Muhammad Mudzakkir
Program Studi D3 Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan Dan Sains, Universitas Nusantara PGRI Kediri, Indonesia

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Upaya Pencegahan Penularan Covid-19 pada Masyarakat Kab. Kediri Muhammad Mudzakkir; Norma Risnasari; Muhammad Frinata Erian Nugraha; Sarah Azmillaely Mawadha
Kontribusi: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2021): November 2021
Publisher : Cipta Media Harmoni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.807 KB) | DOI: 10.53624/kontribusi.v2i1.85

Abstract

Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-Cov-2) yang jumlah kasusnya masih terus meningkat. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan penyebaran covid-19 agar kasusnya tidak semakin meluas. Masyarakat mempunyai peran yang penting melalui tindakan pencegahan dan pengendalian untuk memutus mata rantai penularan agar tidak terjadi sumber penularan baru. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini dengan melakukan penyuluhan kesehatan dengan pendekatan partisipatif, yang bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap covid-19. Kegiatan dilaksanakan di Desa Ngadi, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri tanggal 2 Maret 2021. Berdasarkan analisis diskriptif dari pertanyaan berupa kuesioner yang diberikan kepada peserta didapatkan hasil pre-test penyuluhan hanya 8% menyatakan tahu tentang pengertian covid-19, 24% mengetahui jenis coronavirus penyebab covid-19, 48% mengetahui tanda dan gejala covid-19 dan 52% menyatakan belum paham tentang pencegahan penularan covid-19. Hasil post-test dengan pertanyaan yang sama didapatkan seluruh peserta menyatakan paham tentang pengertian dan pencegahan covid-19 serta hampir seluruhnya memahami jenis virus penyebab covid-19 (92%) dan memahami tanda dan gejala (96%). Hasil tersebut menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan peserta penyuluhan kesehatan tentang upaya pencegahan penularan covid-19.
GAMBARAN POLA KONSUMSI AIR PUTIH DAN STATUS HIDRASI PADA KARYAWAN EKSPEDISI PT LINTAS NUSANTARA PERDANA KEDIRI Elysabet Herawati; Muhammad Mudzakkir
Jurnal EDUNursing Vol. 6 No. 1 (2022): April - Agustus 2022
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Expeditionary employees are jobs that require the consumption of water in sufficient quantities to avoid dehydration. This is because the work carried out by expedition employees is quite a strenuous activity in Indonesia's hot tropical climate. Dehydration in expedition employees can result in headaches, lethargy, and even fainting. The purpose of the study was to determine the hydration status of expedition employees at PT Lintas Nusantara Perdana Kediri related to water consumption patterns. The research design used cross sectional research and this research was a descriptive method. The population is all employees of PT Lintas Nusantara Perdana Kediri as many as 13 people. A sample of 10 respondents was taken by purposive sampling technique. Collecting data using a questionnaire. The data is processed by data tabulation, coding, and scoring techniques. Based on the research, it was found that from 10 respondents it was found that 2 people (20%) consumed enough water, which was more than 2 liters, 5 people (50%) consumed moderate amounts of water, which was about 1,5-2 liters and 2 people (20%) consume less water, which is less than 1,5 liters for 9 hours of work. Based on these results, it can be concluded that the consumption of water by expedition employees of PT Lintas Nusantara Perdana Kediri is still considered insufficient. Based on the results of the study on 10 respondents, it was found that 7 people (70%) felt symptoms of frequent thirst, 5 people (50%) felt symptoms of weakness, 6 people (60%) felt symptoms of dry lips and 5 people (50%) felt symptoms of body aches. hot. Based on these results, it can be concluded that most of the expedition employees of PT Lintas Nusantara Perdana Kediri who work in the field have not been properly hydrated during working hours. Keywords : Expedition employee, Hydration status, Water compsumtion
HUBUNGAN CACAT KONGENITAL DENGAN KEJADIAN SKIZOFRENIA USIA DIBAWAH 25 TAHUN Dhian Ika Prihananto; Muhammad Mudzakkir; Susi Ernawati
Jurnal EDUNursing Vol. 6 No. 2 (2022): September 2022 - Maret 2023
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Schizophrenia is a disease that affects the brain and causes strange and disturbed thoughts, perceptions, emotions, movements, and behaviors. Schizophrenia mental disorder does not just happen by itself, however, there are many factors that cause schizophrenia. The factors that cause schizophrenia are somatogenic, psychogenic, sociogenic factors. Including somatogenic factors, namely heredity, congenital defects, brain abnormalities, temperament, disease and bodily injury. The purpose of this study was to determine the relationship between congenital defects and the incidence of schizophrenia under the age of 25 years. This research is a mixed method research, case-control study design. The study population is sufferers and families with schizophrenia under the age of 25 in the Kepil sub-district, Wonosobo district. The sample consisted of 55 cases and 55 controls which were taken by consecutive sampling. The research instrument was an interview questionnaire. Data analysis was univariate, bivariate (chi-square). The results showed that 1 respondent (1.8%) had congenital defects in the case group and 1 respondent (1.8%) in the control group. The results of the bivariate test (chi-square) obtained p = 1.000 OR = 1.000 95% CI = 0.061-16.401. The conclusion is that there is no relationship between congenital defects and the incidence of schizophrenia under the age of 25 years. Keywords: Congenital defects, Schizophrenia, Age under 25 years
Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Kelas VIII tentang Penanganan Dismenore di SMPN 2 Tanjunganom: An Overview of Eighth-Grade Adolescent Girls' Knowledge regarding Dysmenorrhea Management at SMPN 2 Tanjunganom Ghaniyyu Intan Nur Anisa; Endah Tri Wijayanti; Muhammad Mudzakkir
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 8 (2026): EDISI AGUSTUS
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i8.460

Abstract

Pendahuluan: Dismenore merupakan masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Pengetahuan tentang penanganan dismenore secara tepat, akan membantu remaja putri dalam mengatasi dismenore supaya tidak menganggu aktivitas belajar. Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja putri kelas VIII tentang penanganan dismenore di SMPN 2 Tanjunganom. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh remaja putri kelas VIII di SMPN 2 Tanjunganom Kabupaten Nganjuk sebanyak 100 siswi. Sampel penelitian berjumlah 50 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuisoner tertutup, kemudian dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi serta presentase. Hasil: Data penelitian menunjukan sebagian besar responden berusia 14 tahun sebanyak 37 orang (74%). Pengetahuan remaja putri tentang penanganan dismenore sebagian besar berada pada kategori kurang sebanyak 44 responden (88%), kategori cukup sebanyak 5 responden (10%), dan kategori baik sebanyak (2%). Kesimpulan: Hasil survei ini menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri kelas VIII di SMPN 2 Tanjunganom memiliki pengetahuan yang kurang tentang penanganan dismenore. Perlunya peningkatan edukasi kesehatan reproduksi yang dilakukan oleh pihak sekolah bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang penanganan dismenore.
Gambaran Kualitas Tidur Perawat Sif Malam di Ruang Rawat Inap Mekah Rumah Sakit Muhammadiyah Ahmad Dahlan : Overview of Sleep Quality Among Night-Sif Nurses in the Inpatient Ward of Mekah at Muhammadiyah Ahmad Dahlan Hospital Prawiradi Jaya Ramadani; Endah Tri Wijayanti; Muhammad Mudzakkir
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 7 (2026): EDISI JULI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i7.481

Abstract

Pendahuluan: Perawat merupakan tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan selama 24 jam melalui sistem kerja sif, termasuk sif malam yang berpotensi mengganggu ritme sirkadian dan kualitas tidur. Kualitas tidur pada perawat dapat berdampak pada kesehatan individu, kinerja kerja, serta mutu pelayanan kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas tidur perawat sif malam di Ruang Rawat Inap Mekah RS Muhammadiyah Ahmad Dahlan kota Kediri. Metode: Desain deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 40 perawat sif malam yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari total populasi 68 perawat. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner PSQI yang mengukur tujuh komponen kualitas tidur, yaitu kualitas tidur subjektif, latensi tidur, durasi tidur, efisiensi tidur, gangguan tidur, penggunaan obat tidur, dan disfungsi aktivitas siang hari. Data dianalisis menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Responden berusia 31–40 tahun (60%), berjenis kelamin perempuan (75%), dan berpendidikan D3 (48%). Sebanyak 63% responden mengalami kualitas tidur buruk, 37% kualitas tidur baik. Sebanyak 56% responden memiliki durasi tidur kurang dari atau 5–6 jam, dan 45% dengan durasi tidur 6-7 jam atau lebih. Sebanyak 70% membutuhkan waktu untuk mulai tidur/latensi lebih dari 15 menit, dan 5% menggunakan obat tidur.               Kesimpulan:  sebagian besar perawat sif malam memiliki kualitas tidur yang buruk, butuh waktu lebih dari 15 menit untuk memulai tidur, dan ada perawat yang menggunakan obat tidur untuk memulai tidur. Perawat sebaiknya mendapatkan waktu libur yang cukup setelah menjalani sif malam guna mendukung pemulihan dan meningkatkan kualitas tidur.
Gambaran Prilaku Self-management Penderita Diabetes Melitus di Kelurahan Jamsaren Wilayah Kerja Puskesmas Pesantren II Kota Kediri: Overview of Self-Management Behaviors Among People with Diabetes Mellitus in the Jamsaren Neighborhood, within the Service Area of the Pesantren II Community Health Center in Kediri City Setyo Bekti Aji Sasono; Endah Tri Wijayanti; Muhammad Mudzakkir
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 7 (2026): EDISI JULI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i7.482

Abstract

Pendahuluan: Peningkatan jumlah penderita diabetes melitus terus terjadi setiap tahunnya. Prilaku self-management penderita yang kurang memadai dapat memicu munculnya berbagai komplikasi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga kemampuan penderita dalam melakukan perawatan diri menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan terapi. Praktik perilaku self-management mencakup kepatuhan mengonsumsi obat, pengaturan pola makan, aktivitas fisik yang teratur, pemantauan kadar glukosa darah, dan perawatan kaki secara rutin. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat praktik self-management penderita diabetes melitus yang berdomisili di Kelurahan Jamsaren, wilayah kerja Puskesmas Pesantren II Kota Kediri, sekaligus mengidentifikasi karakteristik sosiodemografi responden.                Metode: Penelitian menerapkan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif. Sebanyak 67 responden dipilih melalui teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria penelitian yang telah ditetapkan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan wawancara terstruktur dengan instrumen Diabetes Self-management Questionnaire (DSMQ), sedangkan analisis data dilakukan secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi.  Hasil:  Penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (61%) telah memiliki kemampuan praktik self-management yang tergolong baik. Sebaliknya, 32% responden masih menunjukkan kemampuan praktik yang rendah, sedangkan 7% berada pada kategori cukup. Karakteristik responden didominasi oleh kelompok usia di atas 59 tahun, perempuan, berpendidikan sekolah dasar, tidak memiliki pekerjaan, riwayat diabetes melitus antara 1 – 5 tahun.              Kesimpulan: Mayoritas penderita telah mampu melaksanakan pengelolaan penyakit secara mandiri dengan baik. Dan masih terdapat sebagian pasien yang menghadapi hambatan dalam menjalankan praktik self-management. Diperlukan upaya edukasi kesehatan yang dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan keluarga sebagai sistem pendukung utama agar kemampuan praktik self-management semakin optimal dan risiko komplikasi diabetes melitus dapat diminimalkan.
MOTIVASI PASIEN DIABETES MELITUS DALAM MENJALANI PROGRAM PENGOBATAN Muhammad Mudzakkir; Endah Tri Wijayanti; Karisma Azahra Apriyanti
Jurnal EDUNursing Vol 10 No 1 (April-Agustus) (2026): Jurnal EDUNursing
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/edunursing.v10i1 (April-Agustus).6546

Abstract

Abstract Diabetes mellitus is a chronic disease that requires long-term management through medication adherence, dietary regulation, physical activity, blood glucose monitoring, and lifestyle modification. Motivation is one of the psychological factors that influences patients in maintaining treatment behaviors. This study aimed to describe the level of motivation among patients with diabetes mellitus in undergoing treatment programs at the Outpatient Clinic of Muhammadiyah Ahmad Dahlan Hospital, Kediri. This study employed a quantitative descriptive design with a cross-sectional approach. A total of 41 respondents were selected using purposive sampling. Data were collected using a motivation questionnaire and analyzed using univariate analysis. The results showed that most respondents had a high level of motivation (58.5%), followed by moderate motivation (31.7%) and low motivation (7.3%). The findings indicate that most patients have adequate motivation to maintain treatment adherence and disease management. Nurses are expected to strengthen patient motivation through education, counseling, and family involvement to improve treatment outcomes. Keywords: diabetes mellitus, motivation, treatment, outpatient, nursing