Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Teori Kebutuhan Maslow Sebagai Rasionalisasi Pencegahan Kasus Aborsi Di Indonesia yurika fauzia wardhani; Oktarina Oktarina
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 3 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.542 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i3.1354

Abstract

The high rate of abortion in Indonesia makes abortion “buah simalakama”. On the one hand, abortion for non-medical reasons is strictly forbidden, but on the other hand illegal abortion increases mortality due to lack of medical facilities and infrastructure because most illegal abortions are done in traditional ways. The World Health Organization (WHO) determines that abortion is a reproductive health problem that needs attention and is a cause of suffering for women throughout the world. This study will analyze Maslow’s Theory of Needs as a rationalization of the reasons for informants to have an abortion. The method used is case analysis based on Maslow’s Theory of Needs. The results showed that, of the 131 informants who had an abortion to meet their security needs (both literally, fi nancially and otherwise) 48%, love / social needs were 37%, to meet physiological needs of 14.5%. Actions taken by informants for abortion were taking drugs 23%, drinking herbal medicine 9.2%, eating pineapple 3.8%, 2.3% vaginal medicine, 1.5% massage, 1.5% midwife consul, eating “tape” 0.76%, looking for health services 0.76%, while those who have not tried 21.4% and those who did not answer 35.9%. It was concluded that Maslow’s Needs Theory could be used to rationalize the reasons for informants having an abortion. Abstrak Tingginya angka aborsi di Indonesia menjadikan aborsi sebagai buah simalakama. Di satu sisi aborsi dengan alasan non medik dilarang keras, namun di sisi lain aborsi ilegal menjadi marak dan meningkatkan angka kematian. Kurangnya sarana dan prasarana medis menjadi penyebabnya karena sebagian besar aborsi ilegal dilakukan dengan cara tradisional. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menentukan bahwa aborsi termasuk dalam masalah kesehatan reproduksi yang perlu mendapatkan perhatian dan merupakan penyebab penderitaan wanita di seluruh dunia. Penelitian ini akan menganalisis Teori Kebutuhan Maslow sebagai rasionalisasi alasan informan untuk melakukan aborsi. Metode yang dilakukan adalah analisis kasus berdasar Teori Kebutuhan Maslow. Hasil menunjukkan bahwa, dari 131 informan melakukan aborsi untuk memenuhi kebutuhan rasa aman (baik secara harafi ah, fi nancial, maupun lainnya) 48%, kebutuhan cinta/sosial 37%, untuk memenuhi kebutuhan fi siologis 14,5%. Tindakan yang dilakukan informan untuk aborsi adalah dengan minum obat-obatan 23%, minum jamu 9,2%, makan nanas 3,8%, obat pervaginam 2,3%, pijat 1,5%, konsul bidan 1,5%, makan tape 0,76%, mencari pelayanan kesehatan 0,76%, sedangkan yang belum berupaya 21,4% dan yang tidak menjawab 35,9%. Disimpulkan bahwa Teori Kebutuhan Maslow dapat digunakan untuk merasionalisasi alasan informan melakukan aborsi.
Perilaku Pemenuhan Gizi pada Ibu Menyusui di Beberapa Etnik di Indonesia oktarina oktarina oktarina; Yurika Fauzia wardhani
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 4 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.613 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i4.1550

Abstract

Balanced nutrition during breastfeeding is important for breastfeeding mothers because it affects breastmilk production. The fulfillment of good nutrition for breastfeeding mothers will affect the nutritional status and the growth of their babies. The concept of sick and healthy, food and drink that is good for health, trust and abstinence, on one hand, can be a barrier for health development but on the other one can be a potential for overcoming health problems. This study is a secondary data analysis, which is sourced from Health Ethnographic Research data in 2012, 2014 and 2015. Samples taken were from the Rote, Sabu and Madura ethnic groups. Data collected included breastfeeding mothers' behavior as well as the adequacy of nutrition for breastfeeding mothers in the three ethnic groups. The results showed that maternal behavior in newborns gave a prelactal type of food, where in the ethnic Rote in the form of coffee water or sugar water, in the ethnic Sabu in the form of a concoction of chili leaves that were pounded, filtered and taken the juice, and the Madura ethnic in the form of honey and young coconut water aimed to smoothen baby’s digestion. Abstrak Gizi seimbang penting bagi ibu menyusui karena sangat erat kaitannya dengan produksi air susu. Pemenuhan gizi yang baik akan berpengaruh terhadap status gizi ibu menyusui dan tumbuh kembang bayinya. Konsep tentang sehat-sakit, makanan-minuman yang baik untuk kesehatan, kepercayaan dan pantangan, di satu lain bisa menjadi penghalang namun di sisi lain bisa menjadi potensi untuk mengatasi permasalahan kesehatan. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder, yang bersumber dari data Riset Etnografi Kesehatan tahun 2012, 2014 dan 2015 yang bertujuan untuk mengetahui perilaku pemenuhan gizi ibu menyusui pada etnik Sabu, Rote dan Madura. Data yang dikumpulkan meliputi perilaku ibu menyusui serta kecukupan zat gizi ibu menyusui pada tiga etnik tersebut. Hasil menunjukkan bahwa perilaku ibu pada bayi baru lahir memberikan jenis makanan prelaktal, dimana pada etnik Rote berupa air kopi atau air gula, pada etnik Sabu berupa ramuan daun cabai yang ditumbuk, disaring dan diambil sarinya, serta etnik Madura berupa madu dan air kelapa muda yang bertujuan untuk melicinkan pencernaan bayi.
Relevansi, Efektivitas dan Sustainabilitas Model Pemberdayaan Paraji dan Kokolot dalam Upaya Meningkatkan Persalinan di Fasilitas Kesehatan Sri Handayani; Suharmiati Suharmiati; Karlina Karlina; Yurika Fauzia Wardhani
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 24 No 1 (2021): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v24i1.3406

Abstract

In 2017 and 2018 the Center for Humanities and Health Management conducted health interventions research in Tugu and Rancapinang Village, Cimanggu District, Pandeglang Regency. This research is motivated by the maternal and child health problems that are still experienced in Pandeglang Regency. Intervention research was carried out using a community empowerment method where paraji and kokolot as agents of change to improve childbirth in health facilities. This research uses a qualitative approach with a participatory action research (PAR) method. Data collection methods have used in-depth interviews, focus group discussions, and observations. Paraji and kokolot empowerment model to increase childbirth in health facilities are quite relevant to be implemented because it is following the problem of the presence of pregnant women giving birth at home. In terms of effectiveness, this model is more effectively implemented in Tugu village than in Rancapinang Village because the characteristics of the area and the people of the two villages are different. The sustainability of this model is questionable because it is not yet integrated with the local health service system. As a suggestion, modifying this model according to the social and cultural characteristics of the local community is necessary. Increasing effectiveness in this model is needed to have a strong partnership between paraji, kokolot as agents of change, village midwives, and local facilitators. This model must also be integrated with the local health service system so that sustainability can be realized. Abstrak Pada tahun 2017 dan 2018 Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan melaksanakan riset intervensi kesehatan di Desa Tugu dan Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang. Riset ini dilatarbelakangi oleh masalah kesehatan ibu dan anak yang masih dialami oleh Kabupaten Pandeglang. Riset intervensi dilakukan dengan metode pemberdayaan masyarakat di mana paraji dan kokolot sebagai agen perubahan untuk meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan. Riset ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode participatory action research (PAR). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah dan observasi. Model pemberdayaan paraji dan kokolot dalam upaya meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan cukup relevan diimplementasikan karena sesuai dengan permasalahan masih adanya ibu hamil yang melahirkan di rumah. Dari segi efektivitas model ini lebih efektif dilaksanakan di Desa Tugu dibandingkan di Desa Rancapinang karena karakteristik wilayah dan masyarakat kedua desa berbeda. Sustainabilitas model ini dipertanyakan karena belum terintegrasi dengan sistem pelayanan kesehatan setempat. Sebagai saran, perlu adanya modifikasi dalam model intervensi ini yang disesuaikan dengan karakteristik sosial dan budaya masyarakat setempat. Untuk meningkatkan efektivitas model ini memerlukan kemitraan yang kuat antara paraji dan kokolot sebagai agen perubahan dengan bidan desa dan pendamping lokal. Model ini juga harus terintegrasi dengan sistem kesehatan lokal sehingga sustainabilitas dapat tercapai.
Permasalahan dan Penyesuaian Diri pada Pernikahan Wanita Muslimah Berjilbab dan Bercadar Wardhani, Yurika Fauzia
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 23 No 3 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 3, 2008)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v23i3.4331

Abstract

This study aims to explore the problematics and self-adaptation of moslem women who wear jilbab and veil, who were married by a kiai with the hope to get happiness on earth, as well as after death. Subjects (N = 3) were women wearing jilbab and veil, aged between 25-35, and have been married for 1-10 years. Data were collected through interviews and guided self-report. Results reveal a different problem and adaptation towards marriage compared to other moslem women in general. Besides, the influence of patriarchical culture on gender perspectives is also shown. Religious values and women’s stereotypical views upon gender role in a marriage in a patriarchical cultuere are discussed. Penelitian ini bertujuan mengungkap permasalahan dan penyesuaian diri muslimat berjilbab dan bercadar, yang menikah akibat dijodohkan oleh kiai yang dipercayainya, dengan harapan memperoleh kabahagiaan di dunia maupun di akherat.(N =3) adalah muslimat berjilbab dan bercadar, berusia antara 25-35 tahun dan telah menikah selama 1 – 10 tahun. Data diperoleh melalui wawancara dan penulisan ceritaberdasar pedoman peneliti. Hasil menunjukkan permasalahan dan penyesuaian diri terhadap pernikahan yang berbeda dari wanita muslimat pada umumnya. Di samping itu terungkap pula adanya pengaruh budaya patriarkat terhadap perspektif gender. Dibahas lebih lanjut nilai agama dan pandangan stereotipikal wanita atas peran gender dalam perjodohan dalam budaya patriarkat.
Management Information Systems and the Efficiency of Elementary School Administration: A Literature Review Based on Evidence-Based Research on Integrated Systems Ramadhan Maruta Pradana; Devi Purnamasari Sasongko; Esa Mariya Puspitasari; Yurika Fauzia Wardhani; Andi Kristanto; Syunu Trihantoyo
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 35 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v35i12026p87-99

Abstract

Abstract: This study presents a systematic literature review examining the effectiveness of Management Information Systems (MIS) in improving the efficiency and accountability of elementary school management. The review followed the PRISMA 2020 guidelines. A structured search across Scopus, Web of Science, IEEE Xplore, ScienceDirect, and Google Scholar identified 186 records. After duplicate removal, screening, and eligibility assessment, 24 empirical studies published between 2015 and 2025 were included. The findings indicate that MIS implementation consistently enhances administrative efficiency, improves data accuracy, accelerates reporting processes, and strengthens managerial accountability. Integrated MIS platforms were associated with streamlined workflows, reduced documentation redundancy, and improved institutional transparency. However, the effectiveness of MIS adoption remains influenced by system integration, technological infrastructure, digital literacy, leadership support, and organisational readiness. Persistent barriers include limited internet connectivity, inadequate hardware, user competency gaps, and resistance to technological change. Overall, MIS functions as a strategic enabler of evidence-based governance in elementary education. Sustainable benefits require integrated system design, infrastructure readiness, and continuous capacity-building initiatives. Abstrak: Penelitian ini menyajikan tinjauan pustaka secara sistematis yang mengkaji efektivitas Sistem Informasi Manajemen (SIM) dalam meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas pengelolaan sekolah dasar. Tinjauan ini mengikuti pedoman PRISMA 2020. Pencarian terstruktur di Scopus, Web of Science, IEEE Xplore, ScienceDirect, dan Google Scholar mengidentifikasi 186 artikel. Setelah proses seleksi duplikat, penyaringan, dan penilaian kelayakan, 24 studi empiris yang diterbitkan antara tahun 2015 dan 2025 digunakan dalam proses analisis. Temuan menunjukkan bahwa penerapan Sistem Informasi Manajemen (SIM) secara konsisten meningkatkan efisiensi administratif, memperbaiki akurasi data, mempercepat proses pelaporan, dan memperkuat akuntabilitas manajerial. Platform SIM terintegrasi dikaitkan dengan alur kerja yang lebih efisien, pengurangan redundansi dokumentasi, dan peningkatan transparansi kelembagaan. Namun, efektivitas penerapan Sistem Informasi Manajemen (SIM) tetap dipengaruhi oleh integrasi sistem, infrastruktur teknologi, literasi digital, dukungan kepemimpinan, dan kesiapan organisasi. Hambatan yang terus berlanjut meliputi konektivitas internet yang terbatas, perangkat keras yang tidak memadai, kesenjangan kompetensi pengguna, serta penolakan terhadap perubahan teknologi. Secara keseluruhan, SIM berfungsi sebagai pendorong strategis bagi tata kelola berbasis bukti di bidang pendidikan dasar. Untuk memperoleh manfaat yang berkelanjutan, diperlukan desain sistem yang terintegrasi, kesiapan infrastruktur, serta inisiatif pengembangan kapasitas yang berkelanjutan.