Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Proses Komunikasi dalam Atraksi Kaulinan Barudak Lembur di Desa Wisata Saung Ciburial Rahma Julia Rabbani Zulbana; Tia Muthiah Umar
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v4i2.13351

Abstract

Abstract. Kaulinan Barudak Lembur is an important part of the traditions and culture of the Sundanese people in West Java, Indonesia. However, modernization and globalization have caused social, economic and cultural changes that require some aspects of Kaulinan Barudak Lembur to be forgotten. Moving from traditional cultural activities to modern activities, people today prefer sophisticated modern entertainment. The aim of this research is to discover the educational value and local wisdom of Kaulinan Barudak Lembur in the Saung Ciburial Tourism Village, Sukalaksana Village. Data was obtained through documentation, observation and in-depth interviews using the constructivism paradigm, qualitative methods and ethnographic communication approaches.. The study's findings indicate that the Kaulinan Barudak overtime attraction is a wealth of knowledge about the area and education. The value of teamwork, camaraderie, and sportsmanship is emphasized in the kaulinan barudak lembur attraction, a traditional game for kids in villages. Children learn virtues like respecting their friends, cooperating with others, and working as a team through these games. This game also serves to remind kids of their ancestry by highlighting the value of maintaining regional customs and culture. The game's use of natural materials also serves as a message about how important it is to preserve the environment and make responsible use of natural resources. All things considered, children's future character is shaped by the moral principles, social ethics, and cultural pride this game imparts. Abstrak. Kaulinan Barudak Lembur merupakan bagian penting dari tradisi dan budaya masyarakat Sunda di Jawa Barat, Indonesia. Namun, modernisasi dan globalisasi telah menyebabkan perubahan sosial, ekonomi, dan budaya yang mengharuskan beberapa aspek Kaulinan Barudak Lembur dilupakan. Beralih dari aktivitas budaya tradisional ke aktivitas modern, masyarakat saat ini lebih memilih hiburan modern yang canggih. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan proses komunikasi yang memberikan nilai edukasi dan kearifan lokal dari Kaulinan Barudak Lembur di Desa Wisata Saung Ciburial, Desa Sukalaksana. Data diperoleh melalui dokumentasi, observasi, dan wawancara mendalam menggunakan paradigma konstruktivisme, metode kualitatif, dan pendekatan etnografi komunikasi.. Atraksi kaulinan barudak lembur, atau permainan tradisional anak- anak di pedesaan, menyampaikan banyak pesan edukasi dan kearifan lokal. Anak- anak belajar tentang kerja tim, saling membantu, dan menghormati teman-teman melalui permainan ini. Selain itu, permainan ini mengingatkan anak-anak pada warisan leluhur mereka, menekankan pentingnya mempertahankan tradisi dan budaya lokal. Penggunaan bahan alami dalam permainan juga menyampaikan pesan tentang pentingnya memanfaatkan sumber daya alam dengan bijak dan menjaga lingkungan. Secara keseluruhan, nilai-nilai etika, etika sosial, dan kebanggaan budaya yang ditanamkan dalam permainan ini membentuk karakter anak-anak untuk masa depan.
Proses Komunikasi Barista & Pelanggan di Cafe More Wyata Guna Muhammad Arsy Pratama; Tia Muthiah Umar
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v4i2.15728

Abstract

Abstrak: Komunikasi merupakan suatu proses dimana seorang atau individu, yang bertujuan untuk dapat terhubung dengan lingkungan sekitar dan orang lain dan dalam komunikasi juga terdapat suatu proses menyortir dan juga memilih dan mengirim simbol-simbol, Tetapi terkadang dalam komunikasi terdapat beberapa hambatan yang didasari oleh faktor kesalahpahaman antara komunikator dengan komunikan yang disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah keterbatasan fisik yang dimiliki oleh seseorang yaitu seseorang yang memiliki keterbatasan dalam melihat atau mengidap tunanetra. Komunikasi interpersonal digambarkan sebagai suatu komunikasi antara dua individu yang mana individu-individu tersebut secara fisik saling berinteraksi, saling memberikan umpan balik satu sama lain. komunikasi interpersonal merupakan komunikasi yang membentuk hubungan dengan orang lain. Berlo, mengemukakan bahwa komunikasi sebagai suatu hal yang penuh keberhasilan jika penerima pesan memiliki makna terhadap pesan tersebut bahwa makna yang diterima sama dengan apa yang dimaksud. Pada penelitian ini menggunakan paradigma konstruktif, menggunakan metode penelitian kualitatif dan jenis pendekatan studi kasus. pada hasil penelitian ini proses komunikasi verbal dan non verbal barista penyandang tunanetra dengan pelanggan memiliki cara yang unik berbeda dengan individu lainnya. Tetapi barista penyandang tunanetra ini harus menggunakan Indera dan alat penunjang lainnya dalam membantu dalam komunikasi dengan pelanggan café more wyata guna. Kata Kunci : Proses Komunikasi, Komunikasi Interpersonal, Tunanetra.
Makna Simbolik Lengser Mapag Panganten Ramadhani, Irma; Tia Muthiah Umar
Jurnal Riset Public Relations Volume 4, No. 2, Desember 2024, Jurnal Riset Public Relations (JRPR)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpr.v4i2.5473

Abstract

Abstrak. Upacara Lengser Mapag Panganten adalah prosesi adat penyambutan pengantin. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap makna dari simbol-simbol Lengser Mapag Panganten pada kegiatan ekstrakurikuler kebudayaan SMPN 2 Blanakan Subang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika. Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini yaitu paradigma konstruktivis. Metode pengumpulan data meliputi observasi partisipan, wawancara dan dokumentasi. Hasil dalam penelitian ini, yaitu pada kegiatan Lengser Mapag Panganten, gerakan, payung, atribut, kostum, dan musik digunakan sebagai simbol untuk berkomunikasi. Baksa Ibing Sijan Kirut, yang menunjukkan keberanian ksatria, Gerakan Merak, yang menunjukkan keanggunan, dan Gerakan Aki Nini yang menunjukkan hiburan, adalah gerakan utamanya. Payung Umbul-Umbul menunjukkan keagungan acara, Payung Agung menunjukkan kebesaran pengantin, dan Payung Susun  menunjukkan kemegahan acara. Aksesoris seperti gelang, cincin, kalung, anting-anting, mahkota, ikat kepala, tas anyam, rokok kayu, kumis, dan corak merak meningkatkan penampilan. Penari memakai kostum merah dan emas, yang menunjukkan keberuntungan dan kemewahan, dan samping batik, yang menunjukkan status sosial. Kostum Aki Lengser dan Rama Sinta berwarna hitam, yang menunjukkan keberanian mereka. Para penari tidak mengenakan alas kaki agar bergerak dengan luwes dan musik untuk mengiringi penari. Abstract. The Lengser Mapag Panganten ceremony is a traditional procession welcoming the bride and groom. The aim of this research is to reveal the meaning of the Lengser Mapag Panganten symbols in cultural extracurricular activities at SMPN 2 Blanakan Subang. This research uses qualitative methods with a semiotic approach. The paradigm used in this research is the constructivist paradigm. Data collection methods include participant observation, interviews and documentation. The results of this research, namely in the Lengser Mapag Panganten activity, movements, umbrellas, attributes, costumes and music were used as symbols to communicate. The Baksa Ibing Sijan Kirut, which shows knightly courage, the Peacock Movement, which shows elegance, and the Aki Nini Movement which shows entertainment, are the main movements. The Umbul-Umbul Umbrella shows the grandeur of the event, the Great Umbrella shows the greatness of the bride and groom, and the Stacking Umbrella shows the grandeur of the event. Accessories like bracelets, rings, necklaces, earrings, crowns, headbands, woven bags, wooden cigarettes, mustaches and peacock patterns enhance the look. Dancers wear red and gold costumes, which indicate good luck and luxury, and batik, which indicates social status. Aki Lengser and Rama Sinta's costumes are black, which shows their bravery. The dancers do not wear footwear so they can move fluidly, using music to accompany the dancers.
Literasi Media Digital bagi Pemilih Pemula di Aisyiyah Boarding School Bandung: Digital Media Literacy for Beginner Voters at Aisyiyah Boarding School Bandung Drajat, Mohamad Subur; Chaerowati, Dede Lilis; Umar, Tia Muthiah
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 12 (2024): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v9i12.7647

Abstract

Novice voters are sometimes considered swing voters in unanimous choice decisions. Meanwhile, according to several surveys, the millennial generation is projected to have the highest proportion of voters in the 2024 elections. The proliferation of false information, sometimes referred to as fake news or hoaxes, is a significant challenge in the present digital age. Furthermore, novice voters represent the largest demographic of digital media consumers. Therefore, it is essential to provide rookie voters with sufficient knowledge and abilities to effectively discern and counteract the dissemination of false information. The objective of this PKM is to enhance the digital media literacy knowledge and abilities of novice voters at 'Aisyiyah Boarding School Bandung in preparation for the 2024 Election. During this PKM activity, participants acquired knowledge of election literacy, election political communication, and election digital media for inexperienced voters. They also developed skills to articulate their opinions about leaders and election participation, as well as the ability to critically evaluate election information as informed voters. The techniques employed encompass training, interactive dialogues, and practical application of the ABCD (Assets Based Community Development) methodology. The outcomes of PKM activities indicate a rise in participants' knowledge, as seen by the changes in scores on the pretest and posttest assessments. The average level of knowledge has shifted from moderate to high. The participant's proficiency in articulating thoughts about leaders and engaging in election participation, as well as their aptitude for becoming astute voters and their capacity to verify election material in digital media, also improved.