Ferdinand Frans Tilaar
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Beberapa Aspek Biologi Ikan Beronang (Siganus vermiculatus) di Perairan Arakan Kecamatan Tatapaan Kabupaten Minahasa Selatan Suleiman Tuegeh; Ferdinand Frans Tilaar; Gaspar Dauhar Manu
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 1 No. 1 (2012): (Edisi September - Desember 2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.1.1.2012.493

Abstract

BEBERAPA ASPEK BIOLOGI IKAN BERONANG (Siganus vermiculatus) DI PERAIRAN ARAKAN KECAMATAN TATAPAAN KABUPATEN MINAHASA SELATAN1 Suleiman Tuegeh2, Ferdinand F Tilaar3, Gaspar D Manu3 ABSTRACT One of the goals in the development of fisheries and marine biological resources is the formation of water conservation. Marine biological resources are considered to have significant economic value is rabbitfish. Availability of rabbitfish throughout Indonesia is still relatively large, this is possible because the Rabbitfish is a part of the coral reef ecosystem. The existence of rabbitfish (Siganus vermiculatus) in the waters of Arakan is a source of considerable revenue to help the fishermen in the village of Arakan. Market demand for these fish make the fishermen increasing the catch of rabbitfish in the waters of Arakan. As an initial action on the prevention of exploitation of this resource, one of the main things is the availability of biological information. This study is implemented with the aim to find out some biological aspects of Rabbitfish (Siganus vermiculatus), the L-W relationship, the pattern of growth, condition factor, gonad maturity index, gonado index and the sex ratio. Keywords: Biological aspect, rabbitfish     ABSTRAK Salah satu tujuan dalam pembangunan perikanan dan kelautan adalah pembinaan kelestarian sumberdaya hayati perairan. Sumberdaya hayati laut yang tergolong mempunyai nilai ekonomis penting adalah ikan beronang. Ketersediaan dari ikan ini di seluruh Indonesia masih relatif besar, hal ini dimungkinkan karena ikan beronang merupakan bagian dari ekosistem terumbu karang. Keberadaan ikan beronang (Siganus vermiculatus) di perairan Arakan merupakan sumber pendapatan yang cukup membantu para nelayan di Desa Arakan. Permintaan pasar akan ikan beronang ini membuat para nelayan semakin giat dalam menangkap ikan beronang yang ada di perairan Arakan. Sebagai tindakan awal pencegahan eksploitasi pada sumberdaya ini salah satu hal utama ialah tersedianya informasi aspek biologi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui beberapa aspek biologi ikan beronang (Siganus vermiculatus) yaitu hubungan panjang berat, pola pertumbuhan, faktor kondisi, indeks kematangan gonad (IKG), indeks gonad (IG) dan perbandingan jenis kelamin.     Kata Kunci : Aspek biologi, Ikan beronang
Struktur Komunitas dan Biomassa Rumput Laut (Seagrass) di Perairan Desa Tumbak Kecamatan Pusomaen Idris Baba; Ferdinand Frans Tilaar; Victor Naser Watung
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 1 No. 1 (2012): (Edisi September - Desember 2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.1.1.2012.494

Abstract

STRUKTUR KOMUNITAS DAN BIOMASSA RUMPUT LAUT (SEAGRASS) DI PERAIRAN DESA TUMBAK KECAMATAN PUSOMAEN1   Idris Baba2, Ferdinand F Tilaar3, Victor NR Watung3   ABSTRACT   Seagrass community structure is the basic data of seagrass ecosystems needs to know. Research community structure and biomass of seagrass was conducted in the waters of the Tumbak village, district of Pusomaen Southeast Minahasa North Sulawesi, in June 2012. This study aims to determine the community structure and biomass of seagrass through a review of the species density, species diversity, and evenness of species in the waters. Found seven species of seagrass that is Cymodoceae rotundata, Cymodocea serrulata, Halophila ovalis, Halophila minor, Enhalus acoroides, Thalasia hemprichii and Syringodium isoetifolium.     Keywords : seagrass, community structure, biomass   ABSTRAK Struktur komunitas rumput laut merupakan data dasar dari ekosistem rumput laut yang perlu di ketahui. Penelitian struktur komunitas dan biomassa rumput laut (seagrass) ini dilakukan di perairan Desa Tumbak Kecamatan Pusomaen Kabupaten Minahasa Tenggara Sulawesi Utara, pada bulan juni 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas dan biomassa rumput laut (seagrass) melalui penelahaan kepadatan spesies, keanekaragaman spesies, dan kemerataan spesies. Ditemukan tujuh spesies rumput laut yaitu Cymodoceae rotundata, Cymodocea serrulata, Halophila ovalis, Halophila minor,  Enhalus acoroides, Thalasia hemprichii dan Syringodium isoetifolium.     Kata kunci : rumput laut, struktur komunitas, biomassa
Community Structure of Seagrass Tasik Ria Waters, Sub-district of Tombariri, Minahasa District Berlian Rombetasik; Laurentius Th. X. Lalamentik; Ferdinand Frans Tilaar
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 1 (2020): ISSUE JANUARY-JUNE 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.1.2020.27603

Abstract

Seagrass study has been conducted in Tasik Ria waters in the district of the Minahasa area. The aims research is: 1. to know the physical and chemical conditions at the waters.2. To identify seagrass species found on research location and to study the community structure of seagrass. Four seagrass species have been found in the study i.e. Halophila ovalis, Enhalus acoroides,  Thalassia hemprichii, dan Syringodium isoetifilium. The number of individuals of seagrass varied between 316 to 662, species densities were varied between (84.27-176.53/m²), relative densities were (16.06-33.62), index of occurrence were (0.1-0.4), the relative frequency was (10-41.66%), the dominance was (84.27-176.5), the relative dominance were (16.04-33.62%). Thalassia hemprichii has the highest on important value has Index of dominance was 0.265, while the diversity index was 1.354, and the distribution pattern was 1.028.Keywords: Seagrass, Identification, Community Structure, Tasik Ria   AbstrakSuatu penelitian mengenai lamun telah dilakukan di Perairan Tasik Ria, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa. Penelitian ini mencakup Struktur Komunitas Lamun di lokasi penelitian. Tujuan penelitian ini adalah 1.Mengetahui kondisi fisik dan kimia perairan 2.Mengidentifikasi spesies lamun yang ada di Perairan Tasik Ria serta mempelajari struktur komunitas lamun.Pada lokasi penelitian ditemukan 4 spesies Lamun,yaitu Halophila ovalis( R. Brown) Hooker F, Enhalus acoroides (Linnaeus f.) Royle, 1839, Thalassia hemprichii (Ehrenberg) Ascherson, dan Syringodium isoetifolium (Ascherson) Dandy. Jumlah tegakan speseis lamun di lokasi penelitian berkisar dari 316 hingga 662 individu, kepadatan spesies (84.27-176.53/m²), kepadatan relatif (16.05-33.62%), frekuensi kehadiran (0.1-0.41), frekuensi relatif (10-41.66%), dominasi (84.27-176.53), dominasi relatif (16.04-33.62%). indeks nilai penting lamun di Perairan Tasik Ria menunjukkan bahwa Thalassia hemprichii memiliki indeks nilai penting paling tinggi di antara ke 4 spesies lamun yakni 108.91%. Indeks dominasi (0.265), indeks keanekaragaman (1.354), pola distribusi (1.028).Kata Kunci : Lamun, Identifikasi, Struktur Komunitas, Tasik Ria
ISOLASI BAKTERI LAUT DARI PERAIRAN MALALAYANG, SULAWESI UTARA Bella Wondal; Elvy Like Ginting; Veibe Warouw; Stenly Wullur; Sandra Olivia Tilaar; Ferdinand Frans Tilaar
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 3 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.7.3.2019.24448

Abstract

Marine bacteria have a lot of potential in exploring the enzyme that can be developed, such as a producer of proteorhodopsin, act as hydrocarbon chlorlastic and can degrade oil. This study aims to obtain isolates and can characterize the bacterial morphology. Malalayang Waters is one of the marine bacterial habitats that has potential area to be studied. This study aims to isolate marine bacteria from Malalayang Waters. These marine bacteria first were diluted into sea water before they were grown on Nutrient Agar (NA). Based on the results of this study it was found that marine bacterial isolated were separated based on their morphological characteristics. The dominant morphological characteristics were yellow whites which dominant shape were irregular.Keywords: bacterial, dilution, isolation.  Bakteri laut memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan. Seperti penghasil proteorhodopsin, berperan sebagai hidrokarbonoklastik dan dapat mendegradasi minyak. Perairan Malalayang merupakan salah satu habitat bakteri laut yang belum diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi bakteri laut dari Perairan Malalayang. Bakteri laut ditumbuhkan pada media agar + air laut, selain itu bakteri juga dilakukan pengenceran terhadap air laut sebelum bakteri ditumbuhkan pada media Nutrient Agar (NA). Berdasarkan hasil penelitian ini isolat bakteri  laut ditemukan, bakteri tersebut dipisahkan berdasarkan karakteristik morfologinya. Karakteristik morfologi yang dimiliki dominan berwarna putih kuning dan memiliki bentuk yang dominan tidak teratur. Hal ini dapat memperlihatkan perbedaan bakteri laut dari Perairan Malalayang yang tumbuh.Kata kunci: bakteri, pengenceran, isolasi.
Gastropod Community On Seagrass Ecosystem in Makalisung coast Kaseger, Cindy; Lalita, Jans Djoike; Tilaar, Ferdinand Frans; Tombokan, John L.; Mandagi, Stephanus V.; Ngangi, Edwin L. A.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v9i2.34974

Abstract

The aim of the research is to know various species of gastropods and gastropod community structure through species density, percent density, dominant species, and association of species of gastropods on seagrass ecosystem. Research with the method of quadrat transect is put perpendicular to the coastline. Gastropod species are found in the seagrass ecosystem on the Makalisung coast consist of 9 species, 7 families, and 4 ordos. Gastropod community structure on seagrass ecosystem is found with species density is highest Cymbiola nivosa as big as 0.64 (ind/m2) with highest percent density 34.04 %. Diversity of species of gastropods on four-station that H’> 1 highest in fouth station as big as H’= 1.72. The dominance of species is highest Cymbiola nivosa as big as C=0.44, where the result of research in generally dominancy C < 0.25 belong to low. Association of species of gastropods on seagrass ecosystem found three characteristics, (1) classifying of positive association is Cypraea tigris and Monetaria annulus, Cypraea tigris and Cymbiola nivosa, Strombus labiatus and Cyclope pellucida, Strombus labiatus and Cymbiola nivosa, Monetaria annulus and Cerithiun nodulosum, Cymbiola nivosa and Cerithiun nodulosum; Cerithiu nodulosum and Angaria dephinus and Faunus ater. (2) Classification of not associated Angaria dephinus and association close to zero (0,04) is Monetaria annulus and Cymbiola nivosa. (3) Classifying of negative association based on the result of the research shows most of the negative pairs of gastropod species on seagrass ecosystem.Keywords: Gastropod; Density; Diversity; Dominance; AssociationAbstrakTujuan penelitian ini adalah mengetahui jenis-jenis Gastropoda dan struktur komunitas Gastropoda melalui Kepadatan spesies (Ind/m2), Kepadatan relatif (%), Dominansi spesies (C), dan asosiasi antarspesies Gastropoda pada ekosistem lamun. Penelitian dengan metode garis transek kuadrat yang ditempatkan tegaklurus garis pantai. Spesis gastropoda yang ditemukan di ekosism lamun pantai Makalisung, terdiri atas 9 spesies , 7 famili,  dan 4 ordo. Struktur komunitas gastropoda di ekosistem lamun ditemukan dengan kepadatan total spesis tertinggi pada Cymbiola nivosa sebesar 0,64 (ind/m2) dengan kepadatan relatif tertinggi 34,04 %; keanekaragaman spesis gastropoda keempat stasiun H’> 1 di mana tertinggi stasiun 4 sebesar H’= 1,72; dominansi total tertinggi adalah spesis Cymbiola nivosa sebesar C=0,44, di mana hasil penelitian secara umum dominansi C < 0,25 adalah tergolong rendah. Asosiasi spesis gastropoda di ekosistem lamun ditemukan tiga ciri, (1) klasifikasi golongan asosiasi positif adalahCypraea tigris dan Monetaria annulus,Cypraea tigris dan Cymbiola nivosa, Strombus labiatus dan Cyclope pellucida, Strombus labiatus dan Cymbiola nivosa, Monetaria annulus dan Cerithiun nodulosum, Cymbiola nivosa dan Cerithiun nodulosum; Cerithiu nodulosum dan Angaria dephinus dan Faunus ater. Klasifikasi golongan tidak berasosiasi (2) Angaria dephinus dan asosiasi mendekati zero (0,04) yaitu Monetaria annulus dan Cymbiola nivosa. Dan klasifikasi golongan asosiasi negatif, hasil penelitian sebagian besar menunjukkan asosiasi negatif pasangan spesis gastropoda di ekosistem lamun.Kata kunci : Gastropoda, Kepadatan, Diversitas, Dominansi, Asosiasi.
Community Structure of Hard Coral (Scleractinia) in the Walenekoko Reef Flat, Pasir Panjang, Bitung City Pratiwi, Utary; Kambey, Alex D.; Lalamentik, Laurentius Th. X.; Tilaar, Ferdinand Frans; Mandagi, Stephanus Vianny; Manembu, Indri S.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.37277

Abstract

Coral reefs are one of the potential good water resources in Indonesian marine waters. Ecologically, coral reefs can only develop in tropical climates. Hard coral is one of the important components as a constituent of coral reef ecosystems and plays an important role for marine biota. The research was conducted at the reef flat of Walenekoko Village, Pasir Panjang Village, South Lembeh District, Bitung City. The research covers the species, family and life form composition, and ecological indices (diversity, species equitability, and dominance indices). The research was carried out with an Underwater Photo Transect (UPT) method. The results obtained 18 types of hard corals belonging to 5 families. Montipora samarensis was the most abundant coral in the area with 43% of the community composition. The Faviidae family and Acroporidae (33%) had the largest percentage in all transects. The form of coral growth consisted of Acropora Submassive (ACS) 53%, Coral Massive (CM) 30%, and for Acropora Branching (ACB) 16%. The highest diversity value is at point 3 of 1.64, and point 1 of 1.60, while the lowest is at point 2 of 0.56. The evenness index obtained at point 1 is 0.70, and at point 2 is 0.30. The dominance values obtained ranged from 0.25 to 0.52.Keywords: Community Structure; Hard Coral; Reef FlatAbstrakTerumbu karang merupakan salah satu potensi sumberdaya perairan yang baik di perairan laut Indonesia. Secara ekologis terumbu karang hanya dapat berkembang di wilayah beriklim tropis. Karang keras merupakan salah satu komponen penting sebagai penyusun ekosistem terumbu karang dan berperan penting bagi biota laut. Penelitian ini dilakukan di rataan terumbu Desa Walenekoko, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Lembeh Selatan, Kota Bitung. Penelitian meliputi komposisi spesies, famili, dan bentuk kehidupan, serta indeks ekologi (keanekaragaman, keseragaman spesies, dan indeks dominasi). Penelitian dilakukan dengan metode Underwater Photo Transect (UPT). Hasil penelitian diperoleh 18 jenis karang keras yang termasuk dalam 5 famili. Montipora samarensis adalah spesies yang paling banyak ditemukan di daerah tersebut dengan persentase 43%. Famili Faviidae dan Acroporidae (33%) memiliki persentase terbesar di semua transek. Bentuk pertumbuhan karang terdiri dari: Acropora Submassive (ACS) 53%, Coral Massive (CM) 30%, dan untuk Acropora Branching (ACB) 16%. Nilai keanekaragaman tertinggi yaitu pada titik 3 sebesar 1,64, dan titik 1 sebesar 1.60, sedangkan yang termasuk rendah yaitu pada titik 2 sebesar 0,56. Indeks kemerataan diperoleh pada titik 1 sebesar 0,70, dan pada titik 2 sebesar 0.30. Nilai dominasi diperoleh berkisar antara 0.25 hingga 0.52.Kata kunci: Struktur Komunitas; Karang Keras; Rataan Terumbu.
Identification Of Marine Debris By Focusing The Study Of Clean Coast Index On Karang Ria Tuminting Beach Poluan, Tirza I. A.; Sangari, Joudy R. R.; Tilaar, Ferdinand Frans; Lumingas, Lawrence J. L.; Pelle, Wilmy E.; Lasabuda, Ridwan
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 11 No. 1 (2023): ISSUE JANUARY-JUNE 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v11i1.44018

Abstract

Marine debris is rapidly gaining worldwide recognition as a major anthropogenic threat to global ocean ecosystems and produces a wide range of negative environmental, economic, safety, health and cultural impacts (UNEP, 2009). East Asia is the region with the fastest growing waste production in the world. Indonesia is in second position after China which produces the most waste in the world (Jambeck et al, 2015). The Beach Hygiene Index is a scaled index in a “Clean Coast” program launched by the Israeli ministry in an effort to solve the problem of littering on Israel's beaches. This index can be used as an indicator of pollution in a marine tourism area. The purpose of this study was to identify types of marine debris in the coastal waters of Karang Ria Tuminting and determine the value of the Clean Coast Index as an indicator of pollution. The collected data was then processed and statistically analyzed using Excel, Orange and SPSS software. Sampling was done by adapting the Shoreline Survey Methodology. approximately 1 month and made 2 direct observations, the plastic and rubber waste categories were found as the most common categories with the first observation being 73.4% and the second observation being 10.1%. The activities of the surrounding community are the main factors causing the abundance of marine debris around the coastal areas. The index value obtained is 39.5 with a total of 395 waste in various categories as stated by NOAA (2016). Keywords: Marine debris, Index, Identification, Category ABSTRAK Sampah laut dengan cepat mendapatkan pengakuan dunia sebagai ancaman antropogenik utama bagi ekosistem lautan global dan menghasilkan berbagai macam dampak negatif lingkungan, ekonomi, keselamatan, kesehatan, dan budaya (UNEP, 2009). Asia Timur adalah wilayah dengan pertumbuhan produksi sampah tercepat di dunia. Indonesia berada pada posisi kedua setelah China yang memproduksi sampah terbanyak di dunia (Jambeck et al, 2015). Indeks Kebersihan Pantai adalah skala indeks dalam suatu program “Clean Coast” yang diluncurkan kementerian Israel dalam upaya untuk memecahkan permasalahan sampah di pantai-pantai Israel. Indeks ini dapat digunakan sebagai indikator polusi pada suatu kawasan wisata bahari. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi jenis sampah laut di perairan pantai Karang Ria Tuminting dan menentukan nilai Indeks Kebersihan Pantai (Clean Coast Index) sebagai indikator polusi. Data yang dikumpulkan kemudian diolah dan dianalisis secara statistik dengan menggunakan perangkat lunak Excel, Orange dan SPSS. Pengambilan sampel dilakukan dengan mengadaptasi metode Shoreline Survey Methodology. Pengamatan dilaksanakan kurang lebih 1 bulan dan dilakukan 2 kali pengamatan langsung, diperoleh kategori sampah plastik dan karet sebagai kategori yang paling banyak ditemukan dengan komposisi jumlah pada pengamatan pertama sebesar 73.4% dan pengamatan kedua sebanyak 10.1%. aktivitas masyarakat sekitar menjadi faktor utama penyebab berlimpahnya sampah laut di sekitar wilayah pesisir. Nilai indeks yang diperoleh yaitu sebanyak 39,5 dengan jumlah total 395 sampah dengan berbagai kategori sesuai dengan yang dikemukakan oleh NOAA (2016). Kata kunci : Sampah laut, Indeks, Identifikasi, Kategori