Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PEMBENTUKAN POSYANDU LANJUT USIA DI GMIST IMANUEL ULUNGPELIANG KECAMATAN TAMAKO KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Kalengkongan, Detty Jeane; Tinungki, Yeanneke Liesbeth
Jurnal Ilmiah Tatengkorang Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Ilmia Tatengkorang
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/tkrg.v7i1.528

Abstract

Pos pelayanan terpadu (Posyandu) lansia adalah pos pelayanan terintegrasi bagi masyarakat usia lanjut di satu wilayah, yang sudah disetujui dan dijalankan oleh sekelompok individu dimana bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. GMIST Imanuel kampung Ulungpeliang kecamatan Tamako merupakan salah satu Jemaat yang belum memiliki posyandu Lansia. Di Indonesia jumlah lansia diatas 60 tahun diprediksi akan meningkat jumlahnya 20 persen sampai tahun 2050. Besarnya jumlah penduduk lansia menjadi beban, jika lansia memiliki masalah penurunan kesehatan yang berakibat pada peningkatan biaya pelayanan kesehatan, sehingga dengan adanya Posyandu lansia sebagai unit pelayanan kesehatan terkecil yang ada di masyarakat merupakan program untuk meningkatkan status kesehatan lansia. Tujuan pelaksanaan kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan serta kualitas hidup lanjut usia. Kegiatan PKMS ini dilaksanakan pada tanggal 27 September 2022 yang dihadiri 30 masyarakat lansia. Dari hasil evaluasi ditemui semua lansia yang hadir sangat senang dengan terbentuknya posyandu lansia di GMIST Imanuel kampung Ulungpeliang Hal ini dibuktikan dengan adanya kesepakan dari ketua MPJ bersama pengurus Lansia serta kepala Puskesmas Tamako saat pelaksanaan PKMS.Target dan luaran yang akan dihasilkan pada kegiatan ini berupa artikel ilmiah di jurnal Tatengkorang, artikel media masa/cetak, dokumen berupa video pelaksanaan di Yutube P3M Politeknik Negeri Nusa Utara. The integrated service post (posyandu) for the elderly is an integrated service post for the elderly in one area , which has been approved and run by a group of individuals where they can get health services. GMIST Imanuel in Ulungpeliang village, Tamako district, is one of the congregations that has not yet formed an elderly posyandu. The number of elderly people over 60 years old is predicted to increase by 20 percent until 2050. The large number elderly population becomes a burden, if the elderly have problems in health condition which is results in an increasing in the cost of health services. The elderly Posyandu station as the smallest health service unit in the community wil conducted such program to increase the health status of the elderly. Purpose implementing activities were to to increase knowledge about health and quality of life the elderly. This PKMS activity was held on September 27, 2022, which was participated by 30 elderly people. Results of the evaluation it was found that all elderly who attended were very exciyed within establishment of an elderly posyandu station at GMIST Imanuel in Ulungpeliang village. This is proven by the supporting of the chairman of the MPJ with the elderly management and the head of Tamako Health Center during the implementation of PKMS.. The targets and outputs that will be produced in this activity are in the form of scientific articles in the Tatengkorang journal, mass / print media articles, documents in the form of implementation videos at the Youtube P3M North Nusa State Polytechnic.
PKMS PEMBERANTASAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PARU UNTUK PENDERITA TUBERKULOSIS PARU BERESIKO DI KECAMATAN MANGANITU Tinungki, Yeanneke Liesbeth; Kalengkongan, Detty Jeane
Jurnal Ilmiah Tatengkorang Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Tatengkorang
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/tkrg.v8i1.550

Abstract

Tuberculosis (TBC) atau TB paru merupakan sejenis penyakit, infeksi yang diakibatkan Mycobacterium tuberculosis, bakteri ini adalah bakteri yang sangat tahan asam sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk mengobatinya. Kecamatan Manganitu merupakan 1 (satu) Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Sangihe yang memiliki angka kejadian TB paru yang sangat tinggi. Penduduk dengan status pendidikan rendah cenderung memiliki masalah kesehatan terutama pencegahan TB Paru. Tujuan kegiatan PKMS ini adalah untuk mengurangi angka penderita penyakit TB paru, terciptanya perbaikan tata nilai masyarakat dari aspek kesehatan. PKMS dilaksanakan mulai akhir bulan Mei 2022 sampai dengan bulan November 2022 di wilayah Puskesmas Manganitu dengan 8 orang pasien. Metode pelaksanaan dibagi 3 tahap yakni tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi. Hasil pelaksanaan ditahap persiapan adalah penyusunan program kerja, persiapan informasi, persiapan sarana prasarana dan koordinasi. Hasil PKMS ditahap pelaksanaan adalah pencarian pasien atau skrining, pemeriksaan sputum di laboratorium, pemberian obat OAT, evaluasi pengobatan setelah 2 bulan pemberian dan penyuluhan kesehatan serta pemberian makanan tinggi gizi. Hasil PKMS ditahap evaluasi adalah melakukan evaluasi secara formatif dan sumatif. Kesimpulan PKMS ini Pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat Stimulus ini berlangsung dengan baik karena kerjasama yang baik dengan pasien, petugas Puskesmas, dokter dan keluarga Pasien Tuberculosis (TB) or pulmonary TB is a disease, an infection caused by Mycobacterium tuberculosis, this bacterium is a very acid-resistant bacteria that takes a long time to treat. Manganitu District is 1 (one) District in Sangihe Archipelago District which has a very high incidence of pulmonary TB. Residents with low educational status tend to have health problems, especially prevention of pulmonary tuberculosis. The aim of this PKMS activity is to reduce the number of people with pulmonary TB, to create improvements in community values ​​from the health aspect. PKMS was carried out from the end of May 2022 to November 2022 in the Manganitu Health Center area with 8 patients. The implementation method is divided into 3 stages, namely the preparation stage, the implementation stage and the evaluation stage. The results of the implementation in the preparation stage are the preparation of work programs, preparation of information, preparation of infrastructure and coordination. The results of PKMS in the implementation phase are patient search or screening, sputum examination in the laboratory, administration of OAT drugs, evaluation of treatment after 2 months of administration and health education and provision of high-nutrition food. The results of PKMS in the evaluation stage are conducting formative and summative evaluations. The conclusion of this PKMS is that the Implementation of Stimulus Community Service is going well because of good cooperation with patients, Health Center staff, doctors and the patient's family
Inovasi Teknologi dalam Pembelajaran IPA Sekolah Dasar di Era Digital Abad 21 Kalengkongan, Jeane; Montori, Selfia; Lengkong, Gloria; Caroles, Denisa; Rorimpandey, Widdy H. F.
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 1: Desember 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i1.13835

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi pada era digital abad ke-21 telah memberikan pengaruh besar terhadap dunia pendidikan, terutama pada transformasi metode dan pendekatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Sekolah Dasar. Sebagai mata pelajaran yang bersifat konseptual dan eksperimental, IPA menuntut strategi pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan mampu menstimulasi kemampuan berpikir kritis serta keterampilan ilmiah siswa. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis berbagai inovasi teknologi yang diterapkan dalam pembelajaran IPA melalui metode Systematic Literature Review (SLR). Artikel ilmiah terpilih dalam rentang 2015–2025 dikaji secara sistematis berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang ketat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa teknologi seperti Augmented Reality, simulasi virtual, permainan edukatif, video interaktif, dan Learning Management System terbukti meningkatkan pemahaman konsep, motivasi belajar, keterlibatan siswa, serta keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Meskipun demikian, implementasinya menghadapi hambatan, antara lain keterbatasan infrastruktur digital, rendahnya kompetensi teknologi guru, serta minimnya dukungan kebijakan yang berkelanjutan. Penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan teknologi yang terencana, relevan dengan konteks sekolah, dan berorientasi pada penguatan kompetensi abad ke-21 untuk mendorong pembelajaran IPA yang lebih adaptif dan bermakna
Kajian Sistematis Literatur Tentang Pengembangan Media dan Materi IPA Interaktif di Sekolah Dasar Berbasis Keterampilan Abad 21 Rorimpandey, Widdy H.F.; Kalengkongan, Jeane; Carolina Dien, Jini; Asari Lengkong, Afrilia; Leonita Horman, Meisara
Jurnal Pembelajaran dan Pengajaran Pendidikan Dasar Vol 8 No 2 (2025): November
Publisher : UNIB Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/dikdas.v8i2.46133

Abstract

The development of 21st century education demands innovation in Science (IPA) learning at the elementary school level, emphasizing not only knowledge transfer but also the cultivation of critical thinking, creativity, collaboration, and communication skills. This study aims to systematically analyze the literature discussing the development of interactive science learning media and materials in elementary schools relevant to the enhancement of 21st century skills. The research employed a Systematic Literature Review (SLR) method consisting of identification, selection, analysis, and synthesis stages of scientific articles published between 2018 and 2024. Data sources were obtained from national and international databases such as Google Scholar, DOAJ, and Garuda. The findings indicate that the development of digital-based interactive media—such as Articulate Storyline, Educandy, Augmented Reality, and virtual laboratories—has a positive impact on students’ conceptual understanding, learning motivation, and scientific literacy. Furthermore, science materials designed using contextual and problem-based approaches were found to be effective in integrating 21st century skills. The main challenges identified include limited teacher competence in technology use, unequal digital infrastructure, and the lack of comprehensive evaluations based on 21st century competencies. This review recommends continuous teacher training, the development of student-centered learning media, and collaboration between educational institutions and technology developers to create innovative, adaptive, and skill-oriented science learning environments.