Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH KADAR HB IBU MENYUSUI DENGAN TINGKAT KECUKUPAN ASI BAYI USIA 2 MINGGU DI KABUPATEN KARAWANG Irna trisnawati; Mardianti; Ari Antini; Siska Aryani
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 15 No 1 (2023): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v15i1.2165

Abstract

Anemia pada ibu post partum terjadi karena perdarahan akut saat melahirkan. Hal ini dapat berdampak pada gangguan menyusui. Kejadian anemia pada ibu menyusui akan menurunkan produksi ASI, menurunkan kualitas dan kuantitas ASI dan akan berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan bayi usia 0-6 bulan. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya pengaruh kadar Hb pada ibu menyusui dengan kecukupan ASI pada bayi usia 2 minggu di Kabupaten Karawang. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan pendekatan Cross Sectional. Jumlah sample 61 responden dengan tekhnik Non Probability Sampling secara Purposive Sampling. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kecukupan ASI adalah angket dan timbangan Berat badan bayi. Analisis data meliputi analisis univariate, bivariate menggunakan uji Chi-square dan Analisis multivariate menggunakan uji regresi logistic ganda (Multiple Logistic Regression Test) dengan model factor resiko. Hasil penelitian Univariat sebagian besar Tingkat kecukupan ASI pada ibu nifas kategori tercukupi sebanyak 32 responden (52.5%) dan  kadar haemoglobin ibu nifas digolongkan tidak anemia yaitu 39 responden (63,9%). Hasil analisis Bivariat terdapat hubungan yang bermakna antara kadar Hb dengan tingkat kecukupan ASI dengan nilai p = 0,032. Hasil multivariat disimpulkan bahwa Kadar hb dapat mempengaruhi  tingkat kecukupan ASI dimana ibu tidak mengalami anemia beresiko mengalami  ASI kurang (tidak cukup) sebesar 2,227 yang artinya bahwa ibu yang tidak mengalami anemia merupakan faktor protektif terhadap tingkat kecukupan ASI.
Pemberdayaan Potensi Kader Posyandu Dalam Wirausaha Tempe Olahan Sebagai Upaya Pencegahan Anemia Pada Remaja Putri Dan Wanita Usia Subur Melalui Kegiatan UMKM Mardianti; Rahayu Dwikanthi; Irna Trisnawati; Lia Komalasari; Mamat
Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandira Cendikia Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jpkmmc.v4i2.1641

Abstract

Setiap individu atau kelompok masyarakat memiliki potensi usaha yang berbeda-beda sesuai dengan kapasitas, situasi dan sumber daya yang dimiliki. Desa Linggarsari merupakan desa yang memiliki potensi wirausaha yang layak untuk dikembangkan. Kelompok masyarakat yang terorganisir dan telah merintis beberapa usaha rumahan salah satunya kelompok kader posyandu. Kader posyandu, disamping memiliki peranan secara sukarela melaksanakan kegiatan posyandu dalam lingkup kesehatan, kader juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarganya dalam bentuk kegiatan produksi rumahan. Program Pengembangan Desa Mitra ini, bertujuan menghasilkan kelompok masyarakat yaitu kader posyandu untuk berwirausaha secara mandiri berbasis Usaha Kecil Menengah (UKM), melalui program yang terintegrasi, dengan melibatkan narasumber dibidang pengembangan potensi usaha. Pembinaan kewirausahaan dilaksanakan pada 20 kader kesehatan dan Wanita Usia Subur (WUS) serta Remaja Putri (Rematri). Kegiatan pelatihan kader dan penyuluhan telah terlaksana, serta telah dilakukan monitoring dan evaluasi Hasil kegiatan program pengembangan desa mitra ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan kader posyandu tentang manfaat tempe sebagai nutrisi pencegah anemia sebesar 18 poin dan peningkatan motivasi kader kesehatan sebesar 25 point dalam memberikan support kepada setiap keluarga untuk mengkonsumsi olahan tempe dan memasukkan tempe sebagai menu utama dalam keluarga serta setiap kader posyandu memiliki Nomor Izin Berusaha (NIB), sehingga memudahkan pemasaran produk olahan tempe. Disarankan agar kemandirian kader dalam meningkatkan kesejahteraan dan memotivasi masyarakat berperilaku sehat didukung oleh tokoh masyarakat, sehingga anemia pada remaja putri (Rematri) dan wanita usia subur (WUS) dapat dicegah sedini mungkin, yang memberi dampak pada penurunan angka morbiditas dan mortalitas pada ibu
Pemberdayaan Remaja Putri Dalam Penatalaksanaan Anemia Dan Pre Menstrual Syndrome (PMS) Dengan Puding Kelor Jagung Manis (PUKEMA) Di SMPIT Nurul Hasby Purwamekar Karawang Jenny Anna Siauta; Mardianti; Irna Trisnawati; Ari Antini; Rahayu Pertiwi; Rahayu Dwikanthi; Mimin Rusmiati; N.Unirah A.Sadeli; Irma Damayanti; Irni Indriani
Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandira Cendikia Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jpkmmc.v4i12.2066

Abstract

Kesehatan remaja putri sangat menentukan kualitas generasi berikutnya, karena remaja putri merupakan calon ibu di masa depan. Anemia didefiniskan sebagai berkurangnya konsentrasi hemoglobin dalam eritrosit sehingga tidak mencukupi untuk kebutuhan fisiologis dalam tubuh. Remaja putri mengalami menstruasi yang dapat menyebabkan terjadinya anemia dan beberapa gangguan salah satunya yaitu Pre menstrual Syndrome (PMS). Penyebab munculnya gejala-gejala PMS masih belum diketahui secara pasti tetapi perubahan hormonal, prostaglandin, diet, obat-obatan dan gaya hidup merupakan beberapa faktor penyebab munculnya PMS yang dapat mempengaruhi kerja hormon serotonin di otak. Salah satu bahan makanan alam yang mengandung Zat besi, Kalsium dan Vitamin C cukup tinggi adalah daun Kelor. Pengetahuan remaja puteri terhadap penatalaksanaan anemia masih rendah, sehingga berdampak pada kualitas hidup remaja dan prevalensi angka kejadian anemia pada remaja putri Pemberian penyuluhan dan cara membuat puding kelor dan jagung manis telah terlaksana dengan hasil peningkatan pengetahuan sebesar 18 poin dan perubahan sikap menjadi lebih termotivasi untuk rutin minum tablet tambah darah sebesar 25 poin, serta remaja putri memahami alternative pengolahan daun kelor dengan olahan pudding kelor jagung manis, selanjutnaya remaja putri memahami cara mengatasi nyeri PMS dengan teknik alternative berupa akupresure. Bidan sebagai ujung tombak layanan dikomunitas diharapkan selalu meningkatkan kualitas layanan terutama terhadap kesehatan remaja putri.