Dian Veronika Sakti Kaaloeti
Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto SH Tembalang Semarang 50275

Published : 29 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

PENGARUH METODE BERMAIN PURA-PURA (PRETEND PLAY) TERHADAP PERKEMBANGAN KREATIVITAS ANAK USIA DINI Dessy Murdianti; Dian Veronika Sakti Kaloeti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 8, Nomor 1, Tahun 2019 (Januari 2019)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.383 KB) | DOI: 10.14710/empati.2019.23597

Abstract

Era globalisasi identik dengan kemajuan teknologi dan pengetahuan sehingga manusia dituntut memiliki kreativitas yang tinggi. Berdasarkan Global Creaivity Index (CGI) 2015 tingkat kreativitas orang Indonesia menempati posisi ke-67 dari 139 negara. Sehingga diperlukan metode yang dapat mengembangkan kreativitas. Terutama kreativitas pada anak usia dini karena masa tersebut berada pada masa golden age. Tujuan penelitian untuk menguji pengaruh metode bermain pura-pura (pretend play) dalam mengembangkan kemampuan kreativitas anak usia dini pada anak TK. Penelitian ini merupakan quasi experiments dengan the untreated control group design with dependent pretest and posttest samples. Subjek penelitian berjumlah 34 siswa TK PGRI 33 Ngesrep dengan usia berkisar 5-6 tahun, yang terbagi ke dalam kelompok eksperimen (KE) dan kelompok kontrol (KK). Pengumpulan data dilakukan menggunakan tabel observasi yang terdiri dari 16 indikator kreativitas anak usia dini yang dikembangkan dari tiga aspek kreativitas menurut Hatimah (dalam Susanto, 2011). Uji validitas perangkat dan alat eksperimen dilakukan oleh tiga orang psikolog sebagai expert judgement. Sedangkan, uji reliabilitas dianalisis menggunakan SPSS 20.0 dengan hasil Cronbach’s Alpha sebesar (r=.969), dengan reliabilitas antar rater (ICC) sebesar (r=.887). Hasil uji Friedman (p=.000) menunjukkan perbedaan yang signifikan dari pretest, posttest, dan follow-up atau dapat diartikan metode bermain pura-pura (pretend play) berpengaruh terhadap kreativitas anak usia dini. Kemudian, perbandingan antara kelompok eksperimen (KE) dan kelompok kontrol (KK) diperoleh berdasarkan hasil Uji Mann Whitney yang menunjukkan hasil tidak signifikan pada pretest (p=.138) atau tidak ada perbedaan, tetapi terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil posttest (p=.043) dan follow-up (p=.003). 
HUBUNGAN ANTARA REGULASI DIRI DENGAN FEAR OF MISSING OUT (FoMO) PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO Nicho Alinton Sianipar; Dian Veronika Sakti Kaloeti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 8, Nomor 1, Tahun 2019 (Januari 2019)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.517 KB) | DOI: 10.14710/empati.2019.23587

Abstract

Internet kini tidak lagi sekedar menjadi alat pencari informasi, namun juga memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk melihat aktivitas orang lain yang dianggap lebih berharga dibandingkan dengan pengalaman yang dimilikinya sehingga menimbulkan kecemasan bagi dirinya sendiri yang disebut Fear of Missing Out (FoMO). Mahasiswa tahun pertama saat ini, yakni Generasi Z, memerlukan kemampuan mengatur diri, atau yang disebut regulasi diri yang baik agar tidak mengganggu aktivitas di perkuliahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara regulasi diri dengan FoMO pada mahasiswa tahun pertama Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang. Populasi berjumlah 246 mahasiswa, sebanyak 191 mahasiswa tahun pertama diambil untuk sampel penelitian dengan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian terdiri dari dua skala yaitu Skala Regulasi Diri (24 aitem dengan α = .895) dan Skala FoMO (19 aitem dengan α = .814). Analisis regresi sederhana menunjukkan adanya hubungan negatif dan signifikan antara regulasi diri dengan FoMO (rxy = -.169 dengan p = .010), yang berarti semakin tinggi regulasi diri maka semakin rendah FoMO yang dialami. Sebaliknya, semakin rendah regulasi diri maka semakin tinggi FoMO pada mahasiswa. Sumbangan efektif yang diberikan regulasi diri kepada FoMO adalah 2.9%. Kecilnya sumbangan tersebut disebabkan karena Generasi Z merupakan generasi yang introspektif dan sadar dengan kesehatan mental, Sehingga memiliki kesadaran akan dampak dan konsekuensi penggunaan media sosial yang berlebihan. Hal tersebut juga berkaitan dengan kemampuan regulasi diri yang tinggi.
HUBUNGAN ANTARA KEHARMONISAN KELUARGA DAN MORALITAS PADA SISWA KELAS XI SMK MUHAMMADIYAH 3 WELERI Anggun Nur Anisa; Dian Veronika Sakti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 (Agustus 2019)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.705 KB) | DOI: 10.14710/empati.2019.26493

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keharmonisan keluarga dan moralitas pada siswa kelas XI SMK Muhammadiyah 3 Weleri. Moralitas merupakan seluruh kualitas perbuatan manusia yang dikaitkan dengan nilai baik dan buruk yang mengajarkan bagaimana manusia harus hidup secara baik, serta memiliki pemahaman mengenai norma dan aturan untuk membedakan hal yang baik dan buruk agar dapat berperilaku yang sesuai di masyarakat. Keharmonisan keluarga merupakan keadaaan didalam keluarga yang terdapat kesadaran anggota keluarga (ayah dengan ibu, ibu dengan remaja, dan ayah dengan remaja, remaja dengan saudara kandung) sehingga terjalin hubungan yang baik, saling menghargai, pengertian, keterbukaan, dan diwarnai dengan kasih sayang disertai kegiatan pendidikan yang dapat dilaksanakan dengan efektif sehingga tercipta rasa aman dan saling melindungi sesama anggota keluarga. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 208 siswa kelas XI SMK Muhammadiyah 3 Weleri dari keseluruhan sampel 495 siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Penelitian ini menggunakan dua skala alat ukur, yaitu Skala Keharmonisan Keluarga (34 aitem, α=0,894) dan Skala Moralitas (31 aitem, α=0,883). Analisis data menggunakan analisis regresi sederhana diperoleh rxy=0,393 dengan p=0,000 (p>0,05). Artinya, semakin tinggi keharmonisan keluarga maka semakin tinggi pula moralitas yang dimiliki pada remaja, dan sebaliknya. Keharmonisan keluarga memberikan sumbangan efektif sebanyak 15,4% terhadap moralitas pada remaj
DISTRES PSIKOLOGIS PADA TENAGA KEPENDIDIKAN DI PERGURUAN TINGGI NEGERI BERBADAN HUKUM Amalia Rahmandani; Salma Salma; Yohanis ranz La Kahija; Dian Veronika Sakti Kaloeti; Hastaning Sakti; Annastasia Ediati
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 10, Nomor 3, Tahun 2021 (Juni 2021)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/empati.2021.31281

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi distres psikologis sebagai risiko masalah kesehatan mental di antara tenaga kependidikan perguruan tinggi negeri berbadan hukum. Sejumlah 178 tenaga kependidikan dari Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum ‘X’ (Laki-laki=41,6%) terlibat dalam penelitian ini. Distres psikologis diukur menggunakan General Health Questionnaire-12 (Cronbach α = 0,857), yang memuat dimensi disfungsi sosial, kecemasan dan depresi, dan kehilangan kepercayaan diri. Statistik deskriptif dan uji beda nonparametrik dilakukan dalam analisis data. Hasil menunjukkan bahwa sebesar 26,4% subjek berisiko memiliki masalah kesehatan mental umum (cut-off score 10/11). Baik jenis kelamin maupun bidang keilmuan tidak membedakan level distres psikologis secara general maupun menurut dimensinya. Mayoritas manifestasi distres psikologis ditemukan pada dimensi disfungsi sosial, sedangkan terendah pada dimensi kehilangan kepercayaan diri. Hal tersebut didukung perbedaan mean skor antar dimensi yang signifikan, secara berturut dari yang tertinggi adalah disfungsi sosial, kecemasan dan depresi, dan kehilangan kepercayaan diri. Self-serving bias diduga berperan sebagai strategi penanggulangan dari ancaman terhadap diri sehingga meningkatkan penghargaan terhadap diri. Temuan penelitian ini menunjukkan perlunya menyediakan program kesehatan mental bagi tenaga kependidikan perguruan tinggi. 
Ketangguhan Istri Warga Binaan Dengan Vonis Seumur Hidup: Studi Fenomenologi Deskriptif Meilan Banurea; Dian Veronika Sakti Kaloeti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 (Oktober 2018)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.195 KB) | DOI: 10.14710/empati.2018.23449

Abstract

Pidana seumur hidup bersifat pasti karena terpidana dikenakan jangka waktu yang pasti, yaitu menjalani pidana penjara sepanjang hidupnya karena sifatnya yang pasti. Tujuan penelitian ini berfokus pada pengalaman istri yang memiliki suami warga binaan dengan vonis seumur hidup. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan metode analisis Deskriptif Fenomena Individual (DFI). Metode analisis DFI merupakan metode Eksplikasi data yang dapat membagi pengalaman subjek menjadi tiga episode yaitu episode sebelum situasi penangkapan, episode pada saat penangkapan dan episode paska ditetapkan vonis seumur hidup. Subjek dalam penelitian ini berjumlah tiga orang yang dipilih melalui metode Purposive Sampling. Hasil penelitian ini, ditemukan bahwa ketiga subjek mempertahankan suami dengan kondisi vonis seumur hidup karena adanya ikatan pernikahan. Adapun faktor-faktor ikatan pernikahan yaitu cinta, anak dan harapan setelah suaminya bebas dari tuntutan hukum. Ketiga subjek memiliki pengalaman yang berbeda terhadap hukuman suami sebagai warga binaan. Kendala yang dihadapi dalam penelitian ini adalah sulitnya menemukan subjek yang memiliki suami warga binaan dengan vonis seumur hidup, terikat dalam pernikahan dan masih berstatus suami istri, rutin melakukan kunjungan ke Lapas minimal satu kali dalam satu bulan dan bersedia menjadi subjek dalam penelitian.
HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN AMAN TERHADAP ORANG TUA DAN KONTROL DIRI DENGAN INTENSI DELINKUENSI PADA SISWA KELAS XI SMK NEGERI 4 SEMARANG Amalia Sari Ramadhani; Dian Veronika Sakti Kaloeti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 (Oktober 2018)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.503 KB) | DOI: 10.14710/empati.2018.23441

Abstract

Masa remaja merupakan periode transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, sehingga pada masa ini terlihat adanya labilitas serta keterguncangan emosionalitas dalam diri remaja yang dapat menimbulkan intensi delinkuensi. Salah satu penyebab timbulnya intensi delinkuensi yaitu lemahnya pengendalian dorongan dalam diri serta masalah pada lingkungan keluarga. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan kelekatan aman terhadap orangtua dan kontrol diri dengan intensi delinkuensi pada siswa kelas XI SMK Negeri 4 Semarang. Populasi pada penelitian ini berjumlah 585 siswa kelas XI, dan sebanyak 219 siswa diambil sebagai sampel penelitian yang didapatkan dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu skala intensi delinkuensi (60 aitem, α = .947), skala kelekatan aman terhadap orangtua (28 aitem, α = .891), dan skala kontrol diri (18 aitem, α = .881). Analisis menggunakan analisis regresi berganda dan sederhana untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara kelekatan aman terhadap orangtua dan kontrol diri dengan intensi delinkuensi (BX1 = -.548; BX2 = -1.042; p = .000). Hasil analisis regresi sederhana pertama menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara kelekatan aman terhadap orangtua dengan intensi delinkuensi (B = -.886; p = .000). Hasil analisis regresi sederhana kedua menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara kontrol diri dengan intensi delinkuensi (B = -1.482; p = .000). Maka dapat disimpulkan bahwa untuk dapat terhindar dari intensi delinkuensi pada diri siswa, kelekatan aman terhadap orangtua saja tidak cukup namun juga dibutuhkan kemampuan mengontrol diri yang baik.
HUBUNGAN ANTARA NEGATIVE EMOTIONAL STATE DENGAN RESILIENSI PADA WARGA BINAAN NARKOTIKA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KEDUNGPANE SEMARANG Tsara Firdaus; Dian Veronika Sakti Kaloeti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 10, Nomor 3, Tahun 2021 (Juni 2021)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/empati.2021.31290

Abstract

Kasus narkotika merupakan kasus terbesar di Indonesia, baik pengguna atau pengedar maupun bandar. Efek penggunaan narkotika dan tinggal di lapas menuntut warga binaan narkotika untuk memiliki kemampuan bertahan dan bangkit kembali setelah mengalami keterpurukan yang disebut sebagai resiliensi. Kemampuan ini dapat digunakan sebagai upaya pencegahan memburuknya kondisi psikologis warga binaan narkotika berupa negative emotional state (depresi, kecemasan, stres). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara negative emotional state dengan resiliensi pada warga binaan narkotika di Lembaga Pemasyarakatan Kedungpane, Semarang. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 880 warga binaan, sebanyak 211 warga binaan diambil untuk sampel penelitian dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian terdiri dari dua skala yaitu DASS 21 (21 aitem dengan α = 0,916) dan Skala Resiliensi (34 aitem dengan α = 0,889). Hasil penelitian dengan analisis korelasional Spearman’s rho menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara negative emotional state dengan resiliensi dengan rxy = -0,308 dan p = 0,000 (p<0,01), artinya semakin rendah negative emotional state pada warga binaan narkotika maka resiliensi semakin tinggi, begitu pula sebaliknya. Temuan unik yang didapat yaitu negative emotional state pada warga binaan narkotika Lapas Kedungpane, Semarang berada pada taraf normal dimana penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan kondisi lapas yang cukup menekan psikologis. Program mapenaling dan detoksifikasi membantu negative emotional state pada warga binaan narkotika berada pada taraf normal. 
HUBUNGAN ANTARA REGULASI DIRI DAN RESILIENSI DENGAN KUALITAS HIDUP PADA PERAWAT RUMAH SAKIT SWASTA X DI KOTA SEMARANG Nenis Digdyani; Dian Veronika Sakti Kaloeti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 (Agustus 2018)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.231 KB) | DOI: 10.14710/empati.2018.21848

Abstract

Kualitas hidup perawat rendah jika dibandingkan tenaga kesehatan lain, maka dibutuhkan kemampuan untuk mengelola dan bangkit dari berbagai tekanan yang dialami dengan cara regulasi diri dan resiliensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara regulasi diri dan resiliensi dengan kualitas hidup pada perawat Rumah Sakit Swasta X di Kota Semarang. Populasi berjumlah 185 perawat, sebanyak 122 perawat diambil untuk sampel penelitian dengan teknik cluster random sampling. Instrumen penelitian terdiri dari tiga skala diantaranya Skala Regulasi Diri (34 aitem, α = .927), Skala Resiliensi (37 aitem,  α = .949) dan Skala Kualitas Hidup (20 aitem, α = 914) dari WHOQOL – BREF (2004). Analisis menggunakan analisis regresi sederhana untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil hipotesis pertama menunjukkan terdapat hubungan positif antara regulasi diri dengan kualitas hidup pada perawat Rumah Sakit Swasta X di Kota Semarang (Rxy = .396). Hasil hipotesis kedua menunjukkan terdapat hubungan positif antara resiliensi dengan kualitas hidup pada perawat Rumah Sakit Swasta X di Kota Semarang (Rxy = .462).  Berdasarkan analisis regresi stepwise didapatkan hasil bahwa resiliensi memiliki pengaruh paling tinggi terhadap kualitas hidup perawat dengan sumbangan efektif 21.3% (R square = .213). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa menjadi seorang perawat tidak hanya butuh kemampuan untuk mengontrol dan mengatur diri agar tujuan hidup dapat tercapai, namun dibutuhkan kemampuan bertahan dan beradaptasi terhadap tekanan yang dialami sehingga perawat dapat memiliki kualitas hidup yang tinggi.
HUBUNGAN ANTARA KEHARMONISAN KELUARGA DAN MORALITAS PADA SISWA KELAS XI SMK MUHAMMADIYAH 3 WELERI Anggun Nur Anisa; Dian Veronika Sakti Kaloeti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 11, Nomor 4, Tahun 2022 (Agustus 2022)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/empati.0.36462

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keharmonisan keluarga dan moralitas pada siswa kelas XI SMK Muhammadiyah 3 Weleri. Moralitas merupakan seluruh kualitas perbuatan manusia yang dikaitkan dengan nilai baik dan buruk yang mengajarkan bagaimana manusia harus hidup secara baik, serta memiliki pemahaman mengenai norma dan aturan untuk membedakan hal yang baik dan buruk agar dapat berperilaku yang sesuai di masyarakat. Keharmonisan keluarga merupakan keadaan di dalam keluarga yang terdapat kesadaran anggota keluarga (ayah dengan ibu, ibu dengan remaja, dan ayah dengan remaja, remaja dengan saudara kandung) sehingga terjalin hubungan yang baik, saling menghargai, pengertian, keterbukaan, dan diwarnai dengan kasih sayang disertai kegiatan pendidikan yang dapat dilaksanakan dengan efektif sehingga tercipta rasa aman dan saling melindungi sesama anggota keluarga. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 208 siswa kelas XI SMK Muhammadiyah 3 Weleri dari keseluruhan sampel 495 siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Penelitian ini menggunakan dua skala alat ukur, yaitu Skala Keharmonisan Keluarga (34 aitem, α=0,894) dan Skala Moralitas (31 aitem, α=0,883). Analisis data menggunakan analisis regresi sederhana diperoleh rxy=0,393 dengan p=0,000 (p>0,05). Artinya, semakin tinggi keharmonisan keluarga maka semakin tinggi pula moralitas yang dimiliki pada remaja, dan sebaliknya. Keharmonisan keluarga memberikan sumbangan efektif sebanyak 15,4% terhadap moralitas pada remaja.
PENGARUH PELATIHAN SELF-COMPASSION SECARA DARING UNTUK MENINGKATKAN PENERIMAAN DIRI PADA MAHASISWA DENGAN FOBIA SPESIFIK RINGAN Nur Diana Indrawati; Dian Veronika Sakti Kaloeti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 11, Nomor 3, Tahun 2022 (Juni 2022)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/empati.2022.34470

Abstract

Mahasiswa tahun pertama kuliah perlu menguasai cara mengatur lingkungan sosial yang baru, sehingga individu harus menyesuaikan dengan lingkungan mereka, mengembangkan identitas diri mereka dan membentuk hubungan dekat dengan orang lain. Mahasiswa yang berjuang dengan fobia akan lebih sulit untuk memiliki penerimaan diri. Pelatihan self-compassion disebutkan dapat membantu individu untuk meningkatkan emosi positif dalam diri mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan self-compassion secara daring untuk meningkatkan penerimaan diri pada mahasiswa tahun pertama dengan fobia spesifik ringan. Desain yang digunakan yaitu randomized pretest-postest control group design. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa baru dengan tingkat fobia spesifik ringan dan penerimaan diri yang rendah dan sedang. Terdapat total 26 subjek dalam penelitian ini. Pengambilan data menggunakan skala  Severity Measure for Specific Phobia—Adult dari APA dan skala penerimaan diri. Hasil uji menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (p=0,059 (0>0,05) untuk uji Mann-Whitney U. Selanjutnya dilakukan uji Friedman untuk mengetahui perbedaan pada kelompok eksperimen dari sebelum dan sesudah diberi perlakuan dan mengikuti follow-up. Hasil uji menunjukkan terdapat perbedaan signifikan pada kelompok eksperimen sebelum dan sesudah diberi perlakuan, serta setelah mengikuti follow-up (p=0,018, p<0,05). Hal tersebut mengindikasikan bahwa pelatihan self-compassion secara daring dapat dilakukan untuk meningkatkan penerimaan diri pada mahasiswa tahun pertama Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro dengan fobia spesifik ringan.