Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Effeminacy in Personal Branding on Social Media Zulaikha Zulaikha; Ninda Ayu Bistanovasari
Nyimak: Journal of Communication Vol 5, No 2 (2021): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1349.495 KB) | DOI: 10.31000/nyimak.v5i2.4784

Abstract

Today, social media is more than just a platform to connect people. Social media can also be a marketing tool for various things, such as daily necessities products, secondary needs, philosophies, social campaigns, and so on. Instagram is one of the most popular social media platforms. The popularity of Instagram among young people is an interesting phenomenon. The very large number of Instagram users in Indonesia causes fierce competition for followers. So, every celebgram content is based on a certain idea. This difference is personal branding for each celebgram in generating replies on Instagram social media. This research aims to study how Indonesian Instagram superstars develop their ‘ngondek’ personal branding. This study uses a qualitative content analysis methodology to examine three accounts, Dhanar Jabro Febiansyah (@brojabrooo), Yoga Arizona (@yogaarizona), and Abdul Kadir (@dkadior). The results of this study indicate that personal branding that is built by celebrities through the impression of ‘Ngondek’ can be the right approach in attracting the attention of netizens on social media. Of course, in building the ‘Ngondek’ personal branding, it also requires research from the ‘Ngondek’ celebgrams in character selection, costume preparation, story concepts, and property preparation.Keywords: Effeminacy, personal branding, social media ABSTRAKDi dunia sekarang ini, media sosial lebih dari sekadar platform bagi orang-orang untuk terhubung; itu juga merupakan alat pemasaran. Apa pun, termasuk produk kebutuhan sehari-hari, kebutuhan sekunder, filosofi, kampanye sosial, dan sebagainya, dapat diiklankan di media sosial. Instagram adalah salah satu platform media sosial yang paling populer. Popularitas Instagram di kalangan remaja merupakan fenomena yang menarik. Karena jumlah pengguna Instagram yang sangat besar di Indonesia, ada persaingan sengit untuk pengikut. Setiap konten selebgram didasarkan pada gagasan tertentu. Perbedaan tersebut merupakan jenis personal branding bagi setiap selebgram dalam menghasilkan balasan dari media sosial Instagram. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari bagaimana superstar Indonesia mengembangkan personal branding ‘ngondek’ mereka. Pada tiga akun, Dhanar Jabro Febiansyah (@brojabrooo), Yoga Arizona (@yogaarizona), dan Abdul Kadir (@d kadoor), penelitian ini menggunakan metodologi analisis isi kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa personal branding yang dibangun oleh selebgram melalui kesan ‘Ngondek’ dapat menjadi pendekatan yang tepat dalam menarik perhatian netizen di media sosial. Tentunya dalam membangun personal branding ‘Ngondek’ tersebut juga menuntut adanya riset para selebgram ‘Ngondek’ dalam pemilihan karakter, persiapan kostum, konsep cerita, dan persiapan properti.Kata Kunci: Kebancian, merek pribadi, media sosial
STRATEGI PERSONAL BRANDING FOOD VLOGGER MUKBANG: STUDI KASUS KUALITATIF PADA CHANNEL TANBOY KUN Muhammad Dzikri Amrullah; Didik Sugeng Widiarto; Zulaikha Zulaikha
Jurnal Ilmu Komunikasi UHO : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol. 11 No. 1 (2026): EDISI JANUARI
Publisher : Laboratorium Ilmu Komunikasi Fisip UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/jikuho.v11i1.1993

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana Tanboy Kun membangun personal branding sebagai food vlogger mukbang di YouTube. Dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, penelitian menganalisis kanal YouTube Tanboy Kun (@tanboykun) pada periode 2016–2025. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggabungan delapan prinsip personal branding Montoya dengan konsep digital self-presentation dan parasocial interaction secara simultan untuk membaca praktik mukbang ekstrem di Indonesia. Data dikumpulkan dari 15 video yang dipilih secara purposive (mukbang ekstrem, kolaborasi, dan prank sosial) dengan unit analisis elemen visual, naratif, serta interaksi, lalu dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa personal branding Tanboy Kun dibangun melalui konsistensi tema mukbang ekstrem, storytelling bernuansa tantangan, perjuangan, dan hiburan, serta pembentukan identitas digital lewat close-up, ekspresi kepedasan, desain thumbnail, dan sapaan akrab. Engagement audiens melalui views, likes, dan komentar turut menguatkan citranya sebagai sosok ekstrem, dekat, dan dermawan. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya kajian personal branding kreator digital dengan memetakan keterkaitan prinsip Montoya, presentasi diri digital, dan relasi parasosial. Secara praktis, temuan ini menjadi acuan bagi kreator kuliner untuk merancang strategi konten yang konsisten sekaligus bernilai sosial.
Literasi Digital dan Digital Empathy Gap: Analisis Kemampuan Empatik Pengguna Media Sosial di Kalangan Generasi Z Julia Natasya Tidore; Didik Sugeng Widiarto; Zulaikha Zulaikha
Jurnal Multidisiplin West Science Vol 5 No 01 (2026): Jurnal Multidisiplin West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jmws.v5i01.3110

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara literasi digital dan kesenjangan empati digital di kalangan pengguna media sosial Generasi Z di Indonesia. Fenomena ini muncul seiring meningkatnya intensitas interaksi online yang tidak selalu seimbang dengan kesadaran etika, refleksi moral, dan sensitivitas emosional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan tujuh informan berusia 18–26 tahun yang aktif di platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter). Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi virtual, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan analisis tematik. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama: (1) kesadaran etika digital, (2) respons emosional online, dan (3) empati situasional dan dukungan sosial online. Temuan menunjukkan bahwa literasi digital yang tinggi tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis tetapi juga menumbuhkan kesadaran moral dan regulasi emosional, yang merupakan dasar pembentukan empati digital. Empati digital pada Generasi Z bersifat situasional dan simbolis, dimanifestasikan melalui dukungan emosional, refleksi diri, dan ekspresi positif di ruang digital. Penelitian ini menegaskan bahwa literasi digital komprehensif mencakup dimensi kognitif, afektif, dan etis, yang secara langsung berkontribusi untuk mempersempit kesenjangan empati digital. Secara praktis, temuan penelitian ini dapat berfungsi sebagai dasar untuk mengembangkan program literasi digital yang lebih humanistik, empatik, dan berorientasi sosial di lingkungan pendidikan tinggi.
Perkembangan Komunikasi Radio di Era Digital: Tinjauan Literatur yang Sistematis Harlita Nindhasari; Harliantara Harliantara; Nurannafi FSM; Zulaikha Zulaikha; Didik Sugeng W.
MUKASI: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/mukasi.v5i2.6356

Abstract

This study aims to comprehensively investigate the evolution and development of digital media in the context of broadcast radio communication. The main focus is directed toward the transition from analog radio broadcasting systems to digital and internet protocol (IP)-based platforms, which, while offering high efficiency, still present unique challenges for this century-old medium. The primary issue discussed is how the radio industry maintains its relevance, expands its reach, and monetizes content within an evolving and increasingly fragmented media landscape. By using a Systematic Literature Review (SLR) of 25 primary studies published in the past decade, this research explores shifts in audience consumption patterns, innovations in business models, and the ways technology is implemented. The results show that Media Convergence and Uses and Gratifications Theory are highly significant in understanding the radio adaptation process. Key strategies include utilizing podcasting as an on-demand strategy and integrating social media to enhance storytelling and transmedia communication. These conclusions indicate how radio broadcasting has transformed from a linear pathway into an interactive, multi-channel symphony. This study makes an important contribution to the academic world by exploring both the theoretical and practical aspects of radio communication in the context of convergence, while also offering valuable guidance for policymakers and media professionals.