Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Hubungan Antara Konteks Pekerjaan dengan Stres Kerja pada Pekerja Logistik Pangan PT.X di Karawang Tri Indra Adithia; Baiduri Widanarko
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2019): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, Juli 2019
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.237 KB) | DOI: 10.35473/pro heallth.v1i2.243

Abstract

(Background) Job stress related to work is one of the main problems in occupational safety and health. Improving uncomfortable conditions can stress workers so as to increase worker welfare and increase complications and depression. Health problems are the cause of the absence of work to increase productivity in organizations or companies. Therefore the author agrees to do stress work, with the aim of knowing the working relationship with stressful work. (Method) This research was conducted by taking data directly through questionnaires and observations at the study site (Result) The results of the study show that from nine variables, namely working hours, workload, work design, job control and work environment, it can be seen that the control has a significant value compared to other variables with a sig value of 0.042. (Conclusion) From these results it can be concluded that the context of the work most related to stress on workers is job control.
Kajian dampak pajanan radiasi panas saat terjadi tumpahan minyak dan kebakaran tangki di pusat pengumpul produksi minyak PT. X Krisman J. Sihotang; Baiduri Widanarko
Jurnal Rekayasa Proses Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.84097

Abstract

Industri minyak memiliki risiko tinggi, kasus kejadian darurat seperti tumpahan minyak dan kebakaran di tangki pengumpul minyak sering terjadi dan digolongkan sebagai bahaya besar. Kejadian darurat ini dapat terjadi karena kegagalan safety protection layers (SPL) yang terpasang di tangki pengumpul minyak. Tangki yang terbakar akan mengakibatkan pajanan panas radiasi ke area sekitarnya termasuk area yang dihuni manusia. Tangki T-04 adalah salah satu tangki pengumpul minyak PT. X yang berpotensi mengalami kejadian darurat tersebut, untuk itu dilakukan kajian dampak pajanan panas radiasi kebakaran tangki T-04 terhadap fasilitas dan manusia di sekitarnya. Metode kajian yang dilakukan merupakan penelitian potong lintang dengan pendekatan kuantitatif untuk melakukan analisis dampak pajanan panas radiasi yang ditimbulkan kebakaran tangki T-04 terhadap fasilitas dan manusia sekitar. Penelitian ini dilakukan melalui pengumpulan data sekunder baik yang ada di PT. X dan studi literatur dengan tanpa melakukan intervensi pada objek penelitian. Data yang didapatkan tersebut dipergunakan untuk mengetahui dampak pajanan panas radiasi secara kuantitatif dengan menggunakan software ALOHA (Areal Location of Hazardous Atmosphere). Hasil penelitian menunjukkan kegagalan SPL terpasang di tangki T-04 berupa intervensi operator dan breather valve dapat mengakibatkan tumpahan minyak karena overfilled yang apabila ada sumber panas dapat menyebabkan tangki terbakar (tank fire engulfment). Hasil dari Layer of Protection Analysis (LOPA) diperoleh bahwa realisasi tank fire engulfment pada tangki T-04 dikategorikan sebagai kejadian dengan tingkat risiko yang tidak dapat diterima berdasarkan matriks risiko yang diacu PT. X. Simulasi kajian dampak pajanan panas radiasi kebakaran tangki T-04 terhadap fasilitas terdekat dan manusia sekitar dilakukan dengan menggunakan software ALOHA v.5.4.7. Diperoleh hasil pajanan panas radiasi di ruang operator pada jarak 45 m dari tangki T-04 sekitar 12,50 kW/ m2 yang berpotensi mengakibatkan kematian, ruang perkantoran yang berjarak 70 m dari tangki T-04 sekitar 6,44 kW/m2 yang berpotensi mengakibatkan luka bakar derajat dua, fasilitas umum jalan raya sekitar 2.5 kW/m2 berpotensi mengakibatkan sakit sementara, fasilitas tangki terdekat yaitu tangki T-03 berjarak 30 m sekitar 19.9 kW/ m2 akan mengalami domino effect ikut terbakar. Kajian ini memberikan rekomendasi untuk menambahkan Safety Protection Layers pada tangki penampung minyak PT. X untuk mengurangi risiko kebakaran menjadi risiko yang dapat diterima dengan memasang SPL yang sesuai yaitu PAH (Pressure Alarm High), LAH (Level Alarm High), SIS (Safety Instrumented System) seperti PAHH (Pressure Alarm High-High), dan LAHH (Level Alarm High-High).
THE ASSOCIATION BETWEEN INDIVIDUAL, PHYSICAL, AND PSYCHOSOCIAL RISK FACTORS AND OCCUPATIONAL FATIGUE AMONG COMMUTER LINE TRAIN WORKERS Ulfha Aulia Nasution; Baiduri Widanarko
The Indonesian Journal of Public Health Vol. 18 No. 3 (2023): THE INDONESIAN JOURNAL OF PUBLIC HEALTH
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/ijph.v18i3.2023.518-529

Abstract

Introduction: Occupational fatigue affects workers in various industries including transportation. Commuter train drivers and office workers are subjected to high levels of physical and psychosocial stress, which can lead to occupational fatigue. Aims: to examine the relationship between individual, physical, and psychosocial risk factors and occupational fatigue in commuter train workers in Jakarta, Bogor, Tangerang, and Bekasi. Methods: Individual (i.e., age, gender, marital status, type of work, duration of work, and smoking status), psychosocial (i.e., effort, reward, overcommitment, monotonous work, social support, job satisfaction, and work stress) factors, and occupational fatigue were investigated in 78 commuter line train workers (both drivers and officers). Observing workers' activities yielded physical factors (awkward posture, repetitive work, prolonged work, and material manual handling activities). The association between each risk factor and occupational fatigue was investigated using a logistic regression model. Results: Commuter line officers (OR 4.96, 95% CI 1.77 – 13.85), those with high overcommitment (OR 3.16, 95% CI 1.25 – 8.00), and those with high work stress (OR 1.54, 95% CI 1.19 – 2.00) were more likely to report occupational fatigue than train drivers, who reported low overcommitment and low work stress, respectively. When compared to those who reported low job satisfaction, those who reported high job satisfaction were less likely to report occupational fatigue (OR 0.19, 95% CI 0.07 – 0.52). Conclusion: Job position, overcommitment, and work stress were associated with occupational fatigue.
Kajian Awal Konsep Inspeksi Keselamatan Radiasi di Fasilitas Industri dan Kesehatan dengan Metode Daring: Studi Kasus Wibowo, Samsu Riza; Widanarko, Baiduri
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v6i1.3127

Abstract

Pemanfaatan tenaga nuklir tidak hanya untuk pembangkit energi listrik tetapi juga digunakan di dunia industri, penelitian dan kesehatan. Dalam pemanfaatan tenaga nuklir tersebut diperlukan adanya pengawasan karena selain manfaat yang besar juga mempunyai potensi bahaya radiasi. Pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir salah satunya dengan inspeksi keselamatan radiasi. Dalam pelaksanaan inspeksi keselamatan radiasi masih terdapat kendala terkait dengan ketersediaan jumlah inspektur dan lokasi pengguna sumber radiasi pengion yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Kondisi pandemi COVID-19 yang terjadi di awal tahun 2020 memberikan tantangan yang lain dalam pelaksanaan inspeksi. Pelaksanaan inspeksi daring bisa menjadi salah satu solusi dalam menjawab tantangan-tantangan tersebut. Metode yang digunakan dalam menyusun penelitian ini yaitu dengan pendekatan studi kasus dengan beberapa tahapan mulai dari tinjauan pustaka, membandingkan dengan inspeksi sejenis dan studi kasus pelaksanaan verifikasi perizinan yang memiliki skema seperti inspeksi keselamatan radiasi serta wawancara dengan para inspektur yang telah melaksanakan inspeksi di fasilitas industri dan kesehatan. Pelaksanaan inspeksi daring di bidang industri dan kesehatan tidak bisa langsung diterapkan pada semua tahapan inspeksi karena disesuaikan dengan tingkat risiko paparan radiasi, rekam jejak inspeksi sebelumnya dan sarana prasarana penunjang daring. Untuk fasilitas dengan risiko rendah dan rekam jejak inspeksi yang baik maka bisa dilakukan inspeksi daring secara penuh sedangkan fasilitas dengan risiko tinggi dilakukan inspeksi dengan metode gabungan antara daring dan onsite. Hasil dari penelitian ini bisa menjadi masukan untuk pembaruan prosedur pelaksanaan inspeksi keselamatan radiasi.
Faktor Risiko dan Prevalensi Gangguan Muskuloskeletal pada Bahu di Sektor Konstruksi: Literatur Review Rohmah, Rizka Lailatul; Baiduri Widanarko
Jurnal Medika Nusantara Vol. 3 No. 2 (2025): Jurnal Medika Nusantara
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59680/medika.v3i2.1806

Abstract

Musculoskeletal disorders affecting the shoulder are a prevalent health issue in the construction sector, leading to reduced productivity and quality of life among workers. This study aims to identify risk factors and the prevalence of shoulder pain in construction workers through a systematic literature review. A literature review was conducted following PRISMA guidelines, with searches performed in five major databases: Scopus, PubMed, Taylor & Francis Online, ProQuest, and Science Direct. Out of 1,628 initially identified articles, seven studies met the inclusion criteria and were analyzed further. The findings indicate that the prevalence of shoulder pain among construction workers ranges from 18.3% to 72%, with key risk factors including non-ergonomic working postures, repetitive tasks, manual handling, high body mass index, advanced age, and psychosocial stressors. Additionally, environmental factors such as heat strain were found to contribute to the increased risk of shoulder pain. However, regular physical activity serves as a protective factor in reducing the risk of musculoskeletal disorders..
Durasi Kerja Harian Sebagai Determinan Utama Kelelahan Pekerja House Keeping Febryan Antoni; Baiduri Widanarko
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 14, No 3 (2023): Juli - September 2023
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf14303

Abstract

One way to protect the safety of workers is to prevent work fatigue, some of which are caused by fatigue that occurs due to individual factors, work environment factors, and work factors. The purpose of this cross-sectional study was to analyze factors related to job burnout in housekeeping workers using a quantitative approach. This research involved 90 house keeping workers at PT Metropolitan Kentjana, Tbk. The independent variables were age, work shift, daily work duration, smoking, and length of service. Data were collected through interviews and filling out IFRC questionnaires. Data were analyzed descriptively and inferentially to see the description and relationship between variables. The results showed that the p-value for each factor was age = 0.004, work shift = 0.031, daily work duration = 0.001, smoking behavior = 0.004 and years of service = 0.374. Furthermore, it was concluded that the determinants of work fatigue were age, work shift, work duration and smoking behavior.Keywords: work fatigue; age; duration of daily work; smoking behavior; shift work ABSTRAK Salah satu cara untuk melindungi keselamatan para kerja adalah mencegah terjadinya kelelahan kerja, yang sebagian di antaranya tersebut diakibatkan oleh kelelahan yang terjadi karena faktor individu, faktor lingkungan kerja, dan faktor pekerjaan. Tujuan penelitian cross-sectional ini adalah untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada pekerja house keeping dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini melibatkan 90 pekerja house keeping di PT Metropolitan Kentjana, Tbk. Variabel independen adalah usia, shift kerja, durasi kerja harian, merokok, dan masa kerja. Data dikumpulkan melalui wawancara dan pengisian kuesioner IFRC. Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial untuk melihat gambaran dan hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p untuk masing-masing faktor adalah usia = 0,004, shift kerja = 0,031, durasi kerja harian = 0,001, perilaku merokok = 0,004 dan masa kerja = 0,374. Selanjutnya disimpulkan bahwa determinan dari kelelahan kerja adalah usia, shift kerja, durasi kerja dan perilaku merokok.Kata kunci: kelelahan kerja; usia; durasi kerja harian; perilaku merokok; shift kerja
Kajian dampak pajanan radiasi panas saat terjadi tumpahan minyak dan kebakaran tangki di pusat pengumpul produksi minyak PT. X Sihotang, Krisman J.; Widanarko, Baiduri
Jurnal Rekayasa Proses Vol 17 No 1 (2023): Volume 17, Number 1, 2023
Publisher : Jurnal Rekayasa Proses

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.84097

Abstract

Industri minyak memiliki risiko tinggi, kasus kejadian darurat seperti tumpahan minyak dan kebakaran di tangki pengumpul minyak sering terjadi dan digolongkan sebagai bahaya besar. Kejadian darurat ini dapat terjadi karena kegagalan safety protection layers (SPL) yang terpasang di tangki pengumpul minyak. Tangki yang terbakar akan mengakibatkan pajanan panas radiasi ke area sekitarnya termasuk area yang dihuni manusia. Tangki T-04 adalah salah satu tangki pengumpul minyak PT. X yang berpotensi mengalami kejadian darurat tersebut, untuk itu dilakukan kajian dampak pajanan panas radiasi kebakaran tangki T-04 terhadap fasilitas dan manusia di sekitarnya. Metode kajian yang dilakukan merupakan penelitian potong lintang dengan pendekatan kuantitatif untuk melakukan analisis dampak pajanan panas radiasi yang ditimbulkan kebakaran tangki T-04 terhadap fasilitas dan manusia sekitar. Penelitian ini dilakukan melalui pengumpulan data sekunder baik yang ada di PT. X dan studi literatur dengan tanpa melakukan intervensi pada objek penelitian. Data yang didapatkan tersebut dipergunakan untuk mengetahui dampak pajanan panas radiasi secara kuantitatif dengan menggunakan software ALOHA (Areal Location of Hazardous Atmosphere). Hasil penelitian menunjukkan kegagalan SPL terpasang di tangki T-04 berupa intervensi operator dan breather valve dapat mengakibatkan tumpahan minyak karena overfilled yang apabila ada sumber panas dapat menyebabkan tangki terbakar (tank fire engulfment). Hasil dari Layer of Protection Analysis (LOPA) diperoleh bahwa realisasi tank fire engulfment pada tangki T-04 dikategorikan sebagai kejadian dengan tingkat risiko yang tidak dapat diterima berdasarkan matriks risiko yang diacu PT. X. Simulasi kajian dampak pajanan panas radiasi kebakaran tangki T-04 terhadap fasilitas terdekat dan manusia sekitar dilakukan dengan menggunakan software ALOHA v.5.4.7. Diperoleh hasil pajanan panas radiasi di ruang operator pada jarak 45 m dari tangki T-04 sekitar 12,50 kW/ m2 yang berpotensi mengakibatkan kematian, ruang perkantoran yang berjarak 70 m dari tangki T-04 sekitar 6,44 kW/m2 yang berpotensi mengakibatkan luka bakar derajat dua, fasilitas umum jalan raya sekitar 2.5 kW/m2 berpotensi mengakibatkan sakit sementara, fasilitas tangki terdekat yaitu tangki T-03 berjarak 30 m sekitar 19.9 kW/ m2 akan mengalami domino effect ikut terbakar. Kajian ini memberikan rekomendasi untuk menambahkan Safety Protection Layers pada tangki penampung minyak PT. X untuk mengurangi risiko kebakaran menjadi risiko yang dapat diterima dengan memasang SPL yang sesuai yaitu PAH (Pressure Alarm High), LAH (Level Alarm High), SIS (Safety Instrumented System) seperti PAHH (Pressure Alarm High-High), dan LAHH (Level Alarm High-High).
A Study on the Impact of Occupational Fatigue on Human Performance among Oil and Gas Workers in Indonesia Dahlan, Achmad; Widanarko, Baiduri
Kesmas Vol. 17, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Occupational fatigue is a serious problem since it may cause several issues, including deteriorating human performance. Some major accidents in the oil and gas industries were associated with the lack of human performance due to occupational fatigue. This study aimed to analyze the impact of occupational fatigue on human performance among oil and gas workers in Indonesia. This study used a cross-sectional design using a self-administered validated questionnaire to gather information on demographic (gender and age), work characteristics (work rotation, work duration, shift work model, day/night shift, job position), sleep debt, sleep quality, occupational (acute and chronic) fatigue, and at-risk behavior as the indicator of human performance. In this study, a total of 1,650 workers from different fields (production, drilling, well service, construction, and administration/office) participated. This study showed that occupational fatigue (both chronic and acute) significantly impacted human performance, and occupational fatigue conditions decreased human performance. This implied that managing occupational fatigue may prevent deteriorating human performance.
Analysis of Factors Affecting Hospital Risk Management in Indonesia: The SEM-PLS Approach Dihartawan, Dihartawan; Lestari, Fatma; Widanarko, Baiduri; Besral, Besral
Kesmas Vol. 19, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Healthcare workers, especially those in hospitals, face a variety of complex hazards and exposures. One of the essential aspects of reducing risks and dangers is effective risk management. This study used a cross-sectional approach to survey the implementation of occupational health and safety management systems in Indonesian hospitals and to identify factors predisposing hospital risk management in Indonesia. A purposive sampling method was employed to select 90 hospitals distributed across 10 provinces in Indonesia. Data were analyzed using descriptive analysis, correlation, and SEM-PLS. A total of 44 hospitals (48.9%) had complete status plenary, and the majority were type C hospitals (43.3%). The results of SEM-PLS analysis showed that the hazard and risk identification analysis and Standard Operating Procedures (SOPs) factor-variables significantly predisposed the high quality of hospital risk management in Indonesia, with path values of 0.282 and 0.469, respectively. Enhancing hospital risk management in Indonesia could be achieved by increasing the use of appropriate SOPs and conducting a thorough analysis of hazards and risk identification.
Literatur Review: Faktor Risiko Gangguan Otot Rangka (Gotrak) Pada Tenaga Kesehatan Watunnida, Shof; Widanarko, Baiduri
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 5 (2023): Innovative: Journal of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Insiden gangguan otot rangka pada tenaga kesehatan sangat memprihatinkan. Secara khusus, tingginya insiden cidera punggung merupakan masalah bagi tenaga kesehatan. Terjadinya masalah kesehatan ini berhubungan dengan beberapa faktor risiko. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berkaitan dengan gangguan otot rangka pada tenaga kesehatan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode literatur review PRISMA pada beberapa artikel penelitian yang meneliti tentang faktor risiko yang berkaitan dengan gangguan otot rangka pada tenaga kesehatan. Pencarian artikel melalui Science Direct dengan kata kunci “musculoskeletal disorder” dan “healthcare workers” yang dipublikasikan dalam lima tahun terakhir yaitu mulai dari Agustus 2019 sampai Agustus 2023 dengan ranking jurnal internasional Q1 dan Q2. Hasil: Hasil penelusuran artikel berjumlah (n = 7.958 artikel). Dari hasil pencarian setelah dilakukan screening berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan 10 artikel yang sesuai. Kesimpulan: Penelitian ini menjelaskan adanya pengaruh faktor risiko antara lain faktor individu, lingkungan kerja, psikososial, aktivitas kerja fisik serta organisasi terhadap gangguan otot rangka pada tenaga kesehatan.