deposition ability which stated at meat protein mass.Keywords: Arabic layer, Azolla microphylla, meat calcium mass, meat protein mass.
PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG BUAH JAMBU BIJI MERAH (Psidium guajava L.) DALAM RANSUM TERHADAP PERKEMBANGAN USUS HALUS DAN PERTUMBUHAN AYAM BROILER Cahyono, Landung Dwi; Mahfudz, Luthfi Djauhari; Suthama, Nyoman
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 3 (2013): Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.686 KB)

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji pengaruh penggunaan tepung buah jambu  biji merah dalam ransum terhadap perkembangan usus halus dan pertumbuhan ayam broiler. Variabel yang diamati adalah ukuran panjang dan bobot usus halus (duodenum, jejunum dan ileum) serta bobot badan akhir. Ayam broiler umur 16 hari unsex strain MB 202 sebanyak 120 ekor dengan bobot badan rata – rata 389,33 ± 7,9 g ditempatkan pada 20 petak kandang dengan masing-masing unit berisi 6 ekor ayam. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan : T0 (kontrol) : ransum tanpa penggunaan tepung buah jambu biji merah; T1 : ransum dengan penggunaan tepung buah jambu biji merah 1,7%; T2 : ransum dengan penggunaan tepung buah jambi biji merah  3,4% ; T3 : ransum dengan penggunaan tepung buah jambu biji merah 5,1%; T4 : ransum dengan vitamin C 500 ppm. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan prosedur analisis ragam (Analysis of Variance / ANOVA) derngan uji F pada taraf 5 % dan apabila hasil analisis menunjukkan pengaruh perlakuan yang nyata akan dilanjutkan dengan uji wilayah Ganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan penggunaan tepung buah jambu biji merah sebanyak 3,4% (T2) dosis yang paling baik bagi ayam broiler yang dipelihara dalam suhu tropis dilihat dari peningkatan panjang dan bobot usus halus serta bobot hidup menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap ukuran panjang dan bobot usus halus serta bobot hidup.
RASIO HETEROFIL LIMFOSIT DAN BOBOT RELATIF BURSA FABRISIUS AKIBAT KOMBINASI LAMA PENCAHAYAAN DAN PEMBERIAN PORSI RANSUM BERBEDA PADA AYAM BROILER Apriliyani, Fitri; Suthama, Nyoman; Wahyuni, Hanny Indrat
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.911 KB)

Abstract

ABSTRACT The study aimed to determine the effect of different lighting duration and feeding portion in broiler chickens on lymphocytes heterophile ratio (H / L) and bursa fabrisius relative weights and daily weight gain (DWG). Completely randomized design of split plot 2 x 3 arrangement was used in this research. Each treatment was replicated 5 times. Lighting duration as main plot and the sub plot was feeding portion. Twenty chickens were used as a control group and to distinguish between the treatment and the control group, was used. Parameters observed include H/L ratio, bursa fabrisius relative weight, DWG. Day old chick strain CP 707 as many as 320 heads, commercial rations and drinking water, medicines and vitamins. The results showed that there was no interaction (P> 0.05) between feeding portion and different lighting duration on H/L ratio, bursa fabrisius relative weight and daily body weight gain in broiler chickens. Old lighting real erpenaruh to value H / L ratio, bursa fabrisius relative weight and DWG. All parameter observed were significantly better than the control group. The conclusion was that intermittent lighting yielded H/L ratio, and the bursa fabrisius relative weight and DWG.Keywords: broilers chicken; feeding portion; lighting duration; heterophile lymphocyte ratio; bursa fabrisius.ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi pemberian porsi ransum dan lama pencahayaan berbeda pada ayam broiler terhadap daya tahan tubuh berdasarkan rasio heterofil limfosit (H/L) dan bobot relatif bursa fabrisius dan pertambahan bobot badan harian (PBBH). Rancangan acak lengkap (RAL) split plot 2 x 3 digunakan dalam penelitian ini dan setiap perlakuan diulang 5 kali. Lama pencahayaan sebagai main plot dan porsi ransum sebagai sub plot.. Dua puluh ekor anak ayam disediakan sebagai kontrol dan untuk membedakan antara perlakuan terhadap kontrol digunakan t-test. Parameter yang diamati meliputi rasio H/L, bobot relatif bursa fabrisius, pertumbuhan bobot badan harian (PBBH). Materi yang digunakan adalah ayam broiler day old chick (DOC) strain CP 707 sebanyak 320 ekor, ransum komersial dan air minum, obat dan vitamin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi (P>0,05) antara porsi ransum dan lama pencahayaan berbeda terhadap rasio H/L, bobot relatif bursa fabrisius dan pertambahan bobot badan harian pada ayam broiler. Semua parameter yang diamati secara signifikan lebih baik daripada kelompok control. Kesimpulan bahwa pencahayaan berselang menghasilkan rasio H/L, bobot relative bursa fabrisius dan PBBH lebih baik.Kata Kunci : Ayam broiler; porsi ransum; lama pencahayaan; rasio heterofil limfosit; bursa fabrisius.
PENGGUNAAN PROTEIN DAN PERTUMBUHAN PADA AYAM BROILER YANG DIBERI RANSUM DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG TEMU KUNCI (Boesenbergia pandurata ROXB.) (Protein Utilization and Growth of Broiler Chicken Fed Dietary Finggeroot (Boesenbergia pandurata ROXB.)) Astungkarawati, Dewi; Suthama, Nyoman; Atmomarsono, Umiyati
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 2 (2014): Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.989 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung temu kunci (Boesenbergia pandurata ROXB.) sebagai pakan tambahan terhadap laju pakan, kecernaan protein, retensi nitrogen dan pertambahan bobot badan pada ayam broiler.  Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 120 ekor ayam  broiler umur 7 hari.  Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan dengan taraf pemberian tepung temu kunci (0; 1,2; 1,6; dan 2%).  Data dianalisis ragam dengan probabilitas 5% dan dilanjutkan dengan ujiwilayah ganda Duncan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung temu kunci tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap laju pakan, kecernaan protein dan pertambahan bobot badan, tetapi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap retensi nitrogen.  Kesimpulan penelitian adalah pemberian tepung temu kunci pada level 2% menurunkan nilai retensi nitrogen, tetapi parameter lain (laju pakan, kecernaan protein dan pertambahan bobot badan) menunjukkan nilai yang sama.Kata Kunci: temu kunci: laju pakan; retensi nitrogen; ayam broiler ABSTRACTThis study aimed to determine the effect of dietary inclusion of finggerroot (Boesenbergia pandurata ROXB.) powder on rate of passage, protein digestibility, nitrogen retention and body weight gain in broiler chickens.  A total of 120 birds of 7 days old broiker chicken were used as experimental animal. The experimental design used in this study was completely randomized design with 5 treatments and 4 replications (6 birds each).  Dietary inclusion levels of finggeroot namely, 0, 1.2, 1.6, and 2 % were the treatment applied in the present study.  Data were stastically analyzed using analysis of variance (ANOVA) at 5 % probability, and it was continued to Duncan test if treatment indicated significant efect.  The results showed that feding of finggerroot had no significant effect ( P > 0.05 ) on the rate of passage, protein digestibility and body weight gain, but significant ( P < 0.05 ) on nitrogen retention.  The conclusion of this study is that the inclusion of finggerroot powder at the level of 2 % decrease nitrogen retention, but the other parameters (rate of passage, protein digestibility, nitrogen retention and body weight gain) are the same.Keywords : finggerroot; passage rate; nitrogen retention; broiler chicken
KECERNAAN LEMAK DAN MASSA LEMAK DAGING PADA AYAM KAMPUNG PERSILANGAN YANG MENDAPAT RANSUM DENGAN PENAMBAHAN UMBI BUNGA DAHLIA (Dahlia variabilis) SEBAGAI SUMBER INULIN (Fat Digestibility and Meat Fat Mass in Crossbred Native Chicken Fed Dietary Dahlia T Cholis, Muchamad Abdul; Suprijatna, Edjeng; Suthama, Nyoman
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 2 (2014): Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecernaan lemak, massa lemak daging dan pertambahan bobot badan ayam kampung persilangan yang diberi umbi bunga dahlia sebagai sumber inulin. Ternak penelitian yang digunakan adalah 280 ekor ayam yang dipelihara selama 10 minggu dengan rata-rata bobot badan 180,46±1,21 g.  Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL), dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Setiap ulangan terdiri dari 10 ekor ayam. Perlakuan menggunakan umbi bunga dahlia dalam bentuk tepung (0,4%, 0,8%, 1,2%)  dan ekstrak (0,39%, 0,78%, 1,17%). Parameter yang diukur meliputi kecernaan lemak,  massa lemak daging dan pertambahan bobot badan.  Hasil penelitian dianalisis ragam dandilanjutkan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecernaan lemak dan massa lemak daging nyata (P<0,05) dipengaruhi oleh perlakuan.  Kecernaan lemak dan pertambahan bobot badan tertinggi pada perlakuan T6 dan terendah T0 serta massa lemak daging terendah pada perlakuan T6 dan tertinggi T0. Simpulan penelitian adalah pemberian umbi bunga dahlia bentuk ekstrak pada level tertinggi  (0,78% and 1,17%) meningkatkkan kecernaan lemak dan keduanya dalam bentuk tepung maupun ekstrak menurunkkan massa lemak daging.Kata kunci : inulin; umbi bunga dahlia; kecernaan lemak; massa lemak daging ABSTRACT The purpose of the study was to determine the effect of dahlia tuber as inulin source in crossbred native chicken on fat digestibility, meat fat mass and growth. The experimental animals used were 280 birds of crossbred native chickens (10 weeks old) with initial body weight was 180.46±1.21 g. The present study was arranged in a completely randomized design (CRD) with 7 treatments and 4 replications (10 birds each). The treatments applied were level of dahlia tuber in the form of powder ( 0.4%, 0.8%, 1.2%)and extract (0.39%, 0.78%, 1.17%).  Parameters measured were fat digestibility, meat fat mass and growth.  Data were statically analyzed by anova and continued to Duncan test when the treatment effect was significant.  The result showed that fat digestibility, meat fat mass and growth was significantly affected by treatments (P<0.05).  The highest fat digestibility and growth was found in T6 and the lowest in T0.  In contrast, the highest meat fat mass was found in T0 and the lowest in T6. The conclusion is that feeding dahlia tuber at highest level (0.78% and 1.17%) increase fat digestibility, but in the form of both powder and extract decrease meat fat mass.Keyword : inulin, dahlia tuber, fat digestibility, meat fat mass
TOTAL BAKTERI ASAM LAKTAT DAN Escherichia coli PADA AYAM BROILER YANG DIBERI CAMPURAN HERBAL DALAM RANSUM Rahmah, Atika; Suthama, Nyoman; Yunianto, Vitus Dwi
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 3 (2013): Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.93 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan campuran herbal dalam ransum terhadap total bakteri asam laktat (BAL) dan Escherichia coli (E. coli) pada saluran pencernaan, serta pertambahan bobot badan ayam broiler. Penelitian menggunakan ayam broiler day old chick (DOC) sebanyak 200 ekor dengan bobot badan 37 g ± 3,08 g dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Ransum yang digunakan terdiri dari jagung, bungkil kedelai, tepung ikan, dedak, dan mineral dengan campuran herbal, yaitu bawang putih, kunyit, jahe dan kencur. Perlakuan yang diterapkan adalah T0 = ransum tanpa penambahan herbal (kontrol), T1 = ransum + 0,5% campuran herbal, T2 = ransum + 1,0% campuran herbal, T3 = ransum + 1,5% campuran herbal. Parameter yang diamati adalah total BAL, total E. coli dan pertambahan bobot badan. Sampel diambil pada saat ayam umur 42 hari secara acak pada setiap unit percobaan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa penambahan campuran herbal dalam ransum ayam broiler tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap total BAL, total E.coli dan pertambahan bobot badan. Penambahan campuran herbal dalam ransum ayam broiler menghasilkan total BAL berkisar dari yang terendah 4,69 x 109 cfu/g (T1) sampai yang yang tertinggi 2,41 x 1010 cfu/g (T3) dan total E.coli terendah 6,47 x 104 cfu/g (T2) tertinggi 3,57 x 105 cfu/g (T3), sedangkan pertambahan bobot badan berkisar dari 57 g/ekor/hari (T1) sampai 60 g/ekor/hari (T0). Simpulan dari penelitian adalah peningkatan level penambahan campuran herbal dalam ransum belum dapat meningkatkan total BAL atau menurunkan E.coli sehingga menghasilkan pertambahan bobot badan yang sama.
MASSA PROTEIN DAN LEMAK DAGING PADA AYAM BROILER YANG DIBERI TEPUNG TEMUKUNCI (Boesenbergia pandurata ROXB.) DALAM RANSUM (Protein and Fat Meat Mass in Broiler Chikens which Given Finggerroot (Boesenbergia pandurata ROXB.) Powder in Ration) Mentari, Anik Siswi; Mahfudz, Luthfi D.; Suthama, Nyoman
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 2 (2014): Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.464 KB)

Abstract

ABSTRAK            Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung temukunci (Boesenbergia pandurata ROXB.) dalam ransum ayam broiler terhadap massa protein dan massa lemak daging.  Manfaat penelitian dapat memberikan informasi bagi peternaktentang pemberian tepung temukunci sebagai bahan aditif yang mengandung antioksidan murah dan mudahdidapatserta memiliki kegunaan dalam meningkatkan massa protein dan menurunkan massa lemak daging ayam broiler.  Materi yang digunakan adalah 120 ekor ayam broiler umur 8 hari dengan bobot (137,5 g ± 16,09), setiap ulangan terdapat 6 ekor ayam.  Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan.  Parameter yang diamati adalah massa proteiin daging, massa kalsium daging, massa kalsium tulang, massa lemak daging, dan pertambahan bobot badan.  Perlakuan pemberian tepung temukunci masing-masing (0; 1,2; 1,6; 1,8 dan 2 %).  Data diolah dengan analisis ragam pada probabilitas 5% untuk mengetahui pengaruh perlakuan.  Jika terdapat pengaruh nyatadilanjutkan dengan perhitungan uji wilayah duncan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung temukunci dapat meningkatkan deposisi protein yang dinyatakan sebagai massa protein daging serta menurunkan pengaruh Ca daging yang dinyatakan sebagai massa kalsium daging sehingga tidak berpengaruh dalam degradasi protein, sedangkan massa lemak daging dan massa kalsium tulang tidak berpengaruh nyata (P>0,05).  Kesimpulan dari penelitian, pemberian tepung temukunci hingga level 1,8% dapat  mempengaruhi massa protein dan kalsium daging secara optimal.          Kata kunci: ayam broiler;  temukunci;   antioksidan;   pertumbuhan;  massa protein;  lemak daging ABSTRACT            The study was aimed to determine the effect of finggerroot (Boesenbergia pandurata ROXB.) powder in broiler chickens ration on protein and fat meat mass.   The benefit of research can provide information on the utilization of finggerroot as a broiler chickens feed.  The materials used are 120 broiler chickens (age 7 days) with initial body weight (137.5 g  ± 16.09), each experimental unit contained six chikens with the level of provision of finggerroot.  This research used completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 4 replications.  Parameters measured were meat protein mass, meat fat mass, meat calcium mass, bone calcium mass, and body weight gain.  The treatment is the gift of finggerroot different levels (0; 1.2; 1.6; 1.8 and 2 %).  Data were statically analyzed by analysis of variance and continued to Duncan test when the treatment effect was significant.  The result showed that giving finggerroot into ration could improve protein deposition ability which stated at meat protein mass and decrease the effect of meat Ca in protein degradation which stated at meat calcium mass, while meat fat mass and bone calcium mass has no significant effect (P>0.05).  The conclusion is feeding finggerroot in level 1.8 % could improve protein and calcium meat mass optimally.Keywords: broiler chikens; finggerroot; antioxidant;  growth;  protein; fat meat mass