Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : JTM

PENERAPAN METODE RCM (RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE) PADA POMPA LP (LOW PRESSURE) FLARE DI SAKA INDONESIA PANGKAH LIMITED Toni Eko Prasetyo; Nur Robbi; Mochamad Basjir
Jurnal Teknik Mesin Vol 18, No 2
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM MALANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam proses pengoperasian industri migas salah satu system yang sangat penting adalah sistem venting, blowdown dan flaring. Sistem ini berfungsi untuk menanggulangi fluida sisa akibat dari operasi yang tidak normal. Salah satu peralatan yang sangat penting dalam system ini adalah LP Flare Pump, karena erat kaitannya terhadap pencemaran lingkungan jika terjadi kegagalan pada pompa ini, sehingga kehandalan pompa LP flare tersebut benar-benar harus di jaga dan diharapkan memiliki tingkat kehandalan di atas 97%. Hingga saat ini perusahaan mempergunakan metode fail to run, yang dapat diartikan menunggu terjadinya kerusakan terjadi yang dapat berakibat peralatan tidak dapat dipergunakan. Untuk mencapai target kehandalan yang tinggi, maka di perlukan strategi maintenance yang baik dan peneliti mencoba menerapkan metode RCM untuk melakukan kegiatan maintenance pompa LP Flare. Metodologi yang dilakukan adalah mengetahui fungsi dan nama komponen pada Pompa LP Flare. Melakukan pengambilan data perbaikan dari perusahaan pada system database pemeliharaan (SAP) sejak Januari 2018 sampai dengan Desember 2020 pada perusahaan. Menghitung Downtime, FMEA (Failure Mode and Effect Analysis), MTTF (Mean Time to Failure), MTTR (Mean Time to Repair) dan pembuatan Fishbone Diagram. Dari Analisa data yang dilakukan disimpulkan bahwa Downtime terlama adalah kerusakan pada komponen Check Valve dan Gearbox. Sedangkan komponen kritis pada unit LP Flare Pump dilihat dari RPN (Risk Priority Number) dengan metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) pada penerapan RCM (Reliability Centered Maintenance) yakni Check Valve dengan RPN 54 dan Gearbox dengan RPN 48. Berdasarkan metode RCM (Reliability Centered Maintenance) pada Check Valve, jangka waktu penggantian komponen kritis pada Pompa LP Flare disarankan dilakukan penggantian setelah dipergunakan selama 4.8 bulan dengan rata-rata waktu perbaikan selama 7 jam, sedangkan pada Gearbox 7.5 bulan dengan rata-rata waktu perbaikan selama 15 jam. Pada komponen Check Valve berdasarkan 4M dengan tindakan antara lain yaitu material perlu dilakukan dilakukan upgrade material bola check valve agar lebih tahan terhadap gesekan dan tabrakan dengan body check valve. Pada komponen gearbox Man sangat berperan penting, terutama saat melakukan alignment antara gearbox, motor dan pompa harus dilakukan dengan teliti agar tidak terjadi misalignment. Selain itu proses pelumasan pada gearbox harus benar-benar dipastikan secara baik. 
“PERANCANGAN MESIN PENGHANCUR LIMBAH KACA DENGAN TRANSMISI PULLEY“ Yogy Dwi Cahyono; Nur Robbi; Mochammad Basjir
Jurnal Teknik Mesin Vol. 18 No. 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM MALANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sampah an-organik ialah kegiatan sehari-hari manusia berupa sisa atau proses alam yang lama dalam pengurainnya dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Pada tahun 2020, setiap hari penduduk Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 67,8 Ton. Jenis sampah an-organik yang dihasilkan setiap harinya masih tergolong banyak dan kurangnya tahap pengelolaan dan pemanfaatanya. Untuk memecahkan permasalahan sampah di Indonesia, pemerintah membuat  Undang-undang No.18 pada tahun 2008 tentang pengelolaan sampah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan untuk merubah sampah sebagai sumber dayaSalah satu jenis sampah an-organik yang masih kurang dalam hal pemanfatnya adalah jenis limbah kaca, maka kami rancang sebuah mesin penghancir limbah kaca kapasitas 60 Kg/jam bersistem hammer mill yang menghancurkan kaca dengan bentuk serpihan kaca dan lubang keluar sebagai output.  Diameter Pulley didapatkan diameter motor 100 mm dan diameter pulley mesin 254 mm menggunakan bahan material Alumunium.  Diameter poros motor 24,5 mm dan diameter poros pisau 25,4 mm dengan perbandingan Reduksi 2:5 menghasilkan putaran output 600 Rpm. Belt menggunakan jenis Belt-V Tipe A dengan dimensi panjang belt 1500 (belt No.59) lebar 13 mm, tinggi 8 mm dan luas penampang 0,81 cm² dengan jarak sumbu Poros 48,8 cm.Kata Kunci : Limbah Kaca, Mesin Penghancur Kaca, Pulley dan Belt
PERANCANGAN MESIN PENGGILING LIMBAH KACA DENGAN SISTEM TRANSMISI PULLEY BERKAPASITAS 60 KG/JAM Galu Prastiyo; Margianto Margianto; Mochammad Basjir
Jurnal Teknik Mesin Vol. 18 No. 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM MALANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

     Sampah adalah bahan sisa yang dihasilkan oleh manusia didalam kehidupan sehari-hari. Sampah menurut jenisnya terbagi menjadi dua jenis yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik adalah sampah yang bisa terurai kembali oleh alam dalam waktu yang singkat, sedangkan sampah anorganik adalah sampah yang tidak  bisa terurai kembali oleh alam secara langsung dan membutuhkan waktu yang lama untuk terurai kembali oleh alam. Limbah kaca merupakan sampah anorganik yang bersifat padat dan membutuhkan waktu 1.000.000 tahun untuk terurai sepenuhnya oleh alam jika tidak didaur ulang kembali. Untuk  mengatasi penumpukan limbah kaca, maka dirancang mesin penggiling limbah kaca dengan sistem transmisi pulley berkapasitas 60 kg/jam.     Mesin penggiling limbah kaca dirancang dengan sistem transmisi pulley dengan bahan material aluminium, pulley motor diameter 5 inchi, pulley mesin roll penggiling diameter 12 inchi dengan jarak antar sumbu poros 600 mm dan sabuk penghantar daya yang dipakai yaitu V-belt tipe A-74. Motor listrik yang digunakan memiliki kecepatan putaran 1400 rpm serta daya 1,5 HP. Perancangan mesin penggiling limbah kaca mampu mencapai kapasitas 60 kg/jam dengan hasil penggilingan berupa serbuk kaca.Kata Kunci : sampah, limbah kaca, mesin penggiling, transmisi pulley dan belt
PERANCANGAN MESIN PENGGILING LIMBAH KACA SISTEM ROLL KAPASITAS 60 KG/JAM Hari Predianto; Margianto Margianto; Mochammad Basjir
Jurnal Teknik Mesin Vol. 18 No. 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM MALANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kaca merupakan bahan yang tergolong sampah anorganik, yang berbahan dasar pasir silika yang dihasilkan melalui proses peleburan pada suhu 1400o C, kemudian dilakukan proses pemadatan dengan proses pendinginan, kaca memerlukan waktu 1 juta tahun untuk terurai, sehingga perlu adanya solusi untuk mengurangi limbah dari kaca menjadi barang yang lebih memiliki nilai jual yaitu menjadikan produk lain berupa serbuk kaca, dari masalah yang di hadapi oleh masyarakat tersebut direncanakan sebuah mesin penggiling limbah kaaca.Mesin penggiling kaca merupakan alat yang digunakan untuk menghancurkan limbah kaca, mesin ini digunakan untuk memperkecil pecahan kaca yang semula serpihan menjadi ukuran sangat kecil berupa serbuk kaca. Proses penggilingan dilakukan dengan satu set roll yang berputar dan menekan benda kerja sehingga terjadi perubahan bentuk maupun ukuran, yang semula berupa serpihan menjadi serbuk halus akibat tekanan dari dua buah roll. Dalam perancangan ini menggunakan roll ganda dengan permukaan rata, memiliki celah 0,5 mm, kapasitas 60 kg/jam, sengan syarat tergiling kurang dari 0,5 mm, mesin penggiling limbah kaca lampu ini menggunakan putaran 600 rpm, mampu digerakan menggunakan daya 1 HP.
PENGARUH VARIASI WAKTU PENCELUPAN PLAT BAJA A36 TERHADAP KETEBALAN dan KEKERASAN PELAPISAN ZN pada PROSES ELEKTROPLATING Miftachul Tofani; Unung Lesmanah; Mochammad Basjir
Jurnal Teknik Mesin Vol. 18 No. 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM MALANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak sektor industri yang menggunakan lapisan logam krom dan hampir semua manusia menggunakan alat yang terbuat dari logam karena baja A36 banyak digunakan diberbagai komponen sepeda motor, mobil, furniture, dan kontruksi bangunan/jembatan tetapi mudah terkorosi juga berwarna abu-abu, tidak menarik, untuk menghambat korosi serta mempercantik tampilan dilakukan pelapisan. Metode ini menggunakan proses electroplating  dengan pelapisan anoda ZN dan material yang dilapisi adalah baja A36, dan memvariasikan lama waktu pencelupan pada proses electroplating yaitu antara 60, 90, dan 120 menit setelah dilapisi di uji ketebalan dan kekerasan lapisan. Dari hasil penelitian ini menghasilkan nilai ketebalan terkecil pada pelapisan anoda zn pada variasi lama waktu pencelupan 60 menit sebesar 9,7 μm, sedangkan nilai ketebalan tertinggi pada variasi lama waktu pencelupan 120 menit sebesar 17,25 μm. Dan nilai kekerasan terkecil terdapat pada variasi lama waktu pencelupan 60 menit sebesar 265,7 μm, sedangkan nilai kekerasan tertinggi pada variasi lama waktu pencelupan 120 menit sebesar 498,1 μm. Kata Kunci : Ketebalan & kekerasan lapisan, electroplating, Zinc, Baja A36.
ANALISIS VARIASI KUAT ARUS TERHADAP NILAI KETEBALAN DAN KEKERASAN LAPISAN ZN PADA PROSES ELEKTROPLATING BAJA A36 Troy Febrianto; Unung Lesmanah; Mochammad Basjir
Jurnal Teknik Mesin Vol. 18 No. 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM MALANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di era yang berkembang pada saat ini, masyarakat ataupun pabrik mengalami kemajuan yang signifikan. Banyak sekali barang yang dibuat manusia, untuk tujuan kebutuhan sehari – hari ataupun untuk kebutuhan produksi. dinama barang itu banyak yang dibuat dari logam/baja. Dari macam-macam jenis logam, logam juga memiliki kekurangan yang sangat umum yaitu rentan terhadap korosi. Maka perlu dilakukan pelapisan untuk meningkatkan daya Tarik, dikarenakan logam setelah dilapisi akan terlihat lebih indah, mengkilat, dan memiliki tingkat keawetan yang tinggi.. Pada penelitian ini menggunakan baja A36, dimana baja A36 termasuk jenis baja karbon rendah yang memiliki kekerasan rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perubahan variasi arus terhadap ketebalan dan kekerasan lapisan zinc atau seng selama proses electroplating.Pada penelitian ini menggunakan metode pelapisan electroplating dengan pelapisnya yaitu zinc. Variasi kuat arus pelapisan yaitu 5 A, 15 A, 25 A, dengan waktu pelapisan 60 menit, didapatkan hasil pengujian ketebalan menggunakan Coating Thickness Gauge, hasil pengujian ketebalan tertinggi didapat pada variasi arus 25 A yaitu 3,9 μm, Sedangkan hasil ketebalan ter rendah di dapat pada arus 5 A mendapatkan nilai ketebalan 1,8 μm. Sedangkan hasil uji kekerasan menggunakan Hardness Vickers didapatkan nilai kekerasan tertinggi dengan variasi kuat arus 25 A dengan nilai kekerasan 528,2 HV, sedangkan nilai kekerasan terendah didapat pada kuat arus 5 A dengan nilai kekerasan 400,1 HV. Kesimpulan pada penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi arus pada proses pelapisan maka semakin besar ketebalan dan kekerasan semakin tinggiKata kunci: Baja A36, Electropating, Variasi Kuat Arus, Zinc, Uji kekerasan, Uji ketebalan
ANALISI MIKROSTRUKTUR DAN KEKERASAN PADA PENGECORAN ALUMUNIUM PADUAN MAGNESIUM Ahmad Nidhom Uddin; Unung Lesmanah; Mochammad Basjir
Jurnal Teknik Mesin Vol. 18 No. 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM MALANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTProses pengecoran logam adalah proses pembuatan produk dimana logam terlebih dahulu dilebur ke dalam tungku peleburan kemudian dituangkan ke dalam cetakan dimana polanya terlebih dahulu dibuat, sampai logam cair tersebut memadat kemudian dikeluarkan dari cetakan. Kemudian proses pengecoran terutama memiliki tiga bagian, satu adalah proses pembuatan cetakan, yang lainnya adalah proses pembuatan bahan inti, dan yang ketiga adalah proses pengecoran logam. Hasil yang diperoleh dari berbagai unsur salah satunya adalah uji mikrostruktur, dengan penambahan magnesium (Mg) lebih banyak.Hasil analisis komputasi coran aluminium dan paduan magnesium untuk mencari nilai kekerasan magnesium yang ditentukan untuk masing-masing magnesium oleh media ekstraksi ketapang. Nilai kekerasannya adalah 236,5 HV untuk campuran 5% Mg pada media ekstraksi ketapang, 318,2 HV untuk campuran 10% pada media ekstraksi Ketapang, dan 323,2 HV untuk campuran 15% Mg pada media ekstraksi ketapang. Dari hasil penelitian ini, nilai kekerasan tertinggi diperoleh pada paduan magnesium 15%, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar perubahan persentase penambahan magnesium (Mg) dan media pendingin pada pengecoran aluminium, semakin keras Kekerasan dan bentuk senyawa intermetalik yang mengarah pada peningkatan sifat mekanik. Kata kunci: aluminium, magnesium, proses pengecoran, air laut, Ekstra Daun Ketapang, larutan HCL, kekerasan Vickers, struktur mikroABSTRACTThe metal casting process is a product manufacturing process that begins with melting the metal into a smelting furnace and then pouring it into a mold that is first made into a pattern,until the molten metal freezes and then is removed from the mold. There are three main parts to the casting process, the first is the mold making process, the second is the core manufacturing process and the third is the metal casting process. The results obtained from the many kinds of alloying elements above, one of which is from the microstructure testing conducted by concluding that the more magnesium (Mg) is added.The results of the analysis and calculation of aluminum casting with magnesium alloy, to find the hardness value of magnesium alloy, the ketapang extract media was determined for each magnesium alloy. for a mixture of 5% Mg in ketapang extract media, the hardness value was 236.5 HV, for a 10% mixture in Ketapang extract media a hardness value was 318.2 HV and for a mixture of 15% Mg in ketapang extract media a hardness value was 323.2 HV. From the results of this study, the highest hardness value was obtained in the Mg alloy of 15%, so it can be concluded that the more the percentage of addition of Magnesium (Mg) and the variation of the cooling medium in aluminum casting will produce a harder hardness and also form intermetallic compounds that cause mechanical properties increase.Keywords :    Aluminum, Magnesium,Casting Process,Seawater, Ketapang Leaf Extract, HCL Solution, Vikers Hardness, Microstructure
ANALISIS KETEBALAN dan KEKERASAN PADA PROSES ELECTROPLATING CHROME PADA BAJA ST 37 DENGAN PELAPISAN DASAR COPPER A ridhoni Al-Hikmani; Nur Robbi; Mochammad Basjir
Jurnal Teknik Mesin Vol. 18 No. 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM MALANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hampir setiap orang menggunakan alat-alat logam: perhiasan yang berbeda, furnitur, kerajinan yang berbeda, suku cadang sepeda motor, mobil, dan banyak lagi. Beberapa logam yang digunakan adalah baja. Penelitian ini bertujuan menemukan pengaruh waktu pencelupan dengan  memvariasikan 45 menit, 90 menit, 135 menit, tegangan 2 volt, dan arus 15 amp, ditemukan pengaruh waktu perendaman pada proses elektroplating terhadap ketebalan dan kekerasan lapisan baja ST37.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ketebalan lapisan tertinggi untuk proses pelapisan tembaga-kromium terjadi pada waktu pencelupan 135 menit, tegangan 2 volt dan arus 15 amp pada nilai 19,8 µm, mencapai nilai kekerasan tertinggi. Ditampilkan. Proses elektroplating tembaga-kromium, waktu perendaman 135 menit, tegangan 2 volt, arus 15 amp, nilai 656,9 VHN. Artinya, semakin lama waktu perendaman yang digunakan, maka lapisan akan semakin tebal dan keras. Kata Kunci: Waaktu pencelupan, Elektroplating, Baja ST37, Ketebalan, Kekerasan