Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Gaya Komunikasi Wali Kota di Instagram: Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Alif Nasution M.Alfian Rosidi Anwar; Nur'annafi Farni Syam Maella; Iwan Joko Prasetyo; Didik Sugeng Widiarto; Nevrettia Christantyawati
Journal of Economic, Bussines and Accounting (COSTING) Vol 7 No 4 (2024): Journal of Economic, Bussines and Accounting (COSTING)
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/costing.v7i5.11549

Abstract

Seorang pemimpin dituntut untuk memiliki keterampilan dalam membangun hubungan yang baik. Hubungan tersebut tidak terbatas pada ranah internal saja, namun juga di ranah eksternal. Penelitian ini menyoroti gaya komunikasi pemimpin dalam melakukan komunikasi di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gaya komunikasi di Instagram Pemerintah Kota Solo dan Instagram Pemerintah Kota Medan. Metode dalam penelitian ini adalah semiotika Roland Barthes, dimana yang menjadi unit analisisnya adalah postingan di Instagram Pemerintah Kota Solo dan Instagram Pemerintah Kota Medan. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa gaya komunikasi Gibran Rakabuming Raka lebih dominan oleh gaya komunikasi director, gaya komunikasi agresif, dan gaya komunikasi pasif. Sementara itu, gaya komunikasi Bobby Alif Nasution lebih didominasi dengan gaya komunikasi reflective, gaya komunikasi asertif, dan gaya komunikasi tegas.
STRATEGI PERSONAL BRANDING FOOD VLOGGER MUKBANG: STUDI KASUS KUALITATIF PADA CHANNEL TANBOY KUN Muhammad Dzikri Amrullah; Didik Sugeng Widiarto; Zulaikha Zulaikha
Jurnal Ilmu Komunikasi UHO : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol. 11 No. 1 (2026): EDISI JANUARI
Publisher : Laboratorium Ilmu Komunikasi Fisip UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/jikuho.v11i1.1993

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana Tanboy Kun membangun personal branding sebagai food vlogger mukbang di YouTube. Dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, penelitian menganalisis kanal YouTube Tanboy Kun (@tanboykun) pada periode 2016–2025. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggabungan delapan prinsip personal branding Montoya dengan konsep digital self-presentation dan parasocial interaction secara simultan untuk membaca praktik mukbang ekstrem di Indonesia. Data dikumpulkan dari 15 video yang dipilih secara purposive (mukbang ekstrem, kolaborasi, dan prank sosial) dengan unit analisis elemen visual, naratif, serta interaksi, lalu dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa personal branding Tanboy Kun dibangun melalui konsistensi tema mukbang ekstrem, storytelling bernuansa tantangan, perjuangan, dan hiburan, serta pembentukan identitas digital lewat close-up, ekspresi kepedasan, desain thumbnail, dan sapaan akrab. Engagement audiens melalui views, likes, dan komentar turut menguatkan citranya sebagai sosok ekstrem, dekat, dan dermawan. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya kajian personal branding kreator digital dengan memetakan keterkaitan prinsip Montoya, presentasi diri digital, dan relasi parasosial. Secara praktis, temuan ini menjadi acuan bagi kreator kuliner untuk merancang strategi konten yang konsisten sekaligus bernilai sosial.
Literasi Digital dan Digital Empathy Gap: Analisis Kemampuan Empatik Pengguna Media Sosial di Kalangan Generasi Z Julia Natasya Tidore; Didik Sugeng Widiarto; Zulaikha Zulaikha
Jurnal Multidisiplin West Science Vol 5 No 01 (2026): Jurnal Multidisiplin West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jmws.v5i01.3110

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara literasi digital dan kesenjangan empati digital di kalangan pengguna media sosial Generasi Z di Indonesia. Fenomena ini muncul seiring meningkatnya intensitas interaksi online yang tidak selalu seimbang dengan kesadaran etika, refleksi moral, dan sensitivitas emosional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan tujuh informan berusia 18–26 tahun yang aktif di platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter). Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi virtual, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan analisis tematik. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama: (1) kesadaran etika digital, (2) respons emosional online, dan (3) empati situasional dan dukungan sosial online. Temuan menunjukkan bahwa literasi digital yang tinggi tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis tetapi juga menumbuhkan kesadaran moral dan regulasi emosional, yang merupakan dasar pembentukan empati digital. Empati digital pada Generasi Z bersifat situasional dan simbolis, dimanifestasikan melalui dukungan emosional, refleksi diri, dan ekspresi positif di ruang digital. Penelitian ini menegaskan bahwa literasi digital komprehensif mencakup dimensi kognitif, afektif, dan etis, yang secara langsung berkontribusi untuk mempersempit kesenjangan empati digital. Secara praktis, temuan penelitian ini dapat berfungsi sebagai dasar untuk mengembangkan program literasi digital yang lebih humanistik, empatik, dan berorientasi sosial di lingkungan pendidikan tinggi.
Strategi Digital Marketing Melalui Tiktok Dalam Membangun Brand Trust Generasi Z Rahasdita Reo Hansdoko; Fitria Ayuningtyas; Nurannafi Farni Syam Maella; Didik Sugeng Widiarto
Buana Komunikasi (Jurnal Penelitian dan Studi Ilmu Komunikasi) Vol 6 No 2 (2025): Agustus
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USB YPKP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32897/buanakomunikasi.2025.6.2.4595

Abstract

This study aims to analyze digital marketing strategies through the TikTok platform in building brand trust among Generation Z. TikTok is highly relevant due to its large Gen Z user base and interactive features that support viral content distribution. Using a descriptive qualitative approach, this research analyzes digital content from the MS Glow brand during the period of January to June 2025. The findings indicate that strategies such as storytelling, collaboration with micro-influencers, user-generated content, and social value campaigns are effective in enhancing brand trust. This study offers practical insights for marketers in designing relevant digital communication strategies for Gen Z.