Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PENGGUNAAN LAKTAGOGUM Dewi Sartika Siagian; Arum Meiranny; Sara Herlina; Ratih Ayuningtyas; Adelina Maryanti
JOMIS (Journal of Midwifery Science) Vol. 7 No. 1 (2023): JOMIS (Journal Of Midwifery Science)
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/jomis.v7i1.2834

Abstract

Lactagogum is a drug that can increase or facilitate the production of milk. Synthetic lactagogums are not widely known and relatively expensive. This causes the need for alternative laktagogum drugs. Efforts to increase breast milk production can be done by carrying out early and routine breast care, improving breastfeeding techniques, or by consuming foods that can affect breast milk production. One of the reasons for the failure of exclusive breastfeeding is the perception of insufficient breast milk, which can be caused by physiological and psychological factors. Education is a very important factor in this life, which is why education is a very important business of all time. Increasing breast milk production can be done in various ways, one of which is increasing the intake of lactagogum. Lactagogum is a drug that can increase or facilitate the production of milk. The sample in this study were breastfeeding mothers who had babies ranging in age from 3 to 6 months spread throughout Indonesia. This study was conducted by distributing a questionnaire to assess education and the use of Lactagogue as a food to increase breast milk production. Dissemination of questionnaires can be done manually or via Google Drive links which are distributed to several regions in Indonesia. The purpose of this study was to determine the relationship between education and the use of laktagogums. The research results are there is a relationship between education and the use of Lactagogum. It is hoped that mothers who are in the process of breastfeeding can make efforts to increase milk production, one of which is by consuming Lactagogum.
The Production and Organoleptic Test of Onion Peel Eco enzyme Adelina Maryanti; Fitri Wulandari
Jurnal Biologi Tropis Vol. 23 No. 2 (2023): April-June
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v23i2.4708

Abstract

Eco enzyme is a fermented organic waste liquid that can be used as a cleaning agent, natural fertilizer and effective pesticide. The organic waste, including vegetable residues and fruit pulp, can be processed into eco enzymes. Household activities are one source of organic waste by leftover cooking spices such as onion peels. Peoples don’t know the utilizing and treatment of organic waste such as onion peels. It has many usefullness. Onion peel is high in antioxidants and bioactive substances such as flavonoids and quarcetinwhich is very good for immune system maintenance. Furthermore, it contains allicin substances which have antimicrobial activity as antibacterial and antifungal agents. Onion peel can be used as a natural pesticide and fertilizer. Onion peels utilities can be processedby produceeco enzymes. This research aims to learn how to produce eco enzymes using onion peel as a source of household organic waste and how its organoleptic characteristics. The kind of study carried out is an investigation of the study's formulation are sugar: onion peel: water (1:3:10). The method used in this research is qualitative within the characteristic organoleptic test.The result of this research through mixing all the ingredients and three monts of fermentation to produce eco enzyme. The organoleptic characteristics of onion peel eco enzyme were sour of aroma, dark brown liquid and 98% of volume
PELATIHAN PEMBUATAN EKO ENZIM DARI KULIT BAWANG SEBAGAI ANTIBAKTERIA PADA SEDIAAN SABUN PENCUCI PIRING Adelina Maryanti; Fitri Wulandari; Dewi Sartika Siagian; Wahyu Margi Sidoretno
RESWARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/rjpkm.v4i2.3318

Abstract

Kulit bawang merupakan hasil sampingan dari penggunaan umbi bawang yang biasanya dibuang tanpa diketahui manfaatnya. Kulit bawang mempunyai banyak manfaat yaitu sebagai antioksidan, antimikrobia, sebagai penyubur tanaman dan sebagai pestisida alami. Hal ini disebabkan kulit bawang mengandung berbagai zat aktif seperti flavonoid, quercetin, saponin, minyak atsiri, aliin, allisin, kalsium, zat besi, magnesium dan lain sebagainya. Manfaat kulit bawang dapat diperoleh dengan cara ekstraksi, pengomposan dan fermentasi. Fermentasi Kulit bawang atau eko enzim dapat dimanfaatkan sebagai anti bakteria pada berbagai bahan yang digunakan sehari-hari seperti pada sabun pencuci piring. Sabun pencuci piring telah diproduksi oleh Komunitas Kerukunan Keluarga Pondok Dahlia Indah (KKPDI) di Perumahan Pondok Dahlia Indah RT 3 RW 12 Kelurahan Pebatuan Kecamatan Kulim, Pekanbaru. Namun produk sabun pencuci piring mengalami hambatan pemasaran karena bersaing dengan berbagai produk komersial sejenis lainnya. Oleh sebab itu diperlukan inovasi untuk meningkatkan kualitas dan daya saing sabun pencuci piring. Tim pengabdian memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut dengan mengadakan pelatihan pembuatan eko enzim dari limbah kulit bawang sebagai antibakteri pada sediaan sabun pencuci piring. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pemanfaatan limbah organik berupa kulit bawang untuk diolah menjadi eko enzim sebagai anti bakteri pada sediaan sabun pencuci piring. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini adalah transfer IPTEK dan pelatihan. Hasil kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa peserta yang hadir mendapatkan pengetahuan tentang pemanfaatan dan cara mengolah limbah organik berupa kulit bawang menjadi eko enzim yang dapat dijadikan sebagai antibakteri. Peserta yang hadir mempraktekkan pembuatan eko enzim dari limbah kulit bawang dan mengaplikasikannya pada sediaan sabun pencuci piring
Pemberdayaan kelompok wanita tani melalui pertanian terintegrasi untuk mendukung program MBG Elfis Elfis; Prima Wahyu Titisari; Dessy Mardianty; Adelina Maryanti; Nursamsul Kustiawan; Subhan Arridho; Syarifah Ulya Muazzinah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.41470

Abstract

AbstrakProgram Makan Bergizi Gratis (MBG) membutuhkan ketersediaan bahan pangan lokal yang bergizi, aman, dan berkelanjutan. Kelompok Wanita Tani (KWT) memiliki potensi dalam mendukung penyediaan pangan tersebut melalui pemanfaatan pekarangan dan pengembangan usaha pertanian serta peternakan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas KWT dalam budidaya sayuran hortikultura dan pemeliharaan ayam petelur terintegrasi, pengelolaan hasil produksi, serta memperkuat keterhubungan hasil produksi dengan kebutuhan bahan pangan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kegiatan dilaksanakan pada 4 Juni 2026 di Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak, Riau, dengan melibatkan 65 peserta. Metode yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) dan Community Empowerment melalui tahapan edukasi, pelatihan, praktik, implementasi, pengelolaan hasil produksi, evaluasi, dan pendampingan. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test yang dianalisis secara deskriptif berdasarkan persentase tingkat pemahaman peserta. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pemahaman pada seluruh materi kegiatan. Pada pre-test, pemahaman peserta didominasi kategori cukup paham sebesar 36,9–46,2%, sedangkan pada post-test kategori sangat paham meningkat menjadi 70,8–81,5% dan tidak terdapat peserta pada kategori tidak paham. Persentase sangat paham tertinggi terdapat pada materi rantai pasok dan distribusi SPPG sebesar 81,5%, sedangkan budidaya sayuran hortikultura dan manajemen usaha masing-masing mencapai 80,0%. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan edukasi, pelatihan, dan pendampingan terintegrasi mampu meningkatkan kapasitas KWT dalam mendukung produksi pangan bergizi, pengelolaan usaha, dan keterhubungan hasil produksi dengan kebutuhan pangan lokal bagi SPPG. Kata kunci: kelompok wanita tani; pertanian terintegrasi; pangan bergizi; pemberdayaan masyarakat; satuan pelayanan pemenuhan gizi. AbstractThe Free Nutritious Meals Program (Program Makan Bergizi Gratis/MBG) requires the availability of nutritious, safe, and sustainable local food supplies. Women Farmers' Groups (Kelompok Wanita Tani/KWT) have the potential to support local food provision through productive home gardens and the development of household-scale agricultural and livestock activities. This community service activity aimed to enhance the capacity of KWT members in integrated vegetable cultivation and laying-hen management, production management, and strengthening the linkage between group production and the food supply needs of the Nutrition Fulfillment Service Unit (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi/SPPG). The activity was conducted on June 4, 2026, in Sungai Mandau District, Siak Regency, Riau, involving 65 participants. The activity employed Participatory Rural Appraisal (PRA) and Community Empowerment approaches through education, training, practical activities, implementation, production management, evaluation, and follow-up assistance. Evaluation was conducted using pre-test and post-test questionnaires and analyzed descriptively based on the percentage distribution of participants' understanding levels. The results showed an improvement in participants' understanding across all activity materials. In the pre-test, participants' understanding was predominantly categorized as moderately understood, ranging from 36.9% to 46.2%, whereas in the post-test, the very well understood category increased to 70.8%–81.5%, with no participants classified as not understanding. The highest percentage of participants in the very well understood category was recorded for the supply chain and SPPG distribution material (81.5%), followed by vegetable horticultural cultivation and business management (80.0% each). These findings indicate that an integrated approach combining education, training, and mentoring can improve KWT capacity in supporting nutritious food production, business management, and the linkage of local production with food supply needs for SPPG. Keywords: women farmers' group; integrated agriculture; nutritious food; community empowerment; nutrition fulfillment service unit.