Susilo Wibisono
Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi Dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PEMBELAJARAN KOOPERATIF SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI, EMPATI DAN PERILAKU BEKERJASAMA Susilo Wibisono; Uly Gusniarti; Fany Eka Nurtjahjo
SCHEMA (Journal of Psychological Research) Volume 3 No.1 Mei 2017
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.352 KB) | DOI: 10.29313/schema.v0i0.1783

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh dari pembelajaran kooperatif pada beberapa aspek psikologis, yaitu motivasi, empati, dan perilaku kerjasama. Partisipan dari penelitian ini adalah para mahasiswa yang mengambil kelas psikometri pada tahun ajaran 2015/2016. Desain yang dikembangkan untuk penelitian ini adalah within subject design, dimana partisipan di ukur sebanyak tiga kali; pengukuran awal, pengukuran pertengahan, dan pengukuran akhir. Analisis yang digunakan untuk menginterpretasikan data adalah pengukuran berulang ANAVA. Hasil dari analisis data tersebut menunjukan bahwa motivasi untuk belajar bisa meningkat dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif (F=38.438 dengan p=0.000). Lebih lanjut lagi, analisis terhadap variable empati dan perilaku kerjasama menunjukan hasil yang hampir sama (F=4.209 dengan p=0.019 untuk empati dan f=15.790 dengan p=0.000 untuk perilaku kerjasama). Berdasarkan hasil tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif adalah relevan dengan konteks mahasiswa
Catatan Managing Editor: Sukatani, Ramadan, dan Kaum Marginal Akhyar, Muhammad; Wibisono, Susilo
Jurnal Psikologi Sosial Vol 23 No 1 (2025): Februari
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2025.02

Abstract

Ketika memulai mata kuliah Intervensi Sosial saya iseng bertanya kepada mahasiswa, “Selama berkuliah di Psikologi, pernahkah teman-teman belajar konsep Psikologi, apa pun itu, dengan kemiskinan, atau melakukan riset dengan partisi-pan dari kelompok miskin?” Sebagian besar menggeleng. Saya meminta mereka melakukan pencarian dengan kata kunci “miskin” atau “kemiskinan” atau “poverty” dalam materi per-kuliahan mereka. Hasilnya, nyaris tidak ada. Kondisi ini bisa jadi satu bukti bahwa pendidikan kita, khususnya saat ini, menjauhkan anak muda dari kenyataan sosial. Persoalan konkret dan menggelisahkan seperti kemiskinan, inilah yang mendorong JPS mengundang peneliti Psikologi dan ilmu perilaku lainnya untuk menulis edisi khusus mengenai Intervensi Sosial. Jurnal Psikologi Sosial, Volume 23, Nomor 1 ini cukup unik karena selain dua naskah regular, publikasi kali ini juga hadir dengan tiga naskah dari special issue: "Intervensi Sosial: Ikhtiar Mengatasi Ketidaksetaraan dalam Masalah Krisis Iklim, Well-being, dan Pendidikan" (lebih lanjut disebut Edisi Khusus SDGs, singkatan dari Sustainable Development Goals). Edisi Khusus SDGs merupakan dari Multi-Journal Special Issue yang digagas oleh Almarhum Profesor James H. Liu. Sayangnya sebelum edisi khusus ini terbit, beliau sudah terlebih dahulu menghadap Yang Maha Kuasa. Untuk menghor-mati beliau, redaksi mengundang salah satu muridnya, Moh. Abdul Hakim menulis obituari, mengenang hidup Prof. Liu.
Menakar Label Fundamentalisme Untuk Muslim Wibisono, Susilo
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 19 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/psikologika.vol19.iss1.art7

Abstract

This study was developed referring to the negative connotation in using the word “fundamentalism ” and its using as an individual or group label. The method used in this study were literature review using many literatures about Islam and fundamentalism in any perspectives. Based on psychology perspective, it said that fundamentalism is an individual psychological construct associated with beliefs and individual interpretation of something, such as ideology, nationality, and religion. According to this perspective, this study states religious fundamentalism as an individual psychological construct that chacactherized as an interval variable. Nevertheless, the concept of religious fundamentalism among Muslims in the psychology literatures was conceptualized and constructed without consideration to normative doctrine of Islam. In fact, the concept of fundamentalism was born from the tradition of Christian and still polemical in its definition. By using the simple map of the doctrine of Islam, this study concludes that fundamentalism as a psychological constructs can be divided into two dimensions, namely pathological fundamentalism and non-pathological fundamentalism. This is related to the dimensionality of Islam that contains core dimensions (ushuul) and branch dimentions (furuu).Keywords:fundamentalism, islam, indonesian moslem.
VALIDASI ISLAMIC POSITIVE THINKING SCALE (IPTS) BERBASIS KRITERIA EKSTERNAL Gusniarti, Uly; Wibisono, Susilo; Nurtjahjo, Fani Eka
Jurnal Psikologi Islam Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Psikologi Islam
Publisher : Asosiasi Psikologi Islam (API) Himpsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.491 KB) | DOI: 10.47399/jpi.v4i1.38

Abstract

Kajian ini dilakukan untuk mengevaluasi validitas instrumen pengukuran berpikir positif yang didasarkan pada nilai-nilai Islam. Konsep berpikir positif tersebut dikembangkan berbasis pada konsep husnudzan sebagai bentuk prasangka positif dalam ajaran Islam. Tiga komponen yang dikembangkan dalam instrumen ini meliputi berpikir positif pada Allah, berpikir positif pada berbagai peristiwa dan berpikir positif pada sesama manusia. Validasi dilakukan dengan menggunakan kriteria eksternal. Beberapa variabel yang dijadikan sebagai acuan dalam penelitian ini antara lain kepuasan hidup, perasaan positif, perasaan negatif, dan religiositas. Data diambil dari kelompok mahasiswa Muslim yang berjumlah 216 mahasiswa. Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada korelasi positif yang signifikan antara instrumen husnudzan yang dikembangkan dan instrumen husnudzan yang dibuat oleh Rusydi (2012) dengan r=0,253; kepuasan hidup (r=0,147). Sedangkan hipotesis ada korelasi antara instrumen husnudzan yang dikembangkan dengan perasaan positif dan negatif serta religiositas dan self-esteem tidak terbukti. Korelasi instrumen Islamic positive thinking dengan instrumen kepatutan sosial menunjukkan skor sebesar -0,328 dengan p sebesar 0,00. Kata Kunci: husnudzan, kriteria eksternal, validitas.
Norming of Coloured Progressive Matrices Test in Elementary School Children Based on Classical Measurement Theory and Rasch Modeling Gusniarti, Uly; Rachmawati, Mira Aliza; Wibisono, Susilo; Annatagia, Libbie; Agustina, Ike; Rumiani, Rumiani
JP3I (Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia) Vol. 10 No. 2 (2021): JP3I
Publisher : FAKULTAS PSIKOLOGI UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jp3i.v10i2.18155

Abstract

This study aimed to develop Coloured Progressive Matrices (CPM) norms for the use in the Indonesian context. We used two approaches, namely classical test theory (CTT) which uses raw score (total score) as measurement result information and Rasch modeling which uses logit value as measurement result information. This research was conducted in four regencies and one municipality in the Province of Yogyakarta. The participants were 1,779 elementary school age children recruited through random sampling. The norming analysis in this study divided the data into five age groups in the range of 6 – 12.5 years old. The level of intelligence represented by the results of the CPM measurement consists of five levels, from Grade I to Grade V. Grade V as the lowest intelligence level has a value below the 5th Percentile of the data distribution. Grade IV as the second lowest level of intelligence was located between between the 5th and 25th Percentile of the data distribution. Grade III representing the average level of intelligence had the greatest range from 25th to 75th Percentile. In addition, the range allocated for Grade II was similar to Grade IV, but in the opposite direction of the distribution (i.e., between 75th and 95th Percentile). Lastly, Grade I as a representation of the highest level of intelligence is in the range of values above the  95th Percentile.