Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Membangun Keluarga Harmonis: Kombinasi Nilai Adat dan Agama di Negeri Hukurila, Maluku Feky Manuputty; Afdhal Afdhal; Nathalia Debby Makaruku
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i1.73080

Abstract

Isu tingginya angka perceraian di Indonesia menjadi perhatian serius. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan upaya untuk memperkuat hubungan dalam keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai budaya dan agama yang memiliki peran besar dalam membangun keharmonisan keluarga. Penelitian ini fokus pada keluarga di Negeri Hukurila, Kota Ambon, suatu daerah yang dikenal dengan tingginya penghormatan terhadap tradisi budaya dan hubungan sosialnya. Untuk itu, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen sebagai teknik pengambilan data. Hasilnya menunjukkan bahwa keluarga di Negeri Hukurila sangat berperan dalam mempertahankan nilai-nilai budaya dan rasa solidaritas komunitas. Nilai-nilai budaya tradisional ini menjadi dasar kuat untuk keharmonisan keluarga seperti Sarikat dan Badraheng. Sarikat merupakan konsep budaya tentang kerjasama dan saling membantu antar marga dalam suatu Negeri dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan atau persoalan. Sedangkan Badraheng merupakan konsep budaya tentang pentingnya solidaritas, saling mendukung, dan bekerja sama antar anggota keluarga besar dalam satu marga untuk menghadapi tantangan dan konflik yang mungkin timbul. Selain itu, nilai-nilai dan kegiatan dalam agama juga turut membantu mempererat hubungan dalam keluarga. Program seperti konseling sebelum menikah dan pendidikan agama telah membantu membentuk sikap dan perilaku positif dalam keluarga. Bagi masyarakat Negeri Hukurila, antara budaya luhur dan agama tidak dapat dipisahkan. Mereka mengibaratkan agama dan budaya sebagai tiga batutungku. Dengan demikian, menggabungkan nilai-nilai budaya dan agama menjadi kunci untuk memperkuat hubungan dalam keluarga. Tidak hanya itu, penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dalam memperkuat harmoni dalam rumah tangga sebagai upaya pencegahan tingginya tingkat perceraian, baik di tingkat lokal maupun nasional.
PENDIDIKAN KELUARGA BERBASIS BUDAYA LOKAL: STUDI SOSIOLOGI PADA MASYARAKAT NEGERI HUKURILA, KECAMATAN LEITIMUR SELATAN Feky Manuputty; Simona Christina Hendrika Litaay; Afdhal Afdhal; Nathalia Debby Makaruku
Jurnal Mahasiswa BK An-Nur : Berbeda, Bermakna, Mulia Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jmbkan.v10i3.16452

Abstract

This study aims to explore the role of local culture in family education within the community of Negeri Hukurila, Leitimur Selatan District. The research employs a qualitative approach using observation and in-depth interviews to reveal how local cultural values such as pela, gandong, masohi, sasi, and adherence to customary laws form the foundation of family education. The findings show that family education not only emphasizes knowledge but also integrates the social and cultural norms of Maluku. These values contribute to the creation of harmonious families that are economically, socially, and culturally prosperous. This educational process is embodied through the bina keluarga program, an initiative of the Protestant Church of Maluku (GPM), which in Hukurila is carried out routinely every day. The novelty of this study lies in the discovery that the Bina Keluarga Program, although initiated by the church, has been adopted and consistently implemented in daily life, reinforcing the role of families in education based on local culture.
Kai-Wait sebagai Modal Sosial Inklusif: Tradisi Lokal dalam Membangun Solidaritas Lintas Agama di Maluku: Kai-Wait as Inclusive Social Capital: Local Tradition in Building Interfaith Solidarity in Maluku Nathalia Debby Makaruku; Feky Manuputty; Simona Christina Henderika Litaay; Afdhal Afdhal
Edu Cendikia: Jurnal Ilmiah Kependidikan Vol. 4 No. 03 (2024): Research Articles, December 2024
Publisher : ITScience (Information Technology and Science)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/educendikia.v4i03.5453

Abstract

This study aims to explore the concept of Kai-Wait as social capital in strengthening interfaith solidarity in the Maluku indigenous community, especially in Petuanan Leisela, Buru Island. Kai-Wait, a kinship system that integrates indigenous and immigrant residents, functions as a social mechanism that fosters trust, respect, and cooperation amidst religious diversity. With a qualitative approach through ethnographic studies, this study was conducted through participatory observation and in-depth interviews with indigenous leaders and members of the Buru indigenous community. The results of the study revealed that Kai-Wait not only strengthens social networks and customary norms, but also functions as a symbol of inclusive solidarity, able to embrace differences in religious and cultural identities. This tradition instills moral values ?? such as mutual respect, cooperation, and shared responsibility, which are continuously passed down to the younger generation. In addition, Kai-Wait shows its relevance as a local wisdom strategy in facing modern challenges, such as social polarization and identity conflicts, as well as being a bridge for social reconciliation. The novelty of this study lies in the identification of Kai-Wait as a form of pluralistic and inclusive social capital, different from other traditions in Maluku, such as Pela-Gandong, which tend to be limited to communities bound by customary oaths. This finding provides a significant contribution to the study of local wisdom, interfaith social solidarity, and social reconciliation. This study recommends the preservation of Kai-Wait values through formal and non-formal education, as well as the adaptation of this tradition to promote social harmony in diverse communities.