Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

IMPLEMENTASI ARSITEKTUR KONTEMPORER TROPIS PADA ISLAMIC CENTER DI KABUPATEN SAMBAS, KALIMANTAN BARAT Muhammad Fabian Daffa; Nurtati Soewarno
Jurnal Arsitektur Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2635.378 KB) | DOI: 10.59970/jas.v14i2.93

Abstract

Kabupaten Sambas merupakan sebuah kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat yang mayoritas penduduknya beragama Islam tetapi belum memiliki sebuah fasilitas yang dapat menampung semua kegiatan peribadatan. Oleh karenanya dinilai perlu untuk merancang sebuah Islamic Center. Islamic Center yang direncanakan menerapkan tema Arsitektur Kontemporer Tropis yang dipadukan dengan konsep pemikiran Islam. Tema tropis dipilih karena lokasi site berada pada kawasan dengan iklim tropis, di pulau Kalimantan yang dilalui Garis Khatulistiwa. Sedangkan pemilihan tema kontemporer diharapkan agar konsep-konsep pemikiran Islam dapat dengan mudah divisualisasikan melalui elemen-elemen arsitektur. Diharapkan elemen-elemen arsitektur tersebut dapat meningkatkan estetika bangunan sehingga dapat menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Elemen-elemen arsitektur tersebut diterapkan pada site seperti pada perancangan plaza untuk aktivitas manasik haji dan penempatan sebuah monumen. Selain itu elemen arsitektur diterapkan pula pada fasad bangunan berupa ornamen kaligrafi yang dapat mencerminkan fungsi bangunan sebagai tempat aktivitas masyarakat muslim. Sedangkan pada interior bangunan direncanakan bukaan-bukaan yang memungkinkan tercapainya kenyamanan termal sehingga diharapkan para jamaah dapat lebih khusyuk dalam menjalankan ibadah. Hasil rancangan Islamic Center ini diharapkan dapat mewadahi seluruh aktivitas peribadatan masyarakat muslim di Kabupaten Sambas khususnya tetapi tidak menutup kemungkinan digunakan oleh masyarakat umum, baik masyarakat Kalimantan maupun masyarakat muslim dari luar Kalimantan atau bahkan dari luar Indonesia.
IDENTIFIKASI GAYA ARSITEKTUR BANGUNAN CAGAR BUDAYA NEDHANDEL NV DI PUSAT KOTA BADUNG Abdurrofa Rabbani; Rihan Ibnu Ghassan; Rico Adji Gumilar; Nurtati Soewarno
Jurnal Arsitektur Vol. 17 No. 2 (2025): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bandung adalah salah satu kota di Provinsi Jawa Barat yang didirikan pada masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda pada awal abad ke 18. Jejak Pemerintahan Kolonial Belanda hingga saat ini masih dapat dikenali, salah satunya dari keberadaan bangunan-bangunan yang mempunyai gaya Arsitektur spesific, seperti Gedung Nedhandel NV yang terletak di Pusat Kota Bandung. Dengan melakukan observasi ke lapangan dan melakukan wawancara dengan pengelola bangunan saat ini, yaitu PT Bank Mandiri, penelitian ini bertujuan nuntuk mengidentifikasi gaya Arsitektur yang diterapkan pada bangunan tersebut. Hasil penelitian menunjukan gaya Arsitektur Neo Classic diterapkan pada bangunan ini seperti yang umum digunakan pada bangunan-bangunan di Eropa pada masa itu. Bangunan ini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya golongan A yang selayaknya dilestarikan. Upaya pelestarian yang telah dilakukan terbilang sukses sehingga bentukdan gaya Arsitektur Neo Classic dapat dipertahankan. Seiring dengan berjalannya waktu berbagai upaya adaptasi telah dilakukan namum tidak mengganggu keaslian gaya Arsitektur Neo Classic yang merupakan ciri khas dari Bangunan Kolonial di Kawasan Pusat Kota Bandung. Diharapkan upaya pelestarian yang telah dilakukan dapat diterapkan pada bangunanbangunan Cagar Budaya lainnya sehingga bangunan Kolonial sebagai warisan bangsa dapat dipertahankan.
The transformation of Shophouse as an effort to continue the trading tradition in Pasar Baru area, Bandung Nurtati Soewarno; Mustika Kusumaning Wardhani
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 8 No 1 (2023): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Januari 2023 ~ April 2023
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v8i1.1976

Abstract

The development of cities in Indonesia must be connected to the role of the Dutch colonial government. Cities were built from an indigenous village by creating a grid pattern to divide the village into residential blocks with the traditional market as the center. The Chinese, as immigrants, had no choice of work other than being traders. Currently, in Pasar Baru, the first commercial area in Bandung, Chinese-style shophouses are still recognizable, and some have been designated cultural heritage buildings. Unfortunately, some more are no longer intact, split into several units, or transformed into other shophouses. This study aims to show how Chinese society has continued to trade as tradition and how the shophouse as a legacy has adapted. The method used in this research is descriptive qualitative using several case studies. From survey observations, it can be seen that the transformation of shophouses begins with the division of shophouses in a transverse direction so that each unit still has road access to continue the trading tradition. The success of the descendant's continued tradition has made Pasar Baru the most prominent trading center in Bandung and serves other cities around Bandung.