Rudatin Windraswara
Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang

Published : 39 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

EFISIENSI CONSTRUCTION WETLAND TYPHA SP. SEBAGAI PENGOLAH AIR LIMPASAN JALAN RAYA SECARA ALAMI Windraswara, Rudatin; Siwiendrayanti, Arum
Sainteknol : Jurnal Sains dan Teknologi Vol 9, No 2 (2011): December 2011
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sainteknol.v9i2.5534

Abstract

Penelitian ini bersifat desain eksperimental pada skala laboratorium untuk mengetahui kemampuan Typha latifolia. sebagai tanaman wetland dalam mereduksi BOD dan COD yang berasal polutan air limpasan jalan raya sebagai bagian dari sistem drainase yang berkelanjutan. Sampel dalam penelitian ini adalah air limpasan jalan yang berasal dari air hujan yang kemudian masuk ke saluran pengumpul (drainase) jalan. Habitat wetland disimulasikan menggunakan kolom dengan tabung yang memiliki volume kosong 20 liter. Susunan tabung adalah sebagai berikut; tanaman wetland, air, pasir dan batu kerikil. Satu tabung lagi akan berlaku sebagai kontrol dengan susunan yang sama tanpa tanaman wetland. Desain tabung memiliki spesifikasi sebagai berikut bahan acrylic dengan ukuran diameter 9,7 cm, tinggi 40 cm, volume 20 liter, media pasir setinggi 10 cm, kerikil 15 cm, kemudian diisi air setinggi 15 cm dari batas kerikil. Nilai BOD dari sampel kontrol setelah hari ke-3 menjadi 87 mg/l dari nilai semula 104 mg/l sedangkan nilai BOD dari sampel uji setelah hari ke-3 menjadi 44 mg/l dari nilai semula 104 mg/l. Hasil ini menunjukkan tanaman tersebut mampu menghilangkan nilai BOD sebesar 65% atau BOD removal sebesar 65%. Nilai COD dari sampel kontrol setelah hari ke-3 menjadi 309 mg/l dari nilai semula 210 mg/l sedangkan nilai COD dari sampel uji setelah hari ke-3 menjadi 87 mg/l dari nilai semula 210 mg/l. Hasil ini menunjukkan tanaman Typha latifolia mampu menghilangkan nilai COD sebesar 58,6% atau COD removal sebesar 58,6%. Kedua parameter tersebut telah sesuai dengan baku mutu Kepmen LH no 112 tahun 2003 dan Kepmen LH no 51 tahun 1999.
KORELASI METEOROLOGI DAN KUALITAS UDARA DENGAN PNEUMONIA BALITA DI KOTA SEMARANG TAHUN 2013-2018 Utami, Halimah Tri; Windraswara, Rudatin
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 3 No 4 (2019): HIGEIA: October 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v3i4.31063

Abstract

ABSTRAK Pneumonia merupakan penyakit menular yang menjadi penyebab utama dan terbesar dari kematian balita di dunia. Dari tahun 2013 hingga 2018, terdapat 25.038 kasus pneumonia balita di Kota Semarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian pneumonia di Kota Semarang tahun 2013-2018. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain studi korelasional. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, dan BMKG Kota Semarang. Analisis data menggunakan univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan adalah kelembaban udara (p=0,043), konsentrasi NOx (p=0,048), dan konsentrasi CO (p=0,029) dan variabel yang tidak ada hubungan adalah suhu udara (p=0,722), curah hujan (p=0,329), kecepatan angin (p=0,393), konsentrasi SOx (p=0,061), dan konsentrasi debu (p=0,521). Simpulan dari penelitian ini ada hubungan antara kelembabn udara, konsentrasi NOx, dan konsentrasi CO dengan pneumonia balita di Kota Semarang dan tidak ada hubungan antara suhu udara, curah hujan, kecepatan angin, konsentrasi SOx, dan konsentrasi debu dengan pneumonia balita di Kota Semarang. ABSTRACT Pneumonia is an infectious disease which is the main and biggest cause of under-five mortality in the world. In 2013 until 2018, were 25.038 cases of pneumonia in infant in the City of Semarang. The purpose of this study was to determine the risk factor associated with pneumonia in Semarang City in 2013-2018. The type of this study was descriptive quantitative with correlational study design. Trhis study used secondary data obtained from Dinas Kesehatan  Kota Semarang, Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, and BMKG Kota Semarang. Data analysis used univariate and bivariate with Spearman correlation test. The result shows that there is a relationship between  humidity (p=0,043), NOx concentration (p=0,048), and CO concentration (p=0,029) with pneumonia and there is no relationship between air temperature (p=0,722), rainfall (p=0,329), SOx concentration (p=0,061), and particulate (p=0,521) with pneumonia. There is a correlation between pneumonia with humidity, NOx concentration, and CO concentration and there is no correlation between air temperature, rainfal,l wind speed, SOx concentration, and particulate with pneumonia in Semarang City.
Metode Kombinasi Menurunkan Kadar BOD5 dan COD Limbah Cair Tepung Aren Nirwana, Rahina Esti; Windraswara, Rudatin
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No 4 (2020): HIGEIA: October 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4i4.34881

Abstract

ABSTRAK Limbah cair tepung aren merupakan limbah yang dihasilkan pada proses pemerasan serat aren untuk mendapatkan endapan tepung pati. Limbah yang dihasilkan mengandung kadar BOD5 2985 mg/L dan COD 8740 mg/L yang melebihi baku mutu menurut Perda Jateng No 5 tahun 2012. Tujuan penelitian untuk mengetahui penurunan kadar BOD5 dan COD dengan metode kombinasi aerasi filtrasi dan adsorpsi. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan pendekatan Pretest-Posttest Control Group Design. Jumlah replikasi yang digunakan sebanyak 4. Data dianalisis menggunakan uji T-test berpasangan. Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar BOD5 sebelum dan sesudah perlakuan pada treatment 1 (0,052), treatment 2 (0,057), treatment 3 (0,138), kontrol (0,964) (p>0,05). Terdapat perbedaan bermakna kadar COD sebelum dan sesudah perlakuan pada treatment 1 (0,004), treatment 2 (0,001), treatment 3 (0,032) sedangkan pada kontrol (0,250), berarti tidak terdapat perbedaan bermakna kadar COD sebelum dan sesudah perlakuan. Saran penelitian ini adalah perlu ada penyuluhan dan pelatihan pengolahan limbah sebelum dibuang ke lingkungan untuk mengrangi pencemaran langsung. ABSTRACT Aren palm starch liquid waste is waste that is produced in the process of extracting the palm fiber to get starch flour deposits. The resulting waste contains BOD5 2985 mg / L and COD 8740 mg / L which exceeds the quality standard according to the Central Java Regional Regulation No 5 of 2012. The purpose of this study was to determine the reduction in levels of BOD5 and COD by a combination of aeration filtration and adsorption methods. This type of research is an experiment with the Pretest-Posttest Control Group Design approach. The number of replications used is 4. Data were analyzed using paired T-test. There were no significant differences in BOD5 levels before and after treatment in treatment 1 (0.052), treatment 2 (0.057), treatment 3 (0.138), control (0.964) (p> 0.05). There are significant differences in COD levels before and after treatment in treatment 1 (0.004), treatment 2 (0.001), treatment 3 (0.032) while in control (0.250) means there is no significant difference in COD levels before and after treatment. According to this research, there is a need for counseling and training in waste management before being discharged into the environment to reduce direct pollution.
Kejadian Dermatitis Kontak pada Pemulung Janah, Dewi Latifatul; Windraswara, Rudatin
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No Special 2 (2020): HIGEIA: October 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4iSpecial 2.34883

Abstract

ABSTRAK Dermatitis kontak adalah dermatitis (peradangan kulit) yang disebabkan berkontaknya kulit dengan bahan-bahan dari luar, bahan-bahan tersebut dapat bersifat toksik. Populasi penelitian ini adalah semua pemulung di TPA Blondo. Sampel penelitian berjumlah 23 kasus dan 23 kontrol. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan dermatitis kontak pada pemulung di TPA Blondo Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan desain penelitian kasus kontrol (case control study). Analisis data dengan chi square test. Faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis kontak yaitu: kebersihan kulit (p value=0,018), kebersihan tangan, kaki dan kuku (p value=0,008), pemakaian sarung tangan (p value=0,001), pemakaian sepatu boot (p value=0,039) dan riwayat pekerjaan (p value=0,037). Saran bagi pemulung di TPA Blondo lebih memperhatikan perilaku hidup bersih dengan cara menjaga kebersihan diri dan selalu menggunakan alat pelindung diri (APD) pada saat bekerja dan pemeliharaan APD secara rutin sehingga mengurangi risiko terkena dermatitis. ABSTRACT Contact dermatitis is dermatitis (inflammation of the skin) caused by the connotation of the skin with ingredients from the outside, the ingredients can be toxic. The population of this research is all scavenger in TPA Blondo. Research samples amounted to 23 cases and 23 controls. The purpose of this research is to know the factors related to contact dermatitis on the scavenger in TPA Blondo Bawen subdistrict of Semarang district. This type of research is an analytical survey with case control study design. Data analysis with Chi Square test. Factors related to the incidence of contact dermatitis are: skin hygiene (p value = 0,039), hygiene of hands, feet and nails (p value = 0,008), use of gloves (p value = 0.001), use of boot shoes (p value = 0,039) and job history (p value = 0.039). Advice for scavenger in TPA Blondo pay attention to the behavior of clean life by maintaining self-hygiene and always use personal protective equipment (PPE) during work and maintenance of PPE regularly, thus reducing the risk of dermatitis.
Analisis Pengolahan Air Limbah Rumah Pemotongan Hewan Ampel Kabupaten Boyolali 'Alal Mu'miniina, Adzillatin; Windraswara, Rudatin
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 5 No 2 (2021): HIGEIA: April 2021
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v5i2.44626

Abstract

In 2018, the wastewater collected from outlet of RPH Ampel Boyolali WWTP fail to meet the standard set by the government. This study aims to analyze wastewater treatment process in this WWTP. This study is a qualitative descriptive with in-depth interviews, observation and testing of wastewater samples. The informants consist of 4 people who were selected by purposive and snowball sampling technique. Data collection was done by in-depth interviews, waste water samples test with sample collected using a composite time sampling method, and close observation, then analyzed qualitatively. Result showed that only TSS, pH, and 2nd day MPN Coliform parameters met the quality standard, while BOD5, COD, FOG, Ammonia and 1st and 3rd day Coliform MPN had not met the standard. RPH Ampel WWTP utilize gravity and biological processes for its treatment. RPH Ampel has no appointed staff who are specialized in managing wastewater and its treatment process. In conclution, WWTP is yet to meet the effluent standard set by the government. Interventions is needed to improve WWTP removal efficiency. Keywords: Slaughterhouses, quality of wastewater, processing of wastewater treatment.
Kondisi Sanitasi Lingkungan Kolam Renang, Kadar Sisa Khlor, dan Keluhan Iritasi Mata Rozanto, Novan Esma; Windraswara, Rudatin
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 1 No 1 (2017): HIGEIA
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi sanitasi lingkungan dan kualitas air kolam renang merupakan aspek penting yang harus dikelola untuk mencegah penyebaran bibit penyakit dan gangguan kesehatan di lingkungan kolam renang. Sisa khlor dalam air kolam renang diperlukan untuk membunuh mikroorganisme patogen namun jika kadarnya berlebihan dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi perenang seperti keluhan iritasi mata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sanitasi lingkungan kolam renang, kadar sisa khlor, dan keluhan iritasi mata pada perenang di beberapa kolam renang umum Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 85 orang yang ditentukan dengan teknik proportional random sampling. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sanitasi lingkungan di kolam renang lokasi penelitian telah memenuhi syarat, namun kadar sisa khlor tidak memenuhi syarat sesuai standar Permenkes RI No.416 tahun 1990. Jumlah reponden yang mengalami keluhan iritasi mata setelah berenang sebanyak 56 orang. Pengguna kolam renang disarankan untuk menghindari kebiasaan buruk seperti buang air kecil sembarangan di dalam kolam renang dan disarankan untuk menggunakan kacamata renang sewaktu malakukan aktivitas berenang untuk menghindari gangguan iritasi mata akibat kontak dengan air kolam renang. Kata Kunci: Sanitasi lingkungan kolam renang, kadar sisa khlor, keluhan iritasi mata Environmental sanitation and quality of the pool water is an important subject that must be managed to prevent the spread of germs and illness in the pools area. Residual chlorine in the pool water is needed to kill the pathogens, but its excessive levels can cause health problems for swimmers. The purpose of this study was to determine the sanitary condition of the pool environment, the levels of residual chlorine, and complaints of eye irritation in swimmers in several public swimming pools in Semarang. This study used a cross-sectional research design. The total sample in this research were 85 people who were determined by proportional random sampling technique. The results showed that condition of the pool environment in the research location had been eligible, but the levels of residual chlorine was not eligible according to the standards of Permenkes RI No.416 Tahun 1990. The total of respondents who had complaints of eye irritation after swimming were 56 people. The swimmers was suggested to avoid bad behavior such as pee carelessly in the pool and should have used goggles during swimming to avoid eye irritation after contact with the pool water. Keyword: environmental sanitation pools, levels of residual chlorine, eye irritation complaints
Lingkungan Tempat Perindukan Nyamuk Culex quinquefasciatus di Sekitar Rumah Penderita Filariasis Harviyanto, Imaduddin Zaid; Windraswara, Rudatin
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 1 No 2 (2017): HIGEIA
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Pekalongan adalah salah satu kota di Jawa Tengah dengan banyak penderita filariasis (Mf rate 3,8%). Puskesmas Jenggot merupakan puskesmas dengan kasus terbanyak. Culex quinquefasciatus merupakan nyamuk yang mempunyai kepadatan populasi tertinggi. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai gambaran lingkungan tempat perindukan nyamuk Culex quinquefasciatus di sekitar rumah penderita filariasis. Jenis dan rancangan penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode survei. Populasi dan sampel adalah seluruh penderita filariasis di wilayah kerja Puskesmas Jenggot berdasarkan Survey Darah Jari tahun 2016 dengan jumlah 21 orang. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi. Hasil dari penelitian ini adalah sebanyak 42,9% rumah responden terdapat genangan air dan berjarak 0100 meter dari rumahnya. Sebanyak 100% rumah responden terdapat sungai dengan jarak 0-100 meter dan airnya mengalir. Sungai yang ada sampahnya terdapat di 76,2% rumah responden. Sebanyak 66,7 % rumah responden terdapat bekas potongan bambu di sekitar rumahnya dengan jarak 0-100 meter. Sebanyak 66,7% rumah responden terdapat selokan di sekitar rumahnya dengan kondisi terbuka. Kondisi selokan yang terdapat sampah sebanyak 57,1%. Air selokan tidak mengalir di 47,6 % rumah responden. Simpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah tempat perindukan yang paling banyak disukai oleh nyamuk adalah bekas potongan bambu. Kata Kunci: filariasis, lingkungan, tempat perindukan, Culex quinquefasciatus Pekalongan is one of the cities in Central Java with a lot case of filariasis (Mf rate of 3.8%). Puskesmas Jenggot is a health center with a lot of cases. Culex quinquefasciatus is mosquito which has the highest population density. This research was conducted to obtain information on the environment of Culex quinquefasciatus mosquito breeding sites around the home filariasis sufferers. The type and design of this research is descriptive quantitative with survey method. The sample population was all patients with filariasis in Puskesmas Jenggot with the number of 21 people. The results of this study are 42,9% respondents there’s puddle of water with a distance of 0-100 meters. A total of 100% respondents there’s a river with a distance of 0-100 meters, the water flows, and waste contained at 76.2% of respondent houses. A total of 66.7% respondents, there’re pieces of bamboo with a distance of 0-100 meters. A total of 66,7% respondents, there’re gutters around the house with an open condition. Conditions contained gutter trash are 57,1%. Sewer water is not flowing in the house 47,6% of respondents. The conclusion in this research is breeding place which most like by mosquitos is a pieces of bamboo. Keywords: filariasis, environment, breeding, Culex quinquefasciatus
Analisis Spasial Faktor Risiko Lingkungan dengan Kejadian Kusta di Wilayah Pesisir Idayani, Titik Nur; Windraswara, Rudatin; Prameswari, Galuh Nita
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 1 No 4 (2017): HIGEIA
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Rembang merupakan salah satu kabupaten yang endemis kusta dengan angka prevalensi 1,24/10.000 penduduk. Kecamatan Kragan dan Sarang merupakan dua kecamatan dengan prevalensi tertinggi yaitu sebesar 1,36/10.000 penduduk dan 9,41/10.000 penduduk. Salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian kusta adalah faktor lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran spasial aspek lingkungan dengan kejadian kusta di Kecamatan Kragan dan Sarang yang tersebar di 14 wilayah desa. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan deskriptif. Sampel yang ditetapkan sebesar 19 kasus. Analisis data menggunakan analisis spasial dengan teknik overlay dan Average Nearest Neighboor (ANN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 11 responden tersebar di 9 desa dengan cakupan rumah sehat kurang baik (64,2%), sebesar 16 responden bertempat tinggal di dekat area persawahan (84,2%) dan 11 responden tinggal di dekat area perairan (57,9%) serta diketahui pola persebaran penyakitnya yaitu mengelompok dengan jarak terdekat 0 km dan jarak rata-ratanya 1,3 km. Kesimpulan penelitian ini yaitu lokasi persebaran kusta lebih banyak berada di dekat area persawahan dan pada desa yang cakupan rumah sehatnya kurang baik. Kata kunci: Kusta, Lingkungan, Tata Ruang Rembang is one of leprosy endemic district with the prevalence 1,24/10.000 population. Kragan and Sarang are two of subdistricts with the highest prevalence of 1.36/10.000 and 9.41/10.000 population. One of the factors that affect leprosy is environmental. The purpose is to know the description of environmental aspects with leprosy in Kragan and Sarang which spread in 14 villages. The type of this research is observational using descriptive approach. The samples were 19 cases. Data analysis was using spatial analysis with overlay technique and Average Nearest Neighboor. The result showed that 11 respondents were spread in 9 villages with coverage of healthy house did below health standard (64.2%), 16 respondents lived close to field area (84.2%), and 11 respondents lived close to water area (57.9%) and known that spread of leprosy pattern is clustered with a nearest distance and the average is 0 km and 1.3 km. The conclusion is the location distribution of leprosy more in the field area and villages with coverage of healthy house did below health standard. Keywords: Leprosy, Environment, Spatial
Distribusi Spasial Vektor Potensial Filariasis dan Habitatnya di Daerah Endemis Fitriyana, Fitriyana; Sukendra, Dyah Mahendrasari; Windraswara, Rudatin
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 2 No 2 (2018): HIGEIA
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v2i2.17851

Abstract

Abstrak Desa Bedono merupakan wilayah desa endemis filariasis di Kabupaten Demak sejak tahun 2016 dengan mf rate sebesar >1%. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2017 dan bertujuan menggambarkan vektor potensial filariasis dan habitatnya yang dilihat secara spasial. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan survei entomologi, pengambilan titik subjek, dan objek penelitian menggunakan GPS. Data dianalisis dengan analisis univariat dan secara spasial/pemetaan dengan perangkat Sistem Informasi Geografis (GIS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa vektor potensial filariasis yaitu Culex vishnui dengan distribusi tertinggi pada area pemukiman. Habitat vektor potensial filariasis berupa drum air, selokan, kolam ikan, ban bekas, tambak, dan tempat minum ternak. Distribusi keberadaan habitat perkembangbiakan nyamuk paling banyak ditemukan di Dusun Morosari yang menyebar di jarak 100 meter dari kasus filariasis. Simpulan penelitian ini yaitu nyamuk yang berpotensi sebagai vektor filariasis di Desa Bedono adalah Culex vishnui dengan habitat terbanyak di area pemukiman (terutama Dusun Morosari). Abstract Bedono village was categorized as a fialriasis endemic region in Demak regency since 2016 with mf rate of > 1%. The study was conducted in 2017 and it was purposed to plot the spread of disease vector and its habitat through mapping. This research was an observational research with descriptive method as its research design. Data collection was conducted by entomological survey and GPS marking. Data were analyzed using univariate analysis and spatial analysis with GIS. The result shown that the potential vector of filariasis was Culex vishnui. The breeding places of the potential vector was a water drum, an open sewerage, a fish pond, used tires, ponds, and livestock. The distribution of mosquito breeding habitat was mainly found in Morosari which is spread in a distance of 100 metres from filariasis cases. The conclusion of the research that the potential vector of filariasis was Culex vishnui with the most habitat of Culex vishnui in settlement area (especially in Morosari Village). Keyword : Vector, Habitat, Bedono, Filariasis, spatial
Korelasi Meteorologi dan Kualitas Udara dengan Pneumonia Balita di Kota Semarang Tahun 2013-2018 Utami, Halimah Tri; Windraswara, Rudatin
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 3 No 4 (2019): HIGEIA: October 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v3i4.31063

Abstract

ABSTRAK Pneumonia merupakan penyakit menular yang menjadi penyebab utama dan terbesar dari kematian balita di dunia. Dari tahun 2013 hingga 2018, terdapat 25.038 kasus pneumonia balita di Kota Semarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian pneumonia di Kota Semarang tahun 2013-2018. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain studi korelasional. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, dan BMKG Kota Semarang. Analisis data menggunakan univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan adalah kelembaban udara (p=0,043), konsentrasi NOx (p=0,048), dan konsentrasi CO (p=0,029) dan variabel yang tidak ada hubungan adalah suhu udara (p=0,722), curah hujan (p=0,329), kecepatan angin (p=0,393), konsentrasi SOx (p=0,061), dan konsentrasi debu (p=0,521). Simpulan dari penelitian ini ada hubungan antara kelembabn udara, konsentrasi NOx, dan konsentrasi CO dengan pneumonia balita di Kota Semarang dan tidak ada hubungan antara suhu udara, curah hujan, kecepatan angin, konsentrasi SOx, dan konsentrasi debu dengan pneumonia balita di Kota Semarang. ABSTRACT Pneumonia is an infectious disease which is the main and biggest cause of under-five mortality in the world. In 2013 until 2018, were 25.038 cases of pneumonia in infant in the City of Semarang. The purpose of this study was to determine the risk factor associated with pneumonia in Semarang City in 2013-2018. The type of this study was descriptive quantitative with correlational study design. Trhis study used secondary data obtained from Dinas Kesehatan Kota Semarang, Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, and BMKG Kota Semarang. Data analysis used univariate and bivariate with Spearman correlation test. The result shows that there is a relationship between humidity (p=0,043), NOx concentration (p=0,048), and CO concentration (p=0,029) with pneumonia and there is no relationship between air temperature (p=0,722), rainfall (p=0,329), SOx concentration (p=0,061), and particulate (p=0,521) with pneumonia. There is a correlation between pneumonia with humidity, NOx concentration, and CO concentration and there is no correlation between air temperature, rainfal,l wind speed, SOx concentration, and particulate with pneumonia in Semarang City.