Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Analisis Perencanaan Jaringan Heterogen Lte-advanced Small Cell Frekuensi 1800 Mhz Studi Kasus Kota Bandung Satriyo Wibowo; Achmad Ali Muayyadi; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 3, No 1 (2016): April, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

LTE-Advanced merupakan teknologi berbasis IP yang dikeluarkan oleh 3GPP sebagai standar untuk komunikasi data nirkabel berkecepatan tinggi. Mobilitas user yang tinggi, persebaran user yang tidak merata, peningkatan coverage, dan cell throughput menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh operator dalam merencanakan jaringan LTE-Advanced di suatu daerah. Salah satu cara untuk menghadapi tantangan tersebut adalah dengan melakukan perencanaan jaringan heterogen. Jaringan heterogen merupakan suatu penerapan suatu jaringan seluler dengan meletakkan small cell di dalam macro cell. Dalam tugas akhir ini dilakukan suatu perencanaan jaringan heterogen LTE-Advanced small cells menggunakan frekuensi 1800 MHz di Kota Bandung. Analisis dilakukan dengan meninjau tiga sel yang mewakili daerah sub urban, urban, dan dense urban dengan jumlah user tertinggi menggunakan dua skenario : sel dengan penambahan small cell Wi-Fi 802.11n pada frekuensi 2.4 GHz serta cell tanpa penambahan small cell Wi-Fi 802.11n sebagai pembanding performansi perencanaan jaringan heterogen. Perencanaan dilakukan menggunakan perhitungan berdasarkan pendekatan coverage planning dan capacity planning. Dalam perencanaan jaringan heterogen daerah sub urban mampu dilayani oleh 4 sel, daerah urban mampu dilayani oleh 6 sel, dan daerah dense urban mampu dilayani oleh 9 sel. Implementasi jaringan heterogen mampu menghasilkan nilai RSRP yang baik dengan nilai RSRP ≥ -100 dBm untuk 90% luas area di seluruh daerah tinjauan. Jaringan heterogen menghasilkan peningkatan nilai throughput sebesar 25 % sehingga mampu meningkatkan kapasitas jaringan yang diakibatkan oleh pengalihan trafik dari jaringan LTE-Advanced ke jaringan Wi-Fi 802.11n, sehingga jaringan heterogen dapat menangani jumlah user yang semakin meningkat. Sementara dari hasil simulasi yang dilakukan, performansi maksimal terjadi saat user saat kondisi diam dengan presentasi user connected 99%. Dari hasil tersebut maka penggunaan small cell Wi-Fi 802.11n pada jaringan heterogen LTE-Advanced layak untuk diimplementasikan Kata kunci : LTE-Advanced, Jaringan Heterogen, Small Cell, Throughput
Pengontrol Derau Secara Aktif Menggunakan Filtered Normalized Least Mean Square Pada Tms320Family Bani Aulia Rahman; Bambang Hidayat; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 2, No 1 (2015): April, 2015
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Active Noise Control merupakan suatu teknologi yang berguna untuk mereduksi noise, prinsip kerjanya dengan menghasilkan frekuensi dan amplituda yang sama dengan noise nya dan beda fasa 1800 kemudian menggabungkannya dengan noise nya, sistem kerja bersifat destruktif. Transfer data analog terutama pada transmisi sinyal analog yang terkena noise merupakan titik berat persoalan, terkait dengan keberhasilan sinyal informasi yang disampaikan merujuk pada dimengertinya informasi tersebut di penerima. Least Mean Square merupakan salah satu filter adaptif yang ditentukan oleh nilai koefisien untuk memproduksi error sinyal yang rendah. Pada kondisi sistem yang linier, LMS merupakan salah satu metode yang tepat karena kesederhanaan dalam implementasi. Filtered NLMS merupakan perkembangan LMS dengan konvergensi waktu yang lebih cepat. Pada penelitian ini, sistem mencapai respon waktu dibawah 25 detik dan reduksi terbesar ada pada - 18.37083 dB dalam perancangan sistem Active Noise Control pada TMS320C6713 dengan metode Filtered NLMS dalam meredam noise. Hasil yang diterapkan berupa peredaman noise secara penuh di dalam kanal. Target performansi sistem adalah seberapa besar respon waktu tingkat penurunan noise pressure level (dB) pada receiver. Rata-rata respon waktu tiap perubahan panjang filter 20, 40, dan 60 adalah 4.307, 5.912, dan 8.045 detik, dan reduksi noise terbesar bernilai -18.37083dB. Kata kunci: Active Noise Control, NLMS,TMS320, Noise Pressure Level
Desain Dan Implementasi Switching Regulator Pada Nanosatelit Shella Amelia Puspaningrum; Mas Sarwoko Suraatmadja; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 3, No 1 (2016): April, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring kemajuan teknologi dalam bidang elektronika, berbagai macam perangkat elektronika diciptakan dengan bermacam – macam model dan kegunaan untuk membantu manusia dalam menyelesaikan permasalahan yang ada, salah satunya pada bidang telekomunikasi. Dari berbagai ragam barang atau peralatan elektronik yang kita jumpai saat ini, hampir semua bagiannya dijalankan oleh sumber tenaga satu arah (DC) seperti, mobil listrik, bateraicharger, peralatan elektronika, regulator tegangan pada nanosatelit, dan industri kimia. Dalam tugas akhir ini dirancang sebuahswitching regulator yang memiliki tegangan input dari sel surya sebesar 11 Volt dan dari baterai sebesar 7.4 Volt. Untuk menurunkan (step down) tegangan output digunakan IC voltage regulator, kapasitor, induktor, dioda, dan resistor menggunakan metode switching. Dari pengujian dan analisis yang telah dilakukan, tegangan output yang dihasilkan dari masing-masing perangkat adalah sebesar 3.3 Volt dan 5 Volt. Hasil tersebut sesuai dengan penggunaan switching regulator metode buck converter. Kata Kunci: integrated circuit, switching regulator, step down, buck converter.
Perancangan Dan Implementasi Pendeteksi Letak Barcode Dengan Pengolahan Citra Digital Berbasis Android Anna Siwi Ramadhani; Ida Wahidah; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 2, No 3 (2015): Desember, 2015
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seorang tunanetra memiliki kekurangan tidak dapat melihat sehingga mengalami kesulitan untuk me lakukan transaksi belanja di supermarket. Pada penelitian [1] telah dibuat sebuah sistem untuk membantu tunanetra dalam berbelanja. Sistem tersebut adalah sebuah aplikasi pembaca barcode dengan keluaran suara berbasis android. Sistem ini sudah dapat berjalan dengan baik. Namun masih mengalami kekurangan yaitu tidak dapat mendeteksi letak barcode. Sehingga tunanetra masih kesulitan untuk mengambil gambar barcode yang akan di scan. Pada penelitian tugas akhir kali ini, dibuat sebuah sistem yang dapat mendeteksi letak barcode. Sistem ini dibuat untuk menyempurnakan penelitian sebelumnya. Citra yang terambil mengalami proses greyscaling dan ekualisasi histogram untuk mempertegas perbedaan nilai 0 dan satu. Kemudian citra diambil nilai threshold dengan metode otsu. Nilai threshold digunakan untuk mengantisipasi noise yang terlalu banyak. Setelah mendapatkan citra yang baik, maka deteksi letak barcode terjadi dengan membuat angle sebagai ciri barcode. Citra selain barcode akan terdeteksi sebagai noise. Setelah itu citra dicrop dan hasilnya adalah barcode saja. Hasil dari penelitian ini adalah untuk menyempurnakan pembuatan aplikasi sebelumnya. Sistem ini dapat digunakan secara optimal pengambilan gambar pada jarak 7 cm dengan tingkat akurasi 83.3% Kata kunci : Android, Ekualisasi Histogram, Thresholding Otsu.
Analisis Performansi Mimo Spatial Diversity Pada Free Space Optic Communication Dalam Kondisi Cuaca Buruk Boby Samuel Aritonang; Sugito Sugito; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak FSO konvensional mengadopsi prinsip teknik SISO ( Single Input Single Output ) dimana satu transmitter hanya untuk satu receiver saja. Penelitian dalam tugas akhir ini akan mencoba untuk menerapkan teknik MIMO spatial diversity pada sistem FSO guna meningkatkan kinerjanya dalam kondisi cuaca sangat ekstrim. Dari hasil simulasi performansi, sistem SISO tidak mampu mendapatkan nilai BER < 1x10-9 bahkan jika laser memancarkan daya hingga sebesar 5W. Pada MIMO 2x2 diperoleh Pt sebesar 90 mW, MIMO 2x3 sebesar 70 mW, MIMO 2x4 sebesar 70 mW, MIMO 3x2 sebesar 30 mW, MIMO 3x3 sebesar 30, MIMO 3x4 sebesar 20 mW, MIMO 4x2 sebesar 20 mW, MIMO 4x3 sebesar 10 mW dan MIMO 4x4 sebesar 8 mW. Nilai Pt efektif tersebut adalah daya yang harus dipancarkan setiap laser untuk mencapai BER < 1 x10-9 . Konsumsi daya paling kecil adalah pada sistem MIMO 4x4 yaitu 32 mW. Nilai Pt hasil simulasi ini hanya berlaku untuk jarak transceiver sejauh 1 km. Penambahan jarak antar tranceiver mungkin akan membuat nilai Pt lebih besar. Kata kunci : Free Space Optic, MIMO, Spatial Diversity, BER Abstract The conventional FSO adopts the principle of SISO (Single Input Single Output) technique where one transmitter is for one receiver only. Research in this final project will try to apply MIMO spatial diversity technique to FSO system to improve its performance in bad weather conditions. From the performance simulation results, the SISO system is unable to get the value of BER <1 x10-9 even if the laser emits power up to 5W. In MIMO 2x2 obtained Pt of 90 mW, MIMO 2x3 of 70 mW, MIMO 2x4 of 70 mW, MIMO 3x2 of 30 mW, MIMO 3x3 of 30, MIMO 3x4 by 20 mW, MIMO 4x2 by 20 mW, MIMO 4x3 by 10 mW and 4x4 MIMO of 8 mW. The effective Pt value is the power that each laser must emit to reach BER <1 x10-9 . The smallest power consumption is on the 4x4 MIMO system which is 32 mW. Those Pt value is only valid for transceiver distance as far as 1 km. Increasing the distance between the tranceiver will probably make the value Pt larger.. Keyword : PAPR, PTS, SLM
Perancangan Jaringan Fiber To The Home (ftth) Menggunakan Teknologi 10 Gigabit Capable Passive Optical Network (xgpon) Pada Komplek Pertamina Reyga Prayogo; Akhmad Hambali; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Fiber to the home (FTTH) adalah arsitektur jaringan fiber optik yang mendistribusikan format isyarat optik dari pusat penyedia hingga ke rumah pelanggan (home) dekat pelanggan menggunakan serat optik sebagai medium penghantarnya. Dalam perkembangannya, FTTH dapat menggunakan teknologi 10-Gigabit Capable Passive Optical Network (XGPON) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan bandwidth dan kecepatan data. Pada penelitian sebelumnya, telah dilakukan perancangan FTTH menggunakan teknologi GPON dan XGPON dengan melakukan perhitungan dan simulasi untuk mendapatkan nilai LPB, RTB dan BER. Perancangan yang dilakukan adalah merancang jaringan sampai ke rumah pelanggan dan analisa parameter kelayakan sistem dengan cara perhitungan dan simulasi dari OLT hingga FAT terjauh. Parameter kelayakan yang dianalisis adalah LPB, RTB, SNR, Q factor, dan BER. Berdasarkan hasil yang didapat dari perhitungan simulasi, maka diperoleh nilai LPB upstream terjauh 21,809 dan upstream terdekat 20,513 ,downstream terjauh 20,279 dan downstream terdekat 20,513. SNR arah downstream 28,167dB untuk terdekat dan 27.612dB untuk terjauh. Nilai SNR arah upstream 22,522 dB untuk terjauh dan 24,134 dB untuk terdekat. BER 1,112 x 10-27 untuk downstream terjauh, 2,848 x 10-30 untuk terdekat dan 1,388 x 10-11 untuk upstream terjauhdan 5,2287 x 10-11 untuk terdekat. Nilai Q factor 10,383 untuk downstream terjauh, 11,387 untuk terdekat dan 6,522 untuk upstream terjauh dan 8,5955 untuk terdekat dan untuk LPB 50,05 untuk downstream terjauh, 50,01 untuk downstream terdekat dan 50,01 untuk upstream terjauh, 49,97 untuk upstream terdekat. Kata Kunci : FTTH, FDT, FAT, GPON, XGPON Abstract Fiber to the home (FTTH) is a fiber optic network architecture that distributes optical signal formats from the center of the provider to home customers (home) near customers using optical fiber as the medium of delivery. In its development, FTTH can use 10-Gigabit Capable Passive Optical Network (XGPON) technology to meet people's needs for bandwidth and data speeds. In previous studies, FTTH was designed using GPON and XGPON technology by calculating and simulating to obtain LPB, RTB and BER values. The design is to design the network to the customer's home and analyze the feasibility parameters of the system by calculating and simulating from OLT to the furthest FAT. The feasibility parameters analyzed were LPB, RTB, SNR, Q factor, and BER. Based on the results obtained from the simulation calculation, the farthest upstream LPB value is 21,809 and the nearest upstream is 20,513, the farthest downstream is 20,279 and the nearest downstream is 20,513. SNR downstream direction is 28.167dB for the nearest and 27.612dB for the furthest. The SNR value in the upstream direction is 22,522 dB for the furthest and 24,134 dB for the closest. BER 1,112 x 10-27 for the furthest downstream, 2,848 x 10-30 for the closest and 1,388 x 10-11 for the farthest upstream and 5,2287 x 10-11 for the closest. The Q factor value is 10.383 for the furthest downstream, 11.387 for the nearest and 6.522 for the furthest upstream and 8.5955 for the closest and for LPB 50.05 for the furthest downstream, 50.01 for the nearest downstream and 50.01 for the furthest upstream, 49.97 for nearest upstream. Keywords: FTTH, FDT, FAT, GPON, XGPON
Analisis Pengaruh Penerapan Teknik Diagonal Algebraic Space-time-frequency Block Code Pada Mimo-ofdm Citra Dewi Anggraeni; Rina Pudji Astuti; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan kualitas komunikasi akibat kanal yang mengandung propagasi multipath dan Doppler shift pada komunikasi nirkabel tidak dapat dihindarkan, namun dapat diminimalisasi salah satunya dengan penggunaan teknik MIMO-OFDM. Teknik MIMO yang dapat memperkuat sinyal dan OFDM yang dapat meningkatkan kapasitas sistem, membuat MIMO-OFDM menjadi solusi yang tepat. Namun begitu, pemilihan teknik pengkodean untuk MIMO-OFDM juga tak kalah pentingnya. Pada tugas akhir ini telah dilakukan analisis terhadap sistem MIMO-OFDM yang menerapkan Diagonal Algebraic Space-TimeFrequency Block Code (DASTFBC) sebagai teknik pengkodeannya. Teknik DASTFBC merupakan kombinasi dari Diagonal Algebraic dengan tiga kombinasi diversitas yaitu diversitas antena (space), waktu (time), dan frekuensi (frequency). Sistem DASTFBC MIMO-OFDM diuji kinerjanya pada berbagai kondisi kanal dan modulasi, dengan sistem STBC MIMO-OFDM sebagai pembanding. Variasi kanal yang digunakan mengikuti model kanal rekomendasi ITU-R M.1225 yaitu model kanal Pedestrian A dan Vehicular A. Sedangkan untuk variasi modulasi, digunakan 16 QAM dan 64 QAM. Hasilnya, sistem DASTFBC cocok untuk komunikasi low mobility. Terbukti pada kanal Pedestrian A dengan kecepatan 3 Km/Jam, ditinjau pada SNR 30 dB, diperoleh BER DASTFBC 5,8x10-3 , sedangkan STBC 2,8x10-2 . Pada kanal Vehicular A kecepatan 120 Km/Jam ditinjau pada SNR 30 dB, diperoleh BER DASTFBC 6,6x10-3 , sedangkan STBC 6,9x10-3 . Untuk mengoptimalkan sistem DASTFBC dapat digunakan modulasi 64 QAM. Terbukti pada modulasi 64 QAM ditinjau pada SNR 30 dB, diperoleh BER DASTFBC 33,6x10-3 sedangkan STBC 31,2x10-3 . Selain itu, penggunaan modulasi 64 QAM mendukung komunikasi high data rate, sesuai dengan tuntutan pada komunikasi nirkabel saat ini.Kata kunci : MIMO-OFDM, DASTFBC, STBC
Evaluasi Jaringan Akses Fiber To The Curb (fttc) Menggunakan Teknologi 10-gigabit-capable Passive Optical Networks (xgpon) Di Sto Tanjung Priok Syawal Alam Machfuddin; Akhmad Hambali; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Fiber to the curb (FTTC) adalah arsitektur jaringan fiber optik yang mendistribusikan format isyarat optik dari pusat penyedia hingga kabinet (curb) dekat pelanggan menggunakan serat optik sebagai medium penghantarnya. Dalam perkembangannya, FTTC menggunakan teknologi 10-Gigabit Capable Passive Optical Network (XGPON) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan bandwidth dan kecepatan data. Dalam penelitian ini telah dilakukan evaluasi jaringan fiber to the curb (FTTC) menggunakan teknologi 10-Gigabit Capable Passive Optical Network (XGPON) yang diaplikasikan di STO Tanjung Priok. Evaluasi yang dilakukan adalah analisa parameter kelayakan sistem dengan cara perhitungan dan simulasi dari OLT hingga MSAN terdekat yaitu MRH dan MSAN terjauh yaitu MRAZ sesuai dengan data jaringan FTTC STO Tanjung Priok. Berdasarkan hasil yang didapat dari perhitungan simulasi, maka diperoleh nilai SNR arah downstream 36,52 dB untuk MSAN terdekat dan 35,32 dB untuk MSAN terjauh. Nilai SNR arah upstream 33,34 dB untuk MSAN terdekat dan 30,073 dB untuk MSAN terjauh. Nilai BER arah downstream mendekati 0 untuk MSAN terdekat dan 1,684 x 10-279 untuk MSAN terjauh. Nilai BER arah upstream 1,199 x 10-223 untuk MSAN terdekat dan 1,856 x 10-105 untuk MSAN terjauh. Kata kunci : FTTC, XGPON, parameter kelayakan. Abstract Fiber to the curb (FTTC) is a fiber optic network architecture that distributes optical signaling formats from service providers to near-costumer cabinet (curb) using optical fiber as the medium of delivery. In its development, FTTC uses 10-gigabit-capable passice optical network (XGPON) technology to meet people’s need for bandwitdh and data speed. In this research has been evaluated fiber to the curb (FTTC) network using 10- Gigabit-Capable Passive Optical Network (XGPON) technology applied in STO Tanjung Priok. Evaluation performed is the analysis of system feasibility parameters by calculation and simulation of OLT to the closest MSAN that is MRH and MSAN furthest is MRAZ in accordance with data network FTTC STO Tanjung Priok. Based on the results obtained from the simulation calculation, the SNR value obtained from downstream 36.52 dB for the nearest MSAN and 35.32 dB for the farthest MSAN. SNR value of upstream 33.34 dB for nearby MSAN and 30,073 dB for farthest MSAN. The downward BER value is approaching 0 for the closest MSAN and 1.684 x 10-279 for the farthest MSAN. BER value upstream direction 1.199 x 10-223 for the nearest MSAN and 1.856 x 10-105 for the farthest MSAN. Keywords: FTTC, XGPON, feasibility parameters.
Perancangan Jaringan Akses Fiber To The Home (ftth) Menggunakan Teknologi 10-gigabit-passive Optical Network (xgpon) Untuk Perumahan Benda Baru Tangerang Selatan Afif Glenta Utama; Akhmad Hambali; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kebutuhan akan pelayanan di bidang teknologi informasi dan komunikasi semakin meningkat setiap tahun. Jenis layanan yang dibutuhkan bukan lagi sebatas voice namun menjadi berkembang ke layanan triple play (voice, data, dan video). Komplek perumahan baru banyak dibangun sehingga membuat kebutuhan akan layanan Internet di rumah semakin dicari oleh para pelanggan. Salah satunya adalah perumahan Benda Baru yang terletak di kota Tangerang Selatan. Hasil perhitungan simulasi link power budget, yaitu total redaman yang dihasilkan untuk jarak terjauh didapatkan nilai daya terima adalah sebesar -24,88 dBm untuk link downstream dan -23,52 dBm untuk link upstream. Hasil perhitungan tersebut masih memenuhi standar yang ditentukan oleh ITU-T G.984 yang kemudian diikuti oleh P.T. Innovate Indonesia yaitu sebesar -28 dBm. Untuk nilai rise time budget didapatkan nilai waktu batasan adalah sebesar 0,14 untuk pengkodean RZ dan 0,28 untuk pengkodean NRZ. Dari hasil perhitungan tersebut didapatkan tsystem adalah sebesar 0,049 untuk downstream dan upstream. Hasil RTB bernilai baik karena tsystem yang lebih kecil dari batasan waktu tiap pengkodean. Untuk parameter bit error rate nilai yang dihasilkan dari perhitungan simulasi adalah sebesar 4,5 x 10-30 untuk downstream dan 2,3 x 10-20 untuk upstream. Kedua nilai tersebut memenuhi nilai minimum BER yang ditetapkan untuk optik, yaitu sebesar 10-9 . Semua nilai tersebut memenuhi standar kelayakan dari ITU-T G.984. Kata kunci : FTTH, XGPON, optisystem Abstract The need for services in the field of information and communication technology is increasing every year. The types of services needed are no longer limited to voice, but they develop into triple play services (voice, data and video). New housing complexes have been built so that the need for home internet services is increasingly sought after by customers. One of them is the Benda Baru housing located in the city of South Tangerang. The results of the link power budget simulation calculation, namely the total attenuation generated for the farthest distance is obtained the power received value is -24.88 dBm for the downstream link and -23.52 dBm for the upstream link. The results of these calculations still meet the standards set by ITU-T G.984 which are then followed by P.T. Innovate Indonesia is -28 dBm. For rise time budget value, the time limit value is 0.14 for RZ coding and 0.28 for NRZ coding. From the results of the calculation, it is found that tsystem is 0.049 for downstream and upstream. RTB results are good because the tsystem is smaller than the time limit of each coding. For the bit error rate parameter the value generated from the simulation calculation is 4.5 x 10-30 for downstream and 2.3 x 10-20 for upstream. Both values meet the minimum value of BER set for optics, which is equal to 10-9 . All of these values meet the eligibility standards of ITU-T G.984. Keyword : FTTH, XGPON, optisystem
Analisis Performansi Teknologi Xg-pon Menggunakan Splitter Nugraha Septiana Pamungkas; Akhmad Hambali; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

XG-PON diharapkan mampu mengakomodasi layanan broadband yang semakin meledak di masa depan untuk melayani kebutuhan pelanggan yang meningkat baik di layanan data , voice , dan television. Pada penelitian ini berbeda dengan peneliti sebelumnya yang membahas mengenai analisis performansi XGPON menggunakan splitter 1:64. Dalam penelitian ini penulis ingin mengembangkan penelitian dengan cara menganalisa performansi teknologi XG-PON pada berbagai jenis rasio splitter optik. Hasil dari penelitian ini menunjukan performansi XG-PON menggunakan splitter 1:2 sampai 1:64 menunjukan jaringan yang layak diimplementasikan untuk transmisi upstream jarak 20 km dapat menggunakan daya sebesar 2 dBm, splitter 1:2 sampai 1:16 jarak 40 km menggunakan daya sebesar 2 dBm dan daya 4 dBm untuk splitter 1:32. Kemudian jaringan yang layak diimplementasikan untuk splitter 1:2 sampai 1:4 data upstream jarak 60 km dapat menggunakan daya sebesar 2 dBm, daya 4 dBm untuk splitter 1:8 dan daya 6 dBm untuk splitter 1:16. Jaringan yang layak diimplementasikan untuk splitter 1:2 data upstream pada jarak 80 km dapat menggunakan daya sebesar 2 dBm, daya 4 dBm untuk splitter 1:4 dan daya 7 dBm untuk splitter 1:8. Jaringan yang layak diimplementasikan untuk transmisi downstream splitter 1:4 sampai 1:64 dapat menggunakan daya 4 dBm. Jaringan yang layak diimplementasikan untuk splitter 1:2 sampai 1:16 downstream jarak 40 km dapat menggunakan daya sebesar 2 dBm, 5 dBm untuk splitter 1:32 dan 6 dBm 1:64 jarak 40 km. Jaringan yang layak diimplementasikan untuk splitter 1:2 sampai 1:8 downstream dapat menggunakan daya sebesar 2 dBm jarak 60 km. Jaringan yang layak diimplementasikan untuk splitter 1:2 downstream menggunakan daya sebesar 4 dBm jarak 80 km.Kata Kunci: XG-PON (10-Gigabit-capable Passive Optical Network), splitter, software simulasi optik.