Claim Missing Document
Check
Articles

Performance Evaluation of DCF Length for High Scalability NG-PON2 Brian Pamukti; Doan Perdana
TELKOMNIKA (Telecommunication Computing Electronics and Control) Vol 15, No 1: March 2017
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/telkomnika.v15i1.3660

Abstract

Next Generation Passive Optical Network Stage 2 (NG-PON2) have to resolve the problem like demand each user, for example, HDTV, 3DTV, Hologram and Telemedicine. The research designed Passive Optical Network (PON), which is meet requirements of NG-PON2. Using stacked 4 Optical Line Terminal (OLT) with an aggregate 40 Gbps transmitted on fiber Single Mode Fiber (SMF) and Dispersion Compensation Fiber (DCF) by comparing the system without DCF cable. On the condition of minimum standards, the range of 40 km with a power splitter 1:64 only 9:01% power difference while the increased in the Q factor of 65.5%. With these results, it can be said that systems using DCF can be used optimally. In addition, with the power splitter 1: 4 and a lower power worth 0 dBm can produce a range of 150% further. With the same distance as far as 40 km, this research increasing power splitter 6 times increase compared with previous research.
A Comparison of The Predictive Ability between Logistic and Gompertz Model on COVID-19 Outbreak Tita Haryanti; Brian Pamukti
IJAIT (International Journal of Applied Information Technology) Vol 04 No 02 (November 2020)
Publisher : School of Applied Science, Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/ijait.v4i02.2909

Abstract

A predictive model can be learned using historical information. Thereafter, information about a running case is combined with a predictive model to estimate the case's remaining flow time. The predictive model is based on data from past events, which can be used to make predictions for current operating situations. For example, the case of coronavirus disease 2019 (COVID-19), which is currently infecting the whole world, including Indonesia, have influenced various aspects, ranging from the educational environment, business, economy, to the companies. Data scientists are urgently needed who can help organizations improve their operational processes. Therefore, this journal discusses the prediction of the peak number of COVID-19 cases in Indonesia, using two prediction models, logistic and Gompertz. The results obtained show that the Gompertz model has higher accuracy than the logistic model, with an accuracy of 99.85%. This journal's results are expected to help organizations estimate the time to rebuild themselves after being affected by COVID-19.
EVALUASI KINERJA DIRECT CURRENT-BIASED OPTICAL ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING (DCO-OFDM) TERHADAP SKALABILITAS SISTEM VISIBLE LIGHT COMMUNICATION Brian Pamukti; Vinsensius Sigit Widhi Prabowo
TEKTRIKA Vol 4 No 1 (2019): TEKTRIKA Vol.4 No.1 2019
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/tektrika.v4i1.1774

Abstract

Direct Current-biased Optical Orthogonal Frequency Division Multiplexing (DCO-OFDM) dengan penambahantegangan 3 V dilakukan menutupi loss 3 dB pada Asymmetrical Clipping Optical-OFDM (ACO-OFDM). Pengujianterhadap dampak dari perubahan posisi penerima terhadap kinerja dianalisis dengan mengubah sudut antarapengirim dan penerima. DCO-OFDM berbeda dengan sistem OFDM pada komunikasi seluler yang menggunakanfrekuensi radio dan nilai sinyal bipolar. Hasil simulasi komputer menunjukan bahwa jarak paling jauh daripengirim ke penerima yang dihasilkan dari sudut 24 adalah 2,413 m atau sama dengan area seluas 1,05 m2.
ANALISA PENGGUNAAN SKEMA KONTROL DAYA BERBASIS WATERFILLING DAN ALGORITMA ALOKASI MEAN-GREEDY PADA SISTEM LONG TERM EVOLUTION (LTE) Vinsensius Sigit Widhi Prabowo; Brian Pamukti
TEKTRIKA Vol 4 No 2 (2019): TEKTRIKA Vol.4 No.2 2019
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/tektrika.v4i2.2882

Abstract

Sistem komunikasi nirkabel diharapkan menjadi suatu sistem yang dapat menyajikan kualitas layanan yang cepat,handal,dane?sien. Olehkarenaitu,diperlukanskemamanajemensumberdayayangbaikuntukmencapai parameter performansi tersebut. Penelitian ini berfokus pada skema manajemen sumber daya pada sistem Long Term Evolution yang tidak hanya mengejar parameter performansi dasar seperti e?siensi spektral dan fairness sistem, tetapi juga mempertimbangkan aspek e?siensi energi. Penambahan skema kontrol daya water?lling digunakanpadaalgoritmaalokasimeangreedyuntukmengaturdayapadatiap-tiapresourceblock(RB).2Skema yang digunakan adalah normal water?lling (NWF) yang memberikan daya lebih pada user dengan kondisi kanal buruk dan Inverse Water?lling (IWF) yang mengalokasikan daya lebih pada user dengan kondisi kanal baik. Dari hasil simulasi didapatkan skema NWF menaikkan fairness sistem sebesar 10% tetapi menurunkan nilai e?siensi spektral sebesar 1,02 bps/Hz, dan menurunkan e?siensi energi sebesar 68,75 kbps/Watt. Sebaliknya, skema IWF meningkatkan e?siensi spektral sebanyak 1,42 bps/Hz, dan meningkatkan e?siensi energi sebanyak 205,67 kbps/Watt, tetapi fairness sistem menurun sebesar 11%. Dapat disimpulkan, skema NWF baik untuk sistem yang mengedepankan keadilan sistem dan stabilitas koneksi,sedangkan skema IWF lebih sesuai diterapkan pada sistem yang mengedepankan efisiensi. KataKunci: ,,,
Konsumsi Daya Pada Splitter Untuk Jaringan Optical Next Generation Taufik Abdurrahman; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan akan data rate yang tinggi semakin meningkat dalam jaringan telekomunikasi untuk dapat melayani aplikasi high bandwidth yang memuaskan. Dengan meningkatkan kebutuhan data rate, isu konsumsi daya membutuhkan solusi untuk energy efficiency. Energy efficiency telah menjadi aspek yang sangat penting dalam network design karena meningkatnya konsumsi energi pada saat transmisi berkaitan dengan perfomansi dari sistem. Evolusi teknologi Gigabit Passive Optical Network (GPON) ke Next Generation Passive Optical Network stage 2 (NGPON2) merupakan langkah dalam memberikan layanan yang lebih baik karena mampu memberikan peningkatan bandwidth dan quality of service (QOS) untuk layanan konektifitas best-effort high speed dengan lebih banyak split ratio dan jangkauan yang lebih jauh. Dalam penelitian ini akan merancang dan mensimulasikan jaringan Bidirectional NGPON2 dengan teknik TWDM yang memiliki total bitrate 40 Gbps untuk downstream dan 10 Gbps untuk upstream dengan menggunakan kombinasi passive splitter 3 stage pada jarak 30 km. Pendekatan untuk mendapatkan hasil menggunakan perhitungan link power budget, BER dan Q-Factor serta mengacu kepada standar ITU-T.
Perancangan Jaringan Fiber To The Building (fttb) Dengan Menggunakan Teknologi Berbasis Gpon Di Mall Cihampelas Walk Andika Putra Ramadhan; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PON (Passive Optical Network) merupakan teknologi baru yang telah menggantikan teknologi sebelumnya yaitu narrow band dan broadband.Teknologi GPON memiliki bit rate sebesar 2,5 Gbps untuk arah downstream dan 1,25 Gbps untuk arah upstream. Dalam Tugas Akhir ini telah dilakukan perancangan jaringan Fiber To The Building (FTTB) yang diaplikasikan pada bangunan di Mall Cihampelas Walk. Dengan jarak terjauh sebesar 2,6782 km dan menggunakan splitter 1:4 dan 1:8. Penentuan uji kelayakan dilakukan dengan menghitung parameter kelayakan. Hasil yang didapat dari perhitungan empiris dan simulasi, maka diperoleh LPB terbaik pada jarak terjauh dengan titik ODCB 1 sebesar –17,4 dBm untuk arah downstream, -22,467 dBm untuk arah upstream, dan pada simulasi sebesar -16,919 dBm pada arah downstream, dan -19,475 dBm pada arah upstream. Untuk Q-Factor diperoleh perhitungan empiris sebesar 20,53 dan simulasi sebesar 13,63, untuk arah upstream sebesar 15, 37 dan simulasi sebesar 7,74. BER dengan arah downstream mendapat 1,1 x 10−59 untuk perhitungan empiris dan 1,1 x 10−42 dari simulasi, sementara pada arah upstream diperoleh 2,2 x 10−42 pada perhitungan empiris, dan 4,94 x 10−15 pada simulasi. Kata kunci : GPON, FTTB, LPB, RTB, BER Abstract PON (Passive Optical Network) is a new technology that has replaced the previous technology that is narrow band and broadband. GPON technology has a bit rate of 2.5 Gbps for downstream direction and 1.25 Gbps for upstream direction. In this Final Project has been done the design of Fiber To The Building (FTTB) network that is applied to the building at Mall Cihampelas Walk. With the furthest distance of 2.6782 km and use the splitter 1: 4 and 1: 8. Determination of feasibility test is done by calculating the feasibility parameter. Results obtained from empirical and simulation calculations, then obtained the best LPB at the furthest distance with ODC-B 1 point of -17.4 dBm for downstream direction, -22.467 dBm for upstream direction, and at -16.919 dBm simulation in the downstream direction, and -19.475 dBm in the upstream direction. For Q-Factor obtained empirical calculation 20,53 and simulation equal to 13,63, for upstream direction equal to 15, 37 and simulation equal to 7,74. BER with downstream direction gets 1.1 x for empirical calculations and 1.1 x from simulation, while in upstream direction it is obtained 2.2 x on empirical calculation, and 4.94 x in simulation. Keywords: GPON, FTTB, LPB, RTB, BER
Analisis Simulasi Sistem Ng-pon2 Dengan Konsep Olt Tx Dan Rx Menggunakan Semiconductor Optical Amplifier (soa) Najib Asqolani Akbar; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterbatasan bandwidth merupakan salah satu permasalahan pada teknologi GPON. Pengembangan teknologi ini terus dilakukan hingga ditemukannya teknologi NG-PON2. NG-PON2 merupakan teknologi yang menggunakan Time and Wavelength Division Multiplexing (TWDM) sebagai solusi utamanya karena mampu meningkatkan bandwidth hingga 40 Gbps. Pada Tugas Akhir ini, dilakukan perancangan dan simulasi jaringan bidirectional menggunakan penguat SOA. Digunakannya empat stacking Optical Line Termination (OLT). Bitrate yang digunakan adalah 10 Gbps untuk downstream dan 2,5 Gbps untuk upstream. Jenis penempatan penguat SOA adalah booster amplifier pada arah downstream dan pre-amplifier pada arah upstream.Berdasarkan dari hasil simulasi, didapatkan bahwa semua nilai parameter performansi berada pada standarnya masing-masing setelah digunakan penguat SOA yaitu pada -28 dBm sampai dengan -7 dBm. Pengaruh pada Power Received adalah meningkakan nilai Power Received yang tanpa menggunakan penguat pada tiap panjang link yang digunakan. Sedangkan pengaruh pada OSNR adalah adanya ketidaklinieran penguatan daya sinyal dan daya noise pada arah downstream yang membuat menurunnya nilai OSNR setelah digunakannya penguat, walaupun masih berada diatas standar OSNR yaitu minimal 30 dBm. Sedangkan pengaruh pada nilai Q-Factor meningkatkan Q-Factor secara efektif yaitu di atas nilai 6 yang membuat nilai Q-Factor dari tiap kanal dinyatakan ideal untuk dijadikan link komunikasi. Sedangkan pengaruh pada nilai BER adalah sama seperti Q -Factor, yang membuat peningkatan dan mengangkat nilainya menjadi di atas standar untuk NG-PON2 yaitu 10-9 karena nilai BER mengikuti nilai Q-Factor-nya. Jarak terjauh yang dapat digunakan setelah menggunakan penguatSOA adalah 65 km.
Perbandingan Performansi Antara Photodetector Pin Dan Apd Pada Sistem Jaringan Twdm-pon Maulana Pragnya Ghita; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut The Full Service Access Netwrok (FSAN), Time and Wavelength Division Multiplexing(TWDM) dipilih sebagai solusi menuju teknologi Next Generation Passive Optical Network (NG-PON). Pada penelitian ini dilakukan simulasi serta analisis perbandingan performansi antara penggunaan photodetector PIN dan APD pada receiver jaringan TWDM-PON menggunakan software simulator optik. Pembahasan akan mengulas kelayakan jenis photodetector pada konfigurasi sistem TWDM-PON. Pengukuran terhadap kelayakan jaringan TWDM-PON dilakukan dengan merubah parameter panjang link yaitu 40, 50, dan 60 km serta jumlah user yaitu 128, 256, dan 512 ONU. Analisis didekati dengan perhitungan Q Factor dan BER. Hasil simulasi dan perhitungan yang telah dilakukan didapatkan bahwa photodetector PIN dan APD menghasilkan performansi yang baik pada jaringan, 128, 256, dan 512 user. Jaringan 128, 256 dan 512 user memilki performansi yang baik dengan maksimum Q Factor berturut-turut sebesar 34.805, 28.948, 29.885 dan minimum BER berturut-turut sebesar 8.49E-266, 1.23E-184, dan 41E-196.
Analisis Karakteristik Hybrid Optical Amplifier (fiber Raman Amplifier - Erbium Doped Fiber Amplifier) Dengan Konfigurasi Parallel In-line Pada Sistem Long Haul Ultra-dense Wavelength Division Multiplexing Tiara Fadila; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem komunikasi optik berkembang dengan pesat pada masa sekarang ini, sehingga kebutuhan bandwidth aplikasi broadband meningkat. Sistem berbasis WDM digunakan untuk memanfaatkan bandwidth secara efisien. Penggunaan Hybrid Optical Amplifier (HOA) diusulkan untuk mengoptimalkan penerapan sistem berbasis WDM dalam memenuhi kebutuhan gain bandwidth yang lebar serta gain flatness, sehingga mampu menangani jaringan dengan beban yang besar pada jarak yang jauh. HOA FRA-EDFA merupakan kombinasi penguat hybrid yang mampu memberikan gain dengan bandwidth yang lebar dengan memanfaatkan kelebihan karakteristik dari masing-masing penguat dan menutupi kerugian yang ada. Dari hasil simulasi, konfigurasi penguat hybrid tersebut mampu memberikan performansi yang lebih baik jika dibandingkan dengan penggunaan satu penguat (FRA atau EDFA). Dengan optimasi Gain Flattening Filter, konfigurasi penguat hybrid FRA-EDFA parallel in-line, memberikan gain flatness dengan nilai rata-rata sebesar 28.94 dB dan bandwidth gain sebesar 96 nm pada rentang panjang gelombang 1529.5 – 1625.5 nm. Hasil simulasi uji performansi penguat hybrid dengan konfigurasi ini pada sistem long haul U-DWDM dapat memberikan performansi yang baik dengan jarak maksimal 210 km. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai Q factor terendah pada jarak tersebut sebesar 6.10417 dan BER 5.08E-10 pada kanal ke-70 dari 80 kanal yang digunakan.
Perbandingan Performansi Agregasi Jaringan 40g Dan 80g Pada Teknologi Ng-pon2 Dengan Variasi Jarak Fauzan Munggara; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kebutuhan akan data rate yang meningkat dalam jaringan telekomunikasi membuat keadaan saat ini terus menerus dilakukan pengembangan dan penelitian terhadap teknologi-teknologi yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Next Generation Passive Optical Network Stage 2 (NG-PON2) merupakan salah satu evolusi dari teknologi Passive Optical Network (PON) yang nantinya akan menjadi pengisi dari kebutuhan yang semakin meningkat tersebut. Hasil simulasi pada penelitian ini ialah dengan didapatkan performansi terbaik dengan jarak maksimum yang dapat ditempuh oleh tiap ONU yang ada dengan kombinasi passive splitter 3 stage terbaik pada dua kanal berbeda. Pada kanal pertama untuk 64 ONU arah downstream pada jarak 20 km menghasilkan Received Power =-21.56 dBm ,QFactor = 9,66 dan BER = 3,72 x 10-21 dan arah upstream pada jarak 20 km dengan hasil Received Power=-25,21 dBm, Q-Factor = 6,3 dan BER = 6,25 x 10-10. Kemudian pada kanal kedua untuk 64 ONU arah downstream pada jarak 20 km menghasilkan Received Power =-21.445 dBm , Q-Factor = 9,62 dan BER = 2,19 x 10-20 dan arah upstream dengan hasil Received Power=-25,18 dBm, Q-Factor = 7,12 dan BER = 4,95 x10-11 . Kata Kunci : NG-PON2, Performansi, TWDM. Abstract The need for increasing data rate and the more it increased in telecommunication networks makes the current state continuously in development and research on technologies which can meet those needs. The result of the simulation is getting the best performance with maksimum distance which can reach by each ONU using the best 3-stage passive splitter combination at two different channnel. On the first channel for 64 ONU downstream direction at 20 km the result is Received Power =-21.56 dBm, Q-Factor = 9,66 and BER = 3,72 x 10-21 and upstream direction with result is Received Power =-21,445 dBm, Q-Factor = 9,62 dan BER = 2,19 x 10-20. Next on the second channel for 64 ONU downstream direction at 25 km the result is Received Power=-25,04dBm , Q-Factor = 7,83 dan BER = 1,17 x 10-13and upstream direction with result is Received Power =-25,18 dBm, Q-Factor = 7,12 and BER = 4,95 x 10-11 . Key Words : NG-PON2, Performance, TWDM