Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN FAKTOR BUDAYA DENGAN KEPUTUSAN IBU MEMILIH PENOLONG PERSALINAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANGKALAN KABUPATEN KARAWANG Ari Antini
Jurnal Kebidanan VOLUME 07 No.01, Juni 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35872/jurkeb.v7i01.191

Abstract

ABSTRAK Keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia masih belum memuaskan, terbukti dari masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi terjadinya kematian ibu maupun bayi adalah faktor pelayanan yang sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan keterampilan tenaga kesehatan sebagai penolong pertama pada persalinan. Departemen Kesehatan menetapkan target 90 % persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan pada tahun 2010. Berdasarkan laporan profil KIA Kabupaten Karawang Puskesmas Pangkalan merupakan Puskesmas dengan cakupan linakes terendah sebesar 68,8% (2009), 73,2% (2010), dan  75,75% (2011). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan pengetahuan, sikap dan faktor budaya dengan keputusan ibu memilih penolong persalinan dan menganalisis faktor yang bersifat dominan dalam keputusan ibu memilih penolong persalinan. Rancangan penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan case control. Sampel penelitian sebanyak 94 ibu pasca salin tahun 2012, 47 ditolong non nakes (kasus) dan 47 ditolong nakes (kontrol). Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi square dan uji regresi logistik. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Pangkalan Kabupaten Karawang pada bulan Maret – April 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan keputusan ibu memilih penolong persalinan adalah sikap (OR=2,616 dan p<0,05), dan faktor budaya (OR= 4,823 dan p<0,05). Variabel yang tidak berhubungan dengan keputusan ibu memilih penolong persalinan adalah pengetahuan (OR (IK 95%) = 1,435 (0,622-3,310) dan p>0,005). Variabel yang bersifat dominan dalam keputusan ibu memilih penolong persalinan adalah faktor budaya OR=4,275 dan  p<0,05). Terdapat hubungan sikap ibu, faktor budaya dan faktor budaya bersifat dominan dalam keputusan ibu memilih penolong persalinan. Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Budaya, penolong persalinan CORRELATION OF KNOWLEDGE, THE ATTITUDES AND CULTURAL FACTORS TO THE MOTHER’S DECISION CHOSE HELPER OF CHILDBIRTH IN THE WORK AREA PUSKESMAS PANGKALAN DISTRICT KARAWANG ABSTRACT Development success of health in Indonesia is still not satisfactory, proven from still high the maternal mortality rate (MMR) and Infant mortality rate (IMR). One factor that greatly influences the occurence of maternal and infant mortality are factor service is strongly influenced by ability and skill health workers as helper fisrt on childbirth. The departement of health setting target 90% of chilbirth were being helped by health workers in 2010. Based on the report profile KIA district Karawang in 2010 scope linakes 78,64%, only lower than the target much as 90%. The purpose of this research is analyzing the relation of knowledge, the attitudes and cultural factors to the mother’s decision chose helper of childbirth and analyze a factor that is dominant in mother’s decision chose helper childbirth. The design of this research is analytic research with  case control. Sample research a total of 94 mother post childbirth , 47 were being helped non health workers (cases) and 47 helped health workers (control). Collecting data using a questionnaire. Analysis of data test using chi square and test regression logistics. This research carried out in the work area Puskesmas Pangkalan district Karawang in Maret-April 2013. The results showed that the variables associated with decision mother chose helper childbirth is attitude with (OR=2,616 and p=0,023), cultural factors with (OR= 4,823 and p=0,000). The variable doesn’t correlate with decision mother choose helper childbirth is knowledge (OR (IK 95%) = 1,435 (0,622-3,310) and p>0,005). variable that is dominant in decision mother chose helper childbirth is culture (OR(IK95%)=4,275(1,993-9,170) and p value=0,002). Increasing approach to cultural factors that were held by the public through public figure is part of efforts to increase childbirth by health workers.  Keyword : knowledge, attitude, culture, helper childbirth
Pemberdayaan Remaja Putri Dalam Penatalaksanaan Anemia Dan Pre Menstrual Syndrome (PMS) Dengan Puding Kelor Jagung Manis (PUKEMA) Di SMPIT Nurul Hasby Purwamekar Karawang Jenny Anna Siauta; Mardianti; Irna Trisnawati; Ari Antini; Rahayu Pertiwi; Rahayu Dwikanthi; Mimin Rusmiati; N.Unirah A.Sadeli; Irma Damayanti; Irni Indriani
Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandira Cendikia Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jpkmmc.v4i12.2066

Abstract

Kesehatan remaja putri sangat menentukan kualitas generasi berikutnya, karena remaja putri merupakan calon ibu di masa depan. Anemia didefiniskan sebagai berkurangnya konsentrasi hemoglobin dalam eritrosit sehingga tidak mencukupi untuk kebutuhan fisiologis dalam tubuh. Remaja putri mengalami menstruasi yang dapat menyebabkan terjadinya anemia dan beberapa gangguan salah satunya yaitu Pre menstrual Syndrome (PMS). Penyebab munculnya gejala-gejala PMS masih belum diketahui secara pasti tetapi perubahan hormonal, prostaglandin, diet, obat-obatan dan gaya hidup merupakan beberapa faktor penyebab munculnya PMS yang dapat mempengaruhi kerja hormon serotonin di otak. Salah satu bahan makanan alam yang mengandung Zat besi, Kalsium dan Vitamin C cukup tinggi adalah daun Kelor. Pengetahuan remaja puteri terhadap penatalaksanaan anemia masih rendah, sehingga berdampak pada kualitas hidup remaja dan prevalensi angka kejadian anemia pada remaja putri Pemberian penyuluhan dan cara membuat puding kelor dan jagung manis telah terlaksana dengan hasil peningkatan pengetahuan sebesar 18 poin dan perubahan sikap menjadi lebih termotivasi untuk rutin minum tablet tambah darah sebesar 25 poin, serta remaja putri memahami alternative pengolahan daun kelor dengan olahan pudding kelor jagung manis, selanjutnaya remaja putri memahami cara mengatasi nyeri PMS dengan teknik alternative berupa akupresure. Bidan sebagai ujung tombak layanan dikomunitas diharapkan selalu meningkatkan kualitas layanan terutama terhadap kesehatan remaja putri.