Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

KESENDIRIAN DALAM PERSPEKTIF INDIVIDUALISME: ANALISIS WACANA KRITIS LIRIK LAGU “JIWA YANG BERSEDIH” KARYA GHEA INDRAWARI Leksono, Cinta Rasca; Mayasari, Mayasari; Susanto, Tri
Jurnal Network Media Vol 8, No 2 (2025): NETWORK MEDIA
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/jnm.v8i2.5608

Abstract

Lagu “Jiwa Yang Bersedih” menggambarkan perjalanan emosional seseorang yang menghadapi tekanan hidup, kesendirian, dan perjuangan untuk menerima diri sendiri di tengah tuntutan sosial. Wacana individualisme dalam lagu ini tercermin melalui penggunaan kata-kata yang sederhana namun penuh makna, yang mampu menyampaikan rasa keterasingan dan perjuangan personal dengan kuat. Tema yang diangkat dalam lirik-lirik ini membuat peneliti tertarik untuk menganalisisnya sebagai kajian dalam penelitian ini. Ghea Indrawari melalui karyanya berupaya merepresentasikan kondisi emosional yang banyak dialami oleh generasi muda, terutama di lingkungan yang kompetitif, di mana tekanan untuk memenuhi standar kesuksesan sering kali menciptakan perasaan terisolasi dan kurangnya dukungan sosial.Penelitian ini bertujan untuk menganalisis representasi individualisme dalam lirik lagu "Jiwa Yang Bersedih" karya Ghea Indrawari menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis model Teun A. Van Dijk, yang mencakup dimensi teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Lagu ini menjadi fenomena menarik karena berhasil menjadi medium ekspresi personal sang musisi sekaligus memberikan pengaruh emosional yang signifikan kepada pendengarnya.Hasil analisis menunjukkan bahwa pada dimensi teks, lirik lagu ini menyampaikan tema kesedihan, kesendirian, dan perjuangan emosional melalui struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro. Pada dimensi kognisi sosial, lagu ini merefleksikan pengalaman Ghea sebagai musisi muda yang menghadapi tekanan industri musik, isolasi emosional, dan perjuangan dalam menemukan kembali kepercayaan diri melalui karyanya. Sementara itu, pada dimensi konteks sosial, lagu ini mengungkap realitas individualisme yang semakin berkembang di masyarakat modern, terutama pada generasi muda yang menghadapi tekanan sosial dan tuntutan hidup di lingkungan yang kompetitif.
OPTIMALISASI STRATEGI KOMUNIKASI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM @tanggap.karawang OLEH DISKOMINFO KABUPATEN KARAWANG DALAM MERESPON PENGADUAN JALAN RUSAK Nurhalizah, Siti; Abidin, Zainal; Susanto, Tri
Jurnal Network Media Vol 8, No 2 (2025): NETWORK MEDIA
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/jnm.v8i2.5549

Abstract

Tanggap Karawang merupakanpsalah satu program yangpdibuat olehpPemerintah Kabupaten Karawang untuk wadah bagipmasyarakat Kabupaten Karawang dalam menyampaikan keluhan, aduan, keresahan maupun kritik dan saran untuk pembangunan daerah, baik social maupun Pembangunan insfrastruktur yang ada di Kabupaten Karawang salah satunya jalan rusak. Masyarakat banyak mengeluh banyaknya jalan rusak dengan memanfaatkan media sosial yaitu Instagram, @tanggap.karawang mampu menjawab segala keinginan dan keluh kesah masyarakat akan banyaknya jalan rusak.Penelitianoiniomembahas analisis strategipkomunikasi Diskominfo Kabupaten Karawangodalam merespon pengaduanojalan rusak melalui akun Instagram @tanggap.karawang. Tujuan darippenelitian ini adalahkuntuk mengetahui efektivitas berbagai strategipkomunikasi yang dilakukan dalam merespon pengaduan jalan rusak kepada masyarakat.Data penelitian dikumpulkan melalui analisis dokumen terkait pengaduan jalan rusak, wawancara mendalam dengan pihak terkait, dan juga melalui observasi yang melibatkan responden. Pendekatanpyang digunakan dalam analisispdata adalah pendekatanokualitatif.  Hasil penelitianpmenunjukan bahwa strategipkomunikasi yang digunakanpoleh Diskominfo yaitu berupa strategi komunikasi melalui media social dan laman web. Dalam melaksanakan strategi komunikasi, Diskominfo melakukannya dalam beberapa tahap yaitu mulai dari tujuan (goals), perencanaan (plans), tindakan (actions).
User Interaction Patterns on User-Generated Content of Hindia's Song "Membasuh" on the TikTok Application Dede Wahyuni Wahyuni; Weni Adityasning Arindawati; tri susanto
Metacommunication: Journal of Communication Studies Vol 10, No 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/mc.v10i2.24383

Abstract

The use of Hindia's song Membasuh on the TikTok platform has given rise to various forms of User Generated Content (UGC) that share similar narratives, particularly in expressing emotions, life experiences, and social awareness values in the digital space. This study aims to analyze the patterns of interaction and meaning of communication formed in the comment section of the UGC, in order to understand how users construct shared meaning through participatory culture on social media. The approach used is qualitative with a netnography method. Data was collected from two UGC contents with the highest interaction rates and processed using two web-based tools, namely Apify Consol to extract comments and Voyant Tools to analyze the text. Furthermore, the data was analyzed using Braun and Clarke's thematic analysis combined with Miles and Huberman's model through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study show that interactions in the comments section form two main themes, namely personal experience reflection and emotional support. In conclusion, the comments section on UGC Membasuh acts as a digital social space that encourages self-expression, empathy, and interconnection among users, while also confirming that music functions as a medium of emotional communication and a means of social interaction in today's digital culture.
Analisis Framing Berita KOMPAS.com dan CNN Indonesia tentang Mahasiswa Aceh Usir Pengungsi Rohingya di Provinsi Aceh Nabila Syifa Apriliana; Din Eri Pratama; Luluatu Nayiroh; Tri Susanto
Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan Vol 6, No 2 (2025): SOCIAL INCLUSION
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jisp.v6i2.21186

Abstract

Pengungsi Rohingya masuk ke Indonesia dan jumlahnya bertambah sepanjang tahun karena terdapat konflik di negara asalnya Myanmar. Mahasiswa berupaya menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah mengenai keresahan yang dirasakan masyarakat Aceh terhadap pengungsi yang menjadi kerusuhan pada aksi yang terjadi di tempat pengungsian etnis Rohingya. Media membingkai peristiwa yang terjadi dengan memilih fakta dan isu yang akan disebar ke khalayak luas seperti media Kompas.com dan CNN Indonesia. Dengan menggunakan analisis framing Robert N Entman dan teori kontruksi sosial yang mengungkapkan bahwa dalam satu peristiwa media-media tidak memberikan informasi yang sama karena memiliki seleksi fakta dan pemahaman yang dikemas secara berbeda oleh wartawan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang digunakan untuk memahami dan mengungkapkan peristiwa pengusiran yang dilakukan oleh mahasiswa kepada pengungsi Rohingya serta pengemasan berita yang dilakukan oleh Kompas.com dan CNN Indonesia mengenai peristiwa pengusiran yang dilakukan mahasiswa aceh kepada pengungsi Rohingya.
Blaming nature, erasing structural accountability: how Indonesian media framed the 2025-Sumatran floods Oktavian, Winfrey; Dharta, Firdaus Yuni; Susanto, Tri
Jurnal Studi Komunikasi Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Communications Science, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/jsk.v10i1.11409

Abstract

This study examined how major Indonesian online media framed the causes, responsibility, and governance of the 2025 Sumatra flood disaster. Using qualitative content analysis based on Entman’s (1993) problem definition, causal diagnosis, moral evaluation, and treatment recommendation, the study analysed 56 news articles published between 1 and 10 December 2025 from major Indonesian online outlets, including Kompas.com, Tempo.co, Detik.com, CNN Indonesia, CNBC Indonesia, Tribunnews.com, and Liputan6.Com. This study examined the dominant narratives of causation, actor representation, responsibility attribution, and proposed solutions in flood reporting. The findings show that news coverage predominantly framed the floods as extreme weather. At the same time, structural factors such as deforestation, extractive industries, and spatial planning failures appeared less consistently and were often presented as secondary explanations. Government actors were largely represented as responders within a rescue-spectacle narrative, reflecting the political economy of disaster journalism, in which reliance on official sources and state-centred narratives displaces scrutiny of governance failures and extractive interests that produce flood vulnerability. These framing patterns contribute to the normalisation of floods as natural disasters and limit public attention to the need for structural accountability. This study contributes to disaster journalism and environmental communication research by highlighting how media framing shapes the understanding of responsibility for climate-related disasters.
Pola Komunikasi Orang Tua dengan Anak Down syndrome pada Pengikut Instagram @potads Ahmad Rigeel Antarex Ridwan; Tri Susanto; Oky Oxcygentri
Abdi Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): Juni
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/abdicendekia.v5i2.730

Abstract

Anak dengan Down syndrome (DS) memiliki tantangan khas dalam kemampuan berbicara dan berbahasa, yang menuntut pola komunikasi yang adaptif dan konsisten dari orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola komunikasi yang diterapkan oleh orang tua pengikut Instagram @potads, sebuah komunitas digital bagi orang tua anak DS, serta menggali pemaknaan pengalaman yang mereka jalani dalam interaksi sehari-hari. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan heterogenitas pola komunikasi yang cenderung visual, repetitif, dan menggunakan bahasa sederhana, disesuaikan dengan kebutuhan individu anak. Makna interaksi yang ditemukan bersifat evolusioner: orang tua tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga mencapai kepuasan emosional, wawasan psikologis, dan pelajaran hidup tentang penerimaan diri dan anak. Interaksi ini dipandang sebagai ekosistem pembelajaran timbal balik yang memperkuat motivasi orang tua untuk terus berkomunikasi, menjadikan setiap kemajuan kecil sebagai keberhasilan yang bermakna. Implikasi penelitian ini menyarankan fokus komunikasi harus bergeser dari sekadar transmisi pesan menjadi pembangunan hubungan dan proses, serta mengakui peran penting komunitas digital dalam membentuk pemahaman pola komunikasi.
Strategi Branding Grup Musik El-Uwais melalui Pemanfaatan Media Sosial Instagram Tanjuan Alfahiro; Eka Yusup; Tri Susanto
Jurnal Pustaka Komunikasi Vol 9, No 1 (2026): Accredited by Kemendikbud Dikti SK No. 79/E/KPT/2023
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/pustakom.v9i1.6184

Abstract

This study aims to analyze the branding strategy implemented by the El-Uwais Gambus Music Group through Instagram social media amidst the declining popularity of gambus music and increasing competition from modern music genres. This study uses a qualitative approach with the Brand Expression framework by Sisco Van Gelder to examine three main dimensions, namely brand positioning, brand identity, and brand personality. Data were obtained through in-depth interviews, observations, and documentation of the El-Uwais group owner and the social media admin who manages the group's Instagram account. The results show that El-Uwais utilizes Instagram as the main medium to display a consistent visual identity, emphasize the brand's position as a religious and modern gambus music group, and build a brand personality that is warm, communicative, and close to the audience. This strategy is supported by the use of visual content, documentation of performances, and active interaction with followers, thus helping to strengthen El-Uwais's brand image in the digital space. This research's contribution lies in explaining how the Brand Expression concept is applied in the context of digital communication to build the branding of traditional-religious music groups through Instagram. It also demonstrates that social media can be a strategic tool for expanding the reach and maintaining the existence of gambus music in the digital era.
ANALISIS POLA KOMUNIKASI ANTARPRIBADI REMAJA PADA KELUARGA BROKEN HOME DI KABUPATEN KARAWANG Aryo Waskito Fachturachman; Tri Susanto; Nurkinan Nurkinan
Jurnal Sosial Humaniora Sigli Vol 9, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Jabal Ghafur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47647/jsh.v9i1.4016

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola komunikasi antarpribadi remaja pada keluarga broken home di Kabupaten Karawang, faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi antarpribadi, serta hambatan komunikasi yang dialami remaja dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan sosial. Fenomena broken home yang disebabkan oleh perceraian, konflik keluarga berkepanjangan, dan kurangnya perhatian emosional orang tua mempengaruhi hubungan komunikasi interpersonal remaja dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik penentuan informan menggunakan purposive sampling dengan tiga informan utama yang merupakan remaja dari keluarga broken home di Kabupaten Karawang. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi antarpribadi remaja pada keluarga broken home mengalami perubahan dalam aspek keterbukaan komunikasi, hubungan emosional, intensitas komunikasi, serta kenyamanan dalam berinteraksi dengan keluarga. Remaja cenderung menjadi lebih tertutup, memendam masalah pribadi, dan lebih nyaman mencari dukungan emosional kepada teman sebaya dibanding keluarga. Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi antarpribadi meliputi perceraian orang tua, konflik keluarga, kurangnya perhatian emosional, kondisi psikologis remaja, serta lingkungan sosial. Hambatan komunikasi yang ditemukan berupa rendahnya keterbukaan komunikasi, rasa canggung dalam keluarga, kurangnya dukungan emosional, dan ketidaknyamanan dalam berkomunikasi dengan orang tua.Kata kunci: komunikasi antarpribadi, remaja, broken home, pola komunikasi 
PENGALAMAN HIDUP PEKERJA SEKS KOMERSIAL ONLINE PADA APLIKASI MICHAT DI KABUPATEN KARAWANG Naufal Murtadho; Tri Susanto; Nurkinan Nurkinan
Jurnal Sosial Humaniora Sigli Vol 9, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Jabal Ghafur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47647/jsh.v9i1.4032

Abstract

The development of digital technology has transformed prostitution practices from conventional forms into online prostitution through various communication applications, one of which is MiChat. This study aimed to understand the lived experiences, motives, and life meanings of online commercial sex workers in using the MiChat application in Karawang Regency. The research employed a constructivist paradigm with Alfred Schutz’s phenomenological approach. Three online commercial sex workers were selected as informants using purposive sampling techniques. Data were collected through in-depth interviews, observations, documentation, and literature studies, and were analyzed using the Miles and Huberman data analysis model. The findings indicate that the informants’ lived experiences are influenced by economic conditions, family backgrounds, and social interactions. The motives for using MiChat are shaped by both because motives and in-order-to motives. Furthermore, the profession is interpreted as a form of life struggle, a means of achieving future goals, and a reality that must be accepted as part of life.Keywords: online prostitution, MiChat, phenomenology, lived experience, commercial sex workers
Pola Komunikasi Orang Tua Grey Divorce dalam Membangun Kualitas Relasi dengan Anak Dewasanya Alvina Evelyna Desta; Tri Susanto; Tikka Muslimah
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/qr9hhv91

Abstract

Fenomena grey divorce menunjukkan perubahan dinamika keluarga, khususnya relasi antara orang tua dan anak dewasa. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola komunikasi keluarga pada orang tua yang mengalami grey divorce dalam membangun kualitas relasi dengan anak dewasa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap orang tua berusia di atas 50 tahun yang telah bercerai serta anak dewasa mereka. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña melalui kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan empat pola komunikasi keluarga, yaitu konsensual, pluralistik, protektif, dan laissez-faire. Pola pluralistik dan konsensual cenderung membangun kualitas relasi yang lebih baik karena ditandai keterbukaan, komunikasi dua arah, pengakuan emosional, dan pengelolaan konflik. Sebaliknya, pola protektif dan laissez-faire menunjukkan kualitas relasi yang lebih lemah karena membatasi partisipasi anak, mengurangi kedekatan emosional, atau membuat perubahan keluarga tidak dibicarakan secara mendalam. Penelitian ini menegaskan bahwa komunikasi yang terbuka, partisipatif, dan suportif menjadi kunci dalam menjaga relasi orang tua dan anak dewasa pascaperceraian usia lanjut.