Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

KINETIKA FERMENTASI VCO SECARA SINAMBUNG DALAM BIOREAKTOR TANGKI IDEAL Redjeki, Sri; Kurniati, Ely
Jurnal Teknik Kimia Vol 8, No 1 (2013): JURNAL TEKNIK KIMIA
Publisher : Program Studi Teknik Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jurnal_tekkim.v8i1.711

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan kinetika reaksi pada proses fermentasi sinambung, pada pembuatan VCO. Fermentasi sinambung dijalankan dengan mengalirkan substrat dengan laju aliran tertentu dan pada saat yang sama produk hasil metabolisme dikeluarkan dengan laju alir yang sama. Penambahan medium baru dengan laju yang sesuai dapat menghasilkan keadaan tunak (steady state), pada keadaan tunak tersebut konsentrasi sel, laju pertumbuhan, konsentrasi produk tidak mengalami perubahan selama waktu fermentasi berlangsung. Penentuan parameter Yp/s, vp, km’ dapat ditentukan dari berbagai percobaan laju pengenceran. Hasil yang diperoleh adalah untuk nisbah (1:2): vp= 0,06 jam-1, km’ = 4,0451 g/l, dan Yp/s = 6 g asam laktat/g glukosa.
Study of pectin extraction from pedada fruit and kepok banana peel Jariyah Jariyah; Ely Kurniati; Silvana Dwi Nurherdiana
Advances in Food Science, Sustainable Agriculture and Agroindustrial Engineering (AFSSAAE) Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Advances in Food Science, Sustainable Agriculture and Agroindustrial Engineering (AFSSAAE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.afssaae.2022.005.01.4

Abstract

This work represents a comprehensive analysis of pedada fruit (Sonneratia caseolaris) as a less desirable fruit, but valuable content such as pectin which obtained through extraction using microwave assisted extraction (MEA) method. Pectin is a water-soluble fiber widely used as a functional component in the food and pharmaceutical industry. The analysis focuses on the comparison profile of pectin from pedada fruit and Kepok banana peel. In addition, the effect of the concentration of the extracting solvent on the methoxyl levels of pectin was also evaluated using the chemometric method (partial least square (PLS) and principal component analysis (PCA)). PLS was performed to determine the methoxyl content which plays a role in determining the pectin type. While PCA was to determine the pectin classification pattern based on the fruit supply location and the extracting solvent. The results showed that the PLS of extracted pectin of pedada fruit and Kepok bananas peels showed an R2 value of 1. This means that the pectin data model of each sample using the MAE method was in good classification. In addition, the PCA results show that the pectin extraction data plots are close together between samples in the quadrant, indicating the same characteristics and quality of pectin.
Penurunan Cr6+ dari Limbah Batik dengan Menggunakan Kitosan dari Cangkang Kupang Putih Muhammad Fariz Rohman; Mochammad Bagas Wirawan; Ely Kurniati
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v8i8.13449

Abstract

Chitosan is a biological material that has the potential as an environmentally friendly coagulant. Because based on its chemical structure, chitosan has an active amine group (NH2). The presence of a lone pair of electrons from the nitrogen atom in the amine group causes the group to be electronegative and very reactive to increase metal ions so that it is very good to be used to absorb metal ions. At the c-3 and c-6 atoms of the chitosan sugar group. This aims to reduce the levels of cr6+ in waste using an adsorption process where adsorption is a process that occurs when a fluid (liquid or gas) is bound to a solid and eventually forms a film (thin layer) on the surface of the solid. The adsorption uses chitosan media made from the white shell of mussel which has a weight of 3 grams, 5 grams, 7 grams, 9 grams and 11 grams with temperatures of 30 C, 45 C, 60 C, 75 C and 90 C. After making chitosan The weight of chitosan will be mixed with batik waste with a certain temperature and a rotation of 150 RPM. The best results are obtained at 11 grams at a temperature of 90 C, with the ability to reduce it to 94.62% with an initial concentration of 2.473 mg/l. at 11 grams with a temperature of 90 C, it is in accordance with SNI with group 2 where the cr6+ content is 0.5 mg/L.
PENINGKATAN DERAJAT DEASETILASI DALAM SINTESIS KITOSAN DARI CANGKANG KERANG DARAH Hakam, Muhammad; Praditama, Firnanti; Kurniati, Ely
Jurnal Teknik Kimia Vol 17, No 2 (2023): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Program Studi Teknik Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jurnal_tekkim.v17i2.3789

Abstract

Cangkang kerang darah yang dihasilkan dari konsumsi kerang darah memberikan kontribusi timbulnya limbah cangkang kerang darah. Limbah yang menumpuk tanpa dilakukan pengolahan menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan. Cangkang kerang darah dapat diolah menjadi kitosan. Mutu kitosan yang baik dapat diketahui dari nilai derajat deasetilasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi larutan NaOH dan waktu reaksi terhadap peningkatan nilai derajat deasetilasi sehingga diketahui konsentrasi larutan NaOH dan lama waktu reaksi terbaik dalam meningkatkan nilai derajat deasetilasi serta memperoleh produk kitosan dengan kualitas yang berdasarkan standar SNI. Sintesis kitosan cangkang kerang darah dilakukan melalui tahap deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi. Variabel penelitian ini adalah tahap deasetilasi digunakan konsentrasi larutan NaOH sebesar 30%; 35%, 40%; 45%; 50% dan waktu pengadukan sebesar 0,5 jam; 1 jam; 1,5 jam; 2 jam; 2,5 jam. Hasil penelitian menunjukkan sintesis cangkang kerah darah menjadi kitosan dengan penambahan konsentrasi NaOH dan waktu reaksi dapat meningkatkan nilai derajat deasetilasi. Hasil terbaik pada penelitian diperoleh nilai rendemen sebesar 30,5% dan derajat deasetilasi hasil analisa (FTIR) sebesar 86,0365% yang telah memenuhi dengan standar SNI kitosan tahun 2018. Hasil ini didapatkan pada konsentrasi NaOH sebesar 50% dengan waktu reaksi selama 2,5 jam. DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v17i2.3789
Perbandingan Efektivitas Ekstraksi Pektin dari Kulit Durian dengan Bantuan Gelombang Ultrasonik dan Metode Konvensional Selvia Indah Puspita; Yovita Sekarlita; Ely Kurniati; Titi Susilowati; Mu'tassim Billah
Jurnal Fisika Unand Vol 13 No 3 (2024)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.13.3.427-432.2024

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan ekstraksi pektin kulit durian menggunakan gelombang ultrasonik dan konvensional; untuk mengetahui pengaruh pH larutan HCl dan waktu ekstraksi terhadap yield pektin dan kadar metoksil. Metode penelitian ini menggunakan ekstraksi dengan bantuan gelombang ultrasonik dan konvensional pada frekuensi 20 KHz dan suhu 70oC dengan variasi waktu ekstraksi yaitu 15; 45; 75 menit serta pH larutan HCl 1,5;2,5;3,5. Yield pektin tertinggi diperoleh dengan menggunakan bantuan gelombang ultrasonik pada frekuensi 20 KHz, suhu 70oC selama 75 menit dan pH larutan HCl 1,5 sebesar 7,081% sementara menggunakan metode konvensional dengan kondisi suhu, waktu ekstraksi, dan pH larutan HCl yang sama sebesar 1,8646%. Kadar metoksil terendah diperoleh dengan menggunakan bantuan gelombang ultrasonik pada frekuensi 20 KHz, suhu 70oC selama 15 menit dan pH larutan HCl 1,5 sebesar 5,9% sedangkan menggunakan metode konvensional dengan kondisi suhu, waktu ekstraksi, dan pH larutan HCl yang sama sebesar 6,11%. 
PEMISAHAN ION Ca2+, Mg2+, SO42- DARI BITTERN DENGAN NANOFILTRASI UNTUK PRODUKSI GARAM KONSUMSI Berliana, Putri Dwi; Sari, Amelia Puspita; Kurniati, Ely
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v14i1.31624

Abstract

Produksi garam menghasilkan bittern sebagai produk samping yang masih mengandung mineral berharga, termasuk natrium klorida (NaCl). Kadar NaCl dalam bittern dari PT Garam Dua Musim Lamongan mencapai 456.620 ppm, sehingga masih layak untuk diolah kembali. Namun, keberadaan pengotor seperti ion kalsium (Ca²⁺), magnesium (Mg²⁺), dan sulfat (SO₄²⁻) membatasi pemanfaatannya secara langsung. Kurangnya pemanfaatan bittern menyebabkan potensi mineral yang terkandung di dalamnya belum termanfaatkan secara optimal. Jika bittern dibuang langsung kembali ke laut tanpa melalui proses pengolahan, hal ini berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan, seperti hipersalinitas, terganggunya keseimbangan ekosistem laut, serta perubahan komposisi ionik air laut yang dapat berdampak negatif terhadap biota akuatik. Oleh karena itu, pengelolaan bittern menjadi sangat penting untuk mengurangi dampak ekologis serta mendukung pemanfaatannya sebagai sumber senyawa bernilai tambah. Dalam upaya mengurangi limbah cair serta meningkatkan nilai ekonomi bittern, pemurnian menggunakan nanofiltrasi dapat diterapkan. Membran nanofiltrasi mampu memisahkan bittern dari padatan terlarut, bakteri, virus, serta ion-ion multivalen seperti Ca²⁺, Mg²⁺, dan SO₄²⁻. Penelitian ini mengolah bittern menggunakan membran nanofiltrasi berukuran pori 0,001 μm untuk meningkatkan kemurnian garam. Metode ini dilakukan dengan menggunakan dua kondisi operasi yang divariasikan, yaitu tekanan nanofiltrasi 4, 5, 6, 7, dan 8 atm, dan waktu kontak 40, 60, 80, 100, dan 120 menit. Hasil menunjukkan bahwa pada tekanan 8 atm dan waktu operasi 120 menit, persentase rejeksi ion mencapai 71,77% dengan fraksi massa garam sebesar 84,35%. Nilai ini masih di bawah standar mutu SNI 4435:2017 kualitas K3 sebesar 85%, sehingga diperlukan optimasi lebih lanjut agar produk yang dihasilkan memiliki kualitas lebih baik.