Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Penentuan Lingkungan Pengendapan berdasarkan Karakteristik Mikrofosil dan Makrofosil Formasi Tuban Anggota Ngrayong Daerah Ngujuran, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, Jawa Timur Rahmadani, Gea Fanny; Idarwati, Idarwati
Jurnal Penelitian Sains Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/jps.v26i1.908

Abstract

Penelitian berlokasi di Daerah Ngujuran, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, Jawa Timur pada Formasi Tuban Anggota Ngrayong. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lingkungan pengendapan dari daerah telitian berdasarkan karakteristik mikrofosil dan makrofosil yang ditemukan. Hal tersebut menarik untuk diteliti karena daerah penelitian terdiri atas litologi batugamping kalkarenit karbonatan kuat dengan kandungan fosil foraminifera benthonik yang berlimpah dan makrofosil yang cukup beragam. Metode penelitian berupa analisa laboratorium paleontologi dan petrografi. Analisa paleontologi dilakukan preparasi batuan, penentuan lingkungan pengendapan fosil foraminifera benthonik serta analisa makrofosil. Analisa petrografi berupa pengklasifikasian sayatan tipis batuan yang mengandung foraminifera benthonik besar. Fosil foraminifera benthonik yang ditemukan pada lokasi penelitian yaitu fosil dominan berupa Streblus beccari, Streblus gaimardii dan Cibicides praecinctus. Fosil dengan kelimpahan menengah  yaitu Tubinella funalis dan Pyrgo aepressa. Articulina facifica, Quinqueloculina lamarckiana, Lagena favoso punctata, Bucella frigida, Alveolinella quoyi, Amphistegina lessonil dan Nonion depressulum adalah fosil dengan kelimpahan yang paling sedikit. Spesies makrofosil berfilum Brachiopoda dan Coelenterata yang ditemukan yaitu Peregrinella garganica, Stephanophyllia suecica dan Atrypina disparilis. Sayatan tipis batuan ditemukan kenampakan fosil foraminifera benthonik besar berupa Miogypsina. Lingkungan pengendapan pada lokasi penelitian berdasarkan fosil yang ditemukan adalah lingkungan pengendapan laut Transisi-Neritik Tepi.
Karakteristik Batuan Granit Pada Formasi Granit Garba Daerah Pancur Pungah dan Sekitarnya, Muara Dua, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Saputra, Pirdaus; Idarwati, Idarwati; Dyah Hastuti, Endang Wiwik
Jurnal Penelitian Sains Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/jps.v26i1.981

Abstract

Letak administrasi daerah penelitian berada pada Daerah Pancur Pungah, Muara Dua, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. Sebaran batuan granit formasi Granit Garba cukup luas dan memiliki karakteristik yang menarik untuk dibahas baik secara megaskopis maupun mikroskopis berdasarkan analisa petrografi. Penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan secara langsung dan analisis petrografi menggunakan sampel pemerconto yang telah di sampling. Berdasarkan observasi lapangan terdapat 36 lokasi penelitian singkapan batuan granit pada formasi Granit Garba (KGr). Kandungan mineral penyusun utama berupa golongan mineral-mineral silika (SiO2) yaitu kuarsa, plagioklas dan alkali feldspar ditemukan dalam batuan Syenogranit dan Monzogranit. Terdapat juga mineral tambahan yaitu biotit, piroksen dan fluorit serta mineral ubahan yaitu serisit dan klorit. Rata-rata sampel penelitian ini secara umum memiliki terkstur perthite berupa intergrowth antara mineral ortoklas dan plagioklas yang mengidentifikasi bahwa kedua mineral tersebut tumbuh secara bersamaan.Kata Kunci: Karakteristik; Petrografi; Granit Garba; Pancur Pungah; Muara Dua
Estimasi Sumberdaya Batubara Menggunakan Metode Poligon dan Metode Circular USGS pada daerah Pit 3 Timur, Banko Tengah, PT. Bukit Asam Tbk. Syaharani, Puan Rahima; Idarwati, Idarwati
Jurnal Penelitian Sains Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/jps.v26i1.928

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tonase batubara dalam tiga kategori, yaitu sumberdaya terukur, tertunjuk dan tereka menggunakan Metode Poligon dan Metode Circular USGS. Data yang dihimpun untuk penelitian ini merupakan data 3 titik bor, data geologi lokal daerah penelitian dan data core. Data bor yang diperoleh kemudian diolah sehingga diperoleh data ketebalan lapisan batubara, perhitungan volume batubara dan tonase batubara. Estimasi sumberdaya batubara berguna dalam tahapan awal eksplorasi untuk mengetahui berapa banyak sumberdaya yang dapat di tambang oleh suatu perusahaan. Metode yang digunakan perlu disesuaikan dengan karakteristik geologi pada daerah penelitian agar diperoleh hasil dengan akurasi yang tinggi. Hasil dari estimasi sumberdaya terukur pada seam A1 sebesar 4.566.987 ton, seam A2  4.355.608 ton, seam B1 3.812.039 ton, seam B2 1.412.791 ton dan seam C 3.688.855 ton. Sumberdaya tertunjuk pada seam A1 sebesar 8.098.830 ton, seam A2 11.499.733 ton, seam B1 5.429.465 ton, seam B2 1.619.183 ton dan seam C 10.037.948 ton. Sumberdaya tereka pada seam A1 sebesar  12.129.051 ton, seam A2 13.194.157 ton, seam B1 9.504.217 ton, seam B2 3.042.677 ton dan seam C 11.087.336 ton.
Karakteristik Batupasir Formasi Gumai dan Provenance pada Daerah Muara Pinang, Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan Mifturrahma, Rizkiya; Idarwati, Idarwati
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 25, No 2 (2025): Juli
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v25i2.5813

Abstract

This study aims to analyze the mineralogical characteristics, texture, structure of sandstone, and examine the origin of the sediments that form the rocks. The methods used in this study include direct observation in the field to determine the characteristics of sandstone starting from color, grain size and texture. Then a microscopic analysis was carried out to identify constituent minerals such as quartz, feldspar and lithics which were then classified using the QFL (Quartz, Feldspar, Lithic fragments) diagram which was then used to determine the origin of the sedimentary material. The results of the provenance analysis show that the sandstone in the Gumai formation contains various mineral compositions. Based on the classification of the tectonic order of the original rocks, the sandstone of the Gumai formation comes from a magmatic arc and recycled orogen.
Facies Analysis From Kikim Formation in Garba Mountain, South Palembang Subbasin Daryono, Sapto Kis; Afrilita, Afrilita; Idarwati, Idarwati
Jurnal Ilmiah MTG Vol 14 No 2 (2023): Jurnal Ilmiah MTG Volume 14 No.2 Tahun 2023
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmtg.v14i2.11854

Abstract

The Kikim Formation, especially the Cawang Member, has an important role in the formation and stratigraphic evolution of Paleogene age sedimentary rocks in the South Sumatra Basin because of their presence as pre-rift deposits. These deposits occurred before or simultaneously with the basin's formation. The results of research regarding facies analysis and interpretation of the depositional environment of the Kikim Formation located in the Garba Mountains will provide an explanation and description of the history of the formation and stratigraphic evolution of Paleogene age sedimentary rocks in the South Sumatra Basin as reflected in their lithological and facies characteristics. Facies analysis was conducted on the stratigraphic cross-section of the conglomerate deposit and sandstone deposit 1. The conglomerate deposit and sandstone deposit had thicknesses of ± 158.82 m and ± 177.50 m, respectively, on the Bumi Agung and Batu Belang measurement lines, South Ogan Komering Ulu area, Sumatra South. Facies analysis leads to the division of facies according to Miall (1978), namely eight lithofacies, namely Gravel matrix supported massive (Gmm), matrix supported Gravel (Gmg), massive Gravel (Gm), massive Sandstone (Sm), horizontally bedded Sandstones (Sh), low angel cross-bedding Sand (SI), Carbonaceous mud (C), massive Fine sandstone silt mud (Fm), Massive siltstones, and mudstones (Fsm). The facies associations obtained were Gravel Bars (GB), Sandy Bedforms (SB), channel (CH), and Overbank fine (FF). It showed that the depositional environment was a fluvial environment, and it was found that the type of river in the research area in the Kikim Formation was a braided river with Gravel braided rivers with sedimentary gravity flows model.
Analisis Geomorfologi Desa Pusar dan Sekitarnya, Kecamatan Baturaja Barat, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan Yunika, Winni; Idarwati, Idarwati
Jurnal Penelitian Sains Vol 27, No 3 (2025)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/jps.v27i3.1222

Abstract

Pengamatan dilakukan pada Desa Pusar dan sekitarnya, Kecamatan Baturaja Barat, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian dilakukan bertujuan untuk menganalisa proses geomorfologi secara mendalam di daerah Pusar. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode observasi langsung dan analisis geomorfologi, dimana berfokus pada berbagai fenomena geologi yang diidentifikasi, dideskripsikan, serta diukur guna analisis geomorfologi. Satuan geomorfik didapatkan berdasarkan hasil dari identifikasi beberapa aspek yang meliputi satuan morfologi (morfografi dan morfometri), geomorfik atau morfodinamik. Didapatkan 4 klasifikasi bentukan lahan pada daerah penelitian berdasarkan aspek geomorfologi yang mencakup morfologi, morfometri dan morfogenesa diantaranya yaitu Perbukitan Rendah Denudasional (PRD), Dataran Rendah Denudasional (DRD), Channel Irregular Meander (CIM) dan Bentuk Lahan Antropogenik. Pola Pengaliran daerah penelitian merupakan tipe pola aliran dendritik. Proses denudasional yang terjadi pada daerah penelitian menghasilkan longsoran pada daerah penelitian. Adapun jenis longsoran yang ditemukan pada daerah penelitian termasuk ke dalam longsoran jenis slide rotational.
PENENTUAN UMUR DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN FORMASI GUMAI BERDASARKAN KANDUNGAN FOSIL FORAMINIFERA PLANKTONIK DAN BENTHONIK Armandani, Aditya Raihan; Idarwati, Idarwati
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 3 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i3.66869

Abstract

Pendekatan analisis paleontologi dapat digunakan untuk menentukan umur dan lingkungan pengendapan suatu batuan dengan menganalisa fosil yang bersifat karbonatan. Formasi Gumai di Cekungan Sumatera Selatan merupakan satuan batuan sedimen Tersier yang terbentuk pada saat transgresi maksimum dan memiliki litologi dominan berupa batuserpih, batupasir, serta batuserpih dengan sisipan batugamping. Studi ini dilatarbelakangi oleh perlunya pemahaman lebih lanjut mengenai umur relatif dan lingkungan pengendapan Formasi Gumai yang menunjukkan kompleksitas litologi akibat perubahan kondisi energi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan umur dan lingkungan pengendapan Formasi Gumai melalui analisis kandungan fosil foraminifera planktonik dan benthonik. Metode yang digunakan meliputi observasi lapangan berupa pengukuran singkapan, pengambilan sampel, serta analisis laboratorium mikropaleontologi pada tiga sampel batuan karbonatan. Foraminifera planktonik dianalisis untuk menentukan umur batuan, sedangkan foraminifera benthonik digunakan untuk menentukan batimetri lingkungan pengendapan. Hasil analisis menunjukkan bahwa fosil foraminifera planktonik yang ditemukan, seperti Globigerinoides subquadratus dan Orbulina universa, menunjukkan umur Middle Miocene (N9). Sementara itu, keberadaan foraminifera benthonik seperti Globulina minuta hingga Angulogerin angulosa mengindikasikan lingkungan batimetri Transisi–Neritik Tepi (12,81 m – 91,5 m). Struktur sedimen yang teridentifikasi berupa laminasi dan bedding mendukung interpretasi perubahan energi arus selama proses sedimentasi. Berdasarkan temuan tersebut, disimpulkan bahwa Formasi Gumai berumur Miosen Tengah dan diendapkan pada lingkungan delta front dengan karakteristik energi yang berubah dari tinggi ke rendah, mencerminkan transisi lingkungan laut dangkal ke neritik tepi.
Rekonstruksi Sejarah Geologi Berdasarkan Analisis Stratigrafi Daerah Penyandingan dan Sekitarnya, Kecamatan Sosoh Buay Rayap, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan Laksana, M Mukti; Idarwati, Idarwati
Jurnal Geosains dan Teknologi Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgt.9.1.2026.1-23

Abstract

Penelitian ini bertujuan merekonstruksi sejarah geologi Penyandingan dan Sekitarnya, Kecamatan Sosoh Buay Rayap, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan pada Cekungan Sumatera Selatan, berdasarkan analisis stratigrafi yang mencakup observasi lapangan, petrografi, dan mikropaleontologi. Hasil penelitian menunjukkan stratigrafi 5 formasi dari tua ke muda dengan siklus transgresi - regresi. Fase transgresi Miosen Awal – Tengah ditandai oleh pengendapan Formasi Baturaja (lingkungan Shallow Marine, sub fasies Outer Back Reef Lagoon) yang beda fasies menjari dengan Formasi Gumai (lingkungan Delta Front). Fase regresi Miosen Akhir – Pliosen dicirikan oleh kemunculan Formasi Air Benakat (lingkungan Upper Delta Plain) dan Formasi Muara Enim (lingkungan Upper Delta Plain - Fluvial) yang mengandung batubara. Kemudian mengalami deformasi akibat kompresi tektonik Pliosen – Plistosen yang menghasilkan lipatan dan sesar naik dengan orientasi Barat Laut – Tenggara. Terakhir, Formasi Kasai yang diendapkan secara tidak selaras (lingkungan Fluvial sub fasies Floodplain), akibat vulkanisme dan erosi formasi lebih tua. 
Petrografi dan Provenance Batupasir Formasi Muara Enim dan Sekitarnya, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan Saputri, Yuyun Reka Ayu; Idarwati, Idarwati
Jurnal Penelitian Sains Teknologi Vol. 1 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/saintek.v1i2.6908

Abstract

The Muara Enim Formation is a rock formation in the South Sumatra basin that is of late Miocene – Pliocene age which is composed of sandstone, claystone and coal lithologies. The research activity was carried out in Perangai village, Lahat Regency, South Sumatra. This study focuses on petrographic analysis and analysis of rock origin in the Muara Enim formation in sandstone lithology. This research was conducted on sandstone obtained from sandstone outcrops in the research area that have fine sand to coarse sand. From the results of the study of 6 sandstone samples analyzed by petrography, 2 types of Sublitharenite sandstone, 3 types of arcose lithic sandstone, and 1 type of Feldspatic litharenite sandstone according to the Folk Classification, et al. (1970) and based on the results of the provenance analysis of QFL and QmFLt Diagram Dickinson (1983), it was found that the sandstone of the Muara Enim Formation is of high origin which is influenced by the Recycled Orogen tectonic process which shows that the source of the original rock has been affected several times by tectonic activities such as the lifting process and the presence of total quartz mineral content which is more dominating than feldspar and lithik minerals. Formasi Muara Enim adalah formasi batuan yang ada di cekungan Sumatera Selatan yang beumur Miosen akhir – Pliosen yang tersusun atas litologi batupasir, batulempung dan batubara. Kegiatan penelitian dilakukan didesa Perangai, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Penelitian ini berfokus pada analisis petrografi dan analisis asal batuan pada formasi Muara Enim pada litologi batupasir. Penelitian ini dilakukan pada batupasir yang diperoleh dari singkapan batupasir pada daerah penelitian yang memiliki ukuran butir halus sampai dengan kasar. Dari hasil penelitian 6 sampel batupasir yang dianalisis petrografi didapat 2 jenis batupasir Sublitharenite, 3 jenis batupasir Lithic Arkose, dan 1 jenis batupasir Feldspatic litharenite menurut Klasifikasi Folk, dkk (1970) dan berdasarkan hasil analisis provenance presentase QFL dan QmFLt Diagram Dickinson (1983), didapatkan bahwa batupasir Formasi Muara Enim berasal tinggian yang dipengaruhi oleh proses tektonik Recycled Orogen yang menunjukkan bahwa sumber batuan asal telah beberapa kali dipengaruhi oleh aktivitas tektonik seperti proses pengangkatan dan keterdapatan kandungan mineral kuarsa total yang lebih mendominasi dibandingkan mineral feldspar dan lithik.