Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Hubungan Antara Konteks Pekerjaan dengan Stres Kerja pada Pekerja Logistik Pangan PT.X di Karawang Tri Indra Adithia; Baiduri Widanarko
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2019): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, Juli 2019
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.237 KB) | DOI: 10.35473/pro heallth.v1i2.243

Abstract

(Background) Job stress related to work is one of the main problems in occupational safety and health. Improving uncomfortable conditions can stress workers so as to increase worker welfare and increase complications and depression. Health problems are the cause of the absence of work to increase productivity in organizations or companies. Therefore the author agrees to do stress work, with the aim of knowing the working relationship with stressful work. (Method) This research was conducted by taking data directly through questionnaires and observations at the study site (Result) The results of the study show that from nine variables, namely working hours, workload, work design, job control and work environment, it can be seen that the control has a significant value compared to other variables with a sig value of 0.042. (Conclusion) From these results it can be concluded that the context of the work most related to stress on workers is job control.
Kajian dampak pajanan radiasi panas saat terjadi tumpahan minyak dan kebakaran tangki di pusat pengumpul produksi minyak PT. X Krisman J. Sihotang; Baiduri Widanarko
Jurnal Rekayasa Proses Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.84097

Abstract

Industri minyak memiliki risiko tinggi, kasus kejadian darurat seperti tumpahan minyak dan kebakaran di tangki pengumpul minyak sering terjadi dan digolongkan sebagai bahaya besar. Kejadian darurat ini dapat terjadi karena kegagalan safety protection layers (SPL) yang terpasang di tangki pengumpul minyak. Tangki yang terbakar akan mengakibatkan pajanan panas radiasi ke area sekitarnya termasuk area yang dihuni manusia. Tangki T-04 adalah salah satu tangki pengumpul minyak PT. X yang berpotensi mengalami kejadian darurat tersebut, untuk itu dilakukan kajian dampak pajanan panas radiasi kebakaran tangki T-04 terhadap fasilitas dan manusia di sekitarnya. Metode kajian yang dilakukan merupakan penelitian potong lintang dengan pendekatan kuantitatif untuk melakukan analisis dampak pajanan panas radiasi yang ditimbulkan kebakaran tangki T-04 terhadap fasilitas dan manusia sekitar. Penelitian ini dilakukan melalui pengumpulan data sekunder baik yang ada di PT. X dan studi literatur dengan tanpa melakukan intervensi pada objek penelitian. Data yang didapatkan tersebut dipergunakan untuk mengetahui dampak pajanan panas radiasi secara kuantitatif dengan menggunakan software ALOHA (Areal Location of Hazardous Atmosphere). Hasil penelitian menunjukkan kegagalan SPL terpasang di tangki T-04 berupa intervensi operator dan breather valve dapat mengakibatkan tumpahan minyak karena overfilled yang apabila ada sumber panas dapat menyebabkan tangki terbakar (tank fire engulfment). Hasil dari Layer of Protection Analysis (LOPA) diperoleh bahwa realisasi tank fire engulfment pada tangki T-04 dikategorikan sebagai kejadian dengan tingkat risiko yang tidak dapat diterima berdasarkan matriks risiko yang diacu PT. X. Simulasi kajian dampak pajanan panas radiasi kebakaran tangki T-04 terhadap fasilitas terdekat dan manusia sekitar dilakukan dengan menggunakan software ALOHA v.5.4.7. Diperoleh hasil pajanan panas radiasi di ruang operator pada jarak 45 m dari tangki T-04 sekitar 12,50 kW/ m2 yang berpotensi mengakibatkan kematian, ruang perkantoran yang berjarak 70 m dari tangki T-04 sekitar 6,44 kW/m2 yang berpotensi mengakibatkan luka bakar derajat dua, fasilitas umum jalan raya sekitar 2.5 kW/m2 berpotensi mengakibatkan sakit sementara, fasilitas tangki terdekat yaitu tangki T-03 berjarak 30 m sekitar 19.9 kW/ m2 akan mengalami domino effect ikut terbakar. Kajian ini memberikan rekomendasi untuk menambahkan Safety Protection Layers pada tangki penampung minyak PT. X untuk mengurangi risiko kebakaran menjadi risiko yang dapat diterima dengan memasang SPL yang sesuai yaitu PAH (Pressure Alarm High), LAH (Level Alarm High), SIS (Safety Instrumented System) seperti PAHH (Pressure Alarm High-High), dan LAHH (Level Alarm High-High).
THE ASSOCIATION BETWEEN INDIVIDUAL, PHYSICAL, AND PSYCHOSOCIAL RISK FACTORS AND OCCUPATIONAL FATIGUE AMONG COMMUTER LINE TRAIN WORKERS Ulfha Aulia Nasution; Baiduri Widanarko
The Indonesian Journal of Public Health Vol. 18 No. 3 (2023): THE INDONESIAN JOURNAL OF PUBLIC HEALTH
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/ijph.v18i3.2023.518-529

Abstract

Introduction: Occupational fatigue affects workers in various industries including transportation. Commuter train drivers and office workers are subjected to high levels of physical and psychosocial stress, which can lead to occupational fatigue. Aims: to examine the relationship between individual, physical, and psychosocial risk factors and occupational fatigue in commuter train workers in Jakarta, Bogor, Tangerang, and Bekasi. Methods: Individual (i.e., age, gender, marital status, type of work, duration of work, and smoking status), psychosocial (i.e., effort, reward, overcommitment, monotonous work, social support, job satisfaction, and work stress) factors, and occupational fatigue were investigated in 78 commuter line train workers (both drivers and officers). Observing workers' activities yielded physical factors (awkward posture, repetitive work, prolonged work, and material manual handling activities). The association between each risk factor and occupational fatigue was investigated using a logistic regression model. Results: Commuter line officers (OR 4.96, 95% CI 1.77 – 13.85), those with high overcommitment (OR 3.16, 95% CI 1.25 – 8.00), and those with high work stress (OR 1.54, 95% CI 1.19 – 2.00) were more likely to report occupational fatigue than train drivers, who reported low overcommitment and low work stress, respectively. When compared to those who reported low job satisfaction, those who reported high job satisfaction were less likely to report occupational fatigue (OR 0.19, 95% CI 0.07 – 0.52). Conclusion: Job position, overcommitment, and work stress were associated with occupational fatigue.
Kajian Awal Konsep Inspeksi Keselamatan Radiasi di Fasilitas Industri dan Kesehatan dengan Metode Daring: Studi Kasus Wibowo, Samsu Riza; Widanarko, Baiduri
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v6i1.3127

Abstract

Pemanfaatan tenaga nuklir tidak hanya untuk pembangkit energi listrik tetapi juga digunakan di dunia industri, penelitian dan kesehatan. Dalam pemanfaatan tenaga nuklir tersebut diperlukan adanya pengawasan karena selain manfaat yang besar juga mempunyai potensi bahaya radiasi. Pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir salah satunya dengan inspeksi keselamatan radiasi. Dalam pelaksanaan inspeksi keselamatan radiasi masih terdapat kendala terkait dengan ketersediaan jumlah inspektur dan lokasi pengguna sumber radiasi pengion yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Kondisi pandemi COVID-19 yang terjadi di awal tahun 2020 memberikan tantangan yang lain dalam pelaksanaan inspeksi. Pelaksanaan inspeksi daring bisa menjadi salah satu solusi dalam menjawab tantangan-tantangan tersebut. Metode yang digunakan dalam menyusun penelitian ini yaitu dengan pendekatan studi kasus dengan beberapa tahapan mulai dari tinjauan pustaka, membandingkan dengan inspeksi sejenis dan studi kasus pelaksanaan verifikasi perizinan yang memiliki skema seperti inspeksi keselamatan radiasi serta wawancara dengan para inspektur yang telah melaksanakan inspeksi di fasilitas industri dan kesehatan. Pelaksanaan inspeksi daring di bidang industri dan kesehatan tidak bisa langsung diterapkan pada semua tahapan inspeksi karena disesuaikan dengan tingkat risiko paparan radiasi, rekam jejak inspeksi sebelumnya dan sarana prasarana penunjang daring. Untuk fasilitas dengan risiko rendah dan rekam jejak inspeksi yang baik maka bisa dilakukan inspeksi daring secara penuh sedangkan fasilitas dengan risiko tinggi dilakukan inspeksi dengan metode gabungan antara daring dan onsite. Hasil dari penelitian ini bisa menjadi masukan untuk pembaruan prosedur pelaksanaan inspeksi keselamatan radiasi.
Identification of Risk Factors for Work Stress Field Workers in Oil and Gas Industry: Literature Review Napitupulu, Bram Sinatra; Baiduri Widanarko
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 10 (2024): October 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i10.6173

Abstract

Background: Work-related stress is a significant issue in the oil and gas industry, where workers often face high-risk environments and heavy workloads. Factors such as age, length of service, type of work, and interpersonal conflicts frequently cause stress, which can affect workers' mental health and performance. Objective: This study aims to identify and analyze the risk factors of work-related stress in the oil and gas sector and provide recommendations for improved stress management. Method: This research was conducted using a literature review method, analyzing previous studies related to work-related stress among oil and gas workers. Data were collected from relevant quantitative and cross-sectional studies, involving variables such as age, length of service, workload, role conflict, and leadership. Results: The literature review shows that age, length of service, type of work, workload, and interpersonal conflict significantly relate to workers' stress levels. Interpersonal conflict is the most influential factor, while organizational support, good leadership, and work-life balance policies help reduce stress levels. Conclusion: Effective interventions in stress management, such as employee wellness programs, improved workplace safety, and work-life balance policies, are essential in this sector. Early detection of stress sources is also crucial to maintaining workers' mental health and increasing productivity in the oil and gas industry.
Risk Factors for Work Fatigue in Welding Workers in the Oil and Gas Industry: Literature Review Ridho Pradana Mahaputra; Baiduri Widanarko
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 10 (2024): October 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i10.6174

Abstract

Introduction: Welding workers in the Oil and Gas Industry are often exposed to heat sources such as sunlight and welding machines, especially when working outdoors. The welding process involves cutting, heating, grinding, joining, painting, and sanding, which can lead to significant fatigue, impacting their health and safety. Objective: Workers who do welding are often exposed to heat sources, including sunlight and heat from welding machines because some employees do welding outdoors. Cutting iron, heating, grinding, joining, painting, and sanding are steps in the welding process carried out in a work environment exposed to sunlight. Thus, is fatigue a risk for welding workers in the Oil and Gas Industry. This study aims to determine the level of risk of causing work fatigue in welding workers in the Oil and Gas Industry. Method: This study is a systematic literature review using the PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta Analyses) method. Literature searches were obtained from Google Scholar, Science Direct, and Neliti Jurnal. The keywords "risk of causing work fatigue" and "Risk of Causing Work Fatigue" and "work fatigue in welding workers" and "work fatigue in welding workers" were used in articles published from 2019-2023. with international journal rankings Q1 and Q2. Result: A total of 105 articles were found, but only 16 articles were suitable for use after going through an elimination process that was adjusted to the research topic, passed duplication, and could be accessed in full. There are four risk factors for work fatigue in welding, namely, too much work, lack of time, conflict with welding workers, and the nature of ambiguity in each worker. Conclusion: This finding is useful for knowing the risk factors for work fatigue in welding workers, there are four factors, namely, too much work, lack of time, conflict with welding workers, and the nature of ambiguity in each worker. To reduce the risk at work is by socializing related to occupational safety and health, increasing awareness of the importance of health and safety for workers with the aim of creating safe working conditions and ensuring occupational safety and health.
Influence Shift Work on Work Fatigue in Oil and Gas Industry Workers: Literature Review Rezki Dwinda; Baiduri Widanarko
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 12 (2024): December 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i12.6324

Abstract

Background: Petroleum and gas industry carries out business in exploration and exploitation activities as well as in the processing of crude oil, an industry that is faced with working conditions and a high level of risk of danger. The work system for workers in the oil and gas sector applies the system shift like shift 4 time rotation, or two week days shift tends to make workers experience higher levels of fatigue and fatigue-related work accidents. For know the influence shift work on work fatigue in oil and gas industry workers. Method: This research uses the method literature review with the PRISMA approach (preferred reporting items for systematic reviews and meta-analyses). In the journal search carried out on database google scholar dan ScienceDirect with the keyword "Shift work”, “Work Fatigue”, “Oil and Gas Industry”. A total of 962 journals were identified, but 5 journals met the inclusion and exclusion criteria. Results: Based on 962 journals identified, 5 journals were selected according to inclusion criteria and exclusion criteria. Work shifts, whether 12-hour rotational work shifts or 2-week rotational shifts for offshore workers, can influence work fatigue in oil and gas workers. Lack of hours of sleep and poor sleep quality and circadian rhythm are often found to be factors causing work fatigue in oil and gas workers. Work fatigue experienced by oil and gas workers has an impact on reducing work performance and work productivity. Conclusion: Shift work has an effect on work fatigue in petroleum and gas industry workers.
Faktor Risiko dan Prevalensi Gangguan Muskuloskeletal pada Bahu di Sektor Konstruksi: Literatur Review Rohmah, Rizka Lailatul; Baiduri Widanarko
Jurnal Medika Nusantara Vol. 3 No. 2 (2025): Jurnal Medika Nusantara
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59680/medika.v3i2.1806

Abstract

Musculoskeletal disorders affecting the shoulder are a prevalent health issue in the construction sector, leading to reduced productivity and quality of life among workers. This study aims to identify risk factors and the prevalence of shoulder pain in construction workers through a systematic literature review. A literature review was conducted following PRISMA guidelines, with searches performed in five major databases: Scopus, PubMed, Taylor & Francis Online, ProQuest, and Science Direct. Out of 1,628 initially identified articles, seven studies met the inclusion criteria and were analyzed further. The findings indicate that the prevalence of shoulder pain among construction workers ranges from 18.3% to 72%, with key risk factors including non-ergonomic working postures, repetitive tasks, manual handling, high body mass index, advanced age, and psychosocial stressors. Additionally, environmental factors such as heat strain were found to contribute to the increased risk of shoulder pain. However, regular physical activity serves as a protective factor in reducing the risk of musculoskeletal disorders..
Durasi Kerja Harian Sebagai Determinan Utama Kelelahan Pekerja House Keeping Febryan Antoni; Baiduri Widanarko
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 14, No 3 (2023): Juli - September 2023
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf14303

Abstract

One way to protect the safety of workers is to prevent work fatigue, some of which are caused by fatigue that occurs due to individual factors, work environment factors, and work factors. The purpose of this cross-sectional study was to analyze factors related to job burnout in housekeeping workers using a quantitative approach. This research involved 90 house keeping workers at PT Metropolitan Kentjana, Tbk. The independent variables were age, work shift, daily work duration, smoking, and length of service. Data were collected through interviews and filling out IFRC questionnaires. Data were analyzed descriptively and inferentially to see the description and relationship between variables. The results showed that the p-value for each factor was age = 0.004, work shift = 0.031, daily work duration = 0.001, smoking behavior = 0.004 and years of service = 0.374. Furthermore, it was concluded that the determinants of work fatigue were age, work shift, work duration and smoking behavior.Keywords: work fatigue; age; duration of daily work; smoking behavior; shift work ABSTRAK Salah satu cara untuk melindungi keselamatan para kerja adalah mencegah terjadinya kelelahan kerja, yang sebagian di antaranya tersebut diakibatkan oleh kelelahan yang terjadi karena faktor individu, faktor lingkungan kerja, dan faktor pekerjaan. Tujuan penelitian cross-sectional ini adalah untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada pekerja house keeping dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini melibatkan 90 pekerja house keeping di PT Metropolitan Kentjana, Tbk. Variabel independen adalah usia, shift kerja, durasi kerja harian, merokok, dan masa kerja. Data dikumpulkan melalui wawancara dan pengisian kuesioner IFRC. Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial untuk melihat gambaran dan hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p untuk masing-masing faktor adalah usia = 0,004, shift kerja = 0,031, durasi kerja harian = 0,001, perilaku merokok = 0,004 dan masa kerja = 0,374. Selanjutnya disimpulkan bahwa determinan dari kelelahan kerja adalah usia, shift kerja, durasi kerja dan perilaku merokok.Kata kunci: kelelahan kerja; usia; durasi kerja harian; perilaku merokok; shift kerja
Kajian dampak pajanan radiasi panas saat terjadi tumpahan minyak dan kebakaran tangki di pusat pengumpul produksi minyak PT. X Sihotang, Krisman J.; Widanarko, Baiduri
Jurnal Rekayasa Proses Vol 17 No 1 (2023): Volume 17, Number 1, 2023
Publisher : Jurnal Rekayasa Proses

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.84097

Abstract

Industri minyak memiliki risiko tinggi, kasus kejadian darurat seperti tumpahan minyak dan kebakaran di tangki pengumpul minyak sering terjadi dan digolongkan sebagai bahaya besar. Kejadian darurat ini dapat terjadi karena kegagalan safety protection layers (SPL) yang terpasang di tangki pengumpul minyak. Tangki yang terbakar akan mengakibatkan pajanan panas radiasi ke area sekitarnya termasuk area yang dihuni manusia. Tangki T-04 adalah salah satu tangki pengumpul minyak PT. X yang berpotensi mengalami kejadian darurat tersebut, untuk itu dilakukan kajian dampak pajanan panas radiasi kebakaran tangki T-04 terhadap fasilitas dan manusia di sekitarnya. Metode kajian yang dilakukan merupakan penelitian potong lintang dengan pendekatan kuantitatif untuk melakukan analisis dampak pajanan panas radiasi yang ditimbulkan kebakaran tangki T-04 terhadap fasilitas dan manusia sekitar. Penelitian ini dilakukan melalui pengumpulan data sekunder baik yang ada di PT. X dan studi literatur dengan tanpa melakukan intervensi pada objek penelitian. Data yang didapatkan tersebut dipergunakan untuk mengetahui dampak pajanan panas radiasi secara kuantitatif dengan menggunakan software ALOHA (Areal Location of Hazardous Atmosphere). Hasil penelitian menunjukkan kegagalan SPL terpasang di tangki T-04 berupa intervensi operator dan breather valve dapat mengakibatkan tumpahan minyak karena overfilled yang apabila ada sumber panas dapat menyebabkan tangki terbakar (tank fire engulfment). Hasil dari Layer of Protection Analysis (LOPA) diperoleh bahwa realisasi tank fire engulfment pada tangki T-04 dikategorikan sebagai kejadian dengan tingkat risiko yang tidak dapat diterima berdasarkan matriks risiko yang diacu PT. X. Simulasi kajian dampak pajanan panas radiasi kebakaran tangki T-04 terhadap fasilitas terdekat dan manusia sekitar dilakukan dengan menggunakan software ALOHA v.5.4.7. Diperoleh hasil pajanan panas radiasi di ruang operator pada jarak 45 m dari tangki T-04 sekitar 12,50 kW/ m2 yang berpotensi mengakibatkan kematian, ruang perkantoran yang berjarak 70 m dari tangki T-04 sekitar 6,44 kW/m2 yang berpotensi mengakibatkan luka bakar derajat dua, fasilitas umum jalan raya sekitar 2.5 kW/m2 berpotensi mengakibatkan sakit sementara, fasilitas tangki terdekat yaitu tangki T-03 berjarak 30 m sekitar 19.9 kW/ m2 akan mengalami domino effect ikut terbakar. Kajian ini memberikan rekomendasi untuk menambahkan Safety Protection Layers pada tangki penampung minyak PT. X untuk mengurangi risiko kebakaran menjadi risiko yang dapat diterima dengan memasang SPL yang sesuai yaitu PAH (Pressure Alarm High), LAH (Level Alarm High), SIS (Safety Instrumented System) seperti PAHH (Pressure Alarm High-High), dan LAHH (Level Alarm High-High).