Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

PENGARUH OVERLAPPING RUTE BUSWAY KORIDOR 7 TERHADAP FAKTOR PEMILIHAN MODA ANGKUTAN UMUM UNTUK PERJALANAN STUDI KASUS: ANGKUTAN UMUM BUSWAY DENGAN ANGKUTAN UMUM MIKROLET Ellysa, Ellysa; Tohjiwa, Agus Dharma
Jurnal Ilmiah Desain & Konstruksi Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPerkembangan kota yang sangat pesat terutama di Jakarta menyebabkan meningkatnyavolume lalu lintas, memerlukan sarana dan prasarana transportasi yang memadai yangdapat menunjang aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan. Dalam rangka optimalisasipengoperasian angkutan umum dengan implementasi program sistem BRT pada koridor 7(Kp. Rambutan – Kp. Melayu) yang merupakan bagian dari manajemenpermintaan/pergerakan lalu lintas, maka perlu diikuti dengan langkah dan penangananterhadap dampak yang ditimbulkan. Tujuan dari penelitian adalah menganalisa pengaruhadanya Jalur Khusus Bus koridor 7 terhadap faktor pemilihan moda angkutan umum olehpenumpang antara busway dengan mikrolet. Metode yang digunakan adalah metodedeskriptif dimana faktor kenyamanan, keamanan, tarif, waktu tunggu, waktu tempuh, jaraktempuh dan aksesibilitas menjadi tolak ukurnya. Untuk analisis data menggunakan metodaAnalytical Hierarchy Process (AHP) dengan bantuan program expert choice. Hasil daripenelitian adalah, faktor kenyamanan memiliki bobot yang paling besar yaitu 17,7%.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menurut responden faktor kenyamananmerupakan faktor yang paling penting dalam melakukan perjalan.
PEREMAJAAN PERMUKIMAN KUMUH DI DKI JAKARTA Tohjiwa, Agus Dharma
Jurnal Ilmiah Desain & Konstruksi Vol 7, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendapatkan rumusan strategi implementasi yang efektifdalam peremajaan permukiman kumuh di DKI Jakarta. Dari evaluasi kegagalan upayapemerintah dalam peremajaan permukiman kumuh di Angke, Kemayoran dan PuloGadung disusun sebuah analisa multi tujuan (multi goal analysis) dengan pendekatanmultidimensional yaitu dimensi ekonomi, sosial, budaya, teknis, dan planologis. Hasilanalisa menunjukan bahwa peremajaan lingkungan kumuh menyangkut kesiapan lingkungansosial dan kelembagaan masyarakat, pemecahan masalah lingkungan kumuhharus didasarkan atas kondisi setempat yang spesifik dan pendekatan yang bersifat partisipatifdari semua stake holder. Pola relokasi dan penataan permukiman kumuh denganmembangun rumah susun sederhana yang disewakan kepada penghuni lama lebihsesuai untuk kasus status tanah ilegal, lokasi kurang strategis, pekerjaan pendudukberpindah, dan daerah permukiman yang kecil. Pola Pembangunan rumah susun sederhanadan penghuni lama diberi ganti rugi yang cukup untuk membayar uang mukaKPR rusun tersebut lebih sesuai untuk kasus status tanah legal, lokasi kurang strategis,pekerjaan penduduk tetap, dan daerah permukiman yang besar. Pola pelibatan peranswasta untuk pembebasan tanah dan pembangunan dari permukiman kumuh menjadikawasan permukiman, pertokoan, dan perkantoran dengan sistem subsidi silang lebihsesuai untuk kasus status tanah legal, lokasi sangat strategis, pekerjaan penduduk tetapatau berpindah, dan daerah permukiman yang besar.AbstractThis paper aims to get the formulation of effective implementation strategies in therejuvenation of the slums in Jakarta. From the evaluation of the failure of governmentefforts in rejuvenating the slums in Angke, Kemayoran and Pulo Gadung compiled ananalysis of multi-purpose (multi-goal analysis) with a multidimensional approach to theeconomic dimension, social, cultural, technical, and planologis. Analysis results showedthat the rejuvenation of preparedness regarding ghetto of social and institutionalenvironment community, ghetto solution must be based on specific local conditions andparticipatory approach of all stakeholders. Relocation and settlement patterns of theslums with simple flats are rented to residents for more appropriate for cases of illegalland status, lack of strategic location, the work moves people, and small residentialareas. Development patterns simple flats and old residents were given adequate compensationfor a down payment mortgages are more suitable flats to the case of legalland status, lack of strategic location, permanent jobs, and large residential areas. Thepattern for the involvement of the private role of land acquisition and development ofthe slums to neighborhoods, shops, and offices with a cross subsidy system more suitablefor cases of legal land status, location is very strategic, permanent jobs or move,and large residential areas.
BIOFILIA SEBAGAI KONSEP LINGKUNGAN BELAJAR PADA SMPN 3 DEPOK Tohjiwa, Agus Dharma
Jurnal Ilmiah Desain & Konstruksi Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/dk.2019.v18i2.2891

Abstract

SMP Negeri 3 Depok merupakan salah satu sekolah di Kota Depok yang sudah menerapkan Kurikulum 2013 untuk menggunakan pendekatan sains dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini mengembangkan mata pelajaran integrative science sebagai pendidikan berorientasi aplikatif dan membangun sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan alam. Sebagai usaha untuk mewujudkan kurikulum tersebut, konsep Biofilia diharapkan dapat membantu melalui pengaplikasian unsur-unsur alam di lingkungan SMP Negeri 3 Depok. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana penerapan konsep Biofilia pada SMP Negeri 3 Depok. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif tentang Biofilia dan atribut desainnya, hubungan langsung dengan alam, hubungan tidak langsung dengan alam, dan analisis penerapan konsep Biofilia pada SMP Negeri 3 Depok itu sendiri. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa SMP Negeri 3 Depok sudah menerapkan konsep Biofilia pada bangunan dan lingkungannya namun belum sepenuhnya karena ada beberapa atribut desain yang belum ada atau belum memadai.
STRATEGI ADAPTIVE REUSE PADA BANGUNAN TUA DI KAWASAN REVITALISASI Studi Kasus: Restoran Oeang di Kawasan M Bloc, Jakarta Tohjiwa, Agus Dharma
Jurnal Ilmiah Desain & Konstruksi Vol 20, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/dk.2021.v20i1.4303

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan strategi adaptive reuse pada bangunan lama di kawasan revitalisasi. Sebagai studi kasus dipilih bangunan bekas gudang percetakan uang milik Perum Peruri yang sudah lama di tinggalkan. Bangunan lama yang berlokasi di M Bloc Jakarta ini diubah fungsinya menjadi restoran. Penelitian studi kasus ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Terdapat tiga aspek yang akan dijelaskan melalui penelitian ini yaitu (1) proses restorasi bangunan, (2) implementasi adaptive reuse, dan desain interior. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan adaptive reuse dilandasi keinginan mengembalikan kondisi kawasan Blok M ke era 1980-an di mana kawasan tersebut menjadi pusat berkumpul (pergaulan) dan trendsetter anak-anak muda di Jakarta. Strategi Adaptive reuse diterapkan dengan mengubah fungsi bangunan tetapi masih menjaga nilai historisnya. Perubahan fisik dilakukan tanpa mengubah kondisi aslinya walaupun ada beberapa renovasi seperti penambahan skylight dan pemanfaatan beranda sebagai ruang makan tambahan. Adanya intervensi desain yang tepat dan cermat telah berhasil mengubah fungsi bangunan gudang menjadi restoran dan bar yang unik. Arsiteknya tetap berupaya melakukan konservasi bangunan seperti layaknya cagar budaya. Elemen interior yang diterapkan dalam restoran ini mempertahankan gaya dan material pada bangunan aslinya.  Secara keseluruhan desain interior restoran ini berkonsepkan industrial tropical vintage di mana elemen lantai, dinding, plafon, dan pendukung lainnya cenderung diekspos untuk menciptakan keunikan tetapi tetap menjaga kenyamanan fungsional.
Produksi Ruang Terbuka Hijau Publik Taman Terpadu dan Respon Warga di Taman Kelurahan Pondok Jaya, Kota Depok Lintang Yuniar Pratiwi; Agus Dharma Tohjiwa; Irina Mildawani
Jurnal Lanskap Indonesia Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal Lanskap Indonesia
Publisher : http://arl.faperta.ipb.ac.id/

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jli.v12i2.32521

Abstract

Horizontal Urban Expansions Model significantly contributes to land transformation and affects multiple problems including environtmental damage. Ideally it must be balanced by Urban Green Space supply for sustainability and liveabilty of a City. Society aspect become apart of sustainability’s domain and human factors will be considered through perception. In order to implement as mandatory of Law of Republic of Indonesia no 26/2007 Concerning Spatial Management, local government needs to basically establish local regulation on how to carry it out. The Depok City Government Public Space Regulation has already been arranged through Depok City’s Mission (2016-2021) which Increase the quality of the public services, and building infrastructure and open space including Mayor’s Promise to build urban park in 63 of Depok’s urban village. Since it was on first year, there were disagreement where the inhabitants refused park development around them. This study wants to find out the factors influencing inhabitant’s response to Pondok Jaya Urban Village Park Development. The research is using qualitative method with Case Study and an in-depth interview, analyzing qualitative data by open coding, axial coding and selective coding analysis. The research’s result revealed three category of inhabitant’s response who has different causal factors, they are Strongly Agree (precedent, physical & social benefit), Somewhat Agree (priviledges, maintenance & concept planning) and Strongly Disagree (Intervnetion, Development Process, Existing Condition & authority-function changes). This study may gain knowledge and understanding the way to better formulation of next Depok’s public green space regulation.
Perancangan museum persiapan proklamasi Rengasdengklok dengan Pendekatan Semiotika Abdul Majid; Agus Dharma Tohjiwa; Veronika Widi Prabawasari
Syntax Idea Vol 4 No 3 (2022): Syntax Idea
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/syntax-idea.v4i3.1792

Abstract

Rengasdengklok adalah peristiwa sejarah Republik Indonesia dari 16 Agustus 1945 sampai 17 Agustus 1945, yaitu penculikan Sukarno Hatta oleh tokoh Pemuda, dan peristiwa di mana selanjutnya Republik Indonesia menyatakan kemerdekaan. Untuk memperingati peristiwa ini, sebuah museum akan didirikan, museum rengasdengklok merupakan sebuah bangunan yang memiliki identitas, salah satunya adalah sejarah yang berkaitan dengan peristiwa tersebut, dan peristiwa rengasdengklok adalah peristiwa bersejarah di mana Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Untuk ini, Museum peristiwa Rengasdengklok dirancang dengan menggunakan pendekatan semiotika. Dan semiotika berdasarkan makna linguistik adalah kata Yunani untuk Semiion, yang berarti tanda (“simbol”). Peristiwa yang terjadi akan memberikan tanda atau informasi yang relevan secara historis dalam rangka menangkap tanda atau informasi tersebut dan menjadikan ikon sebagai identitas bangunan.
SENSE OF PLACE KOTA BOGOR BERDASARKAN PERSEPSI PENDUDUK DI TIGA TIPOLOGI PERMUKIMAN (Sense of Place of Bogor city based on Community Perception in three typologies of Settlements) Agus Dharma Tohjiwa
Tesa Arsitektur Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : Unika Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v13i1.359

Abstract

Bogor city has three typologies of settlements that are historical area, internal development area and commuting area. The purpose of this study is to describe the sense of place in the city of Bogor based on the perception of the resident living in those settlements. This research uses a survey method using questionnaire and field observations. Research variables using three components of sense of place which are physical attributes, activities, and conception. The result shows that the natural conditions and colonial heritage still has a major contribution in creating Bogors sense of place. Activity as a commuter from Bogor to Jakarta is the main activity characteristics in this city. Nevertheless, at the weekend most people spend time in their own city. Most resident has a conception that Bogor is a city of tourism and resort. This study shows that Bogor urban identity as historic city only supported by a physical artifact of the empire and colonial periods alone. Activities and perceptions of people living in Bogor unrelated or unsupport the formation of urban identity. To keep the sense of place of Bogor, at least there are two aspects which should be considered which are revitalizing the old city and the development of Transit Oriented Development.
Evaluasi terhadap Pemanfaatan Ruang Terbuka Publik Tepi Situ Mangga Bolong, Jagakarsa, Jakarta Selatan Berti Dara Suryani; Dewi Astuti; Agus Dharma Tohjiwa
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 12 No. 2 (2023): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v12i2.87

Abstract

Ruang terbuka publik baiknya didesain dengan optimal agar ruang-ruang yang tercipta dapat dimanfaatkan para pengunjung dengan baik & optimal pula. Di kawasan ruang terbuka publik Tepi Situ Mangga Bolong terdapat aktivitas yang dilakukan di tempat yang tidak tepat seperti parkir di ruang berkumpul, PKL di ruang hijau dan lain-lain sehingga menimbulkan ketidakteraturan. Oleh karena itu, hal ini perlu lebih diperhatikan penataannya agar pengunjung dapat merasa aman dan nyaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui & mengevaluasi pemanfaatan ruang pada Kawasan Ruang Terbuka Publik Tepi Situ Mangga Bolong berdasarkan aktivitas & perilaku pengunjung. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitaif melalui place-centered-mapping sebagai alat untuk mengetahui kecenderungan pemanfaatan ruang & aktivitas pengunjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kawasan Terbuka Publik Tepi Situ Mangga Bolong memiliki ruang-ruang yang kurang optimal dalam pemanfaatannya dikarenakan memiliki kekurangan pada ruang fisiknya sehingga mempengaruhi aktivitas dan perilaku pengunjung dalam pemanfaatan ruangnya.
Kajian Elemen Arsitektur Cina pada Masjid Tjian Kang Hoo, Jakarta Anggraeni, Mutiara; Tohjiwa, Agus Dharma
Arsitekta : Jurnal Arsitektur dan Kota Berkelanjutan Vol. 7 No. 01 (2025): Arsitekta: Jurnal Arsitektur dan Kota Berkelanjutan
Publisher : Program Studi Arsitektur Universitas Tanri Abeng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/arsitekta.v7i01.796

Abstract

Masjid Tjia Kang Hoo, yang terletak di Jakarta Timur, merupakan salah satu contoh integrasi budaya yang unik dalam arsitektur. Masjid ini memadukan unsur-unsur budaya Tionghoa dengan arsitektur Islam, menciptakan ruang ibadah yang tidak hanya berfungsi secara fungsional, tetapi juga mencerminkan keberagaman budaya Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji elemen-elemen arsitektur pada masjid tersebut, dengan fokus pada bagaimana budaya Tionghoa dan Islam dapat berpadu dalam desain arsitektur. Kajian ini mencakup tiga aspek utama: struktur bangunan, ornamen, dan material, dengan penekanan pada makna simbolis yang terkandung dalam setiap elemen desain. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif melalui observasi langsung, wawancara dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol keberagaman budaya Jakarta, yang mempertemukan dua budaya besar Tionghoa dan Islam dalam satu ruang. Dengan menggunakan material modern seperti beton dan marmer, masjid ini berhasil mengintegrasikan elemen tradisional dengan kebutuhan struktural masa kini, sambil tetap menjaga nilai estetika dan simbolisme yang mendalam, sehingga dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian arsitektur yang menggabungkan elemen-elemen budaya yang berbeda.
PENGARUH KETERBATASAN LAHAN TERHADAP TATA RUANG SEKOLAH DAN AKTIVITAS DI SMPN 102 JAKARTA (The Effect af Land Limitations on School Spatial Layout and Activities at SMPN 102 Jakarta) Putri, Erlyn Septiyana; Tohjiwa, Agus Dharma
Tesa Arsitektur Vol 23, No 1: Juni 2025
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v23i1.13133

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh keterbatasan lahan di SMPN 102 Jakarta Timur yang berdampak pada tata ruang sekolah dan aktivitas pembelajaran. Fenomena ini relevan mengingat pentingnya desain tata ruang sekolah dalam mendukung efektivitas pembelajaran, terutama di kawasan urban dengan lahan terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh keterbatasan lahan pada tata ruang, menilai tata letak ruang sekolah, dan memahami pola pergerakan aktivitas di SMPN 102 Jakarta Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan pendekatan induktif untuk memahami hubungan antara keterbatasan lahan, tata ruang, dan aktivitas. Data dikumpulkan dari observasi langsung, pengukuran luas lahan, serta analisis fungsi dan sirkulasi ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan lahan berdampak pada densitas ruang dan efisiensi penggunaannya. Tata ruang sekolah telah memanfaatkan desain linier untuk memaksimalkan lahan, namun sirkulasi antar ruang masih kurang optimal, terutama pada jam sibuk seperti pergantian kelas. Aktivitas siswa dan guru terhambat oleh keterbatasan ruang publik, seperti kantin dan lapangan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa desain tata ruang yang adaptif diperlukan untuk mengatasi keterbatasan lahan. Saran utama adalah optimalisasi ruang multifungsi, peningkatan sirkulasi, dan pemanfaatan area vertikal untuk mendukung kenyamanan dan efisiensi aktivitas pembelajaran. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi perancangan sekolah di kawasan perkotaan dengan lahan terbatas.Kata Kunci : Keterbatasan Lahan, Tata Ruang, Aktivitas Pembelajaran, Efisiensi Ruang, Sirkulasi Ruang